Thank's My First Love

Thank's My First Love
BAB 16



Pagi itu setelah upacara hari senin. UKS sekolah tiba-tiba ramai dipenuhi


orang hanya untuk melihat siapa yang sakit.


"Apaan sih itu rame-rame?". Tanya Angga ke salah satu teman nya


yang lewat.


"Katanya ada yang pingsan tapi belum sadarin diri". Jawab nya


terburu-buru.


"Aneh pingsan aja di tonton bukan nya ditolong". Angga melangkah


ke kelas nya.


"Ngga lu udah ngeliat keadaan Via? Gimana dia?". Tanya siswa di


kelas.


"Maksudnya? Via? Ada apa dengan dia?". Tanya Angga bingung.


"Jadi lu gak tau. Via di UKS dia pingsan". Jawab nya.


"Jadi yang pingsan itu Via?". Tanya Angga tidak percaya.


"Iya".


Angga langsung berlari ke arah UKS. Memikirkan keadaan Via. Ketika tiba di


UKS, Angga melihat Via belum sadar dan menerobos masuk UKS yang ramai oleh


siswa yang sedang melihat Via.


"Via". Teriak Angga.


"Bangun Vi, kok lu bisa pingsan Vi". Angga menepuk tangan Via.


"Dia cuma kelelahan kok. Jadi lu gak usah khawatir. Tenang aja disini


ada suster dan gua". Ucap Arga membuat Angga melirik nya.


"Gua akan tetep disini sampe Via bangun". Ucap Angga menatap Via


yang masih belum sadar.


"Kalian harus masuk kelas biar Via suster yang ngejagain". Ucap


Suster UKS.


"Bukannya harus ada yang ngejagain Via kalo suster sibuk dengan pasien


lain?". Ucap Arga.


"Kalo gitu biar gua yang nemenin. Gua kan temen sekelas nya dan lu


kelas 11 bukannya ada ulangan MTK ya". Sindir Angga.


"Tap..tapi".


"Yang dibilang Angga itu benar. Jadi kamu kembali ke kelas saja".


Ucap Suster tersebut.


"Baiklah. Jagain Via". Ucap Arga kemudian meninggalkan UKS.


Setelah setengah jam Via sadar membuat Angga kembali panik.


"Suster Via sadar". Teriak Angga.


"Lu ini panik banget sih. Udah kaya ngeliat gua mau mati aja".


Ucap Via pelan.


"Lu ngomong apa sih Vi. Gak boleh ngomong kaya gitu. Lu kan janji bakal


bersama sama gua". Tegas Angga.


Via tersenyum walau wajah nya pucat melihat tingkah Angga seperti itu.


"Kenapa lu malah senyum?". Tanya Angga.


"Gakpapa.. lucu aja liat Angga kaya gini". Jawab Via.


"Gua ini khawatir sama lu malah yang di khawatirin ketawa-tawa".


Angga membuang muka.


"Gua tau kok lu khawatir dan cara lu nutupin kekhawatiran itu sangat


lucu". Ucap Via.


Angga tidak menjawab dia tersipu malu dengan ucapan Via tadi.


"Angga lu tuh sahabat gua. Sahabat itu ngejelekin di depan bukan


dibelakang, sahabat akan menertawakan kita sebelum menolong kita, akan


sangat marah jika kita salah, tapi sahabat akan selalu ada di saat kita sedih


bukan hanya senang saja". Jelas Via.


"Iya.. jadi itu arti sahabat?". Tanya Angga.


"Emm...maybe". Via tersenyum menyikapi Angga.


"Yaudah yok ke kelas. Gua udah sadar kok". Ucap Via.


"Ayok".


"Terima kasih sus". Ucap Via ke suster.


***


Pulang sekolah


"Via apa kamu tadi pingsan?". Tanya Mama Gita.


"Mama tau dari mana?". Tanya Via kembali.


"Jawab mama apa kamu pingsan?!". Mama Gita mulai emosi.


"Ma, mama gak usah khawatir. Via gakpapa kok". Jawab Via


menenangkan mama nya.


"Gakpapa kata kamu? Bagaimana kalo..". Ucapan Mama Gita terhenti.


"Kalo apa Ma?". Tanya Via bingung.


"Kalo... kamu kenapa-kenapa". Ucap Mama Gita terbata-bata.


"Mama takut kalo penyakit Via kambuh lagi kan?". Ucap Via


mengagetkan Mama nya.


"Maksud kamu apa Vi?". Tanya Mama Gita.


"Mama gak usah bohong lagi Ma, Via udah tau semua kok kalo Via megidap


penyakit itu setahun yang lalu dan sekarang mulai kambuh lagi. Jadi Ma, jangan


menutupi itu dari Via". Mama Gita langsung memeluk Via dengan erat.


"Mama gak mau kamu terlalu mikirin penyakit itu Vi". Suara Mama


Gita menahan tangis nya.


"Aku hanya memikirkan bagaimana aku harus membahagiakan orang yang aku


sayang Ma". Jawab Via.


"Kamu pasti sembuh sayang". Mama Gita melepas pelukan nya dan


menatap Via.


"Kamu harus sembuh". Mama Gita meyakinkan Via.


"Dan Mama harus sehat untuk menjaga aku". Ledek Via.


"Besok kita ke rumah sakit ya". Ucap Mama Gita.


"Besok aku sekolah Ma". Jawab Via.


"Kamu bisa izin sebentar". Ucap Mama Gita.


"Pulang sekolah aja ya Ma". Rayu Via.


"Baiklah".


***


Di rumah sakit


"Bagaimana Faisal?". Tanya Mama Gita.


Dokter Faisal hanya menatap Via dengan mata ragu.


"Tenang saja Om Faisal, aku sudah tau semua kok. Bahkan saat Papa


ngobrol dengan Om tentang kesepakatan kalo Om akan mengkuliahkan aku ke London


itu bukanlah obrolan biasa, itu tentang penyakit ini kan?". Jelas Via


"Baiklah kalo kamu sudah tau. Penyakit kanker otak yang kamu


idap sudah stadium 2 jadi kamu harus rajin check-up kesini kurang lebih


seminggu sekali". Ucap Faisal menunduk.


"Apa Via bisa sembuh Sal?". Tanya Mama Gita.


"Itu bisa terjadi asal kehendak Tuhan". Jawab Faisal.


"Mama gak usah khawatir". Via mengelus tangan mama nya.


"Tapi Om, apa boleh kalo Via check-up nya setiap hari Minggu atau


libur?". Tanya Via.


"Boleh kok". Jawab Faisal.


"Baiklah kalo begitu. Kami pamit dulu. Terima kasih Faisal". Ucap


Mama Gita.


Via dan mama nya meninggalkan ruangan Faisal dan ketika mereka melewati


lobby rumah sakit Via melihat seseorang yang di kenal nya.


"Tante Linda". Ucap Via menyapa mama nya Angga.


"Vas, kamu disini juga ternyata". Jawab tante Linda.


"Tante ngapain disini? Ada yang sakit?". Tanya Via.


"Tante lagi check-up".


"Tante sakit apa?". Tanya Via kembali.


"Bukan tante yang sakit tapi Angga". Ucapan Tante Linda membuat


Via kaget.


"Angga? Dia sakit apa Tan?". Seketika itu Via panik.


"Angga tidak cerita ke kamu kalo dia punya penyakit dari lahir".


Jawab tante Linda.


"Penyakit? Dari lahir? Angga gak pernah cerita itu ke saya". Ucap


Via dengan kebingungan nya.


"Angga punya penyakit apa tan?". Lanjut Via.


"Angga memiliki penyakit jantung dan sekarang penyakit nya


kambuh lagi tadi dia kesakitan saat di cafe makanya tante bawa kesini".


Jelas tante Linda.


"Penyakit jantung? Kenapa Angga gak pernah cerita tentang itu?".


Gumam Via.


"Kamu sendiri ngapain disini?". Tanya balik tante Linda.


"Emm... aku... aku nganter mama periksa tekanan darah nya". Ucap


Via berbohong.


"Ohh... gimana mbak tekanan darah nya?". Tanya tante Linda ke mama


nya Via.


"Emm..". Via mengedipkan mata ke mama nya.


"Normal kok, kemaren-kemaren tekanan darah nya tinggi makanya check-up


lagi". Jawab Mama Gita ragu-ragu.


"Nyonya Linda bisa ngobrol sebentar?". Ucap dokter yang


menghampiri mereka.


"Hah.. iya baiklah". Jawab tante Linda.


"Vas, tante duluan ya". Ucap tante Linda.


"Iya Tante".


***


"Bagaimana dengan anak saya Dok?". Tanya Mama Linda.


"Anak anda mengidap penyakit jantung sejak lahir dan jarang check-up,


tidak menjaga kesehatan nya, terlalu lelah dan sekarang sudah semakin


parah". Ucap dokter tersebut.


"Angga dengar itu. Kamu itu jangan terlalu capek. Kamu harus rajin


check-up sekarang". Tegas Mama Linda.


"Sudahlah Ma, ini kan penyakit dari lahir. Angga males ke rumah sakit.


Kalo Tuhan menghendaki Angga sembuh Angga akan sembuh tapi kalo Tuhan tidak


berkendak, mama harus ikhlasin Angga". Jelas Angga malas.


"Mungkin kamu tidak peduli dengan Mama maupun diri kamu sendiri. Tapi


bagaimana dengan Vas?". Ucapan Mama Linda membuat Angga kaget.


"Maksudnya?".


"Tadi mama ketemu Vas, dan dia kelihatan khawatir sama keadaan


kamu". Jawab Mama Linda.


"Mama ngasih tau penyakit Angga ke Via?". Tanya Angga.


"Iya. Mama gak bisa bohong sama Vas". Ucap Mama Linda.


"Ahhh... baiklah. Angga akan check-up kalo ada waktu". Ucap Angga.


"Baiklah dok, kami permisi". Ucap Mama Linda.


***


"Vi, kenapa kamu bohong sama mama nya Angga?". Tanya Mama Gita


yang sedang mengemudi mobil nya.


"Aku gak mau Angga memikirkan penyakit aku Ma, lebih baik dia tetap


memikirkan bagaimana dia sembuh". Jawab Via.


"Lalu bagaimana dengan kamu?". Mama Gita menatap Via.


"Aku kan sudah bilang jangan khawatirin Via". Ucap Via.


"Kamu ini ya, kenapa sih selalu mementingkan orang lain daripada diri


sendiri?". Tanya Mama Gita kesal.


"Karena aku tidak bisa hidup tanpa orang lain". Jawab nya sambil


tersenyum dan menyenderkan kepala nya di bahu Mama nya yang sedang mengemudi.


"Mama".


"Iya".


"Jangan kasih tau siapa-siapa ya Ma kalo aku punya penyakit ini. Hanya


Tuhan, aku, mama, papa, dan om faisal yang tau. Aku mohon Ma". Ucap Via


lirih.


"Emmm... baiklah.. tapi apa kamu gak mau ngasih tau Angga?". Tanya


Mama Gita.


"Tidak. Nanti ada saat nya dia tau Ma". Jawab Via.


"Kalau begitu bisakah kamu mengangkat kepala mu di bahu Mama, Mama


sedang mengemudi". Ledek Mama Gita.


"Hehehe... maaf Ma, yaudah Mama fokus aja kedepan". Ucap Via.


Via melihat pemandangan diluar jendela mobil. Via hanya memikirkan keadaan


Angga, semua pertanyaan terbesit di pikiran Via.


Sedangkan Mama Gita fokus ke depan dan sesekali mengeluarkan air mata nya.


Bagaimana bisa anak kesayangan nya itu dengan santai menghadapi penyakit kanker


nya yang sudah stadium 2 dan malah memikirkan orang lain.


****