The Cruel King's Fiance

The Cruel King's Fiance
14. Threatened



Hi whatsup samlekom!


Welcome Back 😽


Lets read my story 


Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ♥️


Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻


Enjoy 🙆


🍁


Delila yang tengah duduk dan bermeditasi untuk mengumpulkan energi murni demi menyembuhkan diri dan kekuatannya, tiba-tiba membuka mata ketika merasakan aura kehadiran seseorang yang makin mendekat ke tempat nya.


Aura suci yang murni dan bersih, sosok berjubah putih tampak berjalan tergesa-gesa dengan jubah yang tergerak panjang, kotor dengan bekas noda hitam dari kotornya penjara bawah tanah ini.


Itu...


"Nona Delila!"


Delila mendongak, ia terdiam dan belum menjawab apapun sampai sosok berjubah itu datang di hadapannya. Sosok itu, dengan tubuh bergetar dan ekspresi khawatir, ia jatuh meluruh bersimpuh di hadapan sang Wizard.


"Aulee". Gumam Delila menyebut nama Pimpinan White Witch istana, Aulee tertunduk menyentuh jubah putihnya yang sudah ternodai oleh lantai kotor penjara bawah tanah.


Wanita paruh baya itu menahan isak, ia bersimpuh seakan memohon.


"Saya... Saya mohon nona Delila, tolong bantulah kami."


"Selamatkan Yang Mulia". Pinta Aulee menunduk, ia sadar dan tahu bahwa ia tidak tahu diri memohon permintaan sulit itu pada orang yang telah di siksa raja nya.


Tapi para Healer dan White Witch, sudah menyerah dan benar-benar tidak bisa mengerahkan apapun lagi untuk menyelamatkan raja. Claude kritis setelah mendapat serangan kejut yang mengandung racun berbahaya yang belum pernah mereka lihat. Karena itu, mereka tidak bisa memberikan penanganan terbaik karena kurangnya persediaan serta pengalaman White Witch dan Healer yang lain soal racun baru itu. Dan nyawa keturunan asli raja yang terakhir, sedang terancam sekarang.


Claude sempat tak bernapas dan jantungnya berhenti berdetak untuk beberapa saat setelah racun itu mulai menyebar dan menimbulkan warna ungu gelap pada bekas tusukan di dada nya.


Aulee terisak, walau sudah hidup lama dan menjadi White Witch istana Caylon, tidak pernah sekalipun ia melihat masalah se kritis ini. Keselamatan dan masa depan negeri benar-benar terancam sekarang, karena Claude adalah satu-satunya keturunan asli dari raja pertama yang masih hidup setelah terjadi pembantaian keluarga kerajaan belasan tahun yang lalu.


Dan jika nyawa nya terenggut, entah apa yang akan terjadi di negeri ini selain kekacauan dan permusuhan atas perebutan tahta kasta tertinggi. Negeri Caylon, bisa hancur tak bersisa dari dalamnya.


"Aku tidak bisa". Jawaban singkat itu membuat Aulee mendongak menatap tak percaya.


Delila menatapnya datar seperti biasa gadis itu, manik merahnya tampak tak bersorot.


"Kenapa aku harus menyelamatkan— orang yang selama ini berlaku buruk pada ku?"


"Sekali lagi seperti yang kalian katakan. Aku ini hanyalah orang asing yang jadi tahanan, bukankah aku tidak punya kewajiban untuk menolong negeri ini?" Jawab sang Wizard kembali memejamkan matanya untuk meneruskan meditasi yang sempat tertunda.


Pimpinan White Witch itu terdiam, manik nya tampak kosong dengan ekspresi tak terbaca dari wajah pucat nya. Napas Aulee tertahan sesaat mendengar penuturan Delila yang tidak bisa ia bantah, wanita paruh baya itu menunduk. Tetesan air mata jatuh dari pelupuk matanya, guratan halus di wajah nya terlihat berkerut ketika wanita itu tergerak menjauh.


Delila terdiam, ia kira sebentar lagi Aulee akan menyerah meminta pertolongannya, tapi Wizard itu salah, ia mulai merasakan perasaan yang tidak mengenakan. Delila membuka matanya, iris merah gadis itu melebar melihat Aulee bersujud di depannya. Bahkan sampai sang Wizard tersentak dengan sikap tiba-tiba wanita itu.


"Saya mohon... Saya mohon nona Delila. Atas nama saya dan saksi bisu keluarga kerajaan, saya memohon kepada anda, kepada Keluarga Acnes yang agung dan mulia".


"Saya mohon, tolong selamatkan Yang Mulia. Tolong.... Selamatkan raja kami, Delila Acnes". Pinta wanita paruh baya itu dengan suara bergetar dan air mata yang terjatuh membasahi lantai kotor penjara.


Delila membisu, manik merahnya masih melebar dengan sorot tak terbaca. Dia terdiam sesaat, menatap kosong. Untuk beberapa saat, keheningan dan sepi senyap yang menyelimuti ruangan ini membuatnya jadi berpikir dengan cepat. Seharusnya dia tidak terlibat dalam hal ini, seharusnya bukan tanggungjawab nya untuk menyelamatkan raja itu. Seharusnya... Jika saja dia menuruti penglihatannya, mungkin Delila bisa menghindari ini. Tapi, semuanya sudah terlanjur.


Menghela napas panjang, Delila memejamkan mata nya sesaat. Ia melemas kan kedua tangannya yang masih di belenggu rantai, sang Wizard kembali menatap Aulee yang masih bersujud di depannya.


"Buka sel ini". Ucap Delila pada akhirnya, membuat Aulee reflek mendongak dengan wajah bahagia dan sorot haru dari matanya yang menangis deras.


🍁


Selama perjalanan, tak henti-hentinya para prajurit yang berjaga di istana utama memberi tatapan kaget dan waspada ketika dua orang sosok berjalan melewati mereka.


Bahkan beberapa kali, ada juga penolakan serta larangan masuk dari para prajurit yang menodongkan senjata mereka sebagai tanda tolak. Jika saja Aulee tidak bersikeras dan menggunakan jabatannya, maka Delila dan wanita itu tidak bisa menginjakan kaki di bangunan utama istana.


Walau begitu, masih saja para prajurit Lycan menatap nya dengan pandangan yang sama. Remeh dan jijik.


Tapi Delila tidak peduli, ia hanya perlu diam dan menyembuhkan raja lalu kembali ke sel nya dengan cepat. Ia tidak mau mengambil terlalu banyak momen dengan raja, ia tidak ingin berdekatan lebih jauh dengan Claude.


Begitu sampai di depan kamar saja, puluhan prajurit dan tangan kanan nya pun langsung tersentak reflek menoleh waspada merasakan aura dan aroma yang paling mereka curigai.


Zillian berjalan maju menghentikan Aullee dan Delila. "Apa-apaan ini Aulee? Apa kau tengah berencana mengkhianati raja dengan membawa vampir itu?!"


Aulee terdiam, maniknya menajam. "Sudah ku bilang berkali-kali, hanya satu orang yang bisa menyembuhkan raja!"


"Orang itu, adalah dia". Sebut Aulee membuat Zillian dan para tangan kanan raja menatap tajam Delila yang berdiri di belakangnya wanita paruh baya itu.


Zillian mengetatkan rahangnya. "Tetap kami menolak, bagaimana kalau dia malah membahayakan raja?!"


"Aku akan bertanggungjawab!"


"Aku akan menanggung semua akibatnya jika dia melakukan itu, atas nama ku sebagai White Witch, aku menjaminnya". Tegas Aulee membuat Zillian membisu, manik gelap pria itu melirik Delila sekilas.


"Nyawa Yang Mulia bergantung pada ini, jika kau masih menghentikan kami, Yang Mulia akan jadi raja asli terakhir". Ancam Aulee seketika membuat semua orang membisu, pada akhirnya pintu kamar raja berhasil di bukakan untuk mereka.


Aulee mengepalkan tangannya kuat-kuat, sang Pimpinan White Witch istana itu menatap tajam dengan sorot putus asa.


"Saya tahu nona Delila adalah penyihir. Sebagai penyihir lepas yang tidak menetap atau mematuhi negeri lain, kemampuan, ilmu dan pengalamannya pasti lebih banyak. Bahkan, lebih dari kami semua yang ada disini".


"Anda pikir kenapa saya sampai memohon-mohon pada nya? Saya bahkan mengabaikan harga diri demi dia". Tanya wanita paruh baya itu tegas.


Manik abu-abunya menajam. "Karena dia lebih tinggi dari saya! Dia... Lebih dari apapun yang kalian bayangkan". Tegas Aulee setengah lirih, sementara Delila di belakangnya tampak diam menatap perdebatan keduanya.


Delila berjalan pelan mendahului Aulee. "Bisakah semua orang tunggu di luar selama aku menyembuhkan nya?"


Diablo membelakakan matanya. "Lancang sekali-"


"Tentu nona, apapun yang membuat anda bisa menyelamatkan raja, akan kami lakukan". Jawab Aulee memotong Diablo, wanita paruh baya itu membungkuk hormat sesaat dan meminta Zillian mengeluarkan semua orang dari sana.


Delila mengangguk, ia kembali menatap suasana ruang kamar yang temaram itu. Sesaat dia berdiam, sebelum akhirnya melangkahkan kaki nya masuk ke dalam dan pintu tertutup dengan sendirinya. Sang Wizard menelisik, mencari-cari dimana sosok itu sebelum insting nya menangkap aura gelap dan kuat yang terasa dari arah lain.


Rupanya kamar raja, memiliki ruang sendiri yang sama luas dan mewahnya. Namun itu tidak begitu penting bagi Delila, gadis dengan wajah datar itu berjalan pelan mendekati ruang tidur dimana ranjang besar berkelambu itu hanya di tempati oleh satu orang. Kaki jenjang nya kembali melangkah, menuju ranjang itu. Matanya menangkap sosok yang tengah tidur di sana dengan wajah pucat dan percikan racun berwarna keunguan tampak di dadanya yang tertutup jubah tidur.


Delila mendekat, ia berdiri dengan diam dan menatap sang raja dalam. Manik merahnya menyala dengan sorot misterius, saat ini Claude di hadapannya adalah orang yang melemah dan kritis.


Bisa saja, Delila tidak perlu menyelamatkan pria ini kan?


Kenapa juga dia harus melakukannya? Bukankah, dengan membiarkan Claude mati karena racun, justru memudahkannya untuk pergi dari negeri ini?


Satu tangannya terulur, menyentuh dada Claude tepat di bekas luka yang memercikan aura racun. Iris merah gadis itu tampak berkilat sesaat, jika dia menekan dada pria ini atau menyalurkan sedikit kekuatan saja, sang raja akan mati.


Tapi entah atas alasan apa, Delila tidak melakukan itu. Tangannya diatas dada Claude, justru memunculkan cahaya merah berpendar meresap ke dalam dada pria itu. Sang Wizard berusaha menekan dan menyelidiki kondisi racun di dalam tubuh pria itu.


Kening nya menyerit, racunnya hampir menyebar, meraih jantung Claude. Dan jika itu dibiarkan, detak nya akan benar-benar berhenti untuk selamanya.


Harus ku apakan kau? Batinnya menatap dalam, wajah pucat Claude tak tampak seperti ekspresi garang yang selalu ia tunjukan.


Delila mendesah pelan, ia tahu racun ini. Bisa sembuh total jika dilakukan penanganan yang baik, tapi ini sudah cukup terlambat.


Satu-satunya hal yang paling yang logis dan benar menurutnya, adalah... Dengan Delila memberikan darahnya. Darah Keluarga Acnes, akan memberi efek kuat baik dalam penyembuhan ataupun anti toksin, sehingga darahnya cocok untuk menyelamatkan raja di saat terlambat seperti ini. Tapi ada satu masalah.


Tapi, jika aku melakukan itu...


Semua anggota Keluarga Acnes, dilarang memberikan darah mereka setetes pun secara sembarangan. Karena darah itu istimewa, berkah yang diberikan oleh dewi, yang tidak bisa dimiliki sebarang orang tanpa seijin nya. Memberikan darah dengan sembarangan, bisa mendapat hukuman berat di negeri nya. Hukuman yang sangat mengerikan, diberikan langsung oleh petinggi Silverwolf Pack. Selain itu, jika saja seorang Acnes diserang untuk diambil darahnya secara paksa, siapapun yang menggunakannya- akan keracunan dan mati, atau paling buruk, dikutuk dunia. Karena itu, jika ada situasi yang membuat seorang Acnes harus memberikan darahnya, mereka- harus memberi ijin pada siapapun itu untuk menggunakan darah mereka.


Ya sudahlah, resiko nya tidak penting. Pikirnya menimang-nimang panjang, karena penggunaan metode ini agak berbahaya. Karena sekali lagi, ini menggunakan darah anggota Keluarga Acnes yang terkenal sebagai keluarga dari dewi. Dia sendiri juga tidak yakin apa masih bisa kembali dengan selamat setelah melakukan hal ini, ia yakin sekali akan langsung dibawa ke penjara setelah ini.


Delila menghela napas panjang, ia menarik lengan gaunnya dan membuat lengan gaun yang panjang itu memperlihatkan kulit pucat sang Wizard yang mulus tanpa luka. Telunjuk Delila tergerak mendekati dengan sebuah aura merah yang membentuk pisau sihir dari jemarinya, dengan datar dia menyentuhkan sisi tajam itu ke kulitnya hingga mengeluarkan darah yang menetes lambat.


Sang Wizard terdiam sesaat menahan tetesan darahnya, manik merah gadis itu menyala dengan lambang pentagram di dalamnya.


Tangannya tergerak. "Claude Edden De Caylon".


"Aku mengijinkan mu menggunakan darah ku, kau akan menerima berkat ini sampai terbangun dan untuk seterusnya".


"Atas namaku— Adelila Acnes". Janji gadis itu, membuka pelan mulut sang raja dan meneteskan darah nya perlahan. Untuk beberapa saat, Delila masih memberikan darahnya sampai ia rasa cukup, gadis itu menyeka darahnya dengan sebuah kain dan melihat luka sayat nya yang perlahan sembuh.


Iris merah gadis itu, kembali menatap Claude. Ia menghela napas pelan, tangannya terulur menyeka bekas darah di sudut bibir pria itu, dan kembali diam memandang wajah damai nya yang pucat. Delila meraih satu tangan sang raja, dan menggenggamnya dengan kedua tangan sebelum sebuah Magic Mark merah muncul diatas tautan tangan mereka. Cahaya kemerahan mulai muncul berpendar dari dalam genggaman tangan gadis itu, sang Wizard hanya diam sementara ia menggunakan kekuatannya untuk membantu penyembuhan Claude.


Sementara seekor ular muncul, merambat naik ke atas ranjang dengan manik kuning menyala-nyala. Ia mendesis.


"Kenapa kau melakukan ini? Athala Acnes akan marah". Desis nya dengan lidah menjulur.


Delila diam. "Tidak tahu, aku melakukannya tanpa alasan". Jawabnya pada Airon, ular itu mendesis singkat sebelum kembali menghilang.


Selama berjam-jam lamanya, Delila terus berusaha menyembuhkan Claude. Siang ataupun malam, gadis itu tidak meninggalkan sang raja dan terus menggenggam tangannya sambil menyalurkan kekuatan sang Wizard. Hal itu sudah berlangsung selama tiga hari, dan Delila hanya berdiam diri menyembuhkan pria itu, dia bahkan hanya membersihkan diri menggunakan sihir, dan tidak tidur sama sekali demi mengingkatkan kesembuhan Raja Lycan lebih cepat.


Manik merah Delila tampak sedikit redup, ia menatap tangan dalam genggaman nya yang tiba-tiba bergerak kecil, perlahan-lahan berganti menggenggamnya lemah. Sang Wizard memejamkan mata sesaat, ia menghela napas panjang sebelum Magic Mark merah di atas tautan tangan mereka menghilang. Ia menatap luka di dada Claude yang sebelumnya memercikan energi gelap, kini telah menghilang dan tergantung dengan percikan negeri kekuatan berwarna merah. Kekuatan merah yang bergerak seperti akar tumbuhan, perlahan kembali masuk seperti merajut luka di dada pria itu.


"Baiklah, sudah selesai". Gumam nya berdiri hendak beranjak pergi sebelum tangannya tertahan karena genggaman lemah pria itu, Delila terdiam ia menatap tangannya dengan sorot yang sulit diartikan.


Sebelum gadis itu menyentuh pelan tangan raja, dan melepaskan perlahan lalu meletakan tangan lemah itu kembali. Tanpa mengatakan apapun, gadis itu berbalik keluar dari kamar Claude dan membuka pintu.


Seketika tatapan tajam serta reflek para pria itu menodongkan senjata ke arahnya, tapi sang Wizard tetap berdiri tenang.


"Raja kalian akan sadar besok". Ucapnya seketika membuat semua orang tersentak, menatap tak percaya dengan hela napas lega.


Delila berjalan mendekati Zillian, gadis itu menatapnya diam.


"Tolong antar aku ke sel lagi".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


JANGAN LUPA VOTE DAN KOMEN ♥️


Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻


ORIGINAL BY iqwaanisa


To Be Continued