
Liburan musim panas selama tujuh hari telah berakhir. Rasanya, Holland merasa bahwa liburan ini terlalu singkat, hingga membagi momen yang nyata dengan sang kekasih pun begitu terbatas.
Holland dan Esther akan berpisah ketika menaiki kereta kuda dengan lambang keluarga masing-masing, serta telah saling menaruh janji untuk memberi kabar untuk satu sama lain. Bagaimanapun, keduanya adalah sepasang kekasih. Meski tak bisa sering bicara empat mata, setidaknya bahasa di atas kertas dapat mengambil alih situasi.
Kecupan singkat tak lupa Holland layangkan pada bibir semerah ceri milik Esther, membuat kedua pipi wanita itu hampir menyaingi warna rambutnya.
"Holland!" pekik Esther sambil gelagapan. Wanita itu merasa malu setengah mati. Saling bermesraan di hadapan orang lain, meski orang lain di sekeliling mereka memiliki pangkat yang lebih rendah, bukan berarti keduanya bisa bermesraan tanpa memandang tempat.
Holland hanya terkekeh kecil. Mengulurkan tangan untuk meraih jemari Esther. Dikecupnya punggung tangan Esther lama.
"Aku berjanji akan melindungimu, Esther. Maka, bertahanlah sebentar. Aku akan membawamu menjadi pendampingku secara resmi di waktu yang tepat."
Esther mengembuskan napas dengan getar pelan, lalu menggigit bibir. Kedua manik emasnya menyipit karena perasaan aneh di dadanya yang membara.
Esther merasa hal ini terasa begitu aneh. Mengapa Esther terus menginginkan tindakan nyata dari pria itu? Bahkan dari sekadar ciuman barusan, Esther ingin memperdalamnya, dan mengikis jarak di antara keduanya. Semakin dipikirkan, semakin Esther merasa bahwa pikirannya berkabut. Apalagi dadanya mulai terasa sesak akan perasaan asing yang menelusupinya.
Meski begitu, Esther menahan segalanya. Perasaan di rongga dadanya terlalu berbahaya untuk disampaikan, sehingga Esther berusaha untuk menekan perasaan tersebut.
"Ya, Holland," kata Esther, "Akan kutunggu kamu sampai kapan pun."
Holland menegakkan tubuhnya, mengelus pipi Esther secara perlahan, lalu tersenyum lembut.
"Kalau begitu, sampai jumpa lagi, Esther."
"Ya, sampai jumpa lagi, Holland."
Holland akhirnya kembali ke kediaman Floral dan Esther ke kediaman Descartez. Perpisahan keduanya seharusnya tak berlangsung lama karena Holland sudah merencanakan banyak hal agar jarak di antara keduanya bisa dikikis, tetapi tak ayal perasaan rindu langsung menetap kala kereta kuda mulai berjalan. Mengambil arah yang berlawanan sehingga semakin memperlebar jarak di antara keduanya.
Holland mengembuskan napasnya, menyandarkan punggungnya di sandaran beludru. Perasaan rindu di dadanya tak tahu mesti di ke manakan. Itu terlalu berat hingga Holland ingin melupakan segalanya dan menjadi pribadi yang egois. Sehingga untuk merengkuh Esther ke dalam pelukannya, tak akan dianggap sebagai sebuah dosa.
...***...
Holland telah mengirimkan sekotak permata pada Marchioness Sephien seperti janjinya beberapa hari yang lalu, sebagai rasa terima kasih karena telah mengenalkan pada Holland sebuah kebahagiaan. Marchioness Sephien langsung menggoda Holland di dalam suratnya, membuat Holland tak ragu untuk melebarkan senyumannya tiap kali benaknya memutar reka peristiwa tersebut.
Hanya saja, situasi menegangkan di meja makan cukup membeku hingga Holland tak dapat menarik senyumnya. Holland juga tidak tahu mengapa Ivor Delano Floral, Duke Floral, menguarkan situasi yang membeku, seolah-olah tengah menyaingi rasa dinginnya salju di perbatasan antartika.
Meski di meja makan hanya ada Ivor dan Holland, dua sosok yang telah kehilangan sosok istri dan seorang ibu itu kini memiliki hubungan pelik antara ayah dan anak.
Holland tak dapat mengerti apa yang Ivor pikirkan, begitu pula dengan perilakunya yang tak pernah dapat ditebak.
"Waktu berjalan dengan cepat, ya," kata Ivor, membuat Holland mendongakkan kepala dan menaruh peralatan makan.
"Ya, Ayah benar sekali."
Ivor menghela napasnya. "Usiaku bahkan tidak akan bisa bertahan di musim dingin tahun ini, Holland. Itulah sebabnya, penobatanmu sebagai Duke harus cepat-cepat dilakukan."
Holland menggigit bibir, bahkan Ivor membicarakan kematiannya dengan ringan, lagi-lagi gagal memahami apa yang ada di dalam benak Ivor.
"Bukankah bulan depan itu terlalu cepat bagiku? Usiaku bahkan baru 21 tahun." Holland tersenyum nanar. Pria itu memang telah diberikan pendidikan menjadi Duke masa depan ketika usianya lima tahun, tetapi untuk menjadi Duke pada usia 21 tahun, merupakan usia yang terlalu muda. Bahkan hampir seluruh penguasa wilayah di Teratia dalam catatan sejarah memulai kuasanya ketika minimal usia telah mencapai 25 tahun.
"Ya." Holland menelan kepahitan di ujung lidahnya, tak dapat menyanggah lagi.
"Kemudian, setelah penobatanmu, akan diadakan sebuah pesta untuk merayakan naiknya status sosialmu. Namun, bukan hanya itu saja, pesta ini diadakan agar bisa mengenalkanmu pada para bangsawan bahwa kamu adalah penguasa wilayah Floral."
Holland menatap makanan di atas piringnya yang tersisa sedikit.
Pesta, merupakan suatu kondisi di mana seluruh bangsawan yang diundang akan melakukan interaksi. Tidak seperti namanya yang penuh akan sarat kebahagiaan, kenyataannya tidaklah demikian. Pesta merupakan alat bagi para bangsawan dalam meninggikan ego dan melangkah selebar mungkin demi tujuan mereka, bahkan apabila mereka harus menginjak telapak tangan orang lain untuk tetap maju. Bagi Holland, pesta merupakan kumpulan politik yang memusingkan. Interaksi dengan para wanita pun, merupakan sebuah politik keuntungan bagi rumah tangga satu sama lain. Setiap perilaku kecil akan diukur dan dipandang sebelah mata.
Di sana merupakan medan perang, tetapi Holland tak perlu menggunakan pedangnya untuk berperang.
"Ya, Ayah," balas Holland secara singkat.
"Setelah itu, aku akan mengumumkan pertunanganmu dengan putri dari Duke Riquetti."
Kalimat Ivor membuat Holland membelalak. "Apa maksud Ayah?"
Ivor menaikkan sebelah alis. "Bukankah Ayah sudah pernah mengatakan bahwa Ayah akan menjodohkanmu dengan Olivia Riquetti?"
Holland tercekat. "Aku ingat, tetapi itu adalah kasus enam tahun yang lalu!"
Ivor menggerutkan dahinya atas nada tinggi yang Holland lemparkan padanya. "Holland, Riquetti memiliki kekuatan yang besar, sehingga kamu yang diangkat menjadi Duke pada usia 21 tahun, yang akan diremehkan oleh bangsawan lain, bisa mendapatkan kekuatan di punggungmu itu."
"Namun, Ayah tidak menanyakan pendapatku. Aku sudah memiliki orang yang aku cintai!"
Ivor menggebrak meja. Pria yang kini telah memiliki garis kerutan tanda tua di wajahnya menatap Holland dengan mata beringas, tajam, seolah berniat untuk mencincang tubuh putranya.
"Orang yang kamu cintai? Omong kosong apa ini, Holland?!"
Holland ikut bangkit dari kursinya. "Ayah tidak salah dengar. Aku telah mencintai wanita lain, jadi Ayah tidak bisa memaksakan kehendak atas masa depanku!"
"Apa yang seorang Duke berusia 21 tahun miliki?! Jika kamu tidak memiliki hubungan dengan Riquetti, maka tamat sudah segalanya setelah kamu dinobatkan menjadi Duke!" Ivor melangkah maju, mendekati Holland, lalu mencengkeram kedua bahu putranya. "Bagi bangsawan, pernikahan yang dilakukan hanyalah pernikahan politik. Tidak peduli kamu mencintai wanita itu atau wanita lain, kamu harus menikah dengan Olivia. Hanya itu satu-satunya cara agar kamu bisa bertahan menjadi Duke Floral. Tugas seorang penguasa wilayah yang masih belia dan tidak memiliki pengalaman akan terlalu berat untuk dihadapi. Akan ada banyak bangsawan yang kontra atas naiknya jabatanmu. Tidak ada yang mendukungmu kecuali Riquetti ada di punggungmu."
Manik Holland bergetar samar, digigitnya bibir dengan keras. "Lalu, bagaimana dengan perasaanku, Ayah?"
"Holland." Ivor menatap Holland dengan pandangan tajam. "Sayangnya, perasaanmu tidak akan memajukan duchy ini. Putuskan hubunganmu dengan wanita itu dan datang ke pesta dengan Olivia."
Ivor memperlebar jarak dari putranya, lalu bergegas untuk meninggalkan ruang makan.
"Ayah! Bagaimana jika aku tidak menginginkan ini?! Aku tidak menginginkan wanita mana pun selain Esther!"
Meskipun Holland berusaha untuk mengungkapkan argumennya, Ivor tidak berbalik untuk membalas, seakan kalimatnya sebelum itu adalah mutlak hingga tak dapat diganggu gugat. Mengabaikan betapa peliknya perasaan serta kecamuknya pikiran Holland.
...***...
wah, apa nih? konflik? konflik dong! tapi bukan berarti kemanisan protagonis berakhir di sini, ya. selain Noveltoon dan aplikasi oren, lapak free lainnya buat nulis di mana ya? aku pengen meraih banyak pembaca lagi! a greedy writer, indeed.
2 Juli 2023