Thank's My First Love

Thank's My First Love
BAB 12



Acara HUT Sekolah Garuda sangat meriah dan megah. Dimana terdapat


payung-payung menggantung dilangit-langit sekitar sekolah, panggung untuk acara


lomba bernyanyi, dance, dll. Dan juga tempat duduk seperti di cafe-cafe tepat


di depan panggung.


"Terima kasih ya Angga, bilangin juga sama Mama lu terima kasih dari


gua udah ngasih sponsor sebesar ini". Ucap Via.


"Iya nanti gua sampaikan kok". Jawab Angga.


"Vi".


"Iya, ada apa Angga?". Tanya Via.


"Gua mau ngomong". Ucap Angga.


"Ngomong apa? Bicara aja". Jawab Via.


"Gua..".


Seketika jantung Angga berdegup cepat dan tak beraturan.


"Via coba cek makanan untuk panitia nya". Suara Arga terdengar di


telinga Via.


"Iya kak".


"Lu mau ngomong apa Angga?, cepetan ngomong". Ucap Via.


"Yaudah lu kan disuruh sama Arga. Jadi harus nurut. Gak penting juga


kok gua ngomong nya". Jawab Angga.


"Yaudah gua duluan ya". Via melambaikan tangan dan pergi


meninggalkan Angga.


Angga berjalan disekitar panggung acara dan kemudian duduk di sebelah Sinta


dan Ayu.


"Kenapa lu cemberut gitu?". Tanya Ayu.


"Abis diputusin pacar ya?". Sinta mulai menggoda Angga.


"Emang lu udah punya pacar?". Tanya Ayu.


"Diamlah kalian dua itu. Gua ini..".


"Cek cek ehmm.. 123". Suara Rian terdengar ke semua


penonton dan menghentikan bicara Angga lagi.


"Maaf semua nya, gua minta waktu nya bentar". Ucap Rian.


"Itu yang lu suka?". Bisik Ayu.


"Husstt.. diamlah". Sinta mulai memerah.


"Gua mau ngomong kalo gua pengen ngungkapin perasaan gua sama seorang


yang gua sayang". Ucap Rian membuat semua orang kaget dan bertanya-tanya.


"Sin, dia mau nembak lu". Ucap Ayu.


"Gak mungkin lah". Sinta berdiri dan hendak meninggalkan kursi


nya.


"Berhenti! Saya ingin anda menghentikan langkah anda dan


memperhatikan saya bicara". Perintah Rian terhadap Sinta. Karena hanya


Sinta yang ingin meninggalkan tempat itu.


Sinta membalikkan badan nya dan menatap tajam Rian.


"Anda siapa saya?! Berani nya memerintahkan saya". Tekan Sinta


marah terhadap Rian.


"Saya adalah orang yang dibilang pecundang karena tidak berani


mengungkapkan perasaan nya secara langsung". Seketika Sinta terdiam.


"Dan untuk hari ini, Saya mau mengungkapkan perasaan saya. Kalau Adrian


Kusuma sang pecundang ini sangat Mencintai seorang yang bernama Sinta Rahma


Sari. Maukah kamu menjadi pacar sang pecundang ini". Semua langsung


melihat kearah Sinta.


Sinta mulai menaiki panggung dan berhadapan dengan Rian.


"Aku mau kamu jawab perasaan aku, walaupun itu mungkin menyakitkan, aku


akan terima semua nya". Ucap Rian yang bergemetar sedari tadi.


"Aku.. aku tidak ingin menjadi pacar kamu". Jawaban Sinta sontak


membuat semua orang kaget.


"Apa teman mu itu bodoh?". Bisik Angga ke Ayu.


"Aku tidak tau kalo dia teman ku". Ayu masih bengong dibuat


jawaban Sinta.


"Aku akan menerima Cinta sang pecundang itu yang telah lama aku


suka". Rian tersenyum lebar melihat Sinta dan ingin memeluk Sinta tapi


disanggah Sinta.


Semua orang memberi selamat dan kata ciee..


"Ternyata dia memberi kejutan yang menarik juga". Angga menatap


kedua pasangan kekasih yang baru saja jadian.


"Itu baru teman gua". Ucap Ayu sambil menepuk tangan.


***


15:30


"Ciieee... gak jomblo lagi". Ucap Via dan Ayu serempak.


"Ini semua pasti ide kalian kan?". Tuduh sinta.


"Bukan". Via dan Ayu menggelengkan kepala.


"Tapi kan lu seneng iya kan?". Rayu Ayu.


Sinta diam dengan pipi merona.


"Kalo gitu traktir kita makan-makan". Ucap Via.


"Baiklah, apasih yang gak buat kalian". Ajak Sinta.


"Vi, ada waktu?". Lengan Via tiba-tiba ditarik seseorang


"Ada kok". Jawab Via.


"Gua minjem Via sebentar gak lama kok. 30 menit aja". Ucap Angga.


"Itu mah lama Angga". Ucap Sinta dan Ayu serempak.


"Tapi yaudahlah". Sinta mengedipkan mata nya sebelah ke arah Ayu


menandakan untuk mengiyakan Angga.


"Mau kemana Ngga..". Ucap Via dibelakang Angga.


"Ikut aja. Gua ada tempat bagus buat lu". Ucap Angga.


"Dimana?". Tanya Via.


"Kalo ngasih tau sekarang bukan kejutan nama nya". Jawab Angga


datar.


"Jadi lu ngasih kejutan nih". Rayu Via.


"Ya begitulah".


"Rooftop?". Via kaget saat berada di rooftop sekolahan nya.


"Lu belum pernah kesini kan?". Tanya Angga.


"Belum. Lagian kan gak boleh kesini. Kok lu boleh?". Tanya Via.


"Lu gak lihat dengan siapa lu berhadapan? Udah tenang aja". Jawab


Angga menyombongkan diri.


"Iya deh iya". Via duduk di kursi panjang yang berada di rooftop.


"Vi, gua ada sesuatu buat lu". Ucap Angga malu.


Angga mengambil lengan kiri Via dan memakaikan sebuah gelang yang bertulis


V.


"Untuk gua?". Tanya Via.


"Iya.. itu biasa kok gua beli di depan tadi, harga nya juga gak mahal


kok". Jelas Angga salting.


"Gua gak peduli ini beli dimana, harga nya berapa. Yang gua peduliin


ini gelang dari sahabat gua yang paling gua sayang". Ungkap Via tersenyum


melihat Angga.


"Lu cuma beli 1?". Tanya Via.


Angga mengeluarkan gelang berwarna hijau dengan huruf A dari saku nya.


"Sebenarnya gua mau beli 1 aja buat lu, tapi biar diskon harus beli 2.


Jadinya ya gua beli juga". Ucap Angga malu.


Via mengambil gelang yang dipegang Angga, dan memakaikan nya ke tangan kiri


Angga.


"Nah kan jadi sahabatan kita selamanya. Untung lu beli 2 kalo beli 1


gua bakal beli lagi buat lu". Ucap Via sambil tersenyum.


"Gelang ini menandakan bahwa hubungan persahabatan kita gak akan pernah


hilang selamanya. Kalo sampe salah satu dari kita melepaskan gelang ini berarti


dia tidak mau bersahabat lagi. Dan gelang ini harus ada kapan pun". Jelas


Via membuat Angga tersenyum.


"Vi, gua mau lu kalo lagi sedih lihat gelang ini dan mengingat gua


bahwa gua akan selalu ada disamping lu. Begitupun gua". Ucap Angga.


"Iya gua bakal jaga hadiah terindah dari lu". Via tersenyum lebar


di hadapan Angga.


"Vi, maen Truth or Dear yok, mau gak? Kalo gak mau jug...".


"Mana mungkin seorang sahabat nolak permintaan sahabat nya". Jelas


Via.


Pena diputar nya sebagai petunjuk siapa yang dapat ToD nya.


"Via". Teriak Angga.


"Oke-oke... gua milih Truth deh". Ucap Via.


"Jujur ya... siapa orang yang lu suka sekarang?". Tanya Angga


dengan jantung yang berdegup cepat.


Entah kenapa gua jadi nyaman banget didekat Angga. Ada apa dengan gua?.


Kalo gua jawab gua suka sama Angga, gua udah ngelanggar perjanjian yang gua


buat sendiri dan belum tentu Angga suka sama gua. Kalo gua jawab kak Arga, gua


emang suka sama dia tapi kenapa perasaan gua sekarang pudar. Gua harus jawab


apa?. Pikiran Via mulai campur aduk dengan perasaan nya. Dimana logika dan


perasaan saling beradu.


"Kok bengong. Jawab dong?". Sahut Angga menyadarkan Via dari


lamunan nya.


"Gua suka.. sama..". Via menatap Angga sendu.


"Iya?". Angga masih menebak siapa yang disuka Via.


"Kak Arga". Ucap Via dengan jantung yang berdegup cepat.


"Kak Arga?". Tanya Angga tak yakin.


"Iya, kenapa kaget?". Tanya Via menatap mata Angga.


"Gakpapa kok.. lu beneran suka sama dia?". Tanya kembali Angga


meyakinkan Via.


"Iya gua suka sama kak Arga sejak awal sekolah". Via melepas


tatapan Angga.


"Ohh gitu.. kak Arga juga baik kok.. lu sama dia cocok kok".


Ungkap Angga dengan mata berbinar.


"Cocok?". Via kembali menatap Angga dengan mata yang berbinar


juga.


"Yaudah lanjut". Angga memutar pena dan mengarah kearahnya.


"Truth or Dear?". Tanya Via.


"Truth".


"Jujur.. Siapa yang lu suka?". Tanya Via.


Gua mau jawab apa Vi? Gak mungkin gua jawab lu. Sedangkan lu sendiri suka


sama orang lain. Secara tidak langsung gua udah ditolak sama lu. Dan gua mulai


suka sama lu. Gua harus jawab apa Vi? Apa?. Angga mulai bingung dengan


perasaan nya.


"Angga". Via mebuyarkan lamunan Angga.


"Kok sekarang lu yang bengong?". Ledek Via.


"Gua.. gak ada yang gua suka untuk sekarang. Mungkin nanti ada".


Ucap Angga.


"Beneran gak ada?". Tanya Via.


"Gak ada. Gua belum bisa move on dari mantan gua". Jawab Angga.


Gua berharap lu jawab nama gua Ngga, tapi itu gak mungkin karena gua juga


bilang suka sama yang lainnya. Dan mungkin mantan nya lebih baik dari gua


hingga dia belum bisa move on. Pikir Via.


"Siapa mantan lu sampe-sampe gak bisa move on?". Tanya Via.


"Dia masa lalu. Udahlah gak usah dibahas". Jawab Angga sendu.


Sampe sekarang gua gak punya mantan Vi, gua terpaksa bohong sama lu Vi.


Gua gak punya rasa sama orang lain selain lu. Gua udah nyaman Vi. Maaf. Pikir


Angga


"Mau lanjut gak?". Tanya Via mencoba menyembunyikan perasaan nya.


"Lain kali aja Vi, udah lama kita disini". Jawab Angga dingin.


"Yaudah deh". Via tersenyum tipis.


"Dan tenang aja gua bakal bantu lu ngedapetin Arga. Tenang aja".


Angga menantap Via sendu.


"Gak usah Angga". Sanggah Via.


"Udah gakpapa. Yang penting lu bahagia gua juga bahagia. Karena


kebahagian lu adalah yang pertama bagi gua". Ucap Angga menggenggam


tangan Via dan meninggalkan rooftop itu.


"Angga".


Via dan Angga bertatapan sejenak dan Via memeluk Angga dengan erat.


Dalam pelukan itu mereka saling meneteskan air mata dan langsung diseka.


Gua berharap, gua bisa selamanya bersama lu. Lu adalah kebahagian gua.


Pikir Via maupun Angga setelah menyeka air yang menetes di pipi mereka.


"Terima kasih". Ucap Via ditelinga Angga dan melepaskan Angga.


"Iya. Ayok kebawah. Lu kan panitia nya". Ajak Angga.