
"Via hari ini kamu jadi kerja kelompok nya?". Tanya Papa Rudi.
"Jadi Pah". Jawab Via dari kamar nya.
"Cepetan. Ini nak Angga udah nungguin kamu". Teriak Papa Rudi
membuat Via kaget.
Via langsung melihat jam digital di kamar nya yang menunjukkan pukul 07:20.
"Yang benar saja. Dia datang pagi sekali". Gumam Via.
Via mengacak semua baju memilih baju yang akan dia pakai. Akhirnya dia
menemukan baju casual yang cocok dipakai saat jalan atau maen.
"Via lama banget sih, nak Angga dari tadi nunggu kamu. Untung dia anak
nya asik diajak ngobrol". Mama Gita terus memandangi Angga.
"Dia ngobrol sama mama?". Tanya Via heran.
"Iya". Jawab Mama Gita datar.
"Cepetan berangkat sana". Perintah Papa Rudi.
"Ma, Pa aku pergi dulu ya assalamualaikum". Via pamit
dengan orang tua nya.
"Tante, Om Angga pergi dulu". Sahut Angga setelah Via.
"Hati-hati ya nak. Jangan sore-sore pulang nya. Dan jangan lupa
makan". Teriak Mama Gita setelah mereka memasuki Mobil Angga.
***
Akhirnya mereka sampai di Situ Patenggang. Setelah mereka
menanya-nanya tentang tempat itu mereka duduk di atas rumput dekat dengan
danau.
"Tumben Lu jemput gua pagi banget. Itu gua belum mandi loh". Via
membuka obrolan.
"Gua kan nepatin janji. Gak kaya lu". Sahut Angga melirik Via.
"Gua? Kapan gua gak nepatin janji?". Tanya Via.
"Lu janji seharian penuh ke tempat ini. Tapi ternyata cuma setengah
hari". Wajah Angga langsung cemberut.
"Gua kan udah bilang sore nanti gua nganter Mama ke rumah sakit".
Jelas Via membela diri.
"Ngapain ke rumah sakit?". Tanya Angga menaikan sebelah alis nya.
"Nganter Mama periksa darah tinggi nya". Ucap Via.
"Emm... yaya.. berarti suruh Mama lu jangan mikirin yang
aneh-aneh". Jawab Angga.
"Iya".
"Oiya tadi Tante Gita bilang kalo lu itu cerewet banget". Ucap
Angga membuat Via melirik ke arah nya.
"Mama cerita apa aja ke lu?". Tanya Via penasaran.
"Banyak banget". Jawab Angga.
"Apa aja?". Tanya kembali Via.
"Lu tuh ternyata kepo nya tingkat dewa ya". Angga melirik ke Via.
"Bodo".
"Angga, apa bu direktur di cafe minggu kemarin itu Mama
lu?". Tanya Via pelan.
"Iya seperti nya". Jawab Angga dingin dengan raut wajah berubah
kesal.
"Kenapa lu kaya gitu sama Mama lu sendiri?". Tanya Via.
"Itu bukan urusan lu". Angga langsung berdiri meninggalkan Via.
"Angga".
Angga tidak menghiraukan panggilan Via.
"Angga... Maaf". Langkah Angga terhenti sejenak dan menengok
kearah Via.
"Maafin gua udah bertanya yang nyakitin hati lu. Gua cuma mau lu cerita
sama gua apa yang lu rasain". Ucap Via yang merasa bersalah.
"Gua gak marah kok. Ayok pulang ini udah jam 1 siang. Nanti Tante Gita
khawatir". Jawab Angga masih dingin.
"Iya".
Di dalam mobil, suasana jadi canggung karena tadi.
"Angga".
"Ya".
"Ini kan bukan jalan ke rumah gua?". Tanya Via heran ketika mobil
Angga melaju ke arah berlawanan arah dari rumah nya.
"Emang". Jawab Angga datar.
"Terus kita mau kemana?". Tanya Via kembali.
Angga tidak menanggapi pertanyaan Via dan fokus menyetir mobil nya.
"Jangan-jangan lu mau nyulik gua ya? Terus lu minta tebusan sama orang
tua gua". Selidik Via.
Tiba-tiba mobil berhenti membuat Via bingung karena berhenti di cafe melati.
"Turun". Perintah Angga.
"Kenapa kita kesini?". Tanya Via.
"Gua laper. Kalo lu gak laper lu bisa tunggu di mobil atau pulang
sendiri". Ucap Angga dingin.
"Gua juga laper". Via langsung mengikuti langkah Angga.
"Selamat datang tuan". Ucap salah satu pelayan.
"Tolong pesan makanan biasa saya. Tapi 2 porsi". Perintah Angga
dengan pelayan cafe.
"Angga maaf ya soal tadi". Via kembali menunduk.
"Iya Via gua maafin kok". Jawab Angga.
"Gitu ngapa dari tadi biar gua gak merasa bersalah". Ucap Via membuat
Angga tersenyum tipis.
"Emang bener ya kata Tante Gita. Kalo lu tuh cerewet". Ucap Angga
mencubit pipi Via.
"Ini tuan makanan nya. Ada yang bisa saya bantu lagi?". Tanya
pelayan yang membawa makanan tadi.
"Tidak. Terima kasih". Ucap Angga.
"Kali ini gua gak bayar kan. Ini kan cafe lu?". Ucap Via langsung
menyantap makanan nya.
"Ini bukan cafe gua. Dan bukan nya lu udah janji bakal ganti rugi
makanan yang lu jatuhin waktu itu?". Ucap Angga mengingat kejadian dimana
Via menabrak dirinya.
"Yaudah deh gua yang bayarin". Via cemberut.
"Tapi bayarin nya nanti aja. Ini kan cafe punya nyokap gua. Jadi biar
gua aja yang bayarin dulu". Ucap Angga.
"Gua gak jadi bayarin lu?". Tanya Via.
"Iya-iya". Angga memandang Via begitu lama membuat Via bingung.
"Kenapa? Gua belepotan ya?". Tanya Via.
"Enggak kok". Jawab Angga.
"Via, berjanji lah dengan gua. Kalo lu bakal ada di saat gua sedih
maupun senang". Kalimat yang diucapkan oleh Angga membuat Via kaget
dan bingung.
"Kenapa gua harus berjanji?". Tanya Via.
"Karena gua percaya sama lu. Kalo lu gak mau juga ga...". Ucapan
Angga terhenti ketika jari telunjuk Via menyentuh bibir Angga.
"Gua janji kok. Gua akan selalu ada disamping lu saat sedih maupun
senang". Ucap Via.
"Dan lu juga harus berjanji. Berjanji lah untuk menjadi sahabat gua
selamanya. Gak ada benci, musuhan, bahkan Cinta". Ucap Via membuat
perjanjian juga dengan Angga.
"Janji". Ucap Angga semangat.
Angga mengulurkan jari kelingking nya dan Via ikut mengikat jari kelingking
nya bersama menyatakan bahwa sebuah perjanjian telah dibuat.
"Kalo gitu kita sahabat sekarang?". Tanya Angga.
"Iya". Via tersenyum dengan gigi nya yang putih rapi.
"Terima kasih". Ucap Angga malu.
"Iya sama-sama. Kalo sahabat kita harus saling terbuka tentang
apapun". Jawab Via.
"Maksudnya?". Tanya Angga bingung.
"Gua pengen lu cerita sama gua tentang masalah yang lu alami,, termasuk
keluarga". Ucap Via.
"Kalo lu gak mau juga ga...". Ucapan Via terhenti dengan tatapan
Angga.
"Vi, gua mau nanya. Apa salah seorang anak merindukan kasih sayang
orang tua nya?". Tanya Angga.
"Enggak". Jawab Via datar.
"Itu yang gua lakuin minggu kemarin dengan mama gua. Gua hanya ingin
mama punya waktu sama gua. Mama adalah wanita karir sebelum dia menikah dengan
papa. Saat umur gua 10 tahun, Papa menceraikan mama karena mama tidak peduli
dengan anaknya dan papa ingin mengambil hak asuh anak kepadanya. Tapi
pengadilan mengatakan bahwa beri kesempatan buat mama mengasuh gua". Jelas
Angga.
Mata Angga berbinar dan meneteskan air mata yang membasahi pipi nya dan
sesekali menyeka air matanya. Via hanya diam, dia mengusap tangan Angga mencoba
menenangkan nya.
"Papa lu sering datang kan?". Tanya Via.
"Dia sering nemuin gua, setiap libur ngajak gua main. Tapi saat umur
gua 13 tahun, gua tidak dapat lagi menemui papa dirumah nya karena rumah itu
sudah dijual". Jelas Angga.
"Terus papa lu kemana?". Tanya Via.
"Sampe sekarang gua gak tau papa dimana". Angga menunduk.
"Yaudah jadi lu harus tetap sayang sama mama lu. Dan papa lu pasti
bakal nemuin lu kok. Gua yakin kalian bakal kembali bersama". Ucap Via
meyakinkan Angga.
"Terima kasih". Jawab Angga.
"Buat apa?". Tanya Via bingung.
"Karena dengan menceritakan ini sama lu. Gua jadi tenang seakan gak ada
beban pikiran sekarang". Jelas Angga.
"Makanya gua udah bilang sahabat harus saling terbuka tentang
apapun". Ucap Via dengan bangga.
"Iya-iya". Angga mengalah.
"Oiya emang syarat apa yang lu buat sama mama lu pas waktu itu?".
Tanya Via mengingat waktu itu.
"Sebenernya itu sebuah Kesepakatan bahwa gua akan mengurus cafe
ini selama gua masih sekolah SMA tadi nya gua gak mau menyetujui itu tapi gua
mikirin tentang sponsor sekolah". Jelas Angga.
"Angga... Terima kasih". Ucap Via.
"Gapapa kok. Itung-itung gua ngebantu sekolah". Jawab Angga.
"Udah yuk pulang udah jam 14:25 nih. Nanti tante nyariin
lagi". Ajak Angga.
"Ayok".
***
Di rumah sakit
"Mama udah selesai periksa nya?". Tanya Via.
"Udah kok, oiya ada om Faisal loh. Kamu gak mau ketemu dia?".
Tanya mama Gita.
"Dimana om Faisal nya?". Tanya Via.
"Dia lagi ngobrol sama papa diruangan nya". Jawab mama Gita.
"Ma, aku kesana dulu ya". Ucap Via.
"Apa bisa sembuh sal?". Tanya Papa Rudi.
"Om Faisal". Teriak Via.
"Via ngapain kamu kesini?". Tanya Papa Rudi.
"Yang bisa sembuh apa pa?". Tanya Via yang tadi mendengar kalimat
itu.
"Itu ada pasien nya Om Faisal". Ucap Papa Rudi.
"Jawab pertanyaan Papa dulu Via". Lanjut Papa Rudi mengalihkan
pembicaraan.
"Oohh.. Aku mau ketemu Om Faisal, udah lama kan gak ketemu". Jawab
Via.
"Papa lagi apa disini?". Lanjut Via.
"Emmm...".
"Papa dan Om lagi buat kesepakatan". Jawab Om Faisal.
"Kesepakatan apa?". Tanya Via.
"Kesepakatan untuk kamu". Jawab Om Faisal.
"Aku?". Tanya Via semakin heran.
"Iya, Om akan ngajak kamu kuliah di London jurusan kedokteran tapi kalo
kamu lulus dengan nilai tertinggi di sekolah". Jawab Om Faisal membuat Via
tersenyum lebar.
"Benarkah itu Pah?". Tanya Via.
"Iya, nak". Papa mengusap pucuk kepala Via dengan lembut.
"Ini udah mau maghrib ayok pulang, dan Faisal kapan-kapan kamu datang
ke rumah ya". Ajak Papa Rudi.
"Tenang aja Pak saya akan datang". Jawab Om Faisal.
"Dah Om". Via melambaikan tangan nya.