Thank's My First Love

Thank's My First Love
BAB 6



07:13


Via sedang membersihkan kelas karena hari ini jadwal piket nya.


Ketika Via sedang menyapu, langkah nya terhenti karena sesosok orang berada


dihadapan nya. Via pun langsung mendongak keatas melihat siapa orang yang


menganggu piketnya.


"Kenapa lu didepan gua, ganggu piket gua aja". Via merasa kesal.


"Mau lewat".


"Tumben gak telat lagi datangnya?, kenapa?"  Tanya Via.


"Mau nagih janji yang semalam".


"Janji apa?". Via bingung.


"Suatu tempat".


"Oiya ya. Oke oke gua ingat kok pulang sekolah nanti kita kesana".


Via langsung ingat janjinya.


"Mau gua bantuin gak nyapunya?". Tawar Angga yang masih berdiri di


depan nya


"Gak usah lagipula hari ini bukan jadwal piket lu".Via langsung


menyapu dengan cepat.


"Yaudah kalo gak mau dibantu mah. Padahal gua lagi baik hati".


Gumam Angga.


"Terima kasih atas tawaran nya. Tapi ini tugas gua, dan tugas lu


besok". Via menjelaskan biar tidak salah paham.


"Kenapa lu selalu bilang terima kasih sih?"  Tanya Angga yang


terdengar menekan.


"Karena... udahlah gua mau selesaiin piket dulu". Via melanjutkan


menyapunya.


"Oke alasan lu gua tunggu ditempat itu". Angga menuntut Via.


"Iya". Via hanya cuek.


***


"Sin, pulang sekolah gua gak bisa pulang bareng lu lagi". Ucap Via


sambil menulis catatan dibuku nya.


"Kenapa?". Tanya Sinta.


"Via mau ngajak gua jalan-jalan". Ucap Angga yang menoleh


kebelakang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka.


"Vi, lu ngajak Angga?". Tanya Sinta kaget dan langsung melihat


Via.


"Iya. Kenapa?". Jawab Angga dengan muka dinginnya.


"Gak papa". Sinta tidak yakin dengan ucapan Angga.


Bel istirahat berbunyi..


"Vi, ikut gua". Sinta menarik tangan Via tanpa sepengetahuan Via.


"Ada apa Sin?". Tanya Via heran.


"Tadi yang dibilang Angga itu..". Sinta masih ragu.


"Benar. Dia gak bohong. Gua yang ngajak dia". Jawab Via datar.


"Demi apa?". Sinta yang masih tidak yakin dengan sahabat nya itu


masih bengong.


"Iya sin, gua ngajak dia karena mau ngomongin tentang tugas kemaren


itu". Tegas Via.


"Terus lu mau ngajak jalan-jalan kemana?". Tanya Sinta


mengintrogasi.


"Ketempat paling indah dan buat orang tenang". Jelas Via.


"Dimana?". Tanya kembali Sinta.


"Kepoo...". Via langsung jalan dengan cepat meninggalkan sahabat


nya itu.


***


13:45


"Ayok..mana janji lu". Angga menagih janji Via.


"Iya-iya sabar". Jawab Via yang sedang membereskan buku-buku nya.


"Via, kamu mau kemana? Gak kumpulan OSIS?". Arga menghampiri Via


dan Angga.


"Maaf kak, hari ini saya mau kerja kelompok". Jawab Via.


"Oh yaudah hati-hati ya. Kalo kamu kenapa-kenapa kamu telpon saya aja


nih nomor saya". Arga langsung memberi sebuah kertas yang berisi nomor


telpon nya.


"Iya kak". Jawab Via dan memberi senyum kepada Arga.


"Udah ngobrol nya?". Tanya Angga yang sedari tadi dikacangin.


"Udah kok. Ayok". Ajak Via.


"Daripada lu nyimpen nomor orang itu. Lebih baik lu nyimpen nomor gua.


Karena lebih berguna". Angga mengambil kertas yang dipegang Via dan


merobeknya.


"Ehhh... kok disobek sih? Itu kan nomor kak Arga, sulit loh dapat nomor


dia". Via mengambil potongan kertas tadi dan langsung menyimpan nomor nya


di hp.


"Karena dia ketua OSIS aja. Jadi belagu. Coba kalo dia siswa biasa


pasti nomor nya diobral". Ketus Angga yang mengambil motor nya.


Di jalan


"Makanya lu tuh kaya kak Arga, udah ganteng, pinter, populer,


tegas". Bela Via.


"Kenapa harus jadi orang lain. Kalo diri sendiri bisa lebih baik".


Ucap Angga membuat Via terdiam.


"Tapi lu tuh kurang baik enggak kaya kak Arga. Dia itu ramah, suka


menolong". Via kembali membela Arga.


"Baik itu dari dalam hati bukan hanya diluar terus dipamerin biar


terlihat baik. Koruptor dia juga baik, ramah sama semua orang suka


menolong orang yang tidak mampu tapi dia melakukan nya untuk mendapatkan


sesuatu untuk dirinya sendiri, dia tidak memikirkan orang lain lagi kalo udah


dapetin apa yang dia mau". Jelas Angga panjang lebar membuat Via berhenti


membela.


"Oke-oke cukup.. sekarang belok kiri". Via mengalihkan pembicaraan


nya.


"Mana lagi?". Tanya Angga.


"Nah itu, tapi kaya nya kita harus jalan kesana nya. Jadi motor lu


parkir disini aja". Jelas Via.


"Oyaudah". Angga turun dari motornya.


Hening


"Masih jauh?". Angga memecahkan keheningan


"Bentar lagi kok". Ucap Via tanpa menatap Angga.


15:10


 


 


"Akhirnya sampai juga, danau apa ini?"  Tanya Angga sambil


"Ini nama nya Situ Patenggang". Jawab Via.


"Kok lu ngajak gua kesini?". Tanya Angga penasaran.


"Seharusnya lu ngomong kenapa bukan kok. Jadi kelihatan


nya lebih sopan". Ucap Via yang membuat Angga mengingat saat mengucapkan


kalimat itu juga.


"Yaudah Kenapa?". Jawab Angga memalingkan wajah nya yang malu.


"Gua kan udah bilang kalo gua bakal ngajak lu ke tempat yang buat


mengeluarkan semua emosi lu dan yang buat lu tenang dan nyaman. Nah, ini lah


tempat nya Situ Pantenggang". Ucap Via.


"Gua udah tau itu, maksudnya apa istimewa nya tempat ini? Gua bisa apa


dengan ini?". Tanya Angga kesal.


"Coba lu teriak sekuat tenaga lu, keluarin semua emosi lu".


Perintah Via.


"Gila lu ya, ini kan tempat umum". Sanggah Angga.


"Ya kenapa? Hanya karena lu teriak ada yang marah sama lu?". Tanya


Via meremehkan Angga.


"Gua malu". Bisik Angga.


"Kalo gitu kita teriak bareng-bareng gimana? Jadi kita malu nya


bareng-bareng?". Ajak Via.


"Emmm... oke". Akhirnya Angga setuju.


Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa


"Gimana?". Tanya Via.


"Lumayan". Jawab Angga dengan senyum nya.


"Kalo gitu coba lagi". Perintah Via.


Aaaaaaaaaaaaaa


"Masih mau?". Via dengan senyum ledekan nya.


Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa


"Sudah, semua emosi gua udah gua keluarin". Angga yang


terengah-engah senyum menatap Via dengan senyum manis nya.


Mereka duduk bersama di pinggir danau tampak hening karena masing-masing


menatap indahnya Situ Patenggan.


"Kenapa nama nya Situ Patenggang?". Tanya Angga membuyarkan


pandangan Via.


"Situ berarti danau dan Patenggang berarti mencari. Ada


sebuah mitos tentang Situ Patenggang yang menceritakan tentang cinta Ki Santang


dan Dewi Rengganis yang terpisah sangat lama. Karena cinta mereka yang sangat


dalam, mereka berdua saling mencari sampai pada akhirnya bertemu di suatu


tempat yang sekarang disebut sebagai 'Batu Cinta'. Setelah bertemu kembali,


Dewi Rengganis meminta dibuatkan danau dan perahu supaya mereka dapat berlayar


bersama.


Saat ini, perahu tersebut dianggap telah berubah menjadi sebuah pulau yang


berbentuk hati bernama Pulau Asmara atau sering disebut Pulau Sasaka. Menurut


cerita rakyat setempat, pasangan yang datang ke batu cinta dan pergi


berkeliling pulau asmara akan mempunyai cinta yang abadi". Jelas Via


 


 


"Oh gitu, menarik ya". Ucap Angga yang sedari tadi memperhatikan Via


berbicara.


"Tentu". Jawab Via datar.


"Kalo gitu gua bakal bawa cewek gua keliling pulau asmara biar


abadi". Gumam Angga.


"Emang lu udah punya pacar?". Tanya Via yang meragukan Angga.


"Pacar mah belum ada tapi kalo jodoh punya. Mungkin jodoh gua sekitar


sini juga tapi gua gak ngerasa aja". Jawab Angga sambil terkekeh.


"Hahaa... bilang aja jones". Via tertawa geli.


"Emang nya lu udah punya?". Tanya Angga melirik Via.


"Belum". Via hanya senyum sambil menghentikan tawanya sedari tadi.


"Kalo sama-sama jones itu gak usah saling mengejek". Angga


mengacak rambut Via.


"Aduh... aduh.. ampun.. iya.. iya..". Via merasa sakit ketika


rambut nya diacak-acak Angga.


Via membaringkan badan nya dirumput dan diikuti oleh Angga. Hening.. mereka


kembali asik dengan dunia nya masing-masing di langit jingga itu.


"Oya, kata nya lu mau ngejelasin kenapa lu selalu bilang terima


kasih". Angga yang ingetan nya terlalu kuat menagih janji Via dan langsung


duduk melihat Via.


"Harus ya?". Via malas menjelaskan ke Angga karena sedang


menikmati pemandangan di tempat itu.


"Terserah lu sih, lu kan udah janji. Dan janji adalah hutang, hutang


harus dibayar. Kalo tidak dosa". Angga menekan nada diakhir kata nya.


"Oke oke gua gak mau masuk neraka gara-gara buat janji sama lu".


Via dengan malas duduk dan menghadap Angga.


"Bagus".


"Gua selalu berterima kasih karena itu adalah salah satu sikap yang


harus ada didalam diri semua orang. Sebenernya ada 3 hal yang harus diucapkan


setiap orang yaitu 'Terima Kasih'. 'Maaf'. Dan 'Memaafkan'. Semua


orang tau itu semua dan bisa mengucapkan nya, tapi kata-kata itu bukan hanya


diucapkan dari mulut tapi dengan hati yang tulus. Percuma bilang memaafkan tetapi hati nya masih ada dendam". Via menjelaskan semua nya.


"Oh gitu". Angga hanya terdiam mendengar penjelasan Via.


"Udah yuk, udah sore. Nanti mama bakal nyariin gua lagi". Via


mengajak Angga untuk pulang.


"Oh.. iya ayok". Angga yang sedari hanya termenung dengan ucapan


Via langsung tersadar.


"Via".


"Iya". Via langsung menengok Angga dibelakang nya.


"Kita kan sekelompok tentang tugas karya-karya gitu". Angga mulai


menanyakan hal apapun untuk membuat keaadan tidak hening.


"Iya, terus?". Via masih fokus kedepan.


"Gimana kalo tema nya Situ Patenggang". Via langsung


menghentikan langkahnya.


"Maksudnya?". Via melirik Angga yang bingung.


"Ya kita buat tentang tempat ini, ini kan salah satu tujuan wisata


Bandung yang belum didengar banyak orang. Kita buat makalah kalo tempat ini


juga enggak kalah bagus dengan Tangkuban Perahu". Jelas Angga ragu karena


itu hanya sepintas pikiran nya dan langsung di ucapkan nya.


"Ide bagus. Gimana kalo hari Minggu kita kesini lagi buat mencari tau


semua tentang tempat ini". Ajak Via semangat.


"Oke". Angga senyum menyeringai melihat semangat Via.