
12:30
Di kantin
"Ciee yang baru jadian.. kado ulang tahun nya yang ke 15 keren juga ya.. jadi kita dapet makan-makan nya double nih. Hehehe". Ucap Ayu.
"Apasih Yu, nanti gua traktir kalian makan bakso deh". Jawab Via.
"Okeee.. itu baru Via". Ucap Ayu.
Angga melihat ke arah Via, lalu membuang wajah seolah membawa makanan ditangan nya, tanpa senyum sedikit pun.
"Vi, lu sadar gak sih. Kalo Angga sekarang ngejauh dari lu sejak lu jadian sama kak Arga". Ucap Sinta.
"Gua gak tau Sin, dia kenapa. Mungkin ada masalah, nanti gua tanyain deh". Jawab Via.
"Jangan-jangan dia cemburu lagi lu jadian sama kak Arga". Tebak Sinta.
"Gak mungkin lah dia cemburu. Dia aja bilang kalo gua bahagia dia juga bahagia". Ucap Via.
"Vi, lu beneran gak peka atau pura-pura bego. Hah?!". Bentak Sinta.
"Maksudnya? Gua beneran gak ngerti Sin". Jawab Via bingung.
"Vi, dia bilang kaya gitu karena dia pengen lu bahagia tapi hati nya pasti sakit. Sebenernya dia itu suka sama lu, tapi lu nya udah ada yang punya duluan". Jelas Sinta.
"Kalo emang suka kenapa gak diungkapain? Kenapa harus diam dan berpura-pura bahagia kalo ujungnya sakit hati?". Tanya Via.
"Karena dia punya alesan tertentu untuk tidak mengungkapkan. Mungkin saja dia mencintai mu dalam do'a". Jelas Sinta.
"Udahlah gak usah dibahas". Jawab Via.
"Oke-oke"...
Pulang sekolah
Via, Sinta, dan Ayu menunggu di halte sekolah untuk dijemput. Tiba-tiba Arga muncul dengan motor vixion nya.
"Ayok Vi pulang bareng". Ajak Arga.
"Tapi ka.." Ucap Via terpotong.
"Udah gapapa.. yok". Lanjut Arga.
Saat perjalanan pulang, tiba-tiba Angga berada di belakang mereka namun tidak memandang Via. Via hanya bingung kenapa dengan sahabat nya ini.
Rumah Angga
Angga melempar tas di kasur dan mengacak kasur nya dengan pikiran yang kacau Angga terus berteriak kesal, entah pikiran apa yang membuatnya seperti ini dan tiba-tiba Angga terpaku pada gelang yang dia pakai.
"Vi, gua sayang lu". Teriak Angga.
"Kenapa sakit saat melihat lu dengan Arga? Kenapa?!". Angga terus berteriak keras.
"Aku harus apa Vi?! Apa aku harus menjauh dari kamu? Atau aku harus cuek? Tapi aku gak bisa kaya gitu Vi, Aku sangat Mencintai Mu Via". Angga duduk di lantai dan air mata nya keluar begitu saja.
Tok.. tok..tokk
Bibi Ijah mengetuk pintu kamar Angga dan mengajak nya untuk makan malam namun Angga tidak menanggapi nya hingga berkali-kali Bi Ijah mengetuk dan memanggil Angga.
"Aku lagi tidak ingin makan Bi". Ucap Angga dari dalam kamar nya.
Diluar pintu kamar Angga, Mama Angga menghampiri Bi Ijah menanyakan Angga, Bi Ijah menjelaskan bahwa Angga lagi tidak ingin makan. Mama Linda akhirnya mengetuk pintu kamar Angga berkali-kali.
"Angga ini Mama, ayok makan malam". Ucap Mama Linda.
"Angga jawab Mama nak, jangan kamu buat Mama marah ya". Tekan Mama Linda dari luar kamar Angga.
"Aku bilang aku lagi tidak ingin makan! Jangan urusi urusan ku, urusi saja urusan mu Nyonya Linda!". Teriak Angga.
"Angga!! Dasar anak..". Emosi Mama Linda memuncak.
"Sudah nyonya, biar nanti Bi Ijah yang memberi makan Angga. Sebaiknya nyonya makan dulu". Ucap Bi Ijah mencoba meredakan emosi Mama nya Angga.
"Apa dengan kejadian ini saya bisa makan dengan tenang?". Tanya Mama Linda dan meninggalkan Bi Ijah.
22 : 30
Angga keluar rumah dengan diam-diam melewati ruang tamu namun lampu ruangan hidup dan suara keras dari Mama Linda terdengar Angga.
"Mau kemana kamu malam-malam begini?" Tanya Mama Linda.
"Itu bukan urusan mu". Suara Angga dingin dan melangkah keluar namun kata Mama nya membuat Angga terhenti.
"Ya memang itu bukan urusan ku. Seharusnya kau tinggal bersama Papa mu yang breng*ek itu dan seharusnya kakak mu tetap disini setidaknya dia penurut tidak seperti mu!". Ucap Mama Linda dengan emosi.
"Dan seharusnya kamu tidak melahirkan ku di dunia ini kan". Jawab Angga dengan emosi nya.
"Dan satu lagi jangan sebut Papa ku seperti itu. Dan ya kakak tidak disini karena dia tau kalo sifat Mama terlalu keras sehingga sifat sabar nya kakak kalah dengan keegoisan Mama". Lanjut Angga dan pergi sambil membanting pintu.
"Angga!!! Kamu anak yang tidak kuharapkan hadir dikehidupan ini. Karena kamu semua berubah, aku cerai dengan Papa mu karena kamu Angga!!". Teriak Mama Linda sambil menangis.
Angga masih mendengar ucapan Mama nya dibalik pintu. Angga keluar dengan membawa mobil nya yang berwarna merah. Pikiran nya begitu kacau dari mulai cinta nya yang tak terucap hingga masalah dengan mama nya.
Malam begitu mendukung keadaan Angga sekarang. Hujan turun begitu deras, dan dia tidak tau arah tujuan nya ketika dia melewati rumah Via, ia turun tanpa peduli hujan dan terus memandingi jendela dengan lampu yang masih menyala padahal sudah larut malam.
Disisi lain, Via sedang menulis sesuatu entah apa, dan beranjak untuk tidur tapi mata nya menuju ke jendela kamar nya. Ia baru ingat kalo dia lupa menutup hordeng jendela kamar nya. Ketika ia melihat keluar ada seorang yang berdiri menatap kamar nya dengan tatapan kosong, Via tersadar kalo itu Angga. Dengan cepat Via mengambil payung dan keluar memayungi Angga.
"Angga... lu kenapa? Ngapain lu kesini dan berdiri hujan-hujan begini". Tanya Via dengan teriak karena suara nya kalah dengan deras nya hujan.
"Yaudah masuk dulu yuk". Ajak Via.
Mama Gita keluar kamar nya dan kaget melihat Angga dengan basah kuyup.
"Ya ampun nak Angga kamu kenapa? Via, Angga kenapa basah kuyup gini? Suruh mandi air hangat dulu sana". Ucap Mama Gita khawatir.
"Iya Ma". Jawab Via.
Angga akhirnya menuruti perintah Mama Gita untuk mandi dan salin baju walau memakai baju Papa nya Via. Setelah mandi Angga duduk di kursi ruang tamu dimana Via sedang duduk menunggu Angga. Tiba-tiba Angga memeluk Via dengan erat, Via bingung kenapa sahabat nya ini langsung memeluk nya.
"Ngga, kenapa? Ceritain gua akan denger kok". Ucap Via sambil menepuk punggung Angga dengan lembut.
Angga menangis di pelukan Via seperti anak kecil.
"Apa gua salah terlahir di dunia ini? Apa seharusnya gua gak terlahir biar keluarga gua bahagia? Semua yang gua harapin semua nya tidak ada yang terwujud Vi..". Angga masih menangis dipelukan Via.
Via mengerti apa yang terjadi dengan Angga. Lalu Via melepas pelukan Angga dan menatap mata Angga dengan lembut namun Angga menunduk tidak ingin menunjukan kalo dia tadi menangis.
"Tatap mata gua Angga". Perintah Via.
Namun Angga tidak menuruti perintah Via. Akhirnya Via memegang pipi Angga hingga mata mereka bertatapan.
"Ngga, semua ini bukan salah lu atau salah Mama lu. Hanya saja Allah menguji kesabaran lu sampai mana lu sabar. Dan Allah tidak pernah menguji hamba-Nya lebih dari kemampuan nya. Gua yakin lu bisa melewati nya". Ucap Via menjelaskan agar Angga tidak menyalahkan dirinya sendiri.
"Tapi Vi..".
"Denger lu gak sendiri. Dan jangan pernah nyalahin diri sendiri untuk semua hal. Disini ada gua yang selalu ada buat lu. Inget perjanjian itu kan". Ucap Via.
"Iya, jangan ngucapin terima kasih dan maaf kalo sama sahabat iya kan". Jawab Via.
Angga hanya tersenyum melihat Via.
"Kenapa senyum-senyum bukannya tadi abis nangis". Ledek Via.
"Enggak kok". Angga langsung meghapus air mata nya yang mungkin tersisa di pipi nya.
"Udah gapapa kok lu nangis wajar kali". Ucap Via.
"Tapi gua kan laki". Jawab Angga.
"Emangnya kalo lu laki gak boleh nangis gitu? Semua orang itu pasti pernah nangis karena mereka punya perasaan juga". Jelas Via membuat Angga malu.
"Oiya lu berdiri di depan rumah gua berapa lama?". Tanya Via.
"Enggak tau, tadi gua keluar mobil jam 01:25". Jawab Angga polos.
"Dan gua ngeliat lu jam 02:10. Berarti udah setengah jam lu berdiri disitu". Ucap Via.
"Gua gak ngerasa itu setengah jam, gua ngerasa itu 1 minggu untuk menunggu lu liat gua di jendela". Rayu Angga.
"Hahaha bisa aja.. tapi kok lu tau itu kamar gua?". Tanya Via penasaran.
"Lampu nya belum dimatiin". Jawab Angga.
"Terus kalo misalkan kamar sebelah juga belum mati gimana? Berarti itu kamar gua gitu? Pokoknya dari mana lu tau itu kamar gua? Jangan-jangan lu mengintai gua diem-diem terus mau..". Via terus berdebat tentang Angga yang bisa tau kamar nya. Namun Angga tidak tahan dengan omelan Via malam-malam begini.
"Stop Vi..". Angga menempelkan jari telunjuk nya ke bibir Via agar Via diam.
"Hati Vi Hati.. hati gua mengatakan kalo lu berada di kamar itu dan sedang memikirkan seseorang". Ucapan Angga membuat Via melotot bingung.
"Maksudnya?" Tanya Via polos.
"Aduh...". Angga memegang perut nya.
"Kenapa Ngga, apa jantung lu sakit.. eh tapi lu megang perut". Via bingung.
"Laper, gua belum makan dari tadi siang". Ucap Angga memelas ke Via berharap Via peka.
"Kenapa muka lu kaya pengemis sihh". Ledek Via.
"Aduhh... Vi". Angga mencoba sakit perut lagi.
"Terus gua harus apa?". Tanya Via.
"Lu gak perlu ngapa-ngapain. Dasar gak pekaan.. gimana gua mau nembak lu". Angga melangkah ke dapur dengan kesal tapi suara nya dikecilkan dibagian akhir.
"Apa?". Teriak Via.
"Enggak.. lu cantik kok". Teriak Angga.
Gua harus apa Ngga, gua mengetahui lu suka sama gua saat gua udah ada yang punya. Via bengong dengan pikiran nya tanpa menyadari kalo Angga ada di depan nya.
"Oy..". Angga mengagetkan Via.
"Maaf". Teriak Via kaget.
"Kenapa minta maaf?". Tanya Angga.
"Eh, enggak maksudnya maaf kalo gua gak nyediain makanan buat lu". Jawab Via bingung apa yang dia pikirkan tadi.
"Udah kali.. nih gua kasih makanan enak kok, anggep aja rumah sendiri". Ledek Angga.
"Iya.. eh ini emang rumah gua kampret". Via memukul Angga dengan bantal sofa tapi tangan Via langsung di pegang Angga.
"Ngga". Wajah Via berubah dari senang menjadi panik.
"Kenapa?". Tanya Angga.
"Badan lu panas Ngga, ini gara-gara lu ujanan sih. Sekarang lu tidur aja di kamar terus jangan idupin AC, nanti gua anter obat nya. Sana". Perintah Via yang ditanggepin sama Angga dengan senyuman.
"Kok senyum sih cepet. Ini udah jam 3 malem cepet". Perintah Via.
"Gendong". Angga merajuk ke Via.
"Enggak mau, gak usah kaya anak kecil Ngga". Ucap Via.
"Tapi gua gak kuat jalan". Angga masih merayu Via.
"Ngga pintu keluar ada disana ya". Ancam Via.
"Baiklah nenek sihir".
"Apa!". Via kaget dikatakan nenek sihir.
Angga langsung lari ke kamar tamu disebelah kamar Via.
Via khawatir kalo panas nya Angga karena penyakit nya, tapi dia tetap optimis. Via membawa obat untuk Angga ke kamar nya.
"Ngga, nih minum obat". Via memberi obat ke Angga.
"Vi lu tau gk sedari tadi gua deg-degan tau". Ledek Angga.
"Angga gak usah becanda. Abis ini lu harus tidur". Ucap Via.
"Tapi gua serius". Ucap Angga dengan senyum polosnya.
"Gua juga serius. Gua kha...". Via kesal karena Angga tidak menuruti perintah nya untuk istirahat.
"Khawatir. Lu gak usah khawatir. Gua lebih khawatir kalo lu besok telat sekolah karena kesiangan". Jawab Angga meledek Via.
"Ah iya ini udah jam 3 lewat. Yaudah istirahat besok kan sekolah". Via meninggalkan Angga dan melangkah keluar.
"Vi.."
"Ada apa?".
"Tolong taruh gelas ini di dapur ya". Ucap Angga.
"Hadeuh... dasar..". Via mengeluh dengan Angga.
"Vi..".
"Apa lagi sihh!!". Kali ini Via benar-benar kesal.
"Terima kasih". Senyum Angga penuh makna dan meredakan emosi Via.
"Iya sama-sama". Via menutup pintu kamar dengan senyum nya.
****
Salam manis O.M 😆😙😚