
Minggu, 09:30
"Mama, Via mau pergi dulu sama kak Arga. Mau nyari sponsor. Kalo Via
pulang telat nanti Via sms mama". Ucap Via turun dari tangga.
"Kamu jangan aneh-aneh ya, tetap jaga kesehatan jangan lupa
makan". Tatap Mama Gita.
"Mama gak usah khawatir aku akan baik-baik aja". Via
mengecup pipi mama nya.
"Kaya nya mama kamu sayang banget ya sama kamu". Tanya Arga yang
menunggu Via di gerbang rumah nya.
"Hmm.. iya mama sayang sama aku karena aku satu-satu nya anak yang mama
punya". Jawab Via.
Dalam keheningan, Arga menghidupkan lagu jazz ketika itu Via ikut
menyanyikan nya walau dengan suara kecil.
"Kamu suka lagu jazz juga?". Tanya Arga.
"Hehe... gak terlalu kak, tapi lagu nya enak didenger aja". Ucap
Via.
"Berarti kita sama ya, jarang-jarang loh seumur kita suka jazz
kebanyakan pada suka lagu luar negeri semua". Ucap Arga yang terlihat
senang.
"Kak Arga".
"Iya". Arga menengok ke arah Via.
"Kenapa kita cuma berdua nyari sponsor nya? Yang lain gak
ikut?". Tanya Via.
"Oh.. Saya lupa ngasih tau kamu. Saya udah bagi tugas kok, jadi kamu
tugas sama saya nyari sponsor hari minggu. Dan hari Rabu kamu sama Widia".
Jawab Arga.
"Oh gitu.. yaudah deh". Via kembali melihat pemandangan di dalam
kaca mobil.
"Emm.. kak, kita mau nyari sponsor dimana?". Tanya Via.
"Kita bakal ke pusat dailer motor dulu soalnya tahun kemaren juga dia
juga ngasih sponsor". Ucap Arga yang tetap fokus menyetir mobil nya.
"Oke".
Setelah setengah jam perjalanan. Mereka sampai dan mendapatkan sponsor itu.
"Abis ini kemana kak?". Tanya Via yang jalan bersampingan dengan
Arga.
"Kita akan ke cafe melati, cafe itu sering dikunjungin banyak anak SMA
Garuda juga. Tapi agak susah sih. Tahun lalu saya udah pernah ngajuin tapi kata manager nya harus dapat persetujuan dari Direktur Utama nya".
Jelas Arga.
"Kalo gitu kenapa kita gak ke tempat Direktur nya aja".
Saran Via.
"Saya gak tau alamat nya. Tapi kata manager nya hari ini dia
lagi ada di cafe melati". Ucap Arga.
"Wah bagus dong". Via bersemangat.
"Tapi dia cuma bentar soalnya dia orang yang sibuk. Cafe itu kan
cabang, pusat nya di jakarta". Ucap Arga cemberut.
"Buhh. Banyak juga ya cabang nya. Apa gak capek? Pasti keluarga nya
ngebantuin". Via membayangkan betapa sibuk nya orang sukses itu.
"Dia wanita usia nya hampir 40". Jawab Arga membuat Via kaget.
"Wah, ternyata banyak wanita karir ya yang sukses. Pasti anak dan suami
nya bangga". Via membanggakan sosok Direktur itu.
"Mungkin". Jawab Arga datar.
***
"Permisi mbak apa bisa kami menemui Direktur cafe ini. Kami mau
mengajukan sponsor untuk HUT sekolah kami". Ucap Arga kepada Manager itu.
"Tentu saja. Dari SMA Garuda yang kemarin menghubungi saya ya".
Tanya manager itu sambil melihat bedge sekolah nya.
"Iya mbak". Jawab Arga dengan sopan.
"Nyonya Direktur sedang berada diruang itu". Manager itu menunjuk sebuah ruangan.
"Terima kasih banyak mbak". Ucap Via.
Tok.. tok... tok..
"Permisi nyonya, ada siswa Garuda yang ingin bertemu dengan anda untuk
mengajukan sponsor". Manager itu masuk duluan dari mereka.
"Persilakan mereka masuk". Perintah Direktur.
Manager itu memanggil Via dan Arga untuk masuk ke ruangan.
"Permisi bu Direktur, kami dar..". Ucapan Arga terhenti.
"Cukup. Saya sudah tau. Karena kalian sekolah di SMA Garuda maka saya
akan menyetujui sponsor itu karena anak saya sekolah disitu". Jawab nya
tegas
"Jadi bu Direktur setuju?". Tanya Via tidak yakin.
"Iya. Tapi dengan satu syarat, saya mensponsori HUT SMA Garuda itu
harus meriah dan megah. Biaya kalian tinggal telpon saya. Saya ingin semua
siswa senang". Jawab Direktur dengan tegas seperti perintah.
"Baik bu, kami akan berusaha sebaik mungkin". Jawab Arga semangat.
"Kami mengucapkan banyak terima kasih sebanyak-banyak nya kepada bu direktur". Ucap Via.
"Jangan berterima kasih dengan saya. Saya bisa mensponsori ini karena
pengunjung yang datang juga. Tanpa mereka cafe ini bukan apa-apa". Ucap direktur dengan lembut.
"Kami permisi bu direktur". Ucap Arga dan Via bersama dan
Mereka meninggalkan ruangan itu.
"Emm.. Vi, gimana kalo kita makan di cafe ini dulu aja".
Ajak Arga.
"Boleh". Jawab Via setuju.
Mereka duduk di dekat ruang tadi yang kosong.
"Kamu pesen apa?". Tanya Arga.
"Oke biar saya yang pesan". Ucap Arga.
Via yang menunggu Arga memesan makanan, dia hanya memainkam hp nya dan
sesekali melihat sekeliling cafe.
"Tolong bilang sama dia. Dia harus kesini ini kan hari libur nya.
Saya ingin bicara dengan dia". Ucap wanita yang melewati Via sekaligus direktur tadi.
"Via ini makanan nya". Ucap Arga membuyarkan pandangan Via yang
sedari tadi memperhatikan wanita itu.
"Hah? Iya kak". Jawab Via kaget.
"Kamu ngeliatin apa? Kok bengong gitu?". Tanya Arga.
"Emm... gak kok kak cuma aneh aja. Direktur tadi
kelihatannya emang cuek tapi kaya nya dia sangat easy going kok".
"Iya sih. Terkadang orang yang terlihat seperti malaikat belum tentu
asli nya baik. Begitupun sebaliknya orang yang terlihat seperti iblis
menyeramkan bisa jadi dia menyembunyikan kebaikan nya, dia tidak mau
menampilkan kebaikan di depan orang-orang agar terlihat baik". Tegas
Arga.
"Iya kak". Via hanya tertegun dengan ucapan Arga.
"Kak saya ke toilet dulu ya". Ucap Via setelah selesai makan.
"Iya".
Via terus memikirkan Arga. Kakak kelas yang dia suka sejak pertama masuk dan
hanya bisa menyembunyikan perasaan nya itu sekarang bisa sering berduaan.
"Ini sebuah Anugerah". Gumam Via.
Bukk..
Tiba-tiba Via menabrak seseorang yang sedang membawa makanan hingga makanan
nya jatuh.
"Maafkan saya. Saya akan ganti makanan anda". Ucap Via menunduk
berasa bersalah.
"Via".
Via mendongak ke atas dan menatap mata orang itu.
"Ngapain disini?".
"Emm... gua..". Via masih bengong.
"Angga". Ucap seseorang menghampiri Via.
Via panik melihat Direktur itu menghampiri nya dengan tatapan tajam.
"Ada apa ini?". Tanya Direktur.
"Emm.. maaf bu direktur saya tadi yang menabrak Angga,
saya akan mengganti rugi semua nya dan.. sekali lagi saya minta maaf". Via
kembali tertunduk.
"Oh jadi kamu yang nabrak anak saya?!". Ucap Direktur itu
membuat Via kaget.
"Anak?". Tiba-tiba Via refleks bicara itu dan menatap Angga.
"Iya. Saya akan membatalkan sponsor itu karena kamu tidak sopan".
Tekan wanita di depan Via dengan wajah marah nya.
"Maaf, ini bukan urusan bu direktur. Saya yang nabrak Via.
Lagian kalo dia yang nabrak saya, dia udah minta maaf kok. Dan soal sponsor
tolong jangan dibatalkan saya akan mematuhi syarat anda yang tadi". Jelas
Angga kembali membuat Via bertanya-tanya.
"Baiklah. Tapi Angga ini mama kamu, bukan majikan kamu. Kenapa kamu
manggil mama begitu?".
"Saya hanya bawahan anda. Dan saya tidak memiliki apa-apa seperti
anda". Ucap Angga dingin.
"Angga! Cafe ini juga akan menjadi milik kamu!". Ucap mama nya
kesal dengan perilaku Angga.
"Hentikan!". Ucap Angga membuat seisi cafe memperhatikan mereka.
"Saya tidak ingin mengurus perusahaan apapun milik anda". Tekan
Angga.
"Angga".
Angga meninggalkan mama nya dan Via dan pergi ke ruang direktur.
"Maafkan saya bu direktur". Ucap Via masih merasa bersalah.
Direktur sekaligus mama nya Angga hanya melihat Angga pergi dan
menatap mata Via penuh amarah. Dia pun pergi tanpa menjawab permohonan maaf
Via.
"Via kamu gak papa?". Tanya Arga bingung.
"Gak papa kok kak". Jawab Via.
"Kalo gitu sebaiknya kita pergi saja dari sini lagian kan udah selesai
ngajuin sponsor hari ini". Ajak Arga.
"Baik kak". Via masih bingung memikirkan Angga dan yang katanya
mama nya.
Mereka memasuki mobil dan Arga akan mengantar Via pulang.
"Kak".
"Ya".
"Apa kakak tadi dengar kalo bu direktur tadi mengaku sebagai
mama nya Angga?". Tanya Via.
"Iya itu terdengar sama semua orang di cafe itu". Jawab Arga.
"Tapi kenapa Angga menganggap mama nya sebagai atasan nya". Tanya
Via kembali.
"Kakak gak tau Vi, kamu tanya aja sama Angga. Lagi pula ngapain sih
mikirin tentang hidup nya Angga". Arga terlihat kesal saat bahas Angga.
"Baiklah kak". Via akhirnya diam tidak ingin membuat Arga kesal.
Setelah beberapa menit akhirnya mereka sampai di rumah Via.
"Terima kasih kak". Ucap Via.
"Sama-sama, kakak pulang dulu ya". Jawab Arga dengan senyum tipis
nya.