The Cruel King's Fiance

The Cruel King's Fiance
12. Bad Feeling



Hi whatsup samlekom!


Welcome Back 😽


Lets read my story 


Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ♥️


Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻


Enjoy 🙆


🍁


Noah berjalan bersama Raaya menuju bangunan terpencil istana, seperti biasa mereka ingin mengunjungi Delila dan melihat keadaan gadis itu saat ini. Pasalnya setelah ia di intrograsi Diablo— tangan kanan ke lima raja yang memang terkenal bengis, Noah jadi sangat khawatir sampai dia menceritakan nya pada Raaya hingga gadis itu emosi.


"Seharusnya kau bilang dari awal, aku bisa membantu kalian".


Noah menghela napas. "Sudahlah Raaya, aku tidak ingin membebani mu. Aku tahu, satu-satunya yang bisa kau harapkan soal ini cuma Allen. Tapi aku lebih tahu bagaimana hubungan kalian".


"Aku tidak mungkin memaksa mu untuk menemui nya".


Raaya terdiam. "Tapi... jika kau bilang, aku... Aku akan berusaha bicara dengan Allen untuk meringankan hukuman nona Delila!"


"Raaya!" Gertak Noah yang tidak sengaja terlepas karena emosi, membuat kedua nya terdiam dengan Raaya yang membisu.


Noah mengusap wajahnya kasar dan menghela napas panjang, berusaha sabar dan tenang agar ia tidak kelepasan lagi.


"Maaf Raaya".


"Sudah cukup kau menangis selama ini, tolong, aku tidak ingin melihat mu terpuruk lagi". Noah menyentuh bahu adik nya pelan, manik cokelat pria itu tampak teduh dengan sorot tenang ketika Raaya mengangguk kecil sebagai jawabannya.


Sebagai kakak dan anak tertua dari Keluarga Easter, Noah yang mewakili ayahnya menjadi pewaris keluarga, tentu saja memikul banyak beban yang tidak pernah ia tunjukan pada orang lain. Raaya, adiknya dan satu-satunya putri Keluarga Easter adalah hal berharga yang dititipkan kedua orang tua nya. Noah sudah berjanji akan menjaga Raaya, melindungi gadis itu kapan pun selama ia masih belum bisa bersikap dewasa.


Satu-satunya penyesalan Noah, adalah membiarkan adiknya... Bertemu dengan Allendis Egal.


Jika saja... Jika saja Noah bisa membalikan waktu dan mengulur saat dimana Raaya bertemu Allen, maka gadis itu pasti akan terus jadi gadis yang periang. Raaya akan jadi nona muda yang baik hati dan anggun, bukan seorang prajurit dengan wajah sendu dan sorot tak terbaca yang selalu ia perlihatkan setelah bertemu Allen.


Noah menyesal, dia benar-benar merasa bersalah menjadi orang yang tidak bisa apa-apa saat Raaya terpuruk separah dulu. Dia tidak bisa menghajar Allen dan memaki pria itu karena telah membuat adiknya menangis, karena saat itu, Noah bukanlah siapa-siapa.


"Sudahlah Raaya, aku minta maaf karena tidak sengaja membentak mu". Ucap Noah setengah bergumam sebelum pria itu kembali berjalan mendahului Raaya.


Gadis itu mengekor di belakangnya, manik cokelat Raaya menatap sendu punggung tegap kakaknya. Ia, tidak pernah lupa bagaimana perjuangan Noah untuk menjadi pewaris Keluarga Easter, demi mendapat gelar Duke dan mendapat kekuatan untuk melindungi keluarganya. Noah yang awalnya hanya pria yang suka belajar, berubah memaksakan dirinya untuk berlatih pedang dan pertarungan setiap hari, selama bertahun-tahun.


Raaya tidak pernah bilang kalau ia pernah menangis karena melihat Noah yang duduk dengan kepala tertunduk setelah latihan pedang, tangan dan tubuh pria itu penuh bekas luka, dengan wajah yang di tutupi kedua tangan. Namun Raaya tahu sekali, Noah lelah, tapi pria itu tidak pernah mengatakannya.


Gadis itu hanya bisa berdoa dan bersyukur, dapat menjadi adik dari pria sebaik Noah Easter.


Selama perjalanan, belum ada percakapan lain diantara keduanya hingga beberapa saat yang lama menyusuri lorong serta jalan menuju kamar Delila. Raaya yang tadinya melamun, langsung tersentak ketika tiba-tiba Noah berhenti di jalan depan pintu putih, kamar Delila.


"Noah—"


"Kamarnya gelap". Geram Noah mengepalkan kedua tangan.


Raaya berjalan pelan menyusul sang kaka yang berlari memeriksa pintu putih itu. Gadis itu terkejut, menyadari pemikiran yang sama.


"Nona Delila— tidak ada di sini". Gumam Noah tanpa sadar mengepalkan tangan, jelas-jelas tadi dia mengantar gadis itu dengan selamat sampai di sini.


Kenapa... Tiba-tiba kamarnya sepi seperti tidak di huni?


🍁


"Cepat jalan". Ucap seorang prajurit, mendorong tubuh mungil di depannya dengan tongkat seakan dia sendiri juga risih untuk menyentuhnya.


Rombongan prajurit berbaris rapi itu berjalan lurus dan konsisten, mengawal sosok mungil di tengah barisan dengan kedua tangan yang dibelenggu rantai putih. Terlihat, diam-diam para prajurit itu menjaga jarak, mata mereka sesekali melirik dengan sorot tajam serta menusuk pada sosok yang disebut 'monster' oleh Diablo Hart— tangan kanan kelima raja.


Mereka mendapat tugas khusus dari pria itu, untuk mengawal dan menggiring gadis itu ke penjara bawah tanah atas seijin para petinggi istana. Sosok itu, sosok yang mereka waspadai sebenarnya hanyalah seorang gadis.


Disana, Delila hanya diam dalam kawalan barisan prajurit yang berbondong-bondong mengurungnya, menjaga seakan ia tidak boleh lari. Dengan posisi yang menyesakkan serta kedua tangan yang dibelenggu rantai, sang Wizard tidak melakukan apapun selain berdiam diri dan menunduk menatap jalanan yang semakin gelap dengan manik merahnya.


Barisan itu berhenti begitu mendapati pintu besar berwarna cokelat, salah satu prajurit membukanya dengan kunci khusus dan kembali mengarahkan pasukan untuk mengawal Delila ke dalam. Ia mendongak, manik merahnya menatap ruangan besar yang tampak gelap dan pengap, hanya dengan penerangan berupa obor di sisi jalan.


Diam-diam, Delila bisa merasakan atmosfer tidak mengenakan dalam ruangan temaram ini. Dia juga bisa peka dengan jelas, ada nya rasa takut dan was-was para prajurit yang mengawalnya. Mereka pasti sadar akan aura buruk dalam tempat yang disebut sebagai penjara bawah tanah ini.


Jalanan nya sangat jauh, mereka harus terus berjalan menuruni tangga, semakin dalam dan semakin menyesakan ketika ruangan degan penjara terbatas ini kosong dan hanya disinari obor. Penjara bawah tanah, terkenal hanya untuk mengurung penjahat sekelas pengkhianat negeri atau bahkan orang yang dijatuhi hukuman langsung oleh raja.


Ya, dan entah ini nasib buruk atau bukan, kesialan mereka adalah harus mengawal vampir penyihir itu ke dalam sini. Ke sisi terdalam penjara bawah tanah, sisi yang paling menyesakkan dengan energi tak bersahabat.


Begitu sampai di lantai bawah yang mereka tuju, kembali lagi pimpinan pasukan itu mengeluarkan kunci khusus yang ia masukan ke dalam lubang kunci sebuah sel gelap yang padat dan menyesakan. Pria itu selesai membuka pintu nya dan menoleh melirik pasukannya.


"Buka barisan, dan bawa vampir itu ke dalam".


Delila tersentak ketika punggungnya di dorong kasar untuk memaksanya berjalan cepat, gadis itu menatap diam para prajurit yang menatapnya dengan sorot sinis dan rendah.


Delila terhenti di depan sel, gadis itu terdiam menatap rantai di tangannya dan sel itu bergantian.


"Tunggu apalagi sialan". Umpat pria pembawa kunci itu padanya, sepertinya kalau bisa pun, pria itu ingin menendang nya masuk.


Namun terlihat sekali, kalau ia juga punya rasa takut berdekatan dengan Delila. Gadis itu diam, hanya memikirkan sesuatu sebelum tiba-tiba ia tersentak kecil begitu tubuhnya terhuyung saat kerah leher gaunnya di cengkram kuat. Pria itu menatapnya tajam menyala-nyala dengan tangan terkepal hingga buku-buku tangannya memutih.


"Cepat masuk vampir sialan!" Geramnya mencengkram kasar kerah  gaun gadis itu.


Manik Delila membelalak, iris merahnya melebar dengan sorot tak terbaca ketika bertatapan dengan pria itu. Manik nya memunculkan simbol pentagram sesaat, menyala sebentar dengan huruf kuno yang bergerak berputar di dalamnya ketika ia bersitatap dengan kedua prajurit.


Belum sempat memberi respon apapun, Delila lebih dulu jatuh tersungkur ke dalam sel ketika pria itu mendorong tubuhnya kasar dan langsung mengunci pintu penjara dengan cepat. Sekilas, Delila melihat sorot remeh dan jijik dari pria itu, meninggalkannya sendirian di ruangan temaram dengan prajurit yang mengekor di belakang seakan mereka sendiri juga sudah tidak tahan berada di sana.


Sang Wizard terdiam, ia duduk di atas kain putih yang hanya menjadi satu-satunya alas di penjara kotor ini. Gadis itu menatap kedua tangannya yang di rantai, ia mendongak, menelisik sekitarnya dengan sorot tak terbaca dari kedua iris merah itu.


Delila tidak melawan saat pria itu mendorongnya, bukan karena dia melemah atau tak bisa.


Baru saja, gadis itu mendapat penglihatan masa depan ketika tak sengaja bersitatap. Manik merahnya yang disebut-sebut istimewa ini, melihat sebuah kilasan tempat yang yang hancur dan buruk, dengan banyak mayat berserakan di lautan darah. Gadis itu melihat bendera perang yang berdiri tegap dengan kain terkoyak-koyak.


Manik merah Delila menyala akan sorot misterius.


Dia melihat— akan ada pertarungan besar yang memakan korban jiwa di negeri ini. Pertarungan itu, terjadi sebentar lagi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Jangan Lupa VOTE dan COMMENT karena semua itu Gratis dan sangat berarti ♥️


Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻


To Be Continued