Thank's My First Love

Thank's My First Love
BAB 20



19:00


"Udah malam aja. Malam minggu lagi". Ucap Ayu.


"Eh mana Sinta?". Tanya Via.


"Tadi abis sholat maghrib dia diajak Rian". Jawab Ayu.


"Ngapain ya?". Via penasaran.


"Ya gak tau lah Vi. Nama nya juga orang pacaran. Gua geh kalo punya


pacar kaya gitu apalagi ini malam minggu". Jawab Ayu sambil menatap


bintang-bintang di langit.


"Apasih enak nya pacaran?". Tanya Via.


"Enaklah lu ada yang merhatiin, ada yang sayang, ada yang di


pel...". Ucapan Ayu dipotong Via.


"Stop... gua geli ngedenger ucapan lu". Ledek Via.


"Haii...". Sapa Sinta sambil membawa mukena nya.


"Darimana aja lu?". Tanya Ayu.


"Gak kemana-mana cuma nemenin Rian jalan terus bahas pertujukan nanti


malam. Abis Isya kan?". Ucap Sinta.


"Iya".


22:00


"Penampilan nya biasa aja. Bagusan penampilan kita". Ucap Ayu


memulai obrolan.


"Vi, lu tau gak nanti malam kan ada jurit malam. Lu ikut gak? Gua takut


tau". Ucap Sinta yang hanya direspon dengan tatapan dingin Via.


"Ikutlah. Gak usah takut kan kita bersama". Jawab Via.


"Huaaaa.. sumpah gua ngantuk banget ke tenda yuk".


"Iya gua juga Yu". Jawab Sinta.


"Kalian ini bentar lagi kan api unggun abis itu baru boleh ke


tenda". Jelas Via yang direspon dengan anggukan pasrah mereka.


23:33


"Api kita sudah menyala.."


"Api-api.. api kita menyala.."


"Via setengah jam lagi lu ulang tahun kan?". Tanya Sinta semangat.


"Ehmm... iya". Jawab Via malu.


"Yang keberapa?".


"Yang ke 15 tahun".


"Masih muda ya. Gua aja bentar lagi 16 tahun". Jawab Sinta.


"Oiya katanya ada satu pertujukan lagi yang ditampilkan kak Arga. Apa


ya?". Ucap Ayu.


"Iyatah?".


"Iy.."


"Cek sound.. 1.. 2.. 3..". Suara Arga mulai terdengar oleh


seluruh siswa.


"Saya akan mempertunjukkan sebuah lagu. Bisa tolong dengarkan dan


kumpul disini?". Ucap Arga dengan nada wibawa nya.


"Terima kasih saya akan menyanyikan satu buah lagu".


Prok... prok...prok..


"Wow keren...".


"Lagu ini saya persembahkan untuk Vian Anggraini Setyonegoro".


"Huuuhh..."


"Maju... maju..".


Via benar-benar terkejut mendengar suara nya disebut di microfon. Mau tak


mau Via maju kedepan.


Arga membawa bucket bunga yang berwarna merah dan memberikannya ke Via.


"Vi, 5 menit lagi umur kamu 15 tahun kan.. di ulang tahun kamu kali


ini.. saya mau kamu jadi pacar saya.. apakah kamu mau?". Ucap Arga membuat


semua orang terkejut.


"Terima... terima...terima". Semua kata itu terlintas di


telinga Via.


"Emm... saya..." pandangan Via teralihkan ke sosok pria


dibelakang Arga yang tidak lain adalah Angga.


Via masih menatap wajah Angga dengan penuh harapan dan Angga hanya menjawab


dengan senyuman dan anggukan kepala nya.


"Gimana vi?". Tanya Arga membuat Via membuyarkan tatapan Via.


"Hmm.. saya.. mau". Via mengambil bucket bunga tersebut.


Seketika Arga memeluk Via dengan erat namun Via masih menatap Angga dengan


tatapan kosong dan menangis. Angga hanya membalas untuk berhenti menangis


dengan menghapus air mata nya dan mengacungkan jempol nya pertanda hebat. Via


hanya merasa tak percaya dengan keadaan ini.


"Sudah-sudah bubar kalian masuk ke tenda nanti jam 2 kami bangunkan


untuk jurit malam". Ucap Aldin.


***


01:50


"Bangun semua nya bangun". Teriak semua senior dari luar.


"Cepet berbaris!!". Perintah seorang senior.


"Kalian akan menyusuri hutan itu sendiri-sendiri tanpa bantuan siapapun


hanya dengan pegangan tali saja. Dan jangan lepas dari pegangan tali jika


kalian tidak memegang tali atau tidak menemukan tali kalian bisa hidupkan


senter kalian. Mengerti?!". Ucap senior.


"Siap mengerti".


"Vi kamu sama saya aja. Sudah tenang saja". Ucap Arga.


"Tapi kak".


"Gapapa".


Via menyusuri hutan dengan pegangan tali di malam hari dan didampingi oleh


Arga yang seharusnya tidak boleh. Ditengah-tengah perjalanan tiba-tiba langkah


mereka terhenti.


"Arga seharusnya lu gak ngebantu junior walaupun dia pacar lu".


Ucap senior lain.


"Tapi kak..".


"Gak ada tapi-tapian sekarang lu ikut gua aja". Sanggah senior


itu.


"Vi saya tinggal ya tetap pegangan tali jangan lepas kalo ada apa-apa


panggil atau pake senter aja". Pesan Arga ke Via.


"Baik kak". Jawab Via.


Via terus berjalan memegang tali di sepanjang jalan hutan yang gelap.


Tiba-tiba tali yang Via pegang putus dan tidak ada lanjutan nya lagi. Via mulai


kebingungan, namun dia tetap berjalan lurus tanpa ia sadari didepan nya adalah


jurang, sontak Via kaget dan berteriak minta tolong tapi apa boleh buat tidak


ada yang mendengar nya. Via hanya duduk pasrah dengan menutupi wajah nya.


Di perkemahan


03:20


"Tunggu Via kemana? Kenapa dia belum keluar dari hutan?. Tanya Arga


heran.


"Mungkin dia ditenda Ga". Jawab temannya.


"Dia gak ada ditenda". Arga mulai panik ketika Via belum keluar


dari hutan.


"Perhatian semua nya! Untuk saat ini kalian tetap disini jangan


kemana-mana. Dan senior bantu saya mencari Via yang belum datang".


Perintah Arga.


***


Sreekkk... srekkk...


"Siapa itu?". Tanya Via.


Sosok pria berjalan ke arahnya sambil mengulurkan tangan nya.


"Kak Arga?". Tanya Via.


merasakan ada hal aneh ketika memeluk nya seketika Via langsung melepas pelukan


nya


"Maaf tadi saya gak menyalakan senter, saya panik kak". Ucap Via.


Pemuda itu hanya diam dan menggenggam tangan Via dengan erat.


"Kak, tangan kakak terluka nih saya bisa ngobatin kok". Seketika


pemuda itu langsung melepas genggaman nya dan menunjuk ke arah tenda-tenda


kemah.


Via berlari menuju perkemahan nya dan disambut oleh teman-teman nya.


"Via lu kemana aja sih". Tanya Sinta.


"Lu ngikutin tali itu apa gak?". Lanjut Ayu.


"Gua tadi itu hampir jatuh terus ditolongin sama...".


"Via, kamu darimana? Kakak nyariin kamu. Kamu gak papa kan, ada yang


luka gak?". Tanya Arga berturut-turut.


"Bukannya kakak yang tadi nolongin saya ya?". Tanya Via bingung.


"Saya baru aja mau nyari kamu. Emang siapa yang nolongin kamu?".


Ucap Arga.


"Saat saya tanya kalo dia kak Arga, orang itu hanya mengangguk".


Jawab Via heran.


"Yaudah kamu istirahat saja. Besok kita mau pulang". Ucap Arga.


"Sin, jadi yang nolong gua siapa?". Tanya Via.


"Udah jangan dipikirin". Ucap Sinta.


06:00


"Semua kumpul".


"Hari ini kita akan mengelilingi desa ini, jangan ada yang keluar dari


barisan mengerti!?". Ucap Arga.


"Siap mengerti"


Via masih memikirkan tentang kejadian semalam.


"Vi..."


"Vi..."


"Vian Anggraini Setyonegoro".


"Hah.. iya kenapa?". Sontak Via kaget dari lamunan nya.


"Lu ini kenapa sih bengong aja dari tadi awas kesambet". Ucap


Angga.


"Angga... gakpapa kok.. gua masih kepikiran sama yang nolong gua aja


tadi malam. Itu siapa ya?". Ucap Via.


"Itu malaikat baik". Jawab Angga.


"Iya dia baik banget". Ucap Via.


"Yaudah nanti disekolah ajak gua makan-makan ya. Kan baru jadian sama


ulang tahun nihh". Seketika Via menghentikan langkah nya.


"Kenapa?". Tanya Angga.


"Lu bahagia kalo gua jadian?". Tanya balik Via.


"Gua bahagia kok sahabat gua ini udah punya pacar. Biar dia gak jomblo


lagi". Jawab Angga.


"Jadi...".


"Iya, gua bahagia kalo lu juga bahagia". Ucap Angga sambil


tersenyum.


"Ohh.. oke". Via menahan air mata nya.


"Mau air minum gak?". Tanya Angga sambil memberikan botol minuman.


"Enggak usah, gua juga bawa kok. Tunggu, tangan lu kenapa pake


handsaplas?". Tanya Via saat melihat tangan kanan nya Angga.


"Emm.. gakpapa kok". Jawab Angga ragu-ragu.


"Jawab! Kalo ada apa-apa itu bilang sama gua katanya sahabat".


Ucap Via.


"Emm... cuma kena ranting doang kok tadi malem". Jawab Angga.


"Kenapa luka nya sama kaya...".


"Via..".


"Tuh Sinta manggil". Ucap Angga agar Via tidak melanjutkan kalimat


nya.


"Ada apa Sin?". Tanya Via.


"Tungguin gua.. cepet banget sih jalan nya". Ungkap Sinta.


"Yaudah lu nya jangan lambat". Jawab Via.


"Gua duluan ya". Angga berlari menjauhi Via.


"Iya".


"Tadi lu ngobrol apa sama Angga?". Tanya Ayu.


"Gak penting-penting banget sih". Jawab Via.


"Huu bohong".


"Angga patah hati enggak lu jadian sama kak Arga?". Tanya Sinta.


"Enggak.. justru dia bahagia". Jawab Via.


"Kalo orang yang baru patah hati itu kaya gitu.. didepan dia bahagia


belum tentu dengan hati nya". Ucap Sinta.


"Yaudah ayokk lanjut jalan nya". Ucap Via mengalihkan pembicaraan.


***


Angga's POV


"Bentar lagi Via ulang tahun, gua harus ngasih bunga ini. Lama amat sih


acara api unggun nya". Gumam Angga.


"Kenapa lu seneng bener?". Tanya Rian.


"Kepo amat". Jawab Angga.


"Akhirnya selesai juga acara nya". Ucap Angga.


"Cek sound.. 1.. 2.. 3.."


"Suara apalagi sih itu". Angga mengeluh.


"Itu kak Arga mau nyanyi Ngga. Lu gak mau denger?". Tanya teman


satu tenda nya.


"Enggaklah nanti aja. Males gua denger nya. Gua masuk duluan ya".


Angga masuk ke tenda.


Gua berharap lu mau nerima bunga maupun cinta gua Vi. Entah sejak kapan


gua jatuh cinta sama seorang cewek kaya lu.


Angga memegang bunga yang dikeluarkan dari tas nya.


"Lagu ini saya persembahkan untuk Vian Anggraini Setyonegoro".


Bukan nya itu nama Via ya


Angga langsung berlari ke depan dan memasukkan kembali bunga nya.


Angga menatap mata Via dalam-dalam dan melihat Via meneteskan air mata nya.


Seketika Angga langsung menunjukan bahwa Via tidak boleh nangis dan terima


Cinta nya Arga.


Vi, untuk pertama kali nya gua ngerasain rasa nya jatuh cinta dan patah


hati secara bersamaan. Gua berharap lu nolak cinta Arga tapi bagaimana pun kebahagian


lu adalah kebahagian gua.


Angga membuang bunga nya jauh-jauh dan dia meneteskan air mata nya.


***


Kaya suara Via. Via dimana? Perasaan Angga tidak tenang.


"Kak Arga".


Vi, ini gua Angga bukan Arga.


Pelukan ini mengingatkan gua pada perjanjian yang kita buat. Dan gua ngerasa


nyaman.


***


"Lu bahagia gua jadian?". Tanya Via.


Sebenernya gua sakit Vi, tapi gimana lu udah milih Arga.


"Kenapa luka nya sama kaya...".


Iya Vi, ini luka kena ranting saat nolong lu tadi malem. Dan orang yang


nolong lu tuh bukan Arga tapi gua Vi, Angga.


*****