Thank's My First Love

Thank's My First Love
BAB 4



Buuukk


Angga membaringkan badan nya ke kasur dan masih memakai seragam.


"Huuuf... capek juga ya buangin sampah disekolah. Dasar senior


gila ngasih hukuman yang aneh". Gumam Angga.


"Oiya surat nya. Paling dari cewek-cewek gak maksud yang hanya mandang


gua dari tampang aja". Keluh nya.


Angga mengeluarkan semua surat dari tas nya dan membuka satu-satu tanpa


membaca isi nya dan hanya  melihat tulisan i love you, suka.


"Tuh kan semua isi surat kaya gini. Tunggu surat dari siapa ini?".


Angga yang mengambil surat berwarna pink tanpa tulisan yang menyatakan suka


nya.


"Terima kasih udah nolong gua waktu itu". Angga membaca isi surat


yang singkat itu.


"Vian Anggraini Setyonegoro". Lanjut Angga membaca pengirim surat


itu.


"Siapa dia?". Pikir Angga mengingat semua wajah cewek dikelas nya.


"Gua gak peduli siapa si Vian itu". Angga melempar kertas Via ke


arah meja belajar nya.


Keesokan Hari


"Pagi anak-anak". Ucap Bu Luki


"Pagi bu". Jawab serempak siswa.


"Kalian sudah tau nama ibu kan. Ibu sekarang sebagai wali kelas


kalian". Ucap Bu Luki.


"Yeyeye". Sorak semua siswa semangat jika Bu Luki jadi wali kelas


mereka.


"Ibu akan membagi tempat duduk kalian. Soalnya banyak yang kosong di


depan dan agar kalian bisa beradaptasi dengan yang lain bukan itu-itu


aja". Ucap Bu Luki membuat semua siswa kecewa.


"Sinta kamu duduk sama Via". Perintah Bu Luki.


"Baik bu". Ucap Sinta senang karena sebangku dengan Via.


"Angga duduk di paling depan meja guru". Perintah Bu Luki sambil


menunjuk meja didepan nya.


"Gak usahlah bu. Saya lebih nyaman disini, lagi pula gak enak duduk di


depan guru, nanti guru nya naksir lagi sama saya". Jawab Angga membuat


semua orang tertawa.


"Gak usah gombalin saya. Cepet duduk disini". Ucap Bu Luki kesal.


"Yaelah bu". Angga mengambil tas dan pindah duduk di depan.


"Semua nya udah kan. Ibu akan absen kalian dulu". Ucap Bu Luki.


"Satya Angga Vinar".


"Saya didepan mata ibu". Ucap Angga membuat semua orang kembali


tertawa.


"Iya ibu tau". Jawab Bu Luki mencoba agar tidak tertawa.


"Sinta Rahma Sari".


"Saya bu". Jawab Sinta.


"Vian Anggraini Setyonegoro". Ucapan Bu Luki menghentikan Angga


yang sedang menulis dan ingin tau siapa itu Vian.


"Hadir bu". Via menjawab yang duduk di belakang kursi Angga.


Angga langsung menoleh kebelakang dan melihat Via dengan mata melotot ke


arah Via. Via ketakutan menatap mata Angga.


"Hai nama gua Vian Anggraini Setyonegoro. Panggil gua Via aja. Nama lu


siapa?". Sapa Via mencairkan suasana sambil memberikan sebelah tangan kanan


nya untuk salaman.


"Lu gak denger ibu tadi absen nama gua". Jawab Angga dingin dan


langsung memalingkan wajah kedepan.


"Iya gua tau kok. Bisa gak sih lu bersikap ramah sama semua


orang". Tekan Via kesal.


"Gak". Jawab Angga membuat Via nambah geram.


***


"Sin, Yu. Gua gak bisa pulang bareng kamuorang hari ini karena gua mau


kumpul OSIS". Ucap Via di depan pintu kelas.


"Yaudah gak papa. Kitaorang pulang duluan ya Vi. Hati-hati ya..".


Ucap Ayu.


"Iya, hati-hati juga" Via melambaikan tangan ke mereka.


"Kak Widia, kumpul OSIS di kelas mana?". Tanya Via saat ketemu


Widia.


"Kumpul di ruang OSIS dek". Jawab Widia menunjuk ruang OSIS.


"Makasih kak". Ucap Via.


Tok-tok


"Masuk aja".


"Kak, saya Via kelas se..". Ucap Via dihentikan Atika.


"Saya sudah tau. Karena kamu yang datang duluan jadi tolong beresin


surat-surat itu dan buang". Perintah Atika.


"Iya kak, kalo boleh tau itu surat apa kak?". Tanya Via.


"Itu surat cinta kemarin yang gak ada nama pengirim sama nama penerima


nya. Jadi gak dikasih". Jelas Atika.


"Oh gitu yaudah kak saya akan beresin semua nya". Ucap Via.


Via membereskan semua surat lalu tertawa geli melihat isi surat nya.


Tiba-tiba Via tertarik dengan surat yang bertulis Maaf udah buat lu jatuh


dan sakit.


"Siapa yang ngirim surat ini, aneh sekali. Ini surat cinta kan bukan


surat permintaan maaf. Tapi kok gua penasaran sama ini surat ya". Gumam


Via.


"Kak, boleh saya ambil satu surat dari sini gak?". Tanya Via.


"Terserah lu, mau lu ambil 1 atau semua gua gak peduli". Acuh


Atika sambil mengetik di laptop nya.


"Makasih kak". Jawab Via.


sampah.


"Eh Via, kamu daftar OSIS juga". Tanya Arga.


"Hah, iya kak". Jawab Via sambil menunduk.


"Kamu udah dapat tugas belum?". Tanya Arga.


"Udah kak". Jawab Via sigap.


"Tugas nya apa?". Tanya kembali Arga.


"Ini kak, membereskan surat-surat yang gak penting di ruang OSIS".


Jawab Via sambil menunjuk surat di tong sampah.


"Ya ampun, sebenernya anggota baru OSIS diberikan tugas masing".


Ucap Arga.


"Yaudah kamu saya beri tugas mengerjakan Visi & misi yang bagus


untuk OSIS kedepan nya". Perintah Arga.


"Baik kak". Jawab Via patuh.


***


Di rumah Angga


"Jadi ini dari cewek itu, ngapain dia bilang terima kasih. Cewek


aneh". Gumam Angga.


Tok tok


"Angga ini mama buka pintu nya makan malam udah siap". Ucap Mama


Linda dibalik pintu.


"Ya". Teriak Angga.


"Gimana sekolah baru kamu nak?". Tanya Mama Linda.


"Biasa aja". Angga mengacuhkan mama nya dan kembali memakan


makanannya.


"Angga kalo mama ngomong itu tatap mata mama". Bentak Mama Linda


sambil memukul meja makan.


"Mama apa mama gak tau adab makan?. Orang sedang makan tidak boleh


berbicara". Lawan Angga dan pergi meninggalkan meja makan.


"Angga! Angga! Kenapa kamu selalu dingin dengan mama?". Ucap Mama


Linda langsung menghentikan langkah Angga.


"Karena mama sibuk dengan pekerjaan mama. Bahkan Angga pikir kalo Angga


bukan lah anak mama!".


Plak


Sebuah tamparan melayang dipipi Angga begitu saja.


"Papa pergi meninggalkan mama karena mama mementingkan urusan mama dan


teman-teman mama!". Angga yang marah membuat mama Linda terdiam.


"Dan satu lagi kesialan ku bisa lahir dari mama yang seperti


dirimu!". Angga membanting pintu kamar nya.


"Angga dengar nak, mama melakukan pekerjaan ini untuk kamu nak. Kalo


mama gak kerja kamu makan apa nak dan papa mu dia meninggalkan mama begitu


saja". Tangis Mama Linda.


Di rumah Via


"Siapa ya yang nulis surat ini. Kok kelihatan nya romantis padahal gak


ada kata romantis nya". Gumam Via.


Ting tong


Via menengok jendela kamar nya dan melihat mobil papa nya dan langsung turun


kebawah.


"Papa". Via langsung memeluk papa nya.


"Anak papa kangen ya sama papa". Tanya Papa Rudi.


"Ah papa bisa aja, papa bawa apa buat aku?". Tanya Via


"Kamu ngerayu papa ada mau nya aja". Papa Rudi mencubit pipi Via.


"Apa sudah adegan antara anak dan papa?". Tanya Mama Gita.


"Hehe... mama kamu cemburu". Ucap Papa Rudi.


"Ya aku cemburu, selingkuhan mu ini sudah besar awas kamu ditinggal


pergi". Rayu Mama Gita menggoda Via dan papa nya.


"Ah mama bisa aja. Aku gak akan ninggalin papa dan mama kok".


Jawab Via dipelukan papa nya.


"Ayok makan malam, mama udah buatin makanan buat kalian berdua".


Ucap Mama Gita.


"Terima kasih mama". Ucap Via dan papa nya bersama. Mama nya hanya


tersenyum simpul melihat anak dan suami nya.


"Hmm.. Via gimana sekolah baru mu?". Tanya papa Rudi.


"Seru kok pa. Aku udah masuk di OSIS dan ditugasin buat visi dan misi


nya". Jawab Via.


"Baguslah. Kamu harus bertanggung jawab untuk tugas yang diberikan pada


mu". Tegas papa Rudi.


"Siap pa. Hehehe..". Via memberi hormat papa nya.


"Via, apa ada cowok yang kamu suka di sekolah?". Tanya mama Gita


mengagetkan Via dan papa nya.


"Mama hanya bertanya kan". Lanjut mama Gita menatap Via dan papa


nya.


"Mama sampai sekarang aku belum tertarik sama siapapun". Jawab


Via.


"Masa?". Godaan mama Gita.


"Iya ma, tapi ma Via menemukan surat cinta tapi isi nya permintaan


maaf. Aneh kan ma". Ucap Via.


"Menurut mama dia itu tulus, cinta itu bukan hanya sekedar aku


suka kamu, kamu suka aku. Tapi juga sebuah pengertian". Ucapan


mama membuat semua diam.


"Mama bijak". Ucap Via.


"Makanya papa cinta sama mama mu". Papa Rudi menggoda istrinya.


"Sudah habiskan makan nya". Lanjut mama Gita.


"Siap kapten". Ucap Via dan papa nya


memberi hormat.