Summer Is For Falling In Love

Summer Is For Falling In Love
15. Selama Esther di Sisinya



"Esther, tolong buka pintunya," seru Holland dari balik pintu yang terkunci. Kedua tangannya menyentuh permukaan pintu, sesekali mengetuknya.


"Pergilah!" teriak Esther. Meski di dalam pintu yang terkunci, suara Esther masih bisa didengar dengan jelas, seolah wanita itu tengah berada di balik pintu itu sendiri.


Mendengarkan nada penuh sedih dalam satu frasa dari wanita itu membuat dada Holland berdenyut nyeri. Lagi, pikirnya, dia menyakiti Esther lagi. Holland meragukan kualitas hidupnya sendiri, mengapa dia terus-menerus menyakiti Esther? Bukankah sumpah yang diam-diam diambilnya adalah Holland yang tak akan membiarkan wanita itu merasakan kekecewaan lagi? Lantas, mengapa kala hari bergulir, sorot penuh antusias dan keceriaan itu lenyap, digantikan dengan kekecewaan yang nyata? Semuanya adalah kesalahan Holland.


Ketika berita mengenai Olivia yang tengah mengandung mulai menyebar di kediaman Floral, satu-satunya yang Holland lakukan adalah mengunjungi kediaman Descartez. Dia bahkan mengabaikan Olivia yang sudah menunggunya dengan senyum hangat.


Holland bahkan datang kemari tanpa memberi tahu Miel atau pelayan mana pun. Bisa dikatakan, kediamannya akan heboh jika tahu bahwa tuan mereka menghilang.


"Esther, tolong dengarkan penjelasanku," bujuk Holland dengan tenang.


"Percuma saja, Holland. Meski kamu menjelaskan pun, satu-satunya yang menjadi kata kunci adalah pengkhianatan. Kamu mengingkari janji yang kita buat."


Holland menggigit bibirnya kuat ketika mendengar vokal Esther dipenuhi getaran.


"Esther, maafkan aku."


Esther terkekeh kecil. "Jika maafmu bisa menyelesaikan segalanya, maka tidak akan ada peperangan di dunia ini, Holland."


Holland makin menggigit bibirnya. Meski cairan amis mulai menetes, Holland malah mati rasa akan rasa sakit yang mendera. Justru, rasa pedih dari hatinya begitu terasa hingga tubuhnya dipenuhi oleh emosi putus asa, kabut tebal pun mengerumuni benaknya, serta perasaan bersalah yang bergema riang.


"Apakah saat kamu mengukir janji baru kemarin, kamu telah mengingkari janji yang lama?"


Holland terlonjak, wajahnya dipenuhi kepanikan. "Ti—"


"Kamu sudah mengingkarinya," kata Esther dengan nanar. "Aku tahu bahwa kamu bertingkah aneh sebelumnya, tetapi aku tidak menyangka bahwa janji itu telah kamu ingkari."


"Berjanjilah padaku, Holland."


"Apa itu, sayangku?"


"Jangan sentuh Nona Olivia."


"Aku berjanji."


Memori ini melewati benaknya dengan sekilas, tetapi meninggalkan kepanikan yang nyata.


"Tidak, Esther! Aku ... Aku ...!" Suara Holland tertahan di ujung lidahnya. Meski sudah Holland berusaha untuk utarakan, tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.


"Cukup, Holland. Meski kamu menjelaskan alasan mengapa kamu menyentuh Olivia, akal sehatku tak bisa menerimanya. Jadi, lebih baik kamu pergi. Jika kamu berada di sana lebih lama lagi, aku akan terluka lebih lagi."


Suara Holland tercekat, napasnya pun turut memburu karena perasaan resah yang memonopoli tubuhnya, mendominasi, hingga pria itu tak bisa merasa tenang. Terlebih, fakta bahwa kehadirannya di sini bukannya memperbaiki suatu koyakan yang diperbuat, tetapi malah memperparah suatu duka.


Holland menarik napasnya. "Baiklah, Esther. Aku akan kembali nanti. Kumohon, terima aku di kesempatan berikutnya."


Tak ada balasan dari dalam, tetapi Holland bisa mendengarkan isakan kecil yang lolos. Mendengarnya saja membuat hati Holland semakin berat.


Meski ragu, Holland berbalik dan mulai meninggalkan pintu kamar Esther. Langkah kaki Holland lemah kala mencoba untuk menuruni anak tangga menuju lantai satu kediaman.


"Ah, Tuan Duke!" Baroness mencoba untuk mendekati Holland. "Apa Anda baik-baik saja?"


Baroness merasa simpatik hanya dengan melihat ekspresi kacau Holland di wajahnya.


"Tuan Duke, apakah Anda baik-baik saja?" Baron mencoba untuk bertanya. "Maafkan putri saya yang—"


"Tidak," potong Holland. "Esther sama sekali tidak bersalah. Aku yang bersalah di sini. Tidak perlu menyalahkan Esther."


Baroness menggigit bibir. "Anda terluka, Tuan Duke."


"Ah." Holland baru saja merasakan perih dari luka gigitan di bibirnya sendiri. Dia bahkan baru menyadari bahwa darah yang menetes mulai mengotori pakaiannya.


"Akan saya obati Anda, Tuan Duke!" ucap Baroness.


"Tidak, Nyonya Descartez," tahan Holland. "Saya tidak apa-apa."


"Namun ...."


Holland berusaha untuk mengulas senyuman, tetapi malah merasa perih di bibirnya. Dia mengeluarkan saputangan dari sakunya dan menyeka darah yang mengalir di dagunya. "Saya tidak apa-apa. Saya harus kembali ke kediaman saya."


"Apakah Anda yakin Anda baik-baik saja?" tanya Baron dengan ragu.


"Ya," balas Holland dengan ringan. "Namun, mungkin saya akan merepotkan Anda berdua untuk beberapa hari ke depan."


"Tentu saja tidak akan merepotkan kami, Tuan Duke. Silakan kunjungi kediaman kami kapan saja."


"Saya merasa terhormat."


Holland dibekati oleh keluarga yang baik hati, tetapi dia merasa bersalah karena sudah menyakiti putri yang dibesarkan dalam keluarga yang hangat.


"Kalau begitu, biar saya antarkan Anda menuju kereta kuda Anda."


"Terima kasih banyak."


"Bukan masalah, Tuan Duke. Saya merasa terhormat karena Anda mengunjungi kediaman saya."


...***...


Holland kembali ke kediamannya hanya untuk menemukan Miel yang mengomelinya.


"Bagaimana bisa Anda meninggalkan kediaman tanpa memberi tahu? Saya pikir Anda ingin melengserkan gelar Duke dan hidup bersama Nona Esther sebagai Descartez!"


"Miel, itu ide bagus."


"Tidak bagus, Tuan Holland!" teriak Miel frustrasi. "Apa Anda tahu betapa paniknya saya mencari Anda di seluruh kediaman?! Hati saya tidak tenang, pikiran saya berantakan. Tuan Duke! Anda dengar tidak?"


Holland melangkahkan kakinya di lorong yang luas dengan tegap, tetapi memutuskan untuk mengabaikan seluruh omong kosong yang diutarakan Miel. Mentalnya tengah terguncang saat ini. Holland ditolak oleh kekasihnya, hingga pikirannya kini campur aduk tak keruan.


Hari ini adalah hari kelima setelah upacara pernikahannya, tetapi Holland tak mengira kehidupannya akan berantakan dengan begitu cepat.


"Holland!"


Hanya saja, Holland ingin berusaha menghindari wanita yang paling bermasalah di dalam kehidupannya itu untuk ke depannya.


Holland memutar arah, tetapi lengannya dicengkeram erat.


"Holland!" panggil Olivia.


"Lepaskan aku," balas Holland dengan dingin, maniknya enggan menatap Olivia.


Olivia bergetar hanya dengan mendengar nada suara Holland yang membeku. "T-Tidak akan! Kamu adalah suamiku! Aku berhak menyentuhmu!"


"Olivia," tekan Holland.


"Tidak!" seru Olivia keras kepala. "Kamu ke mana saja semenjak siang tadi, Holland? Kamu tahu, bukan, kalau aku mengandung anakmu?"


Holland menggeretakkan rahangnya. "Beraninya kau! Aku tidak akan pernah menganggap anak itu sebagai anakku!"


"Holland, ini anakmu! Ini anak kita berdua! Bagaimana bisa kamu melupakan malam itu?!"


Amarah Holland kian membara. Memori yang samar tersebut sudah berusaha Holland lenyapkan, tetapi wanita ini malah menarik memori yang separuh samar untuk kembali jelas.


Holland menarik pergelangan tangan Olivia yang masih memegang lengannya, lalu mencengkeramnya dengan erat hingga Olivia mengaduh.


Holland menundukkan wajahnya untuk menatap sepasang manik merah darah yang terang, berbeda dengan Holland yang sedikit lebih kelam. "Dengarkan aku, aku sudah mengatakan bahwa aku tidak menyukaimu, Olivia! Di mana letak dari kata-kataku yang tidak kamu pahami?! Camkan satu hal ini, Olivia! Aku tidak menyukaimu, maka pergilah dari hidupku!"


Olivia terlihat ketakutan, bibir dan maniknya bergetar. Meski Olivia mengakui bahwa dia mencintai Holland, ini baru pertama kali dia melihat sisi Holland yang mengerikan.


"T-Tapi aku adalah istrimu," tutur Olivia, masih keras kepala. "Kamu juga harus menyukaiku! Satu-satunya yang ada di matamu, hanya aku, 'kan?"


"Satu-satunya yang ada di matamu, hanya aku, 'kan?"


Holland tercekat.


"Mengapa kau mengatakan hal yang sama dengannya?" gumam Holland, dia berusaha untuk menekan amarahnya, tetapi gagal. Holland malah mengeratkan pegangannya pada pergelangan tangan Olivia, hingga Olivia yakin bahwa tangannya terluka.


"Olivia, kau telah menipuku dan berusaha untuk mengikatku secara paksa! Kau menghancurkan aku dan hidupku, Olivia! Di bagian mana lagi dariku yang ingin kau hancurkan? Apa kau ingin melenyapkan aku juga, hah?!"


Kini, Olivia tak bisa menahan rasa takut yang mendominasi tubuhnya. Holland menyeramkan, Olivia tak lagi tahan hingga tubuhnya bergetar kencang. Sudut matanya terasa basah dan air mata mulai mengalir.


"Olivia, hentikan semuanya," ucap Holland dengan nanar, pandangannya sayu, cengkeramannya melemah. "Jika kamu ingin menghancurkan hidupku, habisi saja aku."


Olivia menggelengkan kepalanya seiringan dengan air mata yang menetes. "Tidak, tidak!" Olivia berteriak kencang. "Tidak, Holland!"


Rupanya, apa yang Holland katakan telah mengguncang mental Olivia.


Holland melihat tubuh Olivia yang merosot dan terduduk di lantai marmer. Akan tetapi, Holland tak merasa simpatik pada wanita itu. Setelah menghancurkan hidupnya, Holland tak ingin lagi terlibat dengan wanita itu hingga dia tak memedulikan teriakan menyedihkan Olivia dan melangkah dengan tegap menjauhi Olivia.


Miel mengikuti Holland dari belakang, tetapi menelan seluruh kata-katanya. Dia tak bisa mengintrupsi obrolan dari para bangsawan jika tak ingin mati, itulah pelajaran yang paling lekat di kepalanya setelah Miel memutuskan untuk menjadi seorang pelayan.


Akan tetapi, Miel merasa simpati pada Holland. Kehancuran hidupnya begitu kentara. Sebuah perasaan memang senjata yang mematikan. Ada kalanya bisa membahagiakan, tetapi pula bisa menyakitkan.


Sedari kecil, Miel sudah menemani Holland, melihat anak laki-laki itu tumbuh menjadi pria rupawan. Hanya saja, didikannya yang ketat membuat Holland harus memiliki kepribadian dingin dan mengisolasi dirinya sendiri dengan yang lain.


Miel pikir, Holland akan menghabiskan kehidupannya dengan monoton dan membosankan, hingga Holland bertemu dengan Esther. Senyum Holland yang tak pernah naik, kini lebih sering muncul. Wajah Holland yang kaku, menjadi lebih lembut dan ramah.


Kehadiran Esther membawa pengaruh yang baik bagi Holland, tetapi juga menjadi luka yang paling dalam bagi pria itu. Mencintai Esther merupakan sebuah risiko, tetapi bagaikan kecanduan, Miel tahu bahwa Holland tak akan berhenti untuk mencintai Esther, bahkan jika cinta tersebut malah menggerogoti esensi kehidupannya.


...***...


Esoknya, Holland kembali ke kediaman Descartez dengan buket bunga mawar di pelukannya. Kemarin, Holland mengunjungi Esther dengan tangan kosong karena terlalu panik, tetapi kini dia harus membawa buah tangan untuk menunjukkan kesopanannya pada pemilik rumah.


Baroness tampak ragu. "Tidak baik, Tuan Duke. Putri saya menolak untuk keluar dari kamarnya, bahkan hanya makan sedikit kemarin."


Holland mengembuskan napasnya. "Saya akan mengunjunginya."


"Ya, Tuan Duke. Tolong bantu putri saya untuk memakan sesuatu, saya khawatir."


"Tidak perlu risau, Baron Descartez. Saya akan berusaha semampu saya."


"Terima kasih banyak, Tuan Duke."


"Tidak perlu berterima kasih, ini adalah kesalahan saya."


Setelah berbincang singkat dengan kedua Baron dan Baroness, Holland akhirnya menaiki anak tangga menuju lantai dua dengan nampan yang berisi sarapan di sebelah tangan dan buket mawar di tangan lainnya.


Pintu Esther tidak lagi terkunci, bahkan sedikit terbuka hingga Holland hanya perlu mendorongnya sedikit hingga pintu terbuka lebar.


"Esther?"


Holland melirik ke dalam kamar Esther. Kamar seorang penulis memang tidak diragukan lagi dipenuhi oleh buku. Rak-rak buku bertingkat yang dicat putih memberikan kesan lembut, hingga tumpukan buku yang berantakan bisa diabaikan. Kamar Esther mengarah langsung pada sinar matahari sehingga cahayanya yang masuk, membuat kamar lebih terang dan natural. Ada juga meja bundar di tengah ruangan untuk bersantai, beserta meja kerja yang dipenuhi naskah novel, lalu ranjang besar dengan kanopi. Di atas ranjang itu, Esther tertidur.


Holland mengukir senyum ketika melihat wajah damai Esther. Begitu tak bisa dipercaya bahwa Holland telah menyakiti wajah lembut ini.


Holland meletakkan sarapan dan buket bunga mawar di nakas sebelah ranjang, lalu duduk di samping Esther. Jemarinya naik dan menyentuh helaian merah pekat Esther, menyibaknya sedikit hingga tidak menghalangi wajah cantik nan rupawan Esther.


Napas Esther ditarik dengan teratur, hidungnya mancung dan tipis, lalu bibirnya yang ranum tak lagi kaku karena menahan emosi. Esther ketika tertidur tampak telah dibebaskan dari deritanya.


"Esther," gumam Holland. "Apa yang harus kulakukan agar menerima maafmu? Apakah harus kutanggalkan margaku ini, lalu bergabung dengan keluargamu?"


"Itu ide yang buruk."


Holland tersenyum, tak terkejut meski Esther membalas kalimatnya dengan mata tertutup.


"Kamu sudah bangun?"


Esther menepis tangan Holland yang hendak menyentuh pipinya, lalu menegakkan tubuhnya. "Jangan tinggalkan Floral," katanya.


"Mengapa? Miel juga mengatakan hal yang sama. Padahal, jika aku meninggalkan Floral, aku bisa kembali padamu."


"Apa kamu bodoh?" maki Esther, tetapi tak membuat Holland marah, justru Holland mempertahankan senyumannya yang lembut. "Jika posisi Duke Floral hilang, kekuatan militer Teratia akan runtuh. Kamu tahu itu sendiri, kan?"


Holland mengembuskan napasnya. "Aku akan menyerahkan posisi Duke pada Miel."


"Apa kamu bodoh?!"


Holland tertawa kecil, lalu menarik dagu Esther secara lembut. "Aku bodoh karena terlalu mencintaimu."


Holland kembali tertawa ketika melihat rona merah makin menyebar di kedua pipi Esther. "Esther, maafkan aku." Holland menangkupkan kedua pipi Esther.


"Maaf? Bukankah aku sudah mengatakan bahwa jika maaf tidak akan bisa memperbaiki segalanya, Holland."


"Aku tahu, Sayang. Akan tetapi, memohon maaf bukanlah suatu kesalahan. Aku memohon maaf padamu karena aku bersalah. Aku telah mengingkari janjiku padamu, aku telah menghancurkan perasaanmu, dan aku bahkan membuatmu menangis." Holland mengelus sudut mata Esther yang bengkak dan memerah.


"Kamu ...." Esther menggigit bibir. "Apakah kamu benar-benar menyukai Olivia? Kamu menyentuh wanita itu, kamu menyukainya, kan?"


"Kamu keliru, Sayang. Satu-satunya yang aku cintai adalah Esther."


"Lalu, mengapa—?"


"Andai saja aku lebih waspada, aku tidak akan dipengaruhi ramuan bodoh. Maafkan aku, Esther. Aku akan lebih berhati-hati lagi ke depannya."


"Ramuan?" Esther mengerutkan dahinya.


"Ya." Holland mengembuskan napasnya berat. Kini, Holland tahu mengapa teh favoritnya terasa aneh meskipun memiliki aroma yang sama. Sebab, terdapat campuran lainnya di dalam teh hingga terasa sama. "Afrodisiak. Kamu tahu itu?"


Esther tersentak. Di dalam sebuah obat yang diramu tersebut, Esther bisa tahu. Seseorang yang mengonsumsinya walau sedikit, tak akan bisa menahan gairah di tubuhnya, bahkan keinginan untuk menyentuh seseorang akan meningkat.


"Y-Ya, aku tahu."


"Maafkan aku."


Esther memberikan jeda. "Tidak, aku yang bersalah. Aku menuduhmu searah, aku bersalah."


"Tidak, Sayang. Bagaimana bisa kamu bersalah? Satu-satunya yang bersalah adalah aku."


"Kamu tidak salah, itu Olivia!"


Holland tersenyum. "Baiklah, baik aku dan kamu tidak bersalah, tetapi Olivia."


Esther mengangguk. "Baiklah, aku ... minta maaf padamu karena sudah marah padamu."


Holland mengelus bibir Esther dengan ibu jarinya. "Maafkan aku juga karena telah mengingkari janji."


Esther menganggukkan kepalanya.


Holland mengulas senyuman sebelum mendekatkan tubuhnya, kecupan manis bertemu. Holland menekan Esther dengan ciuman lembut yang berusaha untuk menuntunnya, bukan untuk menyakiti, tetapi berhati-hati. Holland mengunci segala perasaan negatif dalam sebuah ciuman, memersuasi Esther untuk membawa kisah keduanya di dalam lembaran yang baru, memulai kembali semuanya.


Esther melenguh kecil. Jemarinya mencengkeram pakaian Holland, tetapi tak menolak sebuah ciuman yang menandakan penuh kasih. Bagi Esther, ciuman yang mengunci seluruh pikiran yang campur aduk ini membawa perasaan berantakan menuju rasa gembira yang menyenangkan.


Esther selalu menyukai ciuman Holland. Holland selalu lembut padanya, menuntun ketidaktahuannya, lalu mengajarinya banyak hal. Mencintai Holland bukanlah sebuah kutukan, tetapi sihir yang membuatnya kecanduan.


Ciuman keduanya terlepas dan Esther terengah dengan wajah merona, sementara Holland tersenyum bahagia. Direngkuhnya tubuh Esther, dibiarkan sang malaikat cantik tenggelam di dadanya.


"Terima kasih sudah mencintaiku, Esther."


Holland bisa merasakan bahwa Esther tengah menganggukkan kepalanya.


"Aku juga mencin—" balasan Esther terpotong ketika suara gemuruh dari dalam perut terdengar.


Esther langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, rasa malu mendominasinya.


Holland melepas pelukan sambil terkekeh kecil. "Bukan masalah, Sayang. Tidak perlu malu. Bukankah kamu hanya makan sedikit kemarin? Untung saja aku membawakanmu sarapan kali ini."


"Membawakanku sarapan?"


Holland tersenyum lembut. "Ya, bahkan ada mawar juga." Pria itu meraih buket mawar dan memberikannya pada Esther.


Sorot Esther menjadi lebih ceria dan wajahnya tetap mempertahankan rona yang manis. "Terima kasih, ini harum sekali," ucap Esther setelah menghirup aroma mawar yang memabukkan.


"Juga sarapannya." Holland beralih mengambil piring sarapan dan sendok, lalu menyuapi Esther. "Ayo, buka mulutmu."


Esther semakin merasa malu. "Aku bisa makan sendiri!" Esther berusaha mengambil alih piring dan sendok di tangan Holland, tetapi pria itu lebih cepat menghindari tangan Esther.


"Tidak, biarkan aku menyuapimu."


"Aku bukan anak kecil!"


"Biarkan aku menunjukkan cintaku padamu, Esther."


Wajah Esther merona tak keruan, debaran di dadanya terlalu keras hingga dia khawatir bahwa Holland akan mendengarnya.


"Baiklah."


"Ayo, buka mulutmu."


Dengan ragu, Esther mengunyah makanan dari suapan sang kekasih. Esther merasa begitu malu. Disuapi kekasihnya ketika Esther hanya mengenakan gaun tidur sederhana, bahkan tanpa riasan di wajahnya, tampilan yang tak layak untuk dilihat. Esther yakin seratus persen bahwa rambutnya bahkan berantakan. Namun, melihat betapa bahagianya Holland, Esther menahan dirinya. Esther pun merasa gembira karena dicintai oleh Holland, dia merasa sangat beruntung.


"Apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?"


"Ya?" Sendok Holland terhenti di udara.


"Mengenai Olivia. Dia mengandung anakmu, jika dia melahirkan seorang anak, dia akan makin mengikatmu."


"Ah." Holland juga tahu bahwa dengan kehadiran seorang anak di antara Holland dan Olivia, maka jeratan rantai takdir akan semakin mengerat. Tidak hanya sulit untuk melepaskan diri, Holland akan terus diikat rantai tambahan berupa seorang anak.


Holland merasa bahwa anak itu akan hidup dalam ketidakadilan, tetapi Holland sendiri enggan membuat seorang anak mengikatnya dengan kuat. Anak itu merupakan sosok yang polos dan tidak bersalah. Holland pasti akan merasa bersalah hanya dengan memandang rupa anak itu nanti.


"Tidak apa-apa," kata Holland. "Aku akan tetap melepaskan Olivia di kemudian hari dan kembali padamu."


Esther tersenyum. "Lalu, bagaimana dengan anak itu?"


"Kita akan melihat situasi, lalu memutuskan bagaimana ke depannya."


"Baiklah, aku mengerti."


"Terima kasih sudah mengerti aku." Holland mengecup bibir Esther secara singkat.


"Holland!"


Holland terkekeh kecil, lalu kembali menyuapi Esther.


Kini, mungkin saja seorang anak yang tak tahu apa-apa itu akan mengikat Holland kepada Olivia, tetapi Holland yakin bahwa dengan kehadiran Esther saja, Holland mampu melewati segalanya, memutuskan sebuah keputusan penting bersama, dan kembali ke sisi Esther.


...***...


Esther di sini murah hati sekali, ya. Kalau orang lain mungkin nggak akan terima diselingkuhin. Tapi beda lagi kalau sudut pandang Olivia, dia pasti liat Esther sebagai pelakor. Aku rada cringe sama bab ini :(


2 Juli 2023