
Hari berganti begitu cepat. Via merasa nyaman dengan Angga begitu pun
sebalik nya. Dan sebentar lagi adalah pernaikan kelas. Ya, SMA GARUDA selalu
mengadakan Perkemahan Sabtu Minggu atau PerSaMi sebelum pernaikan kelas.
"Vi, lu ikut kan?". Teriak Sinta dari jauh.
"Gua gak tau Sin, soalnya itu hari dimana gua harus check-up
Mama". Ucap Via.
"Ikut dong. Mama lu biar Papa lu aja yang anterin. Please". Sinta
memohon terhadap Via.
"Gua harus bilang dulu sama Mama". Jawab Via.
"Kalo gitu biar gua aja yang bilang biar lu dibolehin. Gimana?".
Ajak Sinta.
"Emmm... gak us...". Ucapan Via terhenti.
"Udah gakpapa nanti pulang sekolah gua kerumah lu". Ucap Sinta.
"Ya baiklah". Akhirnya Via pasrah dengan sahabat nya ini.
***
"Assalamualaikum". Ucap Via dan Sinta.
"Walaikumsalam". Jawab Mama Gita.
"Eh ada nak Sinta. Ada apa nak?". Tanya Mama Gita.
"Mau maen aja Te". Ucap Sinta.
"Ohh gitu.. yaudah masuk-masuk". Ajak Mama Gita.
"Ma, Sinta mau ngomong katanya". Ucap Via.
"Ngomong apa?". Mama Gita menatap mata Sinta.
"Emm.. gini tante kan bentar lagi pernaikan kelas..". Ucap Sinta
pelan-pelan.
"Iya".
"Emm.. dan dua minggu lagi itu..". Sinta gugup mengungkapkan nya.
"Ada Persami. Dan Via disuruh ikut sama Sinta". Ucap Via kesal
dengan Sinta yang terlalu lama.
"Oh gitu. Tante sih setuju aja kalo Via nya setuju. Yang penting jaga
kesehatan aja". Jawab Mama Gita.
"Oke tante". Ucap Sinta senang.
"Ma, gimana check-up?". Bisik Via.
"Sebelum kamu Persami, kita check-up ya". Jawab Mama Gita
menenangkan Via.
"Baiklah". Via mencium pipi mama nya.
"Sin, ayok ke kamar aja". Ajak Via.
"Iya Vi".
***
"Vi jadi gimana?". Sinta menatap Via.
"Apanya yang gimana?". Via bingung.
"Lu suka sama siapa?". Sinta langsung to the point.
"Hah?". Via masih terdiam.
"Iya. Lu milih kak Arga apa Angga?". Tanya Sinta greget.
"Gua nyaman sama Angga Sin, tap..". Ucapan Via terhenti.
"Nah yaudah itu mah tinggal pancing dikit dapet". Sinta begitu
bergebu.
"Tapi..".
"Gak usah tapi-tapi nanti lu nyesel lagi". Ucap Sinta memotong
semua ucapan Via.
"Tapi Sin.. gua sama Angga itu terikat perjanjian". Teriak Via
kesal.
Sinta langsung diam dan menatap mata Via dalam-dalam.
"Maksudnya?". Tanya Sinta.
"Gua buat perjanjian kalo gua sama dia cuma sahabat selama nya dan gak
akan pernah pacaran". Jelas Via.
"Viaa....". Teriak Sinta.
"Kenapa?". Tanya Via polos.
"Vi, kenapa lu buat perjanjian kaya gitu sih?" . Ucap Sinta kesal.
"Ya gua gak tau kalo bakal kaya gini". Ungkap Via.
"Denger Vi, jangan pernah buat Janji kalo lu bakal ngingkari nya".
Ucap Sinta.
"Karena Janji itu hal yang paling berat di dunia". Lanjut Sinta.
"Iya Sin gua tau. Jadi gua harus apa?". Tanya Via.
"Lu harus apa?". Tanya Sinta balik.
"Iya".
"Lu makan tuh janji lu sendiri". Ucap Sinta kesal.
"Ayok lah Sin, gua serius". Ucap Via memohon.
"Lu harus batalin perjanjian itu dan ngomong langsung ke Angga
nya". Jawab Sinta.
"...."
"Kenapa diem? Lu gak berani?". Ejek Sinta.
"Gua bakal ngomong langsung tapi gak sekarang". Ucap Via.
"Terus kapan?". Tanya Sinta.
"Gimana kalo kelas 11 nanti. Gua butuh waktu untuk beraniin diri".
Jawab Via.
"Yaudahlah basing lu aja. Entah nanti Angga gak suka sama lu lagi
kan". Gumam Sinta.
"Apa Sin?". Tanya Via mendengar gumaman Sinta yang gak jelas.
"Hah? Gak kok gak papa". Jawab Sinta.
Sinta mendengarkan musik di kasur Via yang empuk sedangkan Via membaca
sebuah surat
"Vi lu ngapain sih?". Tanya Sinta bingung.
"Ah gakpapa kok. Gua bingung aja siapa yang ngirim ini dan buat siapa
surat ini". Ungkap Via.
"Mana coba gua liat". Sinta merampas kertas dari Via.
"Ahh gua tau ini mungkin dari kak Arga buat lu". Ucap Sinta.
"Tapi kan itu surat cuma siswa MOS doang". Jawab Via.
"Kalo gitu berarti Angga". Tebak Sinta.
"Kalo Angga gua belum yakin soalnya isi nya permintaan maaf. Dia kan
jarang banget minta maaf". Jawab Via kembali.
"Iya juga. Terus siapa?". Tanya Sinta bingung.
"Entahlah.. tapi gua ngerasa surat ini berarti buat gua walaupun gua
gak tau siapa pengirim dan penerima nya. Gua aja nemu surat ini di ruang
OSIS". Jelas Via.
"Berarti itu surat ada ikatan batin sama lu". Ungkap Sinta.
"Hahaha bisa aja".
***
Di rumah Angga
"Gua ini kenapa sih?". Angga memegang fotonya bersama Via saat di Situ
Patenggang.
"Kenapa setiap ketemu Via, jantung gua berdegup cepat. Kalo penyakit
jantung gua kambuh rasanya gak kaya gini amat". Gumam Angga.
Tiba-tiba hp Angga berbunyi menampilkan sebuah pesan masuk
From : Rian
Angga lu ikut persami kagak? Mau gua data. Bsok terakhir daftar
Seketika Angga langsung membalas pesan nya.
Gua gak mau ikut.
Sent
"Apaan sih persami. Lebih baik gua tidur di rumah". Gumam Angga.
***
Keesokan hari
"Ada yang mau ikut lagi gak?". Tanya Rian ke teman kelas nya.
"Vi, nanti lu bawa baju apa aja?". Tanya Sinta.
nya kebelakang.
"Lu ikut?". Tanya Angga menatap Via.
"Iya".
"Apa alasan lu mau ikut?". Tanya Angga.
"Gua mau ikut aja. Ini kan kegiatan sekolah kita setiap tahun dan kapan
lagi kan kita bakal persami kaya gini. Dan kata nya kita persami deket dengan
kebun teh. Pasti seru". Jelas Via semangat.
"Oh gitu". Jawab nya singkat.
"Iya. Lu gak ikut?". Tanya Via balik.
"Hah.. ngapain gua ikut malesin buang-buang waktu aja. Lebih baik gua
tidur di rumah". Jawab Angga dingin.
"Oyaudah".
"Katanya di persami pemandangan nya bagus loh". Ucap
seseorang yang sedang bergosip.
"Iya cocok buat ngungkapin cinta ke seseorang".
"Emang ada yang mau nembak lu yeeehh". Ucap teman satu nya.
Angga mendengar perbincangan mereka dan berfikir gimana kalo dia nyatain
cinta ke Via di situ aja. Via kan suka pemandangan. Lagian moment nya juga
bagus.
"Ah iya iya". Semangat Angga.
"Daftar mau ikut persami dimana woyy". Teriak Angga di kelas
membuat isi ruangan diam.
"Di Rian tapi kaya nya data nya udah dikumpul deh". Ucap
seseorang.
"Sekarang Rian dimana?". Tanya Angga.
"Di ruang OSIS mungkin".
Angga berlari keluar kelas dan menuju ke ruang OSIS untuk mencari Rian.
"Mana anak itu". Ucap Angga.
"Nah Rian lu gua cari-cari gak ketemu". Ucap Angga setelah bertemu
Rian.
"Apaan?". Jawab Rian bingung.
"Gua mau ikut persami". Ucap Angga.
"Tapi data nya udah gua setor ke kak Arga". Jawab nya.
"Apa?!". Teriak Angga.
"Iya.. lu temuin aja kak Arga sapa tau masih bisa". Jawab Rian.
"Oke-oke".
Tok tok tok
"Iya masuk".
"Angga". Teriak senior cewek yang ada di ruang OSIS.
"Ada apa?". Tanya Arga.
"Gua mau ikut persami". Jawab Angga dingin.
"Udah ditutup". Tegas Arga.
"Kata siapa?". Tanya balik Angga.
"Kata gua barusan". Jawab Arga.
"Lu siapa berani-berani nya mutusin itu?". Angga mulai emosi.
"Gua mantan ketua OSIS SMA GARUDA". Jelas Arga.
Angga mengambil kertas pengumaman persetujuan orang tua dalam mengikuti
persami.
"Apa lu buta? Hah? Lu gak baca? Ketua apaan lu?". Ucap Angga
sambil menunjuk kertas dan membuat ruangan itu sunyi.
"Disini tulisan nya hari ini terakhir. Dan sekarang masih bisa daftar.
Gua ngajuin nya sekarang ya njir!". Teriak Angga sambil memegang kerah
baju Arga.
"Sudah-sudah".
"Apa-apaan sih ini".
Semua orang berusaha melerai Angga yang akan menonjok Arga.
"Angga sudah". Teriak Rian yang baru datang.
"Lu bakal ikut tapi itu kan harus persetujuan orang tua dan orang tua
lu belum menandatangani kertas ini kalo misalkan lu bawa pulang dan kumpul
kertas nya besok tetep aja lu gak bisa ikut Ngga. Itu maksud kak Arga
tadi". Jelas Rian.
Angga melepaskan kerah baju nya Arga dan pergi membawa kertas itu.
"Dasar gak tau sopan santun". Ucap Arga.
Setelah beberapa saat Angga kembali ke ruang OSIS
"Nih". Angga melempar kertas persetujuan orang tua yang telah
ditanda tangani ke wajah Arga.
"Cepet juga lu ya". Ledek Arga.
"Tunggu ini tanda tangan..". Arga masih melihat tanda tangan
dikertas.
"Pak Roy". Jawab Angga sebelum Arga menjawab nya.
"Ini bukan orang tua lu". Ucap Arga.
"Emang bukan. Tapi dia wali gua. Kalo lu gak percaya, lu datengin aja
pak Roy". Ucap Angga.
"Nih bayar nya". Angga memberi uang untuk pembayaran persami.
"Baru mantan ketos udah belaga". Ucap Angga saat meninggalkan
ruangan.
Arga sangat marah dengan sikap Angga itu.
Angga's POV
"Gimana gua dapetin tanda tangan Mama. Dia aja lagi ke bangkok".
Gumam nya.
"Ah sial banget sih". Angga hanya mundar-mandir dan sesekali duduk
di kursi dekat ruang BK.
"Tunggu-tunggu gua bisa ikut". Angga membaca kertas itu dan
melihat tulisan orang tua/wali murid.
"Tapi siapa yang mau jadi wali gua". Angga kembali menundukan kepala
nya.
"Angga. Sedang apa kamu disini". Ucap Pak Roy tiba-tiba
menghampiri nya.
Sebuah mukjizat akhirnya dateng juga. Terima kasih ya Allah engkau telah
mengabulkan do'a ku.
"Pak Roy saya sedang bingung mau cerita sama siapa". Ungkap Angga.
"Cerita sama bapak aja. Anggep aja pak Roy ini bapak kamu". Ucap
pak Roy lalu duduk disamping nya.
"Emang bapak mau jadi wali saya?". Tanya Angga dengan wajah melas
nya.
"Tentu saja nak. Sekolah itu rumah kedua kamu. Dan guru-guru disini
udah kaya orang tua kamu". Jelas pak Roy.
"Kalo gitu bapak tanda tanganin surat ini ya". Ucap Angga dengan
wajah kembali memohon.
"Surat apa ini?". Tanya pak Roy.
"Surat persetujuan orang tua". Jawab nya santai.
"Kamu ini apa-apaan ini kan harus tanda tangan or...". Seketika
Angga menyanggah kalimat pak Roy.
"Bapak kan udah mau jadi wali saya tadi". Sanggah Angga.
"Tapi..".
"Pak saya mohon. Mama saya di bangkok gimana saya mau dapet tanda
tangan nya". Angga memohon.
"Ahhh... baiklah". Akhirnya pak Roy menandatangani surat itu.
"Terima kasih pak, muach.. muachh". Angga mencium pipi nya pak Roy
berkali-kali.
"Aku sudah salah ngomong". Ucap pak Roy sambil menepuk dahi nya.