Thank's My First Love

Thank's My First Love
BAB 5



Sudah 3 bulan berlalu dan keadaan seperti biasa.


"Pagi anak-anak, ibu akan memberi kalian tugas untuk melukis karya yang


indah dan unik. Tapi bukan kaya anak SD ya, pokoknya dikumpul dan dibuat


makalah. Tenang saja ibu akan membuat kelompok nya kok. Satu kelompok 2


orang". Ucap bu Leha (guru seni budaya).


"Huuu". Sorak semua murid.


"Diam!!. Tugas dikumpul sebelum semester 1 berakhir masih ada 3 bulan


lagi kan". Ucap bu Leha menenangkan mereka.


"Ibu akan membagi kelompok nya". Tegas bu Leha.


"Baik Bu Le". Jawab semua murid.


Kelompok sudah dibagikan dan mereka langsung membicarakan itu dengan


kelompok nya. Tapi Via belum mendapat kelompok.


"Maaf Bu Le, saya belum dapat kelompok?". Tanya Via.


"Via karena di kelas ini orang nya pas dan ada satu orang yang gak


masuk. Maka kamu sama Angga yang gak masuk". Ucap bu Leha mengagetkan Via.


"Apa? Gimana bisa bu?". Tanya Via tidak yakin.


"Bisa lah. Saya tau kamu pintar maka dari itu kamu harus membimbing


Angga". Ucap bu Leha.


"Tapi bu...". Sanggah Via.


"Gak ada tapi tapian, ini udah keputusan ibu jadi gak bisa diganggu gugat.


Mengerti?". Perintah bu Leha.


"Mengerti bu". Jawab semua siswa.


"Sin, jadi gimana ini?". Via bingung.


"Yaudah Vi jalanin aja gua sih ngerasa bakal baik-baik aja". Jawab


Sinta menenangkan Via.


"Lu enak Sin sama cewek juga". Keluh Via.


***


Di kantin


"Vi lu ngerasa gak sih kalo kak Arga itu suka sama lu". Ucap Ayu


membuat Via mengeluarkan air nya yang sedang diminum.


"Apa?!". Sinta kaget dan juga mewakili ucapan Via.


"Lu tau darimana kalo kak Arga suka sama gua?". Tanya Via.


"Dari tingkah laku nya". Jawab Ayu santai.


"Ssstt". Sinta langsung menyenggol lengan Ayu dan Via.


"Via".


"Eh, kak Arga ada apa ya?". Tanya Via kaget ketika kak Arga


dibelakang nya.


"Hari ini kan pulang nya cepet dan ada kumpulan OSIS, kamu mau ikut


saya gak ke toko buku". Tanya Arga.


"Hmm.. yaudah deh kak". Jawab Via ragu.


"Oke, nanti saya tunggu di halte". Arga yang menunjukan senyum dan


pergi dari kantin.


"Tuh kan apa yang gua bilang. Kalo kak Arga itu suka sama Via".


Tekan Ayu meyakinkan.


"Tunggu, emang Via suka sama kak Arga nya?". Sanggah Sinta sambil


menengok kearah Via.


"Sudahlah ayok kekelas, gak usah bahas itu". Via mencoba


mengalihkan pembicaraan.


"hu..hu.. yasudah ayok". Turut Ayu.


***


"Ayok Via, maaf ya kelamaan jadi buat kamu nunggu aja". Ucap Arga


mengagetkan Via yang sedang duduk di halte.


"Enggak kok kak". Jawab Via singkat.


"Yaudah ayok masuk ke mobil". Ajak Arga sambil membukakan pintu.


"Terima kasih kak". Jawab Via.


Hening..


"Hmmm... Via kamu seneng baca gak?". Tanya Arga membuka


pembicaraan.


"Seneng kok kak". Jawab Via singkat.


"Kamu suka novel apa?". Tanya kembali Arga.


"Novel apa saja kok". Jawab Via.


Hening kembali..


"Emm... Via kamu kan udah sekolah lebih dari 3 bulan . Apa


perasaan kamu sekolah disitu?". Tanya Arga.


"Senang sih kak, soalnya saya udah banyak kenal juga dan gak kerasa


bentar lagi semesteran". Jawab Via tanpa melihat ke arah Arga.


"Di kelas kamu ada tugas apa? Nanti saya bantu". Tanya Arga yang


sesekali melihat wajah Via.


"Gak ada kok kak, cuma tugas kelompok doang, masa kakak bantu


juga". Jawab Via dengan senyum simpul nya.


"Oh gitu. Kamu sekelompok sama siapa?". Tanya Arga.


"Emmm... saya sekelompok sama Angga". Jawab Via ragu.


"Apa?!". Arga kaget mendengar nama Angga.


"Kenapa kak?". Tanya Via bingung.


"Kok kamu mau sih sama Angga?". Tanya Arga masih gak yakin.


"Iya kak, saya di pilih bu Leha sekelompok sama dia. Tadi nya saya


nolak tapi yaudahlah gak papa. Dan saya pikir Angga orang nya gak seburuk


penampilan nya". Jelas Via.


"Eh udah sampai, ayok turun". Ajak Arga.


***


"Kamu kan sekarang jabatan nya sekretaris di OSIS ada keluhan


gak?". Tanya Arga memulai obrolan.


"Enggak kok kak". Jawab Via singkat sambil melihat-lihat buku.


"Kamu udah belum cari buku nya? Kakak udah dapat buku nya nih".


Ucap Arga.


"Ohh.. udah kok kak". Jawab Via refleks.


"Kamu gak beli apa-apa?". Tanya Arga.


"Hmm.. enggak dulu deh kak". Jawab Via sambil senyum


simpul.


"Yaudah nanti kita makan dulu aja ya. Kamu mau kan?". Bujuk Arga.


"Hmm.. yaudah kak". Jawab Via sambil senyum dengam pipi


merona.


***


Sambil menunggu makanan yang dipesan oleh Arga datang, Via melihat ke


jendela yang berada disamping nya. Dan melihat sebuah tempat yang aneh


menurutnya.


"Ini makanan nya". Ucap Arga memudarkan lamunan Via sambil membawa


makanan buatnya.


"Ohh.. iya kak, makasih ya kak". Ucap Via.


"Iya sama-sama".


"Emm.. kak itu tempat apa ya?". Tanya Via sambil menunjuk


tempat yang tadi dia lihat.


"Oh itu,, kenapa emang nya?". Tanya balik Arga sambil menelan


makanan nya.


"Gapapa sih, cuma nanya aja". Jawab Via.


"Itu tuh tempat orang maen billiard". Ucap Arga setelah menelan


makanan dan membuat Via yang sedang minum tersedak.


Uhuk uhukk uhukk


"Kamu kenapa vi?". Tanya Arga panik.


"Enggak papa kak, tadi saya cum..".


Kring kring kring


"Sebentar Via, ada telpon". Ucap Arga menghentikan kalimat Via.


Setelah selesai menelpon


"Via tadi yang nelpon mama, katanya saya disuruh pulang sekarang".


Jelas Arga.


"Oh yaudah kak, kakak pulang duluan aja. Saya juga udah nelpon


mama, katanya mama yang akan jemput saya, lagi pula kan kakak bakal bolak-balik


nganter saya". Via yang mengerti keadaan Arga langsung berbohong.


"Serius gak papa?". Tanya Arga tak yakin.


"Iya kak, makasih ya kak".


"Yaudah saya pulang duluan ya, kamu hati-hati ya". Ucap Arga.


"Iya kak".


Via berjalan keluar cafe dan menuju ke arah tempat billiard tadi.


"Tadi kayanya gua liat Angga deh disini, tapi apa gua salah liat".


"Masuk gak ya". Pikir Via.


"Angga". Seorang pria langsung menengok kearahnya.


"Angga, kok lu disini? Kok lu gak sekolah? Terus ngapain lu disini?


Kok...". Petanyaan Via membuat Angga pusing.


"Stop!!! Seharusnya lu cuma bilang bagaimana dan kenapa bukan cuma kok,


karena itu yang lebih baik". Ucap Angga membuat Via terdiam ketika tadi


terus-menerus menanyakan Angga.


"Iyaa.. kenapa?". Ucap Via.


"Gua disini mau bolos sekolah jadi lebih baik lu pulang daripada lu


kenapa-kenapa kan". Ucap Angga membuat Via ketakutan.


"Gua bakal pulang kalo lu juga pulang". Ucap Via ragu.


"Yaudah kalo gitu lu tungguin gua sampe besok". Ucap Angga agar


Via cepat pulang.


"Oke,, gua bakal tunggu lu sampe kapanpun!". Ucap Via meyakinkan


diri.


"Yaudah". Angga melanjutkan main billiard nya.


17:35


Via yang duduk disudut ruang billiard hanya memandang jam nya yang sudah


hampir 3 jam di tempat itu dan sesekali melihat kearah Angga yang sedang main


billiard berharap cepat pulang. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri Via.


"Cewek SMA gak baik main disini lebih baik ikut dengan abang..


hahahaha...". ucap seorang pria membuat Via takut.


Via hanya diam karena ketakutan dan sesekali tangan nya mengusap keringat di


sekitar hidung nya.


"Ayo lah manis nanti abang kasih HP baru deh". Ucap pria tersebut.


"Maaf saya disini cuma mau ketemu teman saya, saya gak butuh


apa-apa". Ucap Via ketakutan.


"Emang teman kamu bayar kamu berapa?". Ucap pria itu membuat Via


kesal.


"Gua bayar dia yang gak mampu lu kasih ke dia". Ucapan Angga yang


berada di belakang pria tersebut membuat Via senang dan kaget.


"Emang lu bayar berapa sama ini cewek?. hah? berapa?". Ucap pria


tersebut sambil mensejajarkan muka nya dengan Angga.


"Gua ngasih kasih sayang sama dia sampai kapanpun, dia teman gua


yang paling gua sayang dan paling gua cintai. Masalah buat lu?".


Ucap Angga tegas membuat jantung Via berdegup tak beraturan.


"Ayo kita pergi dari sini". Angga menarik tangan Via yang dingin.


"Dasar bocah ingusan, mentang-mentang orang kaya bisa beli apa aja


dengan mudah. Apa mungkin nyokap nya jual diri juga?!". ucap pria tersebut


membuat langkah Angga terhenti.


buuk buukk buuk


Pukulan terus diberikan oleh Angga kepada pria tersebut dan membuat seisi


ruangan kaget.


"Hentikan Angga!". Via berteriak keras berusaha menghentikan


pertengkaran mereka.


"Sekali lagi lu bilang tentang nyokap gua yang gak bener. Bisa gua


bunuh lu sekarang!". Ancam Angga dan langsung pergi karena tangan nya


ditarik keluar oleh Via.


***


"Maafin gua ya, seharusnya gua gak kesini dan ngeyel". Via


menunduk tak berani menatap Angga.


"Udah kali gak usah lebay juga, sekarang udah jam 18:10. Lu tuh


cewek gak baik pulang sore banget". Ucap Angga membuat Via menengok kemata


Angga tidak percaya.


"Ayok gua anter pulang, nanti lu tunjukin aja jalan nya, sekarang naik


mobil gua.. heee... kenapa lu melongo? Gua ganteng? Emang..". Ucap Angga


membuat lamunan Via menghilang.


"Ihh geer amat sih.. Gua kaget aja ngeliat cowok kaya lu bisa peduli ke


orang lain". Sanggah Via.


"Udah memuji gua?.. lebih baik lu naik mobil dan berterima kasih ke gua


di sepanjang jalan aja, daripada gua berubah pikiran kan?". Angga menggoda


Via.


"Ehhh... jangan... jangan.. oke gua naik". Via langsung masuk ke


mobil.


Suasana sangat canggung di mobil. Sudah setengah perjalanan Angga memutar


musik yang keras.


"Stop!! Berisik banget sih". Via langsung menutup kupingnya.


"Akhirnya lu ngomong juga, gua kira lu kesurupan.. hehehe". Godaan


Angga.


"Apasih..".


"Angga, kenapa bolos sekolah lu harus ke tempat itu?". Tanya Via


mulai serius.


"Kerena itu tempat untuk meluapkan emosi gua". Jawab nya santai.


"Maksudnya?". Via bingung dengan ucapan nya.


"Bukan urusan lu lah". Angga langsung mempercepat laju mobil nya.


"Kalo lu mau meluapkan emosi lu, gua ada tempat yang bagus untuk itu.


Jadi lu gak perlu ke tempat tadi lagi". Tawaran Via.


"Dimana?". Tanya Angga tetap fokus kedepan.


"Ada lah pokoknya. Kalo mau besok gua ajak deh". Ajak Via.


"Yaudah besok lu ikut gua bolos berarti". Jawab Angga polos yang


membuat Via geram.


"Ya gak harus bolos juga kali. Pulang sekolah juga bisa, lagian kan


kita pulang nya jam 2". Jawab Via.


"Oiya lu ngapain nungguin gua ditempat tadi? Pasti ada sesuatu


kan?". Tanya Angga mengingatkan Via.


"Ohh itu.. emm.. sebenarnya gua mau bilang sama lu tapi lu nya nyuekin


gua". Jawab Via ragu.


"Yaudah bilang apa?". Tanya Angga tanpa basa-basi.


"Sebenarnya gua mau bilang kalo kita sekelompok dan disuruh buat


tugas". Via menunduk ragu.


"Pantesan lu datang ada mau nya aja. Sama kaya cewek lain nya".


Gumam Angga diakhir kalimat


"Gua gak sengaja kok liat lu". Sanggah Via.


"Mana rumah lu?". Angga mengalihkan pembicaraan.


"Yang itu". Via menunjuk rumah nya.


Angga membukakan pintu mobil sebelah kiri dan menyuruh Via turun.


"Terima kasih ya, udah nganter gua pulang". Via tersenyum.


"Dan Maaf udah buat lu pulang malam". Angga balik tersenyum.


Via memunggungi Angga dan membuka gerbang rumah nya.


"Cewek aneh, masih aja berterima kasih. Enggak di surat enggak


di kenyataan. Sama aja. Aneh". Gumam Angga sambil membuka pintu


mobil.


"Lu bilang apa?". Via tiba-tiba berbalik arah melihat Angga yang


sedang mengomel sendiri.


"Hah..?? Enggak kok. Gua pulang ya". Angga hanya tersenyum dan


pura-pura jujur.


"Iya, hati-hati ya dijalan dan makasih banyak". Via melambaikan


tangan nya ke Angga.


"Iya". Angga langsung masuk ke mobil dan membuka jendela nya


sedikit. "Dah". Angga balik melambaikan tangan.


***


"Kamu darimana kok pulang nya malam?". Tanya mama Gita.


"Tadi ada tugas kelompok, Via mau nelpon mama tapi hp Via mati".


Via bohong.


"Kamu dianter siapa tadi?". Tanya mama Gita menyelidiki anaknya


itu.


"Cuma teman kok ma, dia yang sekelompok sama Via". Via langsung


menyangga kalimat mama nya sebelum mama nya berbicara.


"Tapi ganteng juga". Ledek mama Gita ke Via.


"Hehehe.. mama bisa aja kalo liat cowok ganteng". Via balik


meledek mamanya.


"Yaudah masuk yok". Ajak mama Gita.


"Ayok"