
"Vi lu liburan kemana?". Tanya Sinta.
"Seperti biasa gua ke rumah nenek gua di jogja dan ngunjungin adek gua
yang tinggal disana". Ucap Via.
"Kok adek lu tinggal sama nenek lu gak sama orang tua lu Vi?".
Tanya Sinta.
"Katanya mau ngejagain nenek disana dan nenek juga sendiri disana
padahal rumah besar". Jawab Via.
"Pagi Angga". Ucap Sinta saat melihat Angga masuk kelas.
"Ya". Angga meletakkan kepala nya di atas meja.
"Apa liburan kemaren kurang?". Ledek Via dengan senyuman manis
nya.
"Gua malah bersyukur akhirnya masuk sekolah. Selama liburan gua harus
ngurus cafe milik mama gua". Keluh Angga.
"Enak dong. Belajar bisnis juga". Via duduk di depan Angga.
"Enak? Dari mana? Gua harus ngitung ini lah, ngurus itu lah. Bikin
pusing aja". Ungkap Angga.
"Jadi lu gak seneng liburan ini?". Tanya Via.
"Ya iyalah".
"Kalo gitu pulang sekolah gua pengen ngerasain liburan kaya lu".
Rayu Via.
"Maksud lu?". Angga menaikan sebelah alis nya.
"Iya. Kita bakal ke cafe melati". Jawab Via sambil tersenyum.
"Ahhh... gak usah kesana lah. Gua benci tempat itu". Keluh Angga
kembali.
"Kalo gitu gua bakal sedih dan kaya nya gelang ini gak bisa bantu gua
tersenyum lagi padahal ada yang bilang kalo gua lagi sedih liat gelang ini aja
tapi kenyataan nya?". Bibir Via mengerucut agar Angga merespon nya.
"Ahhh.... baiklah". Akhirnya Angga menyerah.
"Nah gitu ngapa. Kan gua jadi seneng lagi. Berarti gelang ini
berpengaruh". Via mengusap-usap gelang nya.
***
Cafe Melati
"Lu mau ngapain sih disini?". Tanya Angga.
"Gua mau ngerasain liburan kaya lu. Jadi gua harus ngapain?".
Tanya balik Via.
"Masuk ke ruang ini". Perintah Angga.
"Wow... besar juga ruangan nya. Gua gak abis pikir kalo cafe ini ada
ruang yang besar kaya gini". Ucap Via.
"Ini untuk direktur aja. Dan gak boleh sembarangan orang masuk".
Jelas Angga.
"Aduh berarti gua seharusnya gak masuk sini". Via panik.
"Nah iya ayok keluar". Ajak Angga semangat.
"Tunggu". Via menghentikan langkah Angga.
"Ini kan hanya untuk direktur. Dan lu adalah anak direktur dan gua
adalah sahabat nya anak direktur". Ucap Via.
"Terus??". Angga menaikan sebelah alis nya.
"Terus gua bisa masuk di ruangan ini". Teriak Via senang.
"Ahhh.... lu bener.. yasudah basing lu mau ngapain disini". Angga
akhirnya menyerah.
"Maaf mbak bisakah anda melayani saya seperti anda melayani tuan Angga
saat liburan di cafe ini?". Tanya Via saat seorang pelayan memasuki ruang
itu untuk memberi berkas.
"Tap...i..".
"Udah gak usah takut. Saya yang bertanggung jawab". Ucap Via.
Angga hanya mengedipkan mata nya ke pelayan tersebut untuk menyetujui
perkataan Via.
"Baiklah". Ucap pelayan tersebut.
"Terima kasih".
"Apa kah gua boleh duduk ke kursi itu?". Tanya Via
"Ya boleh". Suara Angga pasrah.
"Wow enak ya duduk disini". Via menikmati kursi direktur.
Tok..tok..tok..
"Permisi, tuan Angga harus menandatangani berkas-berkas ini".
Seorang pelayan memasuki ruangan dengan banyak berkas.
"Berikan berkas nya ke nona itu". Angga menunjuk Via.
"Saya?". Tanya Via bingung.
"Iya. Kan lu mau ngerasain liburan kaya gua. Yaudah turutin aja".
Angga mengejek Via.
"Baiklah. Mana berkas nya?". Via mengacuhkan Angga.
"Apa-apaan ini. Gua gak ngerti isinya apa. Perjanjian apa ini?
Kesepakatan? Pemberhentian? Pengunduran? Naik pangkat? Apa ini semua?".
Gumam Via kebingungan.
"Kau pergi saja dulu. Nanti saya akan tanda tangan". Perintah
Angga ke pelayan tersebut.
"Baik tuan".
"Kaya gini aja bingung. Masih mau ngerasain lagi liburan kaya
gua?". Ejek Angga.
"Gua kan gak ngerti. Iya lah gua masih semangat siapa tau ada makanan
yang sering datang keruang ini. Ini kan cafe". Ucap Via.
"Maaf tuan. Anda harus menulis laporan keuangan untuk hari ini dan
minggu depan". Tiba-tiba pelayan datang dengan berkas lagi.
"Apa!?". Teriak Via kaget.
"Baiklah. Terima kasih". Jawab Angga.
"Kenapa kaget. Cepet kerjain". Perintah Angga ke Via.
Via membuat laporan keuangan yang ditugaskan tadi. Dan Angga dengan asik
meminum jus alpukat dan memandangi pemandangan diluar jendela dan sesekali
melihat Via.
"Angga". Ucap seseorang di depan pintu.
"Apa berkas nya sudah selesai?". Tanya nya lagi.
"Emm..". Angga melepaskan sedotan nya.
"Ya belum lah. Ini aja baru ditotal kok. Kalo mau cepet-cepet kerjain
sendiri. Capek tau buat laporan ini. Sana pergi dulu nanti kalo udah selesai
saya hubungi". Ucap Via masih fokus ke laptop.
"Angga dia siapa?".
Via langsung menoleh kearah orang itu dan melihat bahwa orang itu adalah
Mama nya Angga. Via hanya diam seperti patung dan menggigit lidah nya.
"Dia teman Angga Ma, namanya Vi..".
"Tante maafin saya te, tadi itu saya hanya kesal dengan pelayan
maksudnya tugas-tugas nya ehh maksudnya..".
"Apa yang kamu lakukan?". Tanya Mama nya Angga.
"Emm.. saya.. tadi.. emm..". Via mulai malu.
"Tadi Angga nyuruh dia gantiin posisi Angga dan katanya mau ngerasain
jadi aku pas liburan". Ucap Angga.
"Hahaha..". Mama Linda hanya tertawa mendengar ucapan Angga.
"Kenapa tante tertawa? Bukan nya saya ini ngeganggu ya te?". Tanya
Via bingung.
"Kamu gak ganggu kok. Tante cuma lucu aja liat ekspresi kalian berdua.
Kayanya kita pernah ketemu tapi saya belum tau nama kamu". Ucap Mama
Linda.
"Ohh.. nama saya Vian Anggraini Setyonegoro. Tante bisa panggil saya
Via". Ucap Via dengan senyuman nya.
"Apa tante boleh panggil kamu VAS?". Tanya Mama Linda.
"Aduhh nama masa kecil terbongkar lagi". Gumam Via.
"Kenapa?". Tanya Mama Linda.
"Ehh. Gakpapa kok te. Apa aja deh tante mau manggil saya". Ucap
Via.
"Terima kasih te". Via tersenyum merona.
"Tapi nyebelin". Ucap Angga yang sedang menandatangani berkas
tadi.
"Gak tante, yang nyebelin itu Angga". Tunjuk Via.
"Sudah-sudah kalian ini berantem terus nanti suka lagi". Ucap Mama
Linda.
"Ahh enggak tante kami bersahabat. Nih bukti nya". Via menunjukkan
gelang yang diberi Angga.
"Awas sahabat jadi Cinta". Mama Linda menatap Via dan Angga.
"Kenapa kalian bengong? Apa jangan-jangan benar ya?". Tanya Mama
Linda.
"Enggak". Ucap Angga dan Via.
"Wow kalian kompak ya. Yasudah tante ada rapat lagi. Angga selesaikan
pekerjaan kamu. Dan Vas, tante tinggal dulu ya". Ucap Mama Linda.
"Iya.. hati-hati te". Ucap Via.
"Mama lu baik ya". Ucap Via menghampiri Angga.
"Itu baik?". Tanya Angga.
"Emang kenapa?". Tanya kembali Via.
"Lu gak liat? Dia datang cuma 5 menit terus balik lagi ke pekerjaan
nya. Itu pun dia ngomong ada lu aja. Dasar wanita sibuk". Keluh Angga.
"Gak boleh gitu Ngga.. kalo emang Mama lu bukan mama yang baik
setidaknya lu jadi anak yang baik buat keluarga lu. Semua itu harus ada yang
mulai. Dan itu dimulai dari diri lu sendiri Ngga". Jelas Via.
"Apakah gua lagi diceramahin?". Ledek Angga.
"Iya diceramahin sama cewek cantik ini". Via membanggakan diri.
"Dehh pede banget ya". Jawab Angga.
Via berkeliling ruangan melihat semua isi ruangan sedangkan Angga sibuk
dengan tugas nya.
"Ngga, ini foto keluarga lu?". Tanya Via saat melihat foto di
dinding ruangan.
"Iya". Angga tidak melihat Via dan masih fokus dengan tugas nya.
"Ini lu, mama lu, ini pasti papa lu tapi ini siapa Ngga?". Tanya
Via.
Angga menghentikan pekerjaan nya dan melangkah kearah Via.
"Dia itu kakak gua". Angga menatap foto itu.
"Kenapa gak bersama lu? Kenapa bukan dia yang ngurus perusahaan mama lu".
Tanya Via.
"Gua sama kakak gua beda 5 tahun. Tadi nya kami keluarga yang harmonis
saling menyayangi tapi karena perceraian, keluarga kami hancur. Papa pergi
entah kemana, dan kakak juga memutuskan pergi ke Amerika untuk melanjutkan
kuliah nya dan dia ngomong tidak akan kembali ke Indonesia. Dia sangat benci
dengan Mama dan Papa. Terakhir gua ketemu dia saat gua ulang tahun ke 12. Dia
bilang :
"Happy birthday adek yang manis ku.. semoga semua keinginan mu
tercapai oke".
"Kakak mau kemana malam-malam gini. Kok bawa tas gede?".
"Kakak mau ngelanjutin kuliah di Amerika kamu kan tau cita-cita
kakak mau ke negeri paman sam".
"Angga ikut kak. Aku juga mau kesana".
"Enggak boleh. Angga harus tetap disini nemenin mama".
"Tapi kenapa pergi nya malam-malam gini?".
"Pesawat nya berangkat malam ini. Satu hal lagi Angga harus berjanji
jangan beri tahu mama kalo kakak pergi ke Amerika. Oke".
"Kenapa kak?".
"Karena kakak ingin memberi kejutan sama mama".
"Aku juga mau kejutan juga kak".
"Saat kakak pulang ke Indonesia. Kakak akan bawa hadiah buat
kamu".
"Oke".
"Adik yang pintar. Tolong jaga mama buat kakak ya jangan sampe orang
lain menghina mama".
"Siap kapten".
***
"Begitu lah cerita nya Vi, maaf gua jadi curhat sama lu".
"Gakpapa kok. Gua juga seneng dengerin nya". Ucap Via.
"Tapi Ngga kenapa lu tau dia gak bakal pulang ke Indonesia. Bukannya
dia bilang akan pulang?". Tanya Via.
"Saat umur gua 14 tahun. Tiba-tiba ada surat datang dari pos dan berisi
bahwa kakak tidak akan pulang ke Indonesia". Jelas Angga.
"Apa surat nya masih ada?". Tanya Via.
"Tentu saja gua menyimpan nya". Angga mengambil surat di tas nya.
"Gua selalu bawa surat itu kapanpun". Lanjut Angga.
"Boleh gua baca?". Tanya Via.
"Tentu saja boleh". Ucap Angga.
To : Satya Angga Vinar
Apa kabar adik kecil ku? Kabar kakak baik. Kakak kuliah di universitas
stanford. Gimana kabar mama baik-baik saja kan? Angga, kakak mau bilang kalo
kakak gak akan pulang di Indonesia. Kakak sudah menetap di Amerika. Jangan
marah sama kakak, kakak memutuskan ini karena kakak frustasi atas perceraian
mama dan papa. Kakak benci mereka. Mereka egois, kakak hanya sayang sama kamu.
Kakak butuh waktu untuk menenangkan diri disini. Tolong jangan beri tahu mama.
Kakak akan mencapai cita-cita kakak. Kakak harap cita-cita mu terwujud, tapi kakak
sampai saat ini belum tahu apa cita-cita kamu. Soal janji kakak ngasih hadiah
buat kamu, kakak gak tau kapan berkunjung ke Indonesia yang pasti kakak gak
akan kembali ke Indonesia. Jangan menangis, kau itu pria yang pemberani. Bales
surat ini ya. Kakak mau tau cita-cita kamu dan hadiah apa yang kamu inginkan
biar kakak kirim.
Salam kangen.
Kakak yang mencintai mu.
Adipati Henrick
***
"Apa lu bales pesan nya?". Tanya Via.
"Sejak gua tau itu semua. Gua gak pernah bales surat nya. Kenapa gua
harus jawab pesan dia sedangkan dia mengingkari janji nya". Jelas Angga.
"Kenapa kakak gua sendiri melakukan hal ini Vi kenapa??". Angga
tiba-tiba memeluk Via dan disambut dengan pelukan hangat Via.
Via mencoba menenangkan Angga dengan mengusap rambut nya.
"Apakah lu menangis?". Tanya Via merasa bahu nya basah.
Angga langsung melepaskan pelukan nya.
"Tidak". Angga mengusap air mata nya.
"Emm.. baiklah. Boleh gua nanya sekali lagi?". Tanya Via.
"Tentu".
"Kalo lu jawab surat itu lu mau jawab apa?". Tanya Via.
Angga menulis sesuatu di kertas dan menunjukan ke Via.
"Lu simpen". Perintah Angga.
"Baiklah". Jawab Via masih memandangi surat itu.
"Jangan lu kirim ke kakak gua ya". Ucap Angga.
"Iya Angga".
"Dan kaya nya gua udah ngerasain liburan seperti seorang Angga".
Ucap Via.
"Kalo gitu ayok pulang". Ajak Angga.
"Ayok".