
Hi whatsup!
Welcome Back 😽
Lets read my story
Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻
Enjoy 🙆
🍁
Terdengar suara banyak langkah kaki menggema di lorong menuju ruang tahta, diantaranya adalah Delila yang di kawal oleh Noah dan Zilian. Tadinya Raaya memaksa untuk ikut karena merasa harus melindungi Delila atas jasa sang Wizard yang menyelamatkan nyawanya, namun karena keras dan tegas nya Noah menolak Raaya, meminta gadis itu untuk kembali ke Camp.
Dan kini, Delila berjalan malas dengan Zilian di sisi kanan dan Noah di sisi kiri mengawasi nya. Menghela napas lelah, gadis itu menatap datar sebuah pintu besar berwarna emas yang pernah ia lihat waktu itu, sang Wizard terhenti untuk mendongak dan menatap keseluruhan pintu besar nan megah di depannya.
Zilian maju, mendorong pintu itu dengan satu tangannya dan memerintahkan Delila juga Noah untuk ikut masuk dengannya.
Suara pintu terbuka lebar, menggema keseluruh ruangan besar yang terlihat sepi dan kosong. Delila melirik ke sekitarnya, menatap waspada ruangan kosong ini dengan manik merah yang menajam. Kembali gadis itu menatap punggung tegap Zilian di depannya, menatap surai hijau gelap pria itu dan menimang-nimang kepribadian tangan kanan pertama sang Raja.
Gadis itu kira mereka hanya akan ke ruangan besar dan megah ini, tapi ternyata Zilian membawanya dan Noah lebih jauh menuju sebuah pintu yang terlihat khusus juga tersembunyi. Sebuah pintu di belakang tahta Raja terbuka ketika Zilian meletakan telapak tangannya sebagai kunci.
Delila dengan tenang berjalan memasuki ruang gelap itu, semakin masuk maka akan semakin terang karena cahaya yang masuk melalui jendela-jendela disekitarnya.
Sang Wizard terhenti sesaat, menatap tajam sekumpulan orang-orang berpakaian rapi dan sangat terlihat kalau mereka bukan orang biasa. Beberapa dari mereka memakai jas khusus dan berdiri tegap dihadapan seorang pria yang duduk di singgasana emas. Pria itu duduk angkuh dengan satu kaki yang di tompang, tangannya menompang wajah sang Raja yang tampak sinis.
Menghela napas sejenak, Delila kembali berjalan setelah ia sedikit melirik Noah yang memberinya tatapan 'semua akan baik-baik saja, jangan khawatir', pria itu tersenyum kecil mencoba menenangkan Delila walau gadis itu memang tidak gugup sama sekali. Hanya... Reflek karena aura yang sangat mencekam di tempat ini.
Delila terhenti beberapa meter dihadapan sang Raja yang duduk angkuh diatas sana, para tangan kanan dan White Witch berkumpul di sekitar ruangan seperti sedang mengadakan rapat penting. Dan sang Wizard dapat menyimpulkan, ia akan menjadi pusat perhatian lagi.
"Dia sudah disini Your Highness". Hormat Zilian membungkuk pada sang Raja. Dengan lirikan manik hitamnya, Raja Lycan memerintahkan Zilian untuk undur diri.
Semuanya hening, diam dan begitu senyap. Tidak ada yang berani membuka suara jika Raja mereka masih setia berdiam diri di singgasananya. Menatap tajam Delila dengan manik hitam kelam yang begitu dingin dan tak tersentuh, meneliti keseluruhan penampilan gadis itu. Semakin menajam ketika ia bersitatap dengan manik merah yang dengan berani menatap lurus dalam matanya.
"Apa yang kalian lihat?".
Para White Witch mengangguk mengerti. "Tidak ada luka ditubuhnya, tidak ada tanda-tanda penyakit dan juga racun. Tubuhnya sembuh dan sehat secara total". Lapor salah seorang White Witch hormat.
Sang Raja tampak tidak puas, manik hitamnya yang tajam menelisik dalam dan begitu dingin, ingin menyelami manik merah ruby itu lebih dalam.
"Kau".
"Bukankah ular iblis itu menggigit mu? Dia bahkan membunuh dua puluh pasukan terlatih ku dan kenapa— kau masih bisa sembuh?". Tanya sang Raja dengan nada nya yang sedikit geram.
Delila menyipit. "Jadi kau menginginkan kematian ku?".
Raja Lycan tampak menyeringai, menompang wajah tampannya dengan sebelah tangan dan duduk angkuh di singgasana emas dengan lima orang tangan kanan setia.
"Mungkin saja".
"Tapi, yang lebih ku ingin kan adalah kenapa kau bisa sembuh secepat itu hanya dengan tidur? Kaum vampir tidak memiliki ability seperti itu". Desis tajam Claude, menatap sinis dengan mata berkilat.
Mendengar perkataan Claude, jelas sekali membuat Delila yang terkenal cerdas sebagai Scarlett Witch paham kalau pria itu pasti memerintah seseorang untuk mengawasi nya selain Noah sendiri. Sang Wizard dapat menyimpulkan kalau Claude adalah sosok Raja yang tidak sekedar berkuasa dan terkenal akan kekuatannya, tapi juga kecerdikan dan sifat licik nya yang dipadu degan kekejaman. Membuat Raja Lycan ke tiga ratus sembilan puluh sembilan ini terkenal luas tidak terkalahkan.
Menghela napas panjang, Delila mencoba tetap bersikap tenang saat ia diperlakukan seperti binatang dan tahanan yang menjadi tontonan orang lain.
"Aku pernah bilang, kalau aku ini bukan vampir murni. Standar untuk ability maupun kekuatan vampir tidak berpengaruh pada ku". Jelasnya singkat, tak sekalipun takut menatap manik hitam legam yang berkilat tajam menatapnya.
Claude tersenyum sadis, pria itu menyandarkan punggung tegapnya dan menatap Delila yang berdiri di bawah sana.
"Kalau begitu... Bisa kita uji?". Seringai sang Raja.
Delila tersentak, sepuluh knight senior dengan level tinggi menyerang nya secar bersamaan dengan berbagai tipe penyerang. Mereka semua adalah penyerang jarak jauh yang siap menembak kapan pun Raja memerintah.
Gadis itu meringis, sebenarnya ia sangat terpaksa akan menggunakan kekuatannya untuk melawan mereka semua. Namun rantai malaikat yang membelenggu nya atas perjanjian Claude tiba-tiba muncul mengikat kedua tangan dan leher Delila. Claude sengaja, membuatnya tak bisa bergerak lebih saat pedang dan anak panah akan menyentuhnya, seketika manik ruby nya membesar.
Crash.
Delila jatuh terduduk di hadapan Claude, bersimbah darah dengan sembilan anak panah yang berhasil menembus punggung, paha, kaki dan lengannya. Darah segar terus mengalir, membuat cairan merah kental itu menodai lantai putih istana.
Di atas singgasananya, Claude tampak datar dan menatap penasaran dengan Delila yang sudah melemah. Manik hitamnya terlihat berkilat dengan cahaya keemasan yang mengubah-ubah iris hitamnya ketika melihat darah gadis itu mengalir deras.
Noah yang berada disana benar-benar tidak tahan dan ingin menyelamatkan sang nona, ia tidak tega melihat gadis serapuh Delila disiksa se keji ini. Namun apa daya, jabatannya sebagai tangan kanan Raja tidak bisa mengkhianati janji setianya.
Noah benar-benar khawatir sampai-sampai tak sadar ia meremas tangannya gugup. Apa nona Delila akan mati? Batinnya memejamkan mata tak tega.
Namun perkiraan sang Raja salah dan seluruh orang yang ada di sana tergelak kaget melihat gadis bersurai merah itu masih bisa berdiri dengan anak panah yang menancap dalam di tubuhnya. Claude menggeram, menatap Delila yang mulai bangkit dan menatapnya dengan manik itu lagi. Manik merah ruby yang begitu kosong namun sama sekali tak terbesit rasa takut.
Begitu juga dengan panah lainnya, Sang Wizard dengan tenang mencabutnya satu persatu hingga suara jatuh benda terdengar berulang-ulang hingga panah itu habis.
Delila berdiri tegap disana, dari balik gaunnya yang robek, manik hitam Claude yang sedikit berubah keemasan bisa menangkap luka berdarah yang perlahan-lahan beregenerasi sangat cepat dan tak berbekas di kulit pucat Delila.
Semua orang tampak terkejut, bahkan membelalakkan mata hanya untuk memastikan apa yang mereka lihat itu sungguh sebuah keajaiban.
Claude dan para pengikutnya juga terlihat kaget, menatap dengan tak percaya apa yang baru saja mereka lihat. Ini terasa tidak mungkin bagi seorang vampir mengingat mereka tidak mempunyai ability yang secepat dan sekuat ini.
"Jadi, aku sudah boleh pergi kan?". Delila mengabaikan tatapan aneh dan kaget orang-orang yang melihatnya, mengabaikan bekas darah dan panah yang terkena darahnya di lantai.
Tanpa berkata-kata lagi, Delila berbalik badan melangkah pelan meninggalkan orang-orang itu dengan misteri dan hal yang akan mereka pikirkan keras setelah ini.
Noah membungkuk hormat, meminta ijin untuk kembali mengawal Delila. Pria itu sedikit berlari kecil, mengejar sang Wizard yang sudah berjalan jauh di depan.
Sedangkan sang Raja hanya terdiam, manik hitamnya berkilat menajam menatap punggung kecil Delila yang mulai menjauh.
"Terlihat tidak mungkin kan, Your Highness?". Aulee, tetua White Witch Kerajaan Lycan tersenyum penuh arti. Karena ia mengenal betul, siapa Delila yang sebenarnya.
"Sebenarnya, siapa dia itu?". Gumam Claude menggeram rendah, gigi taringnya yang tajam dan panjang mencuat dari kedua sudut bibir.
"Suatu hari nanti, anda akan tahu, Your Highness". Aulee tersenyum, membungkuk hormat pamit undur diri.
💠
"Nona! Nona tunggu!".
Noah berlari mengejar Delila yang terlihat sangat jauh, berulang kali pria itu berusaha memanggil namun Delila menuli dan mengabaikannya.
Mungkin kelihatannya Delila baik-baik saja, mungkin dia terlihat tidak terluka dari luar. Tapi sebenarnya seluruh tubuhnya sedang sakit luar biasa dadi dalam, hanya ringisan kecil dari gadis itu yang menjadi saksi atas segala rasa sakit nya saat ini.
Tubuhnya melemah, Delila sadar hal itu. Tidur dan meditasi tidak akan cukup untuk mengembalikan energi dan kekuatannya, terlebih mereka hanya memberi makanan biasa dan sekedar air untuk Delila.
Delila lelah, ia sakit dan lemah.
Satu-satunya hal yang mampu menyembuhkannya selain bantuan Heal dari orang lain, adalah— darah.
Dia sadar dia ini vampir, sudah sepantas dan sewajarnya makhluk berkulit pucat sepertinya mengkonsumsi darah secara rutin meski tidak sehari-hari.
Namun Delila benar-benar menolak, dia bahkan tidak ingin lagi membiarkan cairan merah kental itu masuk ke mulutnya. Ia benar-benar tidak ingin menjadi monster seperti dia.
Sudah cukup Delila membenci diri nya sendiri atas darah vampir yang mengalir dalam dirinya, sudah cukup ia menolak sebagai keturunan dari seorang bangsawan vampir.
"Hah". Delila jatuh terduduk, begitu pun Noah yang langsung secepat nya mendatangi gadis itu.
Noah terlihat gusar, memegang kedua pundak Delila dan menjaga tubuh gadis itu agar tidak jatuh. Manik cokelatnya menangkap ekspresi Delila yang meringis, keringat membasahi kening dan membuat surai merah gadis itu menempel.
"Nona, kau baik-baik saja?!". Noah panik, dia bersiap untuk memposisikan tangannya di tengkuk dan bawah lutut Delila.
Dengan cepat Noah mengangkat tubuh lemah Delila, membawa nya berlari secepat mungkin sambil menghubungi Raaya untuk datang bersama Healer dan White Witch.
Sedikit Noah melirik Delila, gadis itu tampak sulit bernapas dan tangannya memegangi bagian dada yang terasa sesak.
Pria itu berdecak kesal, dengan kekuatan Lycan nya, Noah berlari cepat menuju kamar Delila. Berharap agar gadis itu akan baik-baik saja.
💠
"Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?".
Aulee selesai memeriksa keadaan Delila yang terbaring lemah di ranjang, napas gadis itu kini sudah teratur dan tidak tersenggal-senggal.
Sang White Witch menatap Noah dengan senyum tipis. "Dia hampir sekarat tadi, untung nya kau membawa nya dengan cepat, jadi aku bisa membantu Healing pada tubuhnya".
Noah menghembuskan napasnya lega, ia sangat berterimakasih pada Moon Goddes dan Aulee karena bisa secepatnya menolong Delila.
Aulee menatap Delila yang terbaring tenang, manik hijau nya menatap teduh sang Wizard yang pulas dalam tidurnya.
Semoga kau baik-baik saja, Delila Acnes. Batin Aulee tersenyum tipis, meninggalkan Delila seorang diri dalam ranjang berkelambu.
Di sisi lain, Dark Forest yang telah mengalami suasana malam hari tampak mencekam dengan hawa dingin dan gelap gulita nya. Terlebih ketika ada sosok yang bergerak-gerak dari dalam kegelapan itu, sosok yang dengan manik kuning menyala nya yang tajam menatap negeri para Lycan dengan desisannya.
Jangan Lupa VOTE dan COMMENT karena semua itu Gratis dan sangat berarti ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik liannya 😻
To Be Continued