
Hi whatsup!
Welcome Back đœ
Lets read my storyÂ
Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti â„ïž
Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya đ»
Enjoy đ
đ
"Yang Mulia".
Noah membungkuk hormat, dengan sebelah tangan yang menyilang di dada dan mata terpejam.
Delila mematung, menatap penasaran dan sedikit 'terancam' dengan sosok pria jakung dihadapannya ini. Entah apa, yang pasti gadis itu tidak merasa tenang berhadapan dengan pria ini, aura nya membahayakan dan jugaâ mencekam.
Dengan pelan gadis itu bangkit, berdiri tegap untuk sesaat sebelum ikut sedikit membungkuk hormat pada pria yang paling diagungkan di seluruh kerajaan raksasa ini.
Delia ragu, keringat dingin membasahi telapak tangannya. "Yang Mulia Raja". Hormat Delila susah payah melantunkan kalimat itu dari mulutnya yang seakan terkunci dengan aura tekanan kuat yang menguar dari pria ini.
Pria itu terdiam, manik hitam legamnya menatap surai merah gadis didepannya yang begitu lembut dan sedikit terjatuh meluncur bebas dari bahunya dengan pelan.
Delila kembali berdiri tegap, menatap lurus dengan manik merah nya yang berkilau dalam terpaan sinar matahari. Gadis itu hanya diam dan membiarkan surai merahnya tergerai ditiup angin lembut.
"Ah, Yang Mulia. Nona ini baru saja sadar, dan saya mengawasinya. Dia ingin bertemu dengan temannya". Jelas Noah tersenyum melirik Delila yang seolah tidak bisa berkata-kata didepan sang Raja.
Tiba-tiba seorang pria bersurai abu-abu gelap di belakang sang Raja, menyeletuk.
"Baru sadar dan kau membiarkan dia berjalan tertatih begitu?".
Noah terlihat gelagapan, pria bersurai cokelat itu mengangkat kedua tangannya seperti menyerah.
"Nona ini ingin tetap berjalan sendiri menemui temannya, yang penting kan aku mengawasi nya Allen!". Balas Noah kesal, melirik pria bersurai hijau itu dengan tatapan jengah.
Pria itu terlihat tertawa kecil, menanggapi sikap lucu Noah. Sedangkan Delila sudah memalingkan pandangannya dari tadi, ia hanya menatap ke luar jendela dari pada ia harus mati-matian bertahan dari terjangan manik tajam pria yang besar dan tinggi nya dua kali lipat dari nya.
"Yang Mulia, setelah ini ada rapat dengan anggota dewan. Mereka sudah menunggu". Seorang pria dengan manik hitam, membuka buku dan menyebut jadwal sang Raja.
Tanpa berkata apa-apa, Pria dengan jas kerajaan berhias emblem dan jubah merah menjuntai di kedua bahunya, berjalan angkuh dengan pasti dan kekuasaan melewati Delila dan Noah. Bahkan sama sekali tak menjawabi maupun memberi sepatah kata pun pada gadis itu seakan ia tidak ada.
Delila terdiam, ia menunduk meremas gaun putihnya kuat. Noah yang melihat itu hanya bisa menunduk sendu, ia kasihan dengan keadaan Delila saat ini.
"Nona... Tolong maafkan Raja, ia memang seperti itu. Jangan dimasukan kedalam hati". Pinta pria itu pelan.
Namun Noah mungkin tidak sadar, jika ada seguras senyum yang tersungging di wajah cantik gadis itu. Ia tidak tahu maksud lain dari senyuman sang Wizard, salah besar jika Noah mengira ia akan sakit hati ataupun merasa diabaikan oleh Raja itu.
"Tidak, kau salah".
Sang tangan kanan kelima Raja, mendongak dan menyeritkan keningnya bingung dengan jawaban gadis itu seperti melenceng dari anggapannya.
Delila mendongak, menoleh pada Noah dengan senyum simpulnya. "Aku justru bersyukur jika Raja mu akan dingin dan mengabaikan ku. Dengan begitu, aku bisa keluar dari sini dengan cepat". Ucapnya santai kembali berjalan menuju ruangan Ve.
Di belakangnya tampak pria bersurai cokelat itu bingung dan penasaran kenapa Delila bisa berkata demikian.
Dengan tenang gadis bersurai merah itu melangkah, mengubah kembali wajahnya yang datar dan manik ruby setajam pisau.
Ia selamat kali ini, dan iaâ tidak akan membiarkan diri untuk bertemu Raja itu lagi.
đ
"Nona, ini kamâ".
Brak!
Dengan santai Delila mendobrak kencang pintu kamar Ve dengan sebelah kakinya, hingga membuat suara gaduh bedebum yang cukup keras membuat Noah terperanjat kaget.
Dengan segera gadis itu memasuki ruang kamar, mencari-cari dimana Ve dan akhirnya ia mendatangi sebuah ranjang berkelambu putih. Gadis itu menyipit, melihat seorang gadis bersurai biru gelap dengan ombre keunguan yang tengah tertidur pulas dalam selimut.
Bugh!
"Argh! Astaga Bodoh!". Ringis Ve langsung bangun terduduk begitu merasakan pukulan pada lengannya.
Ve meringis, menatap kesal Delila yang terlihat tak merasa bersalah padanya. "Kau ini apa-apaan Del?! Kau seenaknya mendobrak pintu dan langsung memukulku!".
Sang Wizard terlihat acuh dengan pertanyaan Ve yang hanya membuatnya kesal. "Aku tahu kau tidak tidur, bodoh".
"Lalu kenapa kau kesini?".
"Masih bertanya? Tentu saja keluar dari sini".
Sejak tadi, Noah yang hanya menjadi penonton percakapan dua orang gadis ini langsung membelalakan matanya mendengar penuturan santai Delila.
"Maaf nona, kau tidak bisa keluar seenaknya. Ini ada urusannya dengan Raja, dia yang memutuskan". Jelas nya sebagai salah satu tangan kanan Raja.
Ve terdiam, melirik Delila lewat manik biru terangnya. "Orang ini... Siapa?".
Sang Wizard mengangkat kedua bahunya, bersidekap didepan dada. "Dia bilang, dia tangan kanan Raja".
Seketika suasana kamar berubah menjadi mencekam, yang awalnya biasanya bisa berubah karena sebuah aura kuat dan mengancam uang menguar bebas dari seorang Ve. Gadis bersurai biru berombre ungu itu menyeringai lebar, terlihat seperti seorang yang licik.
"Jadi... Kau tangan kanan Raja?". Tanya Ve aneh dengan nada rendah dan tone yang tegas, membuat Noah menelan saliva nya susah payah melihat perubahan drastis dadi gadis yang ia kira adalah gadis biasa.
Ve terkekeh, menatap sinis dengan manik biru terangnya uang berkilat. "Bagus, kebetulanâ aku ingin menghajar seseorang dari kerajaan ini". Desis nya sadis, dengan wajah pongah dan dagu terangkat.
Dengan pelan, Ve menyibak selimutnya dan berdiri tegak dihadapan Noah dengan aura kuatnya. Pria itu sedikit tersentak sesaat, melihat betapa kuat dan mengancamnya gadis satu itu.
"Menghabisi satu tangan kanan Raja, tidak akan membuatnya rugi kan?". Seringai Ve meremas tangannya bergantian hingga berbunyi gesekan tulang.
Pria bersurai cokelat itu membelalakan matanya lebar, bersiap dalam posisi siaga begitu Ve berjalan tenang kearahnya. Tentu dengan seringaian mengerikan di wajah cantik gadis itu.
Ve benar-benar bersiap akan menghajar Noah dengan tinju nya, sebelum deheman sengaja Delila keras menghentikannya.
"Hentikan Ve, jangan buat masalah". Tuding Delila menatap tajam Ve yang tertawa kecil.
Gadis bersurai biru keunguan itu tersenyum miring pada Noah, ia senang bisa membuat pria itu takut dan merasa terancam. Ia lebih senang, melihat ekspresi lucu ketika wajah Noah memucat dan melakukan posisi siaga.
"Hanya bercanda, tenang". Kekeh nya santai, menepuk-nepuk keras pundak Noah membuat pria itu ikut terkekeh kikuk.
Gadis itu mengendus, ia ingin segera keluar dari tempat menyebalkan ini. Bukannya ia tidak tahu, ia sangat tahu. Sebagai ketutunan Vampir, nyawanya bisa terancam kapan saja karena hubungan buruk antara kaum Lycan dan Vampir. Meski begitu, ia tidak punya alasan untuk takut maupun gentar dengan siapapun di istana ini. Siapapunâ kecuali Raja itu.
Delila mendesis kesal mengingat betapa kuat dan besar pengaruh sang Raja meski hanya melalui auranya sekalipun. Dan itu sangat mengganggunya, keberadaan orang yang sulit ditaklukkan akan menyulitkan segala rencananya keluar dari sini.
Tapi ia akan berusaha untuk melawannya, melawan aura kuat dan tekanan kekuatan besar yang dimiliki Sang Raja Lycan.
"Jadi, kami harus menemui Raja itu dulu?".
"Raja kami".
"Ah, iya maksudku Raja mu". Ulang Ve kesal karena di interupsi oleh Noah.
Delila menghela napas panjang melihat bara permusuhan dari tatapan Ve dan Noah seakan ada api membara di sekitar mereka. Gadis itu mencibir, kenapa harus bertemu degan riang itu? Menyebalkan.
Gadis bersurai merah itu beranjak, membuat dua orang yang tengah berseteru itu tersentak tiba-tiba mendongak menatap Delila.
"Sampai kapan kalian berkelahi? Ayo segera kita temui Raja nya".
Noah tersenyum kecil, ikut beranjak sambil meletakan satu tangannya didepan dada.
"Kebetulan, Yang Mulia Raja memerintahkan ku membawa kalian kehadapannya".
đ
"Del, kau sudah gila". Sindir Ve kesal, dengan malas mengikuti langkah teman nya ini. Gadis bersurai biru keunguan itu benar-benar tidak mood untuk berurusan dengan orang-orang kerajaan, mereka menyebalkan menurutnya.
"Del... Ayolah, kita kesana kapan-kapan saja". Bujuk Ve menepuk-nepuk bahu Delila yang santai berjalan tak mengindahkan perkataan Ve.
"Kau mau, kita keluar kapan-kapan saja?".
Gadis bar-bar itu bungkam, mendengus kesal karena kalah berdebat dengan Delila. Gadis jenius itu memang selalu saja bisa membuatnya diam saat bertengkar, mungkin kah karena dia muridnya Karren si Cold Wizard? Batin Ve mengangguki pemikirannya.
Mereka terhenti didepan sebuah pintu raksasa berbahan kayu kecoklatan yang dilapisi hiasan emas murni. Noah terhenti, tersenyum tipis pada kedua gadis itu.
"Kita sudah sampai nona".
Untuk sejenak, Sang Wizard menghela napasnya panjang, memejamkan mata dan mempertajam indera nya yang lain. Ia akan membuka mata, ketika sudah sampai dihadapan Raja untuk menggunakan kekuatan matanya.
Kriet.
Glar!
Bunyi debuman terdengar sedikit keras, saat pintu besar itu dibuka lebar-lebar. Menampilkan sebuah aula super luas dan megah yang sudah ditempati oleh beberapa orang yang sepertinya penting.
Noah kembali melangkah mendahului Delila dan Ve, pria bersurai cokelat itu berjalan tegap dengan tubuh tingginya yang tegas begitu memasuki aula tahta.
Ve melirik kesana kemari, melihat orang-orang berpakaian resmi yang sangat memperlihatkan ciri mereka sebagai anggota penting kerajaan. Gadis itu menyipitkan matanya tajam melihat tatapan aneh, merendah dan sombong yang terpancar jelas di nata orang-orang itu. Juga bisik-bisik yang membicarakan hal aneh tentangnya dan Delila.
Ve menggeram tertahan, ia berani sumpah jika ia bisa saja membantai semua yang ada disini tanpa terkecuali, jika saja Delila tidak melarangnya sudah pasti orang-orang sudah menemui kematian.
Dihadapan mereka, ada seseorang. Seorang pria bertubuh kekar dan tegas, duduk dengan gaya eksekutifnya diatas singgasana megah dan besar milik Raja yang diletakan di atas lantai yang lebih tinggi dengan jangkauan anak tangga.
Noah membungkuk, bertekuk lutut dihadapan pria itu dengan begitu hornat dan patuh.
"Yang Mulia". Hormat Pria itu begitu mengagungkan sang Raja.
"Mereka sudah ada disini".
Dan kini suasana ruangan berawal sepi dengan ketenangan, berubah menjadi sedikit ribut dengan bisik-bisik dari berbagai orang mengenai anggapan mereka begitu melihat Ve dan Delila disana.
Mereka menanggapi dengan berbagai pemikiran, ada yang berpikir sederhana dan tidak terlalu mempermasalahkannya, ada yang benar-benar mempermasalahkannya hingga menebar berita dan ucapan bohong yang memperburuk citra Ve dan Delila. Seperti menganggap kalau mereka adalah penyusup yang di kirm musuh, atau malah menganggap mereka sebagai musuh yang patut dipenjarakan.
Ve menggeram, manik biru terangnya menajam dengan tatapan dan hawa membunuh yang berkobar-kobar dari aura nya. Makhluk-makhluk sampah, berani nya mereka menghina kami. Batin Ve yang tidak tahan ingin segera menggunakan Light Sword untuk membelah tempat ini.
Namun lagi-lagi, sang Beta V dari Silverwolf Pack harus menahannya karena terikat janji dan ancaman Delila padanya tadi. Ia tidak boleh memperburuk keadaan.
Pria di singgasana itu masih terdiam, menompang wajahnya dengan sebelah tangan dan menatap tajam kedua gadis itu dengan manik hitam nya.
"Siapa kalian dan apa tujuan kalian melewati perbatasan kerajaan Lycan?". Tanya pria itu dengan nada yang terkesan rendah dan seperti titah tegas bagi bawahannya.
Di sana Delila tampak tenang masih memejamkan matanya, sedangkan Ve sudah mendidih ingin menghancurkan apapun yang bisa ia sentuh. Ia berasa diperlakukan seperti penyusup, padahal mereka bisa melewati perbatasan itu adalah sebuah kecelakaan.
"Aku Ve". Jawab gadis itu sekenanya, masa bodoh jika ia akan dapat hukuman mati sekalipun karena memperlakukan seorang Raja seperti itu.
Delila terdiam sejenak, mencoba menetralkan energinya dengan sempurna.
"Akuâ Delila". Dan seketika itu, Delila membuka matanya. Menatap tepat sang Raja dengan manik merah yang menyala. Gadis itu, mencoba mencari tahu tentang Sang Raja dengan kemampuan matanya.
Delila tersentak, ia... Melihat beberapa adegan masa lalu yang memberinya informasi. Adegan-adegan masa kecil, jaman dahulu bercampur dengan masa sekarang dan segala hal. Namun yang tertampil hanya sebuah bayangan biasa, ia... Tidak bisa melihat yang lain dari sang Raja.
Kejadian masa lalu penting, rumor bahkan kecelakaan atau masalah yang di alami Raja itu, tidak bisa ia lihat. Gadis itu termangu, bagaimana bisa seperti ini? Seharusnya... Tidak ada yang bisa menyembunyikan sesuatu dari matanya.
Tapi kenapa...
Jantung Delila berdetak keras begitu tak beraturan, napas gadis itu tersenggal-senggal seperti kesulitan untuk bernafas.
Ia... Melihat sesuatu.
Delila kembali mendongak, tanpa sengaja berpapasan dengan manik kuning sang Raja yang amat tajam menusuk. Membuatnya tersentak kecil mengingat yang ia lihat barusan.
Dia....
Claude Edden De Caylon.
Raja Lycan yang paling kejam, setelah sang Raja pertama sekaligus pendiri kerajaan Lycan.
our King :
Claude Edden De Caylonâ„ïž
Claude itu kejam, tapi dia ganteng đ :3
Jangan Lupa VOTE dan COMMENT karena semua itu Gratis dan sangat berarti â„ïž
Follow Author untuk notifikasi menarik liannya đ»
To Be ContinuedÂ