Thank's My First Love

Thank's My First Love
BAB 7



"Kamu kenapa sekarang pulang nya abis maghrib terus? Emang ada kumpulan


ekskul? Tadi pulang sama siapa?". Tanya mama Gita panjang lebar.


"Mama...". Via mengajak mama nya duduk di sofa agar tenang.


"Tadi Via ke Situ Patenggang. Karena perjalanan jauh jadi nya


pulang terlambat. Via tadi mau mengabari mama, tapi hp Via lowbat. Dan


Via kesana cari inspirasi buat tugas seni budaya Via. Dan juga Via diantar


pulang sama Angga teman Via yang waktu itu nganter Via yang kata mama


ganteng". Jelas Via menjelaskan panjang lebar agar mama nya tidak


khawatir.


"Ke tempat itu?". Mama Gita mengulang kembali prrtanyaan nya.


"Iya ma". Via yang merebahkan diri di sofa.


"Itu kan tempat kesukaan kamu. Dan kamu juga gak pernah ngajak orang


lain selain mama dan papa. Tapi kok kamu ngajak cowok itu?. Apa kamu suka sama


dia?". Via langsung membuka matanya yang sedari tadi terpejam untuk


merebahkan badan nya.


"Mama... aku juga gak tau kenapa.. rasanya ngajak dia, aku juga senang.


Oya ma, aku gak suka cowok kaya dia". Ucap Via.


"Kenapa? Dia kan ganteng, baik, kaya. Kurang apa lagi coba?".


Tanya mama Gita merayu Via.


"Kurang Cinta". Jawab Via dingin dan melangkah ke kamar nya yang


berada dilantai dua.


"Kalo kamu mulai Cinta sama dia, kamu harus kenalin dia ke mama".


Teriak mama Gita.


"Iya ma iya". Jawab Via malas.


***


Di rumah Angga


"Tuan muda, ada pesan dari nyonya kalo nyonya malam ini pulang nya agak


telat. Tadi nyonya gak bisa hubungin tuan". Ucap asisten rumah tangga


Angga yang sudah tua.


"Iya bi, Angga gak peduli lagi dia mau pulang atau gak". Angga


langsung pergi kekamar nya.


"Tuan makan malam nya sudah siap". Ucap bi ijah.


"Iya bi, nanti angga kebawah". Teriak Angga dari atas.


Di kamar, Angga merebahkan badan nya ke kasur yang empuk dia berpikir


bagaimana bisa dia berbicara panjang lebar dengan orang lain sedangkan dengan


anggota keluarga nya sendiri pun dia bersifat dingin.


"Entahlah, apa yang gua pikirin sih. Kok gua jadi kepikiran tadi siang


sih". Gumam Angga sambil menutup wajah nya dengan tangan.


"Astaga dimana surat pink cewek itu ya". Angga tiba-tiba ingat


surat Via yang dia buang waktu itu.


Angga mencari dibagian meja belajar, kasur, lemari semua nya menjadi


acak-acakan tapi tidak menemukan nya.


"Kemana surat itu?". Tanya Angga bingung.


Angga melihat surat itu berada di tempat sampah yang berada di kamarnya. Dia


langsung mengambil surat itu dan ingat kalo dia melempar kertas itu ke meja


belajar.


"Kenapa ada di tempat sampah?". Tanya kembali Angga ke dirinya.


"Yasudahlah gua gak peduli hal yang gak penting ini". Angga


meletakkan surat nya di buku nya.


"Oya gua harus makan masakan bibi, kalo gak makan, kasihan bibi. Gua


mandi dulu aja". Gumam Angga pada diri nya sendiri.


***


"Emm... bi ayok makan bareng Angga, temenin Angga makan. Masa


Angga sendiri". Ajak Angga sambil mengunyah makanan.


"Gak tuan muda bibi udah kenyang". Jawab bi ijah membuat Angga


marah.


"Bibi!". Teriak Angga membuat bi ijah takut dan langsung menurut


dengan ucapan Angga.


"Maaf tuan muda". Jawab bi ijah sambil menunduk.


"Bi, bibi itu udah kaya orang tua Angga sendiri. Dari kecil Angga


dirawat sama bibi. Seharusnya bibi gak manggil Angga tuan muda tapi


dengan nama saja, Angga lebih senang dan lebih sopan sama orang


tua". Jelas Angga lembut kepada bi ijah.


"Tapi...". Bi ijah masih menunduk tak sanggup menatap mata tuan


muda nya.


"Bi, Angga mohon". Angga memohon dengan lembut.


"Baiklah tu.. maksud bibi nak Angga". Bi ijah mulai


melihat mata Angga tapi masih ragu.


"Terima kasih bi". Angga tersenyum dengan senang.


"Bi, bibi tau gak kemana papa pergi?". Tanya Angga disela-sela


makan.


"Bibi gak tau nak Angga". Sontak bi ijah kaget dengan pertanyaan


Angga.


"Oh gitu.. yaudah deh". Angga kembali mengunyah makanan nya.


"Kenapa nak Angga menanyakan itu?". Bi ijah mencoba bertanya


kepada Angga.


"Gak papa sih bi, bibi kan udah jadi asisten rumah tangga disini sejak


Angga sebelum lahir. Jadi mungkin bibi tau". Jawab Angga datar.


"Bibi gak tau nak". Bi ijah kembali menunduk.


Angga melanjutkan makan dengan bi ijah tanpa bersuara. Setelah selesai makan


malam. Angga ingat tentang surat itu.


"Oya bi, bibi tadi pagi bersihin kamar Angga kan?". Tanya Angga


mencairkan suasana yang sempat tegang.


"Tentu nak, bibi kan tiap hari bersihan kamar nak Angga". Jawab bi


ijah heran.


"Bibi buang surat warna pink itu ke tempat sampah di kamar Angga


gak?". Tanya Angga seperti mengintrogasi.


"Oh surat itu, bibi kira gak dipake lagi dan surat nya juga lecek jadi


bibi buang saja". Jelas bi ijah.


"Emang surat apa nak Angga? Sampe diambil lagi?". Tanya bi ijah


penasaran.


"Itu surat terima kasih seseorang sama Angga, baru kali ini Angga dapet


surat itu. Makanya Angga simpen".


"Dari cewek ya, pasti surat cinta". Bi ijah mulai menggoda Angga.


"Gak bi, emang iya sih itu surat cinta, tapi kalo surat pink itu bukan


surat cinta. Isinya nya kaya gitu kan, mana mungkin dia suka sama Angga, dan


Angga juga belum tentu suka sama dia". Sanggah Angga.


bi ijah menggoda Angga.


"Bibi udahlah. Lagi pula mana mungkin cewek sebaik dia nerima cowok yang


berandalan kaya Angga". Angga merendahkan diri.


"Nak Angga gak boleh gitu. Buktinya cewek itu bilang terima kasih kan


sama nak Angga". Bi ijah menyemangati Angga.


"Iya bi". Jawab Angga datar.


"Kalo emang beneran Cinta ungkapin aja jangan lama-lama nanti diambil


orang lagi. Abis itu kenalin sama nyonya dan bibi juga". Bi ijah kembali


menggoda Angga.


"Apaan sih bi, Angga ini belum pernah pacaran sama siapapun. Jangan kan


pacaran, teman aja Angga cuma sedikit itu pun laki semua. Masa iya harus


cepet-cepet. Semua itu butuh proses". Ucap Angga.


"Hehe.. makanya nak Angga harus biasain diri buat kenalan sama


orang lain". Ucap bi ijah sambil tertawa.


"Iya bi". Turut Angga.


"Yaudah udah malam sebaiknya kamu tidur besok sekolah nak Angga".


Seru bi ijah.


"Iya bi, terkadang Angga berpikir lebih baik jadi anak orang yang


sederhana dengan kasih sayang berlimpah daripada jadi anak orang yang kaya tapi


tidak pernah dapat kasih sayang". Ungkap Angga melihat bi ijah.


Bi ijah hanya tersenyum "Nak Angga gak boleh begitu, kita harus


bersyukur apapun nasib kita. Mungkin ini rintangan buat nak Angga agar nak


Angga ingat kalo kasih sayang itu penting". Jelas bi ijah.


"Iya bi, Angga tidur dulu. Terima kasih bi". Ucap Angga.


"Iya nak". Bi ijah hnya tersenyum memandang tuan muda nya itu.


***


06:45


"Apa yang lu lakuin?". Tanya Sinta.


"Ngelakuin tugas gua". Jawab Angga.


"Lu piket?". Tanya Sinta tak percaya.


"Iya". Jawab Angga datar.


"Ada apa gerangan lu dateng pagi terus piket? Lu Angga kan?".


Tanya Sinta heran.


"Kenapa? Gua Angga. Lu heran sama gua?". Ucap Angga dingin.


"Gak papa, tumbenan lu piket. Pasti ada yang ngomong sesuatu ke


lu?". Tanya Sinta mengintrogasi.


"Ada yang bilang kalo dikasih tugas itu harus bertanggung jawab".


Tegas Angga.


"Siapa yang bilang itu?". Tanya nya kembali.


"Tuh..". Angga menunjuk Via yang baru saja datang.


"Via?". Tanya Sinta tak percaya.


"Apa Sin?". Wajah Via datar.


"Gak papa". Jawab Sinta.


Via menaruh tas nya di meja dan duduk dengan wajah cemberut.


"Kenapa Vi?". Tanya Sinta menghampiri Via.


"Tadi malam kak Arga nelpon gua". Jawab Via datar.


"Ya seharusnya lu senang dong gak cemberut kaya gini. Emang kak Arga


ngomong apa?". Tanya Sinta bingung dengan tingkah Via.


"Iya gua seneng. Tapi kak Arga ngasih gua tugas untuk nyari sponsor


buat acara ultah sekolah". Jawab Via masih cemberut.


"Bagus lah lu ada tugas lagian kan acara nya tinggal 2 bulan


lagi".


"Itu masalah nya Sin, 2 bulan itu cepet banget belum lagi tugas


kelompok itu". Keluh Via.


"Iya sih. Lu yang sabar Vi, gua yakin pasti lu bisa". Sinta


menyemangati Via.


"Terus gua bagi waktu nya gimana?". Via masih mengeluh.


"Gimana ya??.." Sinta masih berpikir mencari solusi.


"Ohh gini aja Vi, lu kan nyari sponsor hari kumpulan OSIS, dan hari


minggu kan kosong tuh. Bisa lu pake buat ngerjain tugas kelompok sama Angga".


Saran Sinta.


"Iya juga ya.. ah.. tapi kan minggu ini mulai nyari sponsor nya. Jadi


gimana Sin? Bantuin gua". Via menaruh wajah ke meja nya merasa putus asa.


"Emang gak bisa izin untuk hari minggu?". Tanya Sinta mulai


menyerah.


"Mungkin kalo gua minta izin untuk minggu depan sama minggu depan nya


boleh kali ya.. kan izin cuma 2 hari doang". Gumam Via mulai semangat.


"Nah itu. Coba aja dulu". Sinta memberi kembali semangat.


***


Istirahat


"Kak Arga, saya boleh izin gak 2 hari untuk ngerjain tugas kelompok.


Izin nya minggu depan sama minggu depan nya lagi?". Tanya Via deg-degan.


"Hmm.. yaudah gak papa kok". Jawab Arga dengan senyum nya.


"Terima kasih kak". Via senang dan menampilkan deretan gigi


putihnya.


"Tapi minggu ini kamu harus ikut nyari sponsor sama saya". Ucap


Arga membuat Via kaget.


"Sama kakak?". Tanya Via kembali.


"Iya.. kamu gak mau?". Tanya kak Arga.


"Mau kak, berarti saya nunggu kak Arga jam berapa di sekolah?".


Tanya Via semangat.


Via gak mau kehilangan kesempatan berharga ini. Via senang kalo bisa deket


sama kak Arga.


"Kamu gak usah nunggu, saya yang akan jemput kamu dirumah". Ucap


Arga membuat Via bengong.


"Mana alamat kamu?". Tanya Arga membuyarkan lamunan Via.


"Ini kak". Via memberikan tulisan yang baru saja dia tulis


alamatnya.


"Oke tunggu saya ya". Jawab Arga dengan senyuman manis nya.


"Iya kak". Jawab Via masih senyum-senyum.


"Ehm.. temannya dikacangin". Ucap Sinta dan Ayu serempak


membuat Via tersadar.


"Eh gak kok, ayok ke kantin". Ajak Via mengalihkan teman-teman nya


yang ingin terus menggoda.


"Oke".