
"Kamu kenapa sekarang pulang nya abis maghrib terus? Emang ada kumpulan
ekskul? Tadi pulang sama siapa?". Tanya mama Gita panjang lebar.
"Mama...". Via mengajak mama nya duduk di sofa agar tenang.
"Tadi Via ke Situ Patenggang. Karena perjalanan jauh jadi nya
pulang terlambat. Via tadi mau mengabari mama, tapi hp Via lowbat. Dan
Via kesana cari inspirasi buat tugas seni budaya Via. Dan juga Via diantar
pulang sama Angga teman Via yang waktu itu nganter Via yang kata mama
ganteng". Jelas Via menjelaskan panjang lebar agar mama nya tidak
khawatir.
"Ke tempat itu?". Mama Gita mengulang kembali prrtanyaan nya.
"Iya ma". Via yang merebahkan diri di sofa.
"Itu kan tempat kesukaan kamu. Dan kamu juga gak pernah ngajak orang
lain selain mama dan papa. Tapi kok kamu ngajak cowok itu?. Apa kamu suka sama
dia?". Via langsung membuka matanya yang sedari tadi terpejam untuk
merebahkan badan nya.
"Mama... aku juga gak tau kenapa.. rasanya ngajak dia, aku juga senang.
Oya ma, aku gak suka cowok kaya dia". Ucap Via.
"Kenapa? Dia kan ganteng, baik, kaya. Kurang apa lagi coba?".
Tanya mama Gita merayu Via.
"Kurang Cinta". Jawab Via dingin dan melangkah ke kamar nya yang
berada dilantai dua.
"Kalo kamu mulai Cinta sama dia, kamu harus kenalin dia ke mama".
Teriak mama Gita.
"Iya ma iya". Jawab Via malas.
***
Di rumah Angga
"Tuan muda, ada pesan dari nyonya kalo nyonya malam ini pulang nya agak
telat. Tadi nyonya gak bisa hubungin tuan". Ucap asisten rumah tangga
Angga yang sudah tua.
"Iya bi, Angga gak peduli lagi dia mau pulang atau gak". Angga
langsung pergi kekamar nya.
"Tuan makan malam nya sudah siap". Ucap bi ijah.
"Iya bi, nanti angga kebawah". Teriak Angga dari atas.
Di kamar, Angga merebahkan badan nya ke kasur yang empuk dia berpikir
bagaimana bisa dia berbicara panjang lebar dengan orang lain sedangkan dengan
anggota keluarga nya sendiri pun dia bersifat dingin.
"Entahlah, apa yang gua pikirin sih. Kok gua jadi kepikiran tadi siang
sih". Gumam Angga sambil menutup wajah nya dengan tangan.
"Astaga dimana surat pink cewek itu ya". Angga tiba-tiba ingat
surat Via yang dia buang waktu itu.
Angga mencari dibagian meja belajar, kasur, lemari semua nya menjadi
acak-acakan tapi tidak menemukan nya.
"Kemana surat itu?". Tanya Angga bingung.
Angga melihat surat itu berada di tempat sampah yang berada di kamarnya. Dia
langsung mengambil surat itu dan ingat kalo dia melempar kertas itu ke meja
belajar.
"Kenapa ada di tempat sampah?". Tanya kembali Angga ke dirinya.
"Yasudahlah gua gak peduli hal yang gak penting ini". Angga
meletakkan surat nya di buku nya.
"Oya gua harus makan masakan bibi, kalo gak makan, kasihan bibi. Gua
mandi dulu aja". Gumam Angga pada diri nya sendiri.
***
"Emm... bi ayok makan bareng Angga, temenin Angga makan. Masa
Angga sendiri". Ajak Angga sambil mengunyah makanan.
"Gak tuan muda bibi udah kenyang". Jawab bi ijah membuat Angga
marah.
"Bibi!". Teriak Angga membuat bi ijah takut dan langsung menurut
dengan ucapan Angga.
"Maaf tuan muda". Jawab bi ijah sambil menunduk.
"Bi, bibi itu udah kaya orang tua Angga sendiri. Dari kecil Angga
dirawat sama bibi. Seharusnya bibi gak manggil Angga tuan muda tapi
dengan nama saja, Angga lebih senang dan lebih sopan sama orang
tua". Jelas Angga lembut kepada bi ijah.
"Tapi...". Bi ijah masih menunduk tak sanggup menatap mata tuan
muda nya.
"Bi, Angga mohon". Angga memohon dengan lembut.
"Baiklah tu.. maksud bibi nak Angga". Bi ijah mulai
melihat mata Angga tapi masih ragu.
"Terima kasih bi". Angga tersenyum dengan senang.
"Bi, bibi tau gak kemana papa pergi?". Tanya Angga disela-sela
makan.
"Bibi gak tau nak Angga". Sontak bi ijah kaget dengan pertanyaan
Angga.
"Oh gitu.. yaudah deh". Angga kembali mengunyah makanan nya.
"Kenapa nak Angga menanyakan itu?". Bi ijah mencoba bertanya
kepada Angga.
"Gak papa sih bi, bibi kan udah jadi asisten rumah tangga disini sejak
Angga sebelum lahir. Jadi mungkin bibi tau". Jawab Angga datar.
"Bibi gak tau nak". Bi ijah kembali menunduk.
Angga melanjutkan makan dengan bi ijah tanpa bersuara. Setelah selesai makan
malam. Angga ingat tentang surat itu.
"Oya bi, bibi tadi pagi bersihin kamar Angga kan?". Tanya Angga
mencairkan suasana yang sempat tegang.
"Tentu nak, bibi kan tiap hari bersihan kamar nak Angga". Jawab bi
ijah heran.
"Bibi buang surat warna pink itu ke tempat sampah di kamar Angga
gak?". Tanya Angga seperti mengintrogasi.
"Oh surat itu, bibi kira gak dipake lagi dan surat nya juga lecek jadi
bibi buang saja". Jelas bi ijah.
"Emang surat apa nak Angga? Sampe diambil lagi?". Tanya bi ijah
penasaran.
"Itu surat terima kasih seseorang sama Angga, baru kali ini Angga dapet
surat itu. Makanya Angga simpen".
"Dari cewek ya, pasti surat cinta". Bi ijah mulai menggoda Angga.
"Gak bi, emang iya sih itu surat cinta, tapi kalo surat pink itu bukan
surat cinta. Isinya nya kaya gitu kan, mana mungkin dia suka sama Angga, dan
Angga juga belum tentu suka sama dia". Sanggah Angga.
bi ijah menggoda Angga.
"Bibi udahlah. Lagi pula mana mungkin cewek sebaik dia nerima cowok yang
berandalan kaya Angga". Angga merendahkan diri.
"Nak Angga gak boleh gitu. Buktinya cewek itu bilang terima kasih kan
sama nak Angga". Bi ijah menyemangati Angga.
"Iya bi". Jawab Angga datar.
"Kalo emang beneran Cinta ungkapin aja jangan lama-lama nanti diambil
orang lagi. Abis itu kenalin sama nyonya dan bibi juga". Bi ijah kembali
menggoda Angga.
"Apaan sih bi, Angga ini belum pernah pacaran sama siapapun. Jangan kan
pacaran, teman aja Angga cuma sedikit itu pun laki semua. Masa iya harus
cepet-cepet. Semua itu butuh proses". Ucap Angga.
"Hehe.. makanya nak Angga harus biasain diri buat kenalan sama
orang lain". Ucap bi ijah sambil tertawa.
"Iya bi". Turut Angga.
"Yaudah udah malam sebaiknya kamu tidur besok sekolah nak Angga".
Seru bi ijah.
"Iya bi, terkadang Angga berpikir lebih baik jadi anak orang yang
sederhana dengan kasih sayang berlimpah daripada jadi anak orang yang kaya tapi
tidak pernah dapat kasih sayang". Ungkap Angga melihat bi ijah.
Bi ijah hanya tersenyum "Nak Angga gak boleh begitu, kita harus
bersyukur apapun nasib kita. Mungkin ini rintangan buat nak Angga agar nak
Angga ingat kalo kasih sayang itu penting". Jelas bi ijah.
"Iya bi, Angga tidur dulu. Terima kasih bi". Ucap Angga.
"Iya nak". Bi ijah hnya tersenyum memandang tuan muda nya itu.
***
06:45
"Apa yang lu lakuin?". Tanya Sinta.
"Ngelakuin tugas gua". Jawab Angga.
"Lu piket?". Tanya Sinta tak percaya.
"Iya". Jawab Angga datar.
"Ada apa gerangan lu dateng pagi terus piket? Lu Angga kan?".
Tanya Sinta heran.
"Kenapa? Gua Angga. Lu heran sama gua?". Ucap Angga dingin.
"Gak papa, tumbenan lu piket. Pasti ada yang ngomong sesuatu ke
lu?". Tanya Sinta mengintrogasi.
"Ada yang bilang kalo dikasih tugas itu harus bertanggung jawab".
Tegas Angga.
"Siapa yang bilang itu?". Tanya nya kembali.
"Tuh..". Angga menunjuk Via yang baru saja datang.
"Via?". Tanya Sinta tak percaya.
"Apa Sin?". Wajah Via datar.
"Gak papa". Jawab Sinta.
Via menaruh tas nya di meja dan duduk dengan wajah cemberut.
"Kenapa Vi?". Tanya Sinta menghampiri Via.
"Tadi malam kak Arga nelpon gua". Jawab Via datar.
"Ya seharusnya lu senang dong gak cemberut kaya gini. Emang kak Arga
ngomong apa?". Tanya Sinta bingung dengan tingkah Via.
"Iya gua seneng. Tapi kak Arga ngasih gua tugas untuk nyari sponsor
buat acara ultah sekolah". Jawab Via masih cemberut.
"Bagus lah lu ada tugas lagian kan acara nya tinggal 2 bulan
lagi".
"Itu masalah nya Sin, 2 bulan itu cepet banget belum lagi tugas
kelompok itu". Keluh Via.
"Iya sih. Lu yang sabar Vi, gua yakin pasti lu bisa". Sinta
menyemangati Via.
"Terus gua bagi waktu nya gimana?". Via masih mengeluh.
"Gimana ya??.." Sinta masih berpikir mencari solusi.
"Ohh gini aja Vi, lu kan nyari sponsor hari kumpulan OSIS, dan hari
minggu kan kosong tuh. Bisa lu pake buat ngerjain tugas kelompok sama Angga".
Saran Sinta.
"Iya juga ya.. ah.. tapi kan minggu ini mulai nyari sponsor nya. Jadi
gimana Sin? Bantuin gua". Via menaruh wajah ke meja nya merasa putus asa.
"Emang gak bisa izin untuk hari minggu?". Tanya Sinta mulai
menyerah.
"Mungkin kalo gua minta izin untuk minggu depan sama minggu depan nya
boleh kali ya.. kan izin cuma 2 hari doang". Gumam Via mulai semangat.
"Nah itu. Coba aja dulu". Sinta memberi kembali semangat.
***
Istirahat
"Kak Arga, saya boleh izin gak 2 hari untuk ngerjain tugas kelompok.
Izin nya minggu depan sama minggu depan nya lagi?". Tanya Via deg-degan.
"Hmm.. yaudah gak papa kok". Jawab Arga dengan senyum nya.
"Terima kasih kak". Via senang dan menampilkan deretan gigi
putihnya.
"Tapi minggu ini kamu harus ikut nyari sponsor sama saya". Ucap
Arga membuat Via kaget.
"Sama kakak?". Tanya Via kembali.
"Iya.. kamu gak mau?". Tanya kak Arga.
"Mau kak, berarti saya nunggu kak Arga jam berapa di sekolah?".
Tanya Via semangat.
Via gak mau kehilangan kesempatan berharga ini. Via senang kalo bisa deket
sama kak Arga.
"Kamu gak usah nunggu, saya yang akan jemput kamu dirumah". Ucap
Arga membuat Via bengong.
"Mana alamat kamu?". Tanya Arga membuyarkan lamunan Via.
"Ini kak". Via memberikan tulisan yang baru saja dia tulis
alamatnya.
"Oke tunggu saya ya". Jawab Arga dengan senyuman manis nya.
"Iya kak". Jawab Via masih senyum-senyum.
"Ehm.. temannya dikacangin". Ucap Sinta dan Ayu serempak
membuat Via tersadar.
"Eh gak kok, ayok ke kantin". Ajak Via mengalihkan teman-teman nya
yang ingin terus menggoda.
"Oke".