
Hi whatsup samlekom!
Welcome Back 😽
Lets read my story
Dont Forget to VOTE n COMMENT karena semua itu GRATIS, dan sangat berarti ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻
Enjoy 🙆
🍁
"Darimana kau berasal?"
"Siapa kau sebenarnya?"
"Apa yang berusaha kau sembunyikan? Katakan?!" Diablo menggebrak meja begitu ia tidak mendapat jawaban apapun dari sosok gadis mungil di depannya, ekspresi gadis itu bahkan sama sekali tak menyiratkan ketakutan. Bahkan mata merah nya, begitu datar, dingin dan kosong tanpa cahaya.
Diablo menggeram, ia langsung mendekat dan mencengkram kerah baju Delila hingga gadis itu ikut berdiri karena tarikan kuat sang tangan kanan raja. Noah yang ada di ruangan itu, reflek tergerak ingin menghentikan Diablo sebelum dia kembali ingat, di sini posisi nya lebih rendah dari Diablo. Dia tidak bisa melawan.
Pria bersurai abu-abu gelap itu, terlihat menatap tajam dengan sorot membunuh. Buku-buku tangannya sampai memutih sangking kuat nya ia mencengkram kerah baju Delila, sementara gadis itu hanya menatap ke arah lain tanpa ekspresi.
"Kenapa kau tidak menjawab? Apa kau memang perlu di siksa?!" Geram nya yang bahkan memunculkan gigi taring di kedua sudut bibir nya.
Delila terdiam, ia sama sekali tak melakukan apapun untuk melawan. "Aku... Tidak bisa mengatakan nya".
"Brengsek!" Diablo marah, dia reflek melempar Delila kasar hingga gadis itu menunduk dinding dengan kuat.
Gadis itu terdiam, ia hampir oleng karena tekanan kuat yang tiba-tiba. Delila kembali mendongak, menatap Diablo dengan diam dari kedua manik merah nya. Sudut bibir gadis itu berdarah karena Diablo yang tanpa sadar memukulnya, namun sang Wizard hanya terdiam tanpa berusaha membalas. Napas Diablo terengah-engah menahan emosi, manik nyalang nya menatap Delila dengan tajam, melihat bagaimana cepatnya regenerasi luka gadis itu. Bahkan luka dibibir nya langsung sembuh tak berbekas.
Sudah berkali-kali mereka mengancam nya dengan siksaan, apapun itu. Namun tetap saja, gadis seperti boneka itu hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun ketika dia di lukai, bahkan dalam hitungan detik juga, semua luka nya sembuh tak berbekas. Seakan ia sudah tak bisa lagi merasakan rasa sakit, terlihat dari tatapan kosong manik merah terang itu.
Diablo menggeram, kedua tangannya terkepal kuat dengan otot-otot yang menegang.
"Singkirkan monster itu dari hadapan ku!" Gertak nya mengusir Delila, gigi taring nya yang mencuat seakan mengancam ketika ia membuka mulut.
Noah reflek membawa Delila keluar, pria itu setengah berlari menggandeng Delila di belakangnya pergi dari ruang intrograsi.
Dalam langkah nya, Noah terdiam. Manik cokelat pria itu terlihat redup dengan binar berkaca-kaca. Begitu langkah mereka mulai melambat, Noah terhenti dan membuat Delila yang digandeng di belakangnya juga ikut berhenti.
Pria itu, terdiam, ia menunduk pelan dengan wajah murung dan sorot redup. Satu tangan Noah terulur mengusap kasar wajahnya, sebelum ia menutup kedua matanya dengan bibir tertutup rapat. Delila terdiam, ia menunduk dan menatap genggaman tangan Noah erat melingkupi tangan nya.
"Nona..."
"Kenapa anda diam saja saat orang lain bersikap seperti itu pada anda?" Tanya pria itu dengan suara tertahan.
Delila mendongak, manik merah nya terlihat berbinar dibawah terpaan sinar bulan. "Memang nya, aku harus apa?"
Jawaban Delila pada akhirnya, membuat Noah menggigit bibir nya kuat, pria itu membuka mata nya dan menatap Delila tajam. Manik merah sang Wizard melebar, melihat— wajah Noah yang sembab, manik cokelat pria itu berkaca-kaca dengan tetesan air mata yang mengalir di pipi nya. Noah seakan berusaha menahan diri untuk tidak marah, ia sangat kesal, karena tidak bisa berbuat apa-apa.
"Anda adalah orang baik kan? Anda tidak mungkin berbuat jahat, iya kan?" Tanya pria itu seakan frustasi, ia menunduk, mengusap air mata nya kasar dengan tangan yang menggenggam erat tangan Delila.
"Saya... Percaya pada anda". Gumam nya parau dan begitu lirih, Noah seperti menahan sesak sedari tadi melihat Delila di perlakukan seperti itu.
Mungkin memang dia adalah tangan kanan raja, dia memang bukan sekali dua kali membunuh, ataupun menyiksa seseorang. Tapi rasanya, ketika itu terjadi pada gadis asing yang hanya diam di perlakukan sekeji itu, rasanya... Benar-benar menyesakan. Tatapan kosong nya yang seakan tak berjiwa, terlihat redup terlebih ketika ia tidak melawan pada orang-orang yang menyakiti nya.
Delila terdiam, bibir nya terbuka sesaat seperti ini mengatakan sesuatu sebelum ia kembali meragu.
"Padahal kita bukan siapa-siapa, maaf sudah bersikap seperti ini nona. Tapi saya... Benar-benar sudah percaya pada anda". Gumam Noah menundukkan kepalanya.
Manik merah terang Delila, terlihat berbinar semakin berkilau di bawah terpaan sinar bulan malam ini.
"Tidak apa-apa, Noah". Jawab Delila pelan, membuat setitik air mata kembali menetes dari manik cokelat sang tangan kanan raja.
"Terimakasih atas kepedulian mu".
"Sebagai gantinya, aku akan berjanji untuk melindungi mu dan seluruh keluarga mu atas— nama keluarga ku". Ucap Delila dengan senyum yang amat tipis, begitu tipis di wajah mungilnya sampai-sampai orang mungkin tak sadar kalau dia tersenyum.
"Dan aku akan mengabulkan, satu keinginan mu".
Noah mendongak, ia menatap Delila tak percaya. Bahkan di saat seperti ini pun, gadis itu masih memperdulikan orang lain. Sang tangan kanan raja menggeleng pelan. "Tidak perlu nona, seharusnya anda melindungi diri anda sendiri".
Delila terdiam, ia tersenyum simpul sesaat. "Simpan saja itu untuk mu, suatu saat nanti— kau akan membutuhkannya".
Setelah percakapan lama itu, akhirnya mereka kembali berjalan menyusuri lorong setelah Delila menunggu Noah lama untuk pria itu kembali mengatur ekspresi wajahnya. Tidak lucu kalau tangan kanan raja ketahuan menangis di tengah jalan seperti ini. Noah memutuskan untuk mengantar kembali Delila ke kamar nya yang berada di bangunan ujung dan terpencil istana.
Pertanyaan tiba-tiba dari Delila, seketika membuat Noah tersentak hingga membelalakan matanya lebar-lebar.
Noah tampak berdehem pelan. "Umm, sebenarnya itu adalah hal tabu untuk dibicarakan seperti ini".
"Kenapa?" Delila melirik pria bersurai cokelat itu lewat ekor matanya.
"Sebenarnya, salah satu yang membedakan Lycan dengan Werewolf, adalah bagian mate".
"Kami tidak bisa langsung mengetahui kalau itu mate kami seperti kaum lain, ada beberapa hal yang harus di lakukan untuk mengetahuinya. Kecuali jika sesama Lycan, mungkin bisa". Gumam Noah berpikir.
"Khususnya untuk keturunan raja, para tetua bilang kalau raja pertama adalah orang yang mendapat berkah dari dewi. Jadi, keturunan raja memiliki ketentuan dan tidak bisa seenaknya memilih atau mengetahui pasangan nya".
"Setiap setahun sekali, biasanya istana akan mengadakan upacara adat bagi raja untuk mencari pasangannya. Semua gadis di negeri ini akan dipanggil dan berbaris sementara raja berjalan berkeliling, jika beruntung, raja akan mendatangi gadis itu setelah ia merasakan tanda mate. Tentu, ini bagi Lycan".
Noah menatap sekeliling, waspada. "Kadang juga, yang paling sulit adalah ketika saat-saat tertentu, raja harus mencicipi darah untuk tahu apakah mereka punya keterikatan mate".
Rumit sekali. Batin Delila menatap tak tertarik, betapa sulit dan rumit nya cara Lycan untuk tahu pasangan mereka. Apakah itu adalah kutukan atau berkah karena menerima berkat dewi? Atau jangan-jangan, itu juga salah satu siasat demi menjaga keturunan asli raja dan darah istimewa mereka.
"Tapi raja mu masih belum menikah, apa dia masih belum menemukan pasangannya?"
Noah tersenyum kikuk mendengar pertanyaan itu. "Kami tidak tahu, tapi raja sudah melakukan ritual tahunan itu secara rutin meski memang belum ditemukan pasangannya. Dugaan para tetua, seperti nya mate raja adalah kaum lain".
Delila terdiam, entah kenapa dalam hati dia sedikit tersenyum menertawakan nasib sial raja itu. Mungkin itu kutukan bagi nya, karena menjadi sosok yang terlalu keji. Gadis yang jadi pasangannya, pasti tersiksa sekali.
"Berarti dia harus melakukan ritual lain yang rumit itu?"
Noah mengangguk. "Benar, tapi kami tidak bisa melakukan itu secara sembarangan. Ritual itu tidak boleh dilakukan sembarang gadis, biasanya harus di pilih terlebih dahulu".
"Seperti contohnya nona Atarin, menjadi salah satu putri dari keluarga Arkwright membuat nya punya kuasa dan banyak dukungan. Sehingga dia juga salah satu gadis yang terpilih, lebih tepatnya seperti mutlak diantara gadis lainnya".
"Anda tahu sendiri bagaimana dia, dia sudah mengejar raja sejak lama. Dia benar-benar gadis yang akan melakukan apapun untuk mendapat sisi disamping raja, jadi nona harus menjauh dari nya". Pesan Noah membuat Deila terdiam dan mencoba mengingat-ingat siapa Atarin, ternyata setelah beberapa saat, Atarin itu adalah gadis bersurai pirang yang menindas nya waktu itu.
Jadi... Dia seperti gadis yang di jodoh-jodoh kan dengan raja?
"Semua orang terlalu yakin dan percaya bahwa sebenarnya nona Atarin adalah pasangan raja, tapi itu semua masih belum terbukti karena raja juga belum melakukan ritual khusus itu". Sambung Noah yang terlihat bersemangat sekali membahas soal kisah cinta istana.
Delila hanya diam seperti biasa dia akan bergumam dalam batin saja.
Apa dia kuat menjadi pasangan raja sekeji itu? Memangnya siapa juga yang rela menjadi pasangan Cruel King. Pikir Delila mengangguk kecil seakan membenarkan, gadis itu harus bersyukur karena dia bukan pasangan orang seperti raja Lycan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan Lupa VOTE dan COMMENT karena semua itu Gratis dan sangat berarti ♥️
Follow Author untuk notifikasi menarik lainnya 😻
Kamus
Mate : pasangan yang di takdirkan Dewi Bulan
Rogue : werewolf buas yang telah kehilangan sisi manusia nya
To Be Continued