
Hi whatsup samlekom!
Welcome Back 😽
Lets read my story
Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻
Enjoy 🙆
🍁
Delila terdiam, ekspresi nya sama sekali tak bisa di tebak. Gadis itu hanya memandang dengan tatapan datar dari kedua manik merah terang nya, ia kembali melirik mayat ribuan Rogue yang mati begitu saja tergeletak di jalanan.
"Maafkan saya Yang Mulia".
Manik gadis itu, menatap Claude yang belum memberi reaksi apapun setelah melihat semua ini.
"Saya... Terpaksa melakukannya, untuk menyelamatkan orang lain". Ucap Delila dengan wajah tak terbaca, di belakangnya anak-anak itu masih duduk menyudut dengan ekspresi ketakutan.
Rahang Claude mengetat, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan sorot tajam serta buku-buku tangannya yang memutih. Manik kuning sang raja, terlihat dingin serta datar dengan hawa mencekam kuat yang menguar di sekitarnya. Ia menatap mayat-mayat serigala itu dengan wajah tak terbaca, tidak... Bukannya ia tidak tertolong soal ini, tapi...
"Yang Mulia!" Para kesatria kerajaan berbondong-bondong menuju raja mereka dengan menaiki kuda, mereka semua terlihat kaget sampai-sampai tak bisa mengungkapkan sepatah kata pun ketika melihat ribuan mayat Rogue yang sudah tergeletak tak berdaya di sana. Seakan mereka di bunuh secara massal, tidak ada yang berani bicara di hadapan sang raja ketik mereka merasakan hawa mencekam dari nya.
"Yang Mulia, apa—"
"Kawanan Rogue ini... Datang karena dipancing". Potong Delila lirih, namun telinga tajam para Lycan bisa mendengar jelas ucapan gadis itu. Mereka semua sontak meliriknya.
Claude menggeram pelan. "Apa alasan mu berani mengatakan itu?" Tanya nya dengan nada rendah yang sudah menyiratkan ancaman, jika saja Delila memiliki sangkut paut dengan hal ini. Raja, mungkin tak akan segan mengangkat pedangnya pada gadis bersurai merah itu.
Delila terdiam, ia berdiri sejenak menuju mayat Rogue itu dan kembali bertekuk lutut di hadapan salah satu Rogue yang sudah terkulai tak bernyawa. Satu tangannya terulur, menyentuh pelan kepala Rogue itu, sebelum mengangkat nya sedikit. Delila menatap dalam manik Rogue itu, mata nya menyala dengan lambang pentagram di dalamnya yang bergerak berputar. Gadis itu menelisik, membaca dan melihat kilasan serta kejadian yang di lihat oleh Rogue ini sebelumnya.
Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, sang Wizard kembali meletakan kepala Rogue itu pelan.
"Mereka... Dipancing, ada seekor mayat Rogue yang diletakan sembunyi-sembunyi di sudut gerbang istana". Ungkap Delila datar, ia kembali melirik Claude yang tengah memberi ekspresi tak terbaca.
Namun sang raja jelas marah dan emosi, terlihat dari gagang pedangnya yang digenggam erat-erat.
"Bagaimana aku bisa percaya pada mu?"
Sang Wizard kembali diam, manik merah nya tampak redup dan kosong.
"Saya bisa menunjukannya".
Setelah ungkapan gadis itu, akhirnya Claude memerintahkan Delila untuk menunjukan tempat dimana mayat seekor Rogue di sembunyikan sebagai pemancing agar kawanan Rogue berbondong-bondong menyerang istana setelah mencium aroma anggota kawanan mereka. Selama perjalanan menuju gerbang, Delila berjalan pelan berada di samping raja dengan ke enam tangan kanan nya yang mengawal serta para kesatria berjejer dengan pedang di tangan mereka yang siap di ayunkan jika saja sang Wizard berbohong atau melakukan hal yang mencurigakan.
Dalam diam, Claude menatap Delila tajam. Manik nya sama sekali tak bisa membaca ekspresi dan perasaan gadis itu, ia selalu terlihat datar dengan tatapan kosong, dan tak pernah merasa takut ketika diancam sekalipun senjata sudah menggores lehernya. Gadis yang aneh, dan berbahaya bagi raja. Dia akan terus mengawasi Delila, sampai ia tahu siapa sebenarnya gadis itu, dan kenapa... Ia bisa mengeluarkan kekuatan semengerikan itu.
Begitu sampai di luar gerbang negeri, para kesatria langsung berbaris rapi membentuk tameng untuk mencegah Delila kabur, namun gadis itu berjalan dengan tenang, matanya melirik kesana kemari seakan mencari sesuatu, hingga akhirnya hidung mungil nya berkedut mencium suatu bau.
Delila berjalan menuju sebuah gundukan jerami yang tampak normal dan biasa saja di dekat gerbang negeri, namun begitu sang Wizard mendekat, ia langsung menendang gundukan jerami itu hingga luruh berjatuhan. Barulah, mayat seekor Rogue terlihat keluar dari sana. Mayat yang terkulai dengan hewan-hewan beterbangan mengelilinginya. Perkiraan Delila, mayat Rogue ini sudah di letakan selama dua hari sebelum kejadian ini terjadi.
Semua orang terkejut, bahkan ada yang sampai menutup mulut mereka karena tak kuasa menahan bau mayat yang menyengat. Mereka semua tidak menyangka kalau ada orang yang sengaja meletakan mayat seperti ini untuk memancing kawanan besar Rogue ke Negeri Caylon, siapa orang yang sejahat itu untuk membiarkan rakyat jadi korban atas rencana busuknya?
Sang raja diam dalam renungan nya sesaat, manik nya yang sempat melebar kini berubah tajam menusuk saat Delila sudah menunjukan mayat Rogue itu di hadapannya, membuktikan bahwa apa yang dikatakannya adalah kejujuran.
Zillian, tangan kanan pertama raja pun maju. "Sepertinya, ada orang yang sengaja meletakan mayat ini untuk memancing kawanan Rogue menyerang negeri".
"Yang Mulia, ini masalah serius. Kita harus segera mengusut nya sebelum siapapun itu sadar dan semakin mengeluarkan serangan baru".
Allen bergumam setuju. "Apa mayat ini memang dibunuh di dekat negeri agar kawanan bisa mencium bau nya kesini?"
"Rogue ini di bunuh di tempat asalnya, tempat yang cukup berjarak dari negeri ini. Pelaku nya menyayat leher Rogue ini agar darahnya menetes dan menjadi jejak untuk kawanannya mengikuti lalu berinsting menyerang negeri ini". Ucap nya menunjuk bagian leher serigala itu yang terkoyak dengan bekas darah yang sudah kering.
Semua orang terdiam mendengar penjelasan Delila, mereka semua yang ingin menyanggah seakan kehilangan kata-kata ketika gadis itu kembali bisa membuktikan ucapannya. Memang benar, mayat itu di gorok hingga darahnya mengering, dan pasti membuat teori Delila dibenarkan. Tapi mereka juga tak bisa langsung percaya pada orang asing sepertinya yang tiba-tiba saja mau membantu, terlebih... Dia adalah kaum Vampir.
Lycan, tidak bisa dan tidak akan percaya pada Vampir. Mereka adalah musuh sejak waktu yang cukup lama.
Claude terdiam, kepalanya yang sempat tertunduk itu membuat orang lain tak bisa melihat bagaimana ekspresi nya sekarang.
"Zillian".
"Ya Yang Mulia?". Patuh pria bersurai hijau gelap itu menunduk hormat.
"Bereskan semua ini, panggil semua tangan kanan raja dan orang-orang yang bersangkutan ke istana".
"Baik Yang Mulia".
Claude berbalik, ia berjalan cepat menuju kuda nya yang di ikuti oleh para tangan kanan dan kesatria. Di belakang nya jauh, Delila juga tengah berjalan di kawal oleh puluhan kesatria beserta Noah dan Raaya, gadis itu masih diam seperti patung dengan tatapan kosong dari manik merah terangnya.
"Diablo". Panggil nya membuat sosok tangan kanan ke tiga raja, berjalan mendekat sebelum membungkuk hormat.
"Setelah ini, selidiki dan interograsi gadis itu se dalam-dalamnya. Aku ingin informasi secepatnya". Titah sang raja yang langsung di patuhi, sosok pria bersurai abu-abu gelap itu mengangguk.
Tangan Claude mengepal kuat menggenggam pedang nya erat dengan aura hitam yang sempat keluar dari genggamannya, manik pria itu menajam dengan sorot misterius.
Dia harus... Segera memutuskan keputusan soal gadis itu. Dia dan kekuatannya terlalu berbahaya, entah apalagi yang akan terjadi setelah ini, yang pasti sosok Wizard setengah Vampir itu tidak boleh dibebaskan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan Lupa VOTE dan COMMENT karena semua itu Gratis dan sangat berarti ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik liannya 😻
ITS DELILA ACNES VISUAL
Kamus
Rogue : werewolf buas yang telah kehilangan sisi manusia nya
To Be Continued