
Tok tok tok
"Permisi, ada Angga nya?".
"Nona siapa ya?". Tanya bi Ijah.
"Saya Via, teman nya Angga". Jawab Via.
"Oh non Via yang sering dibicarakan nak Angga itu toh. Silakan masuk
nak Angga ada di kamar nya". Ajak bi Ijah.
"Iya bi makasih". Jawab Via.
"Non Via tunggu sini aja ya biar bibi yang bangunin nak Angga". Bi
Ijah menunjuk sofa di ruang tamu dengan sopan.
"Biar saya aja bi yang bangunin. Gakpapa kan?". Tanya Via.
"Ohh... gakpapa sih". Jawab bi Ijah.
Via membuka pintu kamar Angga dan melihat Angga yang tertidur dengan nyenyak
di kasur nya.
"Prince of the sleep get up". Via membuka selimut Angga tetapi
Angga masih tidur.
Via membuka setiap tirai jendela di kamar Angga agar terlihat terang oleh
matahari.
"Emmm...". Angga menggeram karena silau.
Via berdiri disamping ranjang nya menutupi kepala Angga dengan bayangan nya
lalu menyingkir lagi dan Via melakukan berulang kali.
Dan akhirnya via memutuskan membiarkan Angga terkena cahaya matahari.
"Ayok lah bi, masih pagi". Angga kembali menutupi wajah nya dengan
selimut.
"Angga ayok bangun". Ucap Via.
"Via". Angga kaget melihat Via.
"Sejak kapan lu kesini? Kenapa lu bisa kesini? Ini kan masih pagi?
Siapa yang ngizinin lu masuk kamar gua?". Tanya Angga mengintrogasi Via.
"Pertanyaan mana dulu yang harus gua jawab?". Tanya Via sambil
tersenyum geli.
"Semua".
"Kumpulin dulu nyawa lu itu". Perintah Via.
Angga melihat jam di kamar nya menunjukkan pukul 07:50.
"Vi, ini masih pagi". Rajuk Angga.
"Gua gak mau dibilang ngelanggar janji aja". Jawab Via dengan
tangan dilipat didada.
"Tapi kan lu datang jam 8 bukan jam segini". Bela Angga.
"Lu aja bisa dateng cepet kenapa gua gak?". Bela Via mengingat
Angga menjemput dia.
"Yaudah gua mandi dulu. Lu tunggu di ruang tamu aja". Perintah Angga.
"Oke. Mandi yang bersih dasar bau". Ledek Via.
"Gua wangi wehh". Teriak Angga.
***
Di ruang tamu
"Akhirnya selesai juga ya mandi nya". Ledek Via tanpa melihat
Angga dihadapan dan sibuk dengan laptop nya.
"Jadi tugas kita kaya mana?". Tanya Angga menggulung lengan baju
nya hingga siku.
"Ya gak gimana-gimana". Jawab Via menantap Angga acuh.
"Kenapa lu natap gua gitu? Nanti suka lagi". Ledek Angga.
"Ihh geer amat sih.. gua itu liat lu aneh aja". Ucap Via salting.
"Aneh?". Angga mengangkat sebelah alisnya.
"Ya.. lu beda gitu di sekolah sama dirumah". Ungkap Via.
"Kenapa? Gua lebih ganteng ya di rumah?". Angga mengedipkan mata
nya.
"Ihhh.. geer banget.. oiya Mama lu mana?". Via mengalihkan
pembicaraan.
"Gak usah ditanya dia orang sibuk". Angga duduk disamping Via dan
mengambil laptop dari tangan Via dan meletakan nya di paha nya.
"Kerja? Kan ini hari minggu". Tanya Via.
"Mau hari minggu atau libur kalo namanya kerjaan dia harus utamakan
tentang keluarga nomor sekian". Ungkap Angga malas.
Kruk.. krukk..
Suara perut Via terdengar oleh Angga.
"Lu belum sarapan ya?". Tanya Angga kaget mendengar suara itu.
"Emm.. gua tadi itu kan berangkat pagi nah...". Via mulai
malu dengan sikap nya itu.
"Bilang aja lu belum sarapan". Ucap Angga memotong kalimat Via dan
Via hanya tersenyum malu.
"Tunggu sini biar gua buatin makanan". Angga meninggalkan Via dan
menuju dapur.
"Tungga Angga gua ikut". Via mengikuti Angga ke dapur.
"Lu mau makan apa?". Angga membuka kulkas yang berisi bahan
masakan semua.
"Nasi goreng aja yang mudah dan enak". Ucap Via.
"Di rumah gak masak nasi". Jawab Angga datar.
"Terus lu makan apa?". Tanya Via.
"Lu tau kan di rumah segede ini cuma ada gua, mama, sama bi ijah doang.
Mama jarang pulang kalo pun pulang pasti dia udah makan diluar, bi ijah nurut
aja makan apa, dan gua makan bisa instant". Jelas Angga.
"Nih masak ini aja". Angga mengambil mie instant dari lemari dan
"Kalo makan instant terus gak baik untuk kesehatan Ngga, biar gua masak
yang sehat buat lu". Via mulai membuka kulkas dan mengambil sayuran.
"Ya basing lu lah". Angga membalikkan badan menuju pintu keluar
dapur.
"Mau kemana lu? Sini bantu gua". Perintah Via.
"Kan lu yang mau masak". Ucap Angga datar.
"Lu harus belajar masakan sehat jangan berpatok dengan bi ijah sama mie
instant ini". Ucap Via.
"Ya.. apa yang harus gua bantu". Tanya Angga.
"Ambil ini cuci terus potong-potong. Gua mau nyuci beras dulu".
Perintah Via memberikan sayuran ke Angga.
Angga hanya menurut tanpa bicara. Dia mulai memotong sayuran yang
diperintahkan Via.
"Stopp!!!".
"Kenapa?". Tanya Angga kaget.
"Ihhh... lu salah motong nya seharusnya kaya gini. Kita kan mau buat
capcay bukan mau ngasih makan anak kambing". Via memotong sayuran dan
menunjukan ke Angga.
"Nih coba potong lagi". Perintah Via.
"Angga kok kaya gini sih. Nih gua ajarin". Via memegang tangan
Angga dan mulai memotong sayuran.
"Lu modus ya sama gua?". Ledek Angga membuat Via kaget.
"Eh enak aja,, gua kan ngajarin lu doang". Via langsung melepaskan
tangan nya dari tangan Angga.
"Tapi kan sama aja lu modus". Ledek Angga.
"Tuh lu aja yang potong-potong sayur nya". Perintah Via.
***
"Gimana enakkan masakan gua?". Tanya Via membanggakan diri.
"Masakan kita". Sanggah Angga.
"Iya deh". Jawab Via pasrah.
"Yaudah makan lagi aja. Kapan lagi lu makan masakan yang dimasak gua..
ehh.. maksudnya kita". Ledek Via.
"Okeee" .
Selesai makan mereka kembali mengerjakan tugas kelompok nya tentang tempat
itu.
"Rumah lu gede juga ya". Via menikmati taman belakang rumah Angga.
"Percuma gede kalo gak ada isi nya mah". Ucap Angga yang
mengerjakan tugas.
"Kalo gitu lu suruh saudara lu kesini aja semua". Ide Via.
"Vi, kalo saudara gua gak punya rumah udah gua tampung semua sayangnya
mereka memiliki harta yang cukup semua". Ucap Angga.
"Oh gituu". Via hanya mengangguk.
"Vi, lu bisa maen ps gak?". Tanya Angga.
"Apaan itu ps?". Tanya balik Viam
"Udahlah gak jadi. Ps aja lu gak tau apalagi maennya". Angga
cemberut.
"Ohh gua tau kok. Ayok maen". Via pura-pura paham.
"Lu gak usah bohong".
"Kalo gua gak tau dan lu udah tau. Kenapa gak belajar dari lu biar gua
tau". Ucap Via.
"Yaudah yok kita kelantai atas". Ajak Angga menutup laptop Via.
Mereka sampai di ruangan dimana disitu sangat luas terdapat sofa yang unik,
TV, Ps, dan bahkan karokean.
"Wow... pantes lu males sekolah ya kalo isi nya kaya gini". Via
terkesimak saat membukakan pintu ruangan itu.
"Gua jarang kesini. Males gak ada kawan apalagi kalo maen ps".
Ucap Angga.
"Yaudah yok maen ps".
"Oke".
16:50
"Yeahh gua menang lagi". Ucap Via
"Lagi?". Tanya Angga.
Via hanya tersenyum malu.
"Jelas-jelas nya kita udah maen 7 kali dan lu baru menang ya dan gua
sengaja mengalah". Ucap Angga meledek Via.
"Hehehe.... yang penting gua menang". Via mengeluarkan lidah nya
tanda meledek Angga.
"Angga udah jam segini gua pulang dulu ya". Ucap Via melihat jam.
"Tunggu biar gua yang anter aja". Angga mengambil kunci mobil di
meja kecil dekat sofa.
"Tapi nanti mama lu datang. Dan lu gak dirumah gimana?". Tanya
Via.
"Lu udah dateng kerumah gua. Dan gua harus nganter lu nyampe rumah biar
ketauan lu kemana sama siapa". Ucap Angga.
"Baiklah". Via akhirnya menurut.
Mereka turun kebawah dan menuju ruang tamu untuk membereskan laptop dan
barang-barang Via.
"Nih lu tinggal ketik ini aja, ini pendapat orang-orang disana tentang Situ itu". Via memberikan buku catatan dan flasdisk nya.
"Siap kapten". Ucap Angga dengan tangan menghormat.