
07:13
Via sedang membersihkan kelas karena hari ini jadwal piket nya.
Ketika Via sedang menyapu, langkah nya terhenti karena sesosok orang berada
dihadapan nya. Via pun langsung mendongak keatas melihat siapa orang yang
menganggu piketnya.
"Kenapa lu didepan gua, ganggu piket gua aja". Via merasa kesal.
"Mau lewat".
"Tumben gak telat lagi datangnya?, kenapa?" Tanya Via.
"Mau nagih janji yang semalam".
"Janji apa?". Via bingung.
"Suatu tempat".
"Oiya ya. Oke oke gua ingat kok pulang sekolah nanti kita kesana".
Via langsung ingat janjinya.
"Mau gua bantuin gak nyapunya?". Tawar Angga yang masih berdiri di
depan nya
"Gak usah lagipula hari ini bukan jadwal piket lu".Via langsung
menyapu dengan cepat.
"Yaudah kalo gak mau dibantu mah. Padahal gua lagi baik hati".
Gumam Angga.
"Terima kasih atas tawaran nya. Tapi ini tugas gua, dan tugas lu
besok". Via menjelaskan biar tidak salah paham.
"Kenapa lu selalu bilang terima kasih sih?" Tanya Angga yang
terdengar menekan.
"Karena... udahlah gua mau selesaiin piket dulu". Via melanjutkan
menyapunya.
"Oke alasan lu gua tunggu ditempat itu". Angga menuntut Via.
"Iya". Via hanya cuek.
***
"Sin, pulang sekolah gua gak bisa pulang bareng lu lagi". Ucap Via
sambil menulis catatan dibuku nya.
"Kenapa?". Tanya Sinta.
"Via mau ngajak gua jalan-jalan". Ucap Angga yang menoleh
kebelakang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka.
"Vi, lu ngajak Angga?". Tanya Sinta kaget dan langsung melihat
Via.
"Iya. Kenapa?". Jawab Angga dengan muka dinginnya.
"Gak papa". Sinta tidak yakin dengan ucapan Angga.
Bel istirahat berbunyi..
"Vi, ikut gua". Sinta menarik tangan Via tanpa sepengetahuan Via.
"Ada apa Sin?". Tanya Via heran.
"Tadi yang dibilang Angga itu..". Sinta masih ragu.
"Benar. Dia gak bohong. Gua yang ngajak dia". Jawab Via datar.
"Demi apa?". Sinta yang masih tidak yakin dengan sahabat nya itu
masih bengong.
"Iya sin, gua ngajak dia karena mau ngomongin tentang tugas kemaren
itu". Tegas Via.
"Terus lu mau ngajak jalan-jalan kemana?". Tanya Sinta
mengintrogasi.
"Ketempat paling indah dan buat orang tenang". Jelas Via.
"Dimana?". Tanya kembali Sinta.
"Kepoo...". Via langsung jalan dengan cepat meninggalkan sahabat
nya itu.
***
13:45
"Ayok..mana janji lu". Angga menagih janji Via.
"Iya-iya sabar". Jawab Via yang sedang membereskan buku-buku nya.
"Via, kamu mau kemana? Gak kumpulan OSIS?". Arga menghampiri Via
dan Angga.
"Maaf kak, hari ini saya mau kerja kelompok". Jawab Via.
"Oh yaudah hati-hati ya. Kalo kamu kenapa-kenapa kamu telpon saya aja
nih nomor saya". Arga langsung memberi sebuah kertas yang berisi nomor
telpon nya.
"Iya kak". Jawab Via dan memberi senyum kepada Arga.
"Udah ngobrol nya?". Tanya Angga yang sedari tadi dikacangin.
"Udah kok. Ayok". Ajak Via.
"Daripada lu nyimpen nomor orang itu. Lebih baik lu nyimpen nomor gua.
Karena lebih berguna". Angga mengambil kertas yang dipegang Via dan
merobeknya.
"Ehhh... kok disobek sih? Itu kan nomor kak Arga, sulit loh dapat nomor
dia". Via mengambil potongan kertas tadi dan langsung menyimpan nomor nya
di hp.
"Karena dia ketua OSIS aja. Jadi belagu. Coba kalo dia siswa biasa
pasti nomor nya diobral". Ketus Angga yang mengambil motor nya.
Di jalan
"Makanya lu tuh kaya kak Arga, udah ganteng, pinter, populer,
tegas". Bela Via.
"Kenapa harus jadi orang lain. Kalo diri sendiri bisa lebih baik".
Ucap Angga membuat Via terdiam.
"Tapi lu tuh kurang baik enggak kaya kak Arga. Dia itu ramah, suka
menolong". Via kembali membela Arga.
"Baik itu dari dalam hati bukan hanya diluar terus dipamerin biar
terlihat baik. Koruptor dia juga baik, ramah sama semua orang suka
menolong orang yang tidak mampu tapi dia melakukan nya untuk mendapatkan
sesuatu untuk dirinya sendiri, dia tidak memikirkan orang lain lagi kalo udah
dapetin apa yang dia mau". Jelas Angga panjang lebar membuat Via berhenti
membela.
"Oke-oke cukup.. sekarang belok kiri". Via mengalihkan pembicaraan
nya.
"Mana lagi?". Tanya Angga.
"Nah itu, tapi kaya nya kita harus jalan kesana nya. Jadi motor lu
parkir disini aja". Jelas Via.
"Oyaudah". Angga turun dari motornya.
Hening
"Masih jauh?". Angga memecahkan keheningan
"Bentar lagi kok". Ucap Via tanpa menatap Angga.
15:10
"Akhirnya sampai juga, danau apa ini?" Tanya Angga sambil
"Ini nama nya Situ Patenggang". Jawab Via.
"Kok lu ngajak gua kesini?". Tanya Angga penasaran.
"Seharusnya lu ngomong kenapa bukan kok. Jadi kelihatan
nya lebih sopan". Ucap Via yang membuat Angga mengingat saat mengucapkan
kalimat itu juga.
"Yaudah Kenapa?". Jawab Angga memalingkan wajah nya yang malu.
"Gua kan udah bilang kalo gua bakal ngajak lu ke tempat yang buat
mengeluarkan semua emosi lu dan yang buat lu tenang dan nyaman. Nah, ini lah
tempat nya Situ Pantenggang". Ucap Via.
"Gua udah tau itu, maksudnya apa istimewa nya tempat ini? Gua bisa apa
dengan ini?". Tanya Angga kesal.
"Coba lu teriak sekuat tenaga lu, keluarin semua emosi lu".
Perintah Via.
"Gila lu ya, ini kan tempat umum". Sanggah Angga.
"Ya kenapa? Hanya karena lu teriak ada yang marah sama lu?". Tanya
Via meremehkan Angga.
"Gua malu". Bisik Angga.
"Kalo gitu kita teriak bareng-bareng gimana? Jadi kita malu nya
bareng-bareng?". Ajak Via.
"Emmm... oke". Akhirnya Angga setuju.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
"Gimana?". Tanya Via.
"Lumayan". Jawab Angga dengan senyum nya.
"Kalo gitu coba lagi". Perintah Via.
Aaaaaaaaaaaaaa
"Masih mau?". Via dengan senyum ledekan nya.
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
"Sudah, semua emosi gua udah gua keluarin". Angga yang
terengah-engah senyum menatap Via dengan senyum manis nya.
Mereka duduk bersama di pinggir danau tampak hening karena masing-masing
menatap indahnya Situ Patenggan.
"Kenapa nama nya Situ Patenggang?". Tanya Angga membuyarkan
pandangan Via.
"Situ berarti danau dan Patenggang berarti mencari. Ada
sebuah mitos tentang Situ Patenggang yang menceritakan tentang cinta Ki Santang
dan Dewi Rengganis yang terpisah sangat lama. Karena cinta mereka yang sangat
dalam, mereka berdua saling mencari sampai pada akhirnya bertemu di suatu
tempat yang sekarang disebut sebagai 'Batu Cinta'. Setelah bertemu kembali,
Dewi Rengganis meminta dibuatkan danau dan perahu supaya mereka dapat berlayar
bersama.
Saat ini, perahu tersebut dianggap telah berubah menjadi sebuah pulau yang
berbentuk hati bernama Pulau Asmara atau sering disebut Pulau Sasaka. Menurut
cerita rakyat setempat, pasangan yang datang ke batu cinta dan pergi
berkeliling pulau asmara akan mempunyai cinta yang abadi". Jelas Via
"Oh gitu, menarik ya". Ucap Angga yang sedari tadi memperhatikan Via
berbicara.
"Tentu". Jawab Via datar.
"Kalo gitu gua bakal bawa cewek gua keliling pulau asmara biar
abadi". Gumam Angga.
"Emang lu udah punya pacar?". Tanya Via yang meragukan Angga.
"Pacar mah belum ada tapi kalo jodoh punya. Mungkin jodoh gua sekitar
sini juga tapi gua gak ngerasa aja". Jawab Angga sambil terkekeh.
"Hahaa... bilang aja jones". Via tertawa geli.
"Emang nya lu udah punya?". Tanya Angga melirik Via.
"Belum". Via hanya senyum sambil menghentikan tawanya sedari tadi.
"Kalo sama-sama jones itu gak usah saling mengejek". Angga
mengacak rambut Via.
"Aduh... aduh.. ampun.. iya.. iya..". Via merasa sakit ketika
rambut nya diacak-acak Angga.
Via membaringkan badan nya dirumput dan diikuti oleh Angga. Hening.. mereka
kembali asik dengan dunia nya masing-masing di langit jingga itu.
"Oya, kata nya lu mau ngejelasin kenapa lu selalu bilang terima
kasih". Angga yang ingetan nya terlalu kuat menagih janji Via dan langsung
duduk melihat Via.
"Harus ya?". Via malas menjelaskan ke Angga karena sedang
menikmati pemandangan di tempat itu.
"Terserah lu sih, lu kan udah janji. Dan janji adalah hutang, hutang
harus dibayar. Kalo tidak dosa". Angga menekan nada diakhir kata nya.
"Oke oke gua gak mau masuk neraka gara-gara buat janji sama lu".
Via dengan malas duduk dan menghadap Angga.
"Bagus".
"Gua selalu berterima kasih karena itu adalah salah satu sikap yang
harus ada didalam diri semua orang. Sebenernya ada 3 hal yang harus diucapkan
setiap orang yaitu 'Terima Kasih'. 'Maaf'. Dan 'Memaafkan'. Semua
orang tau itu semua dan bisa mengucapkan nya, tapi kata-kata itu bukan hanya
diucapkan dari mulut tapi dengan hati yang tulus. Percuma bilang memaafkan tetapi hati nya masih ada dendam". Via menjelaskan semua nya.
"Oh gitu". Angga hanya terdiam mendengar penjelasan Via.
"Udah yuk, udah sore. Nanti mama bakal nyariin gua lagi". Via
mengajak Angga untuk pulang.
"Oh.. iya ayok". Angga yang sedari hanya termenung dengan ucapan
Via langsung tersadar.
"Via".
"Iya". Via langsung menengok Angga dibelakang nya.
"Kita kan sekelompok tentang tugas karya-karya gitu". Angga mulai
menanyakan hal apapun untuk membuat keaadan tidak hening.
"Iya, terus?". Via masih fokus kedepan.
"Gimana kalo tema nya Situ Patenggang". Via langsung
menghentikan langkahnya.
"Maksudnya?". Via melirik Angga yang bingung.
"Ya kita buat tentang tempat ini, ini kan salah satu tujuan wisata
Bandung yang belum didengar banyak orang. Kita buat makalah kalo tempat ini
juga enggak kalah bagus dengan Tangkuban Perahu". Jelas Angga ragu karena
itu hanya sepintas pikiran nya dan langsung di ucapkan nya.
"Ide bagus. Gimana kalo hari Minggu kita kesini lagi buat mencari tau
semua tentang tempat ini". Ajak Via semangat.
"Oke". Angga senyum menyeringai melihat semangat Via.