
Esther memutuskan untuk menunggu. Menunggu sang kekasih untuk kembali mendekapnya, lalu melamarnya, menjadikan Esther sebagai pasangan hidupnya yang sejati.
Walaupun menyaksikan pria itu bersama wanita lain begitu menyakitkan, Esther tetap teguh. Sebab, kala keduanya telah menyatakan perasaan dan memutuskan untuk menjalin cinta, mereka telah terikat, tak akan lepas semudah itu.
Akan tetapi, Esther-lah yang paling merasakan betapa tersiksanya sebuah ikatan semu tersebut. Rantai berdarah yang mengelilingi tubuhnya, mencegah maniknya yang emas untuk menilik pria lain, mencegah tubuhnya untuk berlari pada rengkuhan yang lain, tetapi ditarik kembali pada Holland. Meski begitu menyakitkannya, menyesakkannya, serta begitu tersiksanya, Esther terus kembali pada Holland tanpa ragu.
"Anda berdua kini telah dinyatakan sebagai suami dan istri."
Esther tiba-tiba merasakan kepedihan yang nyata, serta beberapa tetes darah yang mengotori gaun merah mudanya. Rasa perih dari bibir bawahnya akibat digigit dengan keras terasa berdenyut, tetapi rasa sakitnya memudar ketika nyeri di hatinya lebih mendominasi.
Dadanya perih luar biasa, seakan tercabik-cabik, seolah dia tertusuk bilah pedang yang melubangi dadanya. Jantungnya pun seakan berhenti berdetak, jemarinya bergetar, serta air mata yang menetes, menyaingi darah di atas gaun merah muda.
Esther mengalihkan pandangnya dari altar suci kala pendeta meminta kedua pengantin untuk berciuman. Baron Descartez menepuk kepala putrinya, menarik tengkuknya hingga dia dapat bersandar di pundak tegap Baron.
Baron tak mengatakan apa pun. Dia yang paling tahu mengenai putrinya, bahwa sepotong frasa di dalam suasana duka tak akan banyak membantu.
Baroness pun menggenggam jemari Esther yang gemetaran, berbagi kehangatan di sana, untuk mendukung.
Esther tahu bahwa dia tak seharusnya mengunjungi pernikahan orang yang dikasihinya pada musim semi. Sebab, meskipun bunga bermekaran di luar sana, taman bunga di dalam Esther luruh dan layu, kelopaknya dengan sayu menangis sedih, seakan terdapat peristiwa tragis yang meluruhkan mereka. Akan tetapi, Esther memutuskan untuk datang ke gereja.
Bukan karena dia ingin menghancurkan sebuah pernikahan yang suci, tetapi untuk menatap kekasihnya. Meski perih, Esther menekannya. Melihat sang kekasih setelah Holland bertunangan dengan Olivia cukup sulit, sehingga Esther ingin menatap kekasihnya meski sekali. Sehingga Esther tak akan berakhir dengan penyesalan di kemudian hari.v.
Upacara pernikahan dinyatakan selesai, seluruh tamu undangan menikmati resepsi pernikahan yang diadakan di kediaman Floral yang megah. Dekorasinya begitu klasik dan mewah, segala mengenai dindingnya berkilauan, meja yang dialasi kain putih berenda, serta berbagai kudapan yang disajikan pun berasal dari tangan koki terbaik. Para tamu undangan sangat menikmati kemewahan ini, mereka tertawa, bersenda gurau, dan berbincang ringan. Kecuali Esther yang dikerumuni oleh situasi kelam. Bibirnya tak bisa naik untuk membentuk sebuah senyuman, suasana hatinya tak begitu baik, dadanya masih perih, dan kedua matanya sembap.
Esther tahu dia akan menyesal jika dia tak bertemu sang kekasih hari ini, tetapi Esther juga menyesali kehadirannya dalam upacara pernikahan. Apabila Esther tahu bahwa situasinya akan begitu menyakitkan, Esther tidak akan datang.
"Nona Esther."
Esther yang sedari tadi hanya menatap sepasang sepatunya langsung mendongak.
"Miel?" panggil Esther, lebih tepatnya seperti gumaman mungil dalam suara serak.
Miel langsung menyerahkan secarik kertas yang dilipat pada Esther. "Ini dari Tuan Holland, Nona Esther. Kalau begitu, saya pamit undur diri."
Miel sebenarnya ingin menanyakan apakah Hanah kekasihnya tidak ikut datang, tetapi memutuskan untuk bersikap profesional karena dia bisa membaca situasi. Keadaan Esther bisa dikatakan sangat buruk, terlebih bagi nona bangsawan yang seharusnya menghabiskan masa mudanya dengan bersenang-senang, tetapi detik Esther malah dipenuhi oleh rasa patah hati.
Miel diam-diam merutuki Holland, membuat seorang lady menangisinya seperti itu bukanlah apa yang seharusnya seorang laki-laki lakukan.
Miel membungkukkan tubuhnya, lalu undur diri.
Esther menatap secarik kertas yang dilipat dua di antara jemarinya. Kertasnya dirobek dengan berantakan, harum gardenia masih berbekas dalam serat kertas, dan kala Esther membukanya, tulisan tangan yang rapi meski terkesan buru-buru tertata di sana.
Temui aku di labirin bunga mawar tiga puluh menit lagi.
Holland
Melihat nama di sudut surat, membuat napas Esther tercekat. Ditekannya secarik kertas pada dadanya, lalu ditangisinya makna apa pun yang ada di balik sepotong kalimat itu.
...***...
Holland menikah. Dia sendiri ragu dengan situasinya saat ini. Meskipun bunga di luar sana mekar, situasi yang begitu mendukung sebuah pernikahan untuk digelar, Holland tak bisa begitu bahagia.
Holland bisa melihat wajah Olivia yang bercahaya di atas altar, senyumannya timbul dengan tulus, sepasang manik merah darahnya tak lagi kelam, tetapi terang. Olivia benar-benar bahagia dalam sebuah pernikahan yang telah ditentukan ini.
Holland merasa simpatik pada Olivia.
"Pengantin pria bisa mencium pengantin wanita."
Holland diam-diam menggigit bibirnya. Mencium pengantin wanita membuat dada Holland terasa berat. Holland telah berbagi banyak ciuman dengan Esther, tetapi membayangkan bahwa dia mengecup wanita lain selain yang dikasihinya, Holland tak larat.
Menahan napasnya, Holland mendekati bibir Olivia, lalu menjauh. Holland tidak memberikan sebuah kecupan pada Olivia, bahkan kedua bibir nyaris tak bersentuhan.
Olivia bahkan melebarkan matanya. Dia hendak berinisiatif untuk mencium Holland, tetapi pria itu telah lebih dulu menarik diri.
Ruang gereja dipenuhi oleh tepuk tangan dari para tamu undangan.
Olivia menyelipkan tangannya pada lengan Holland, lalu keduanya menghadap tamu undangan.
Betapa Holland merasa detak jantungnya berhenti berdebar kala melihat sesosok gadis berambut merah yang menyerupai senja yang dalam. Rambut merah begitu jarang ditemukan, hingga Holland bisa dengan mudah mengenalinya walau wanita itu duduk di bangku belakang gereja.
Namun, bukan hanya itu yang membuat Holland merasakan denyut perih di dadanya, tetapi kala melihat sorot kesedihan yang dipancarkan dari kanvas sempurna Esther. Wajahnya yang bak malaikat agung, telah menjadi malaikat jatuh yang berduka.
Holland merasakan kedua matanya memanas. Betapa bajingannya dia, mengejar seorang wanita hanya untuk melihatnya menangis.
Ketika upacara pernikahan selesai dan kedua pengantin tiba di kediaman Floral, Holland langsung melepaskan gandengan Olivia.
"Nona Olivia, maafkan aku, pakaianku kurang nyaman dan aku ingin membenahinya terlebih dahulu. Tolong tunggu selama lima menit dan kita akan memasuki ruang resepsi bersama." Holland mengatakan kalimatnya dengan sopan, tetapi datar. Tanpa menunggu jawaban Olivia, Holland menarik lengan Miel yang sedari tadi mengekori di belakangnya.
"Tuan Holland, pelan-pelan! Saya bisa jatuh!" teriak Miel ketika Holland menarik Miel secara kasar menaiki tangga spiral. Miel bahkan tersandung karpet merah bersulam emas yang melapisi tangga marmer, untungnya dia bisa menyeimbangkan tubuhnya dan menanggung rasa malu.
Holland tidak menjawab. Dia menarik Miel menuju kamarnya, lalu menutup pintu dengan keras.
Napas Holland memburu, tubuhnya bergetar keras. Bukan karena dia berjalan terlalu cepat menuju kamarnya, tetapi memori mengenai Esther yang seakan tengah berduka atas perasan kecewanya membuat rasa cemas berlebihan timbul di dada Holland.
Holland bahkan mencengkeram kepalanya dengan sebelah tangan. Rambut emas yang ditata rapi kini berubah berantakan.
Miel mau tak mau bersimpati pada tuannya. Miel yang paling tahu bahwa satu-satunya wanita yang terus membayangi Holland pada tiap detiknya adalah wanita berambut merah pekat dan sepasang manik emas yang menyerupai lentera. Akan tetapi, takdir kejam memutuskan hubungan keduanya, memaksakan kehendak Holland, dan mematahkan hati Esther.
"Ambil kertas," perintah Holland dengan suara yang tercekat.
Miel tak bertanya dan langsung menghampiri meja kerja Holland. Ditariknya kertas berwangi gardenia dengan cepat, beserta tintanya, untuk diberikan pada Holland.
Holland berusaha menenangkan dirinya ketika tangannya naik untuk menerima secarik kertas dan pena bulu dari Miel.
Dengan jemari gemetaran, Holland menulis sepatah kata, tetapi karena pena bulu ikut bergetar, tulisannya bergoyang. Holland merobek setengah kertas dan membuang yang gagal.
Pertama-tama, Holland menarik napasnya lalu mengembuskannya secara perlahan. Kemudian, ditekannya dada yang berdebar keras dan cepat, ditenangkannya perasaan membludak yang membuat rasa cemasnya berlebih. Setelah merasa cukup tenang, Holland kembali menuliskan apa yang ingin dia sampaikan pada secarik kertas yang telah dirobek. Abjad yang ditulis masih rapi, tetapi rekanya berantakan, terkesan buru-buru.
"Berikan pada Esther."
Miel menerima surat yang telah dilipat menjadi dua dari Holland.
"Apakah Anda masih mau datang ke resepsi pernikahan?" tanya Miel dengan hati-hati.
Holland tertawa nanar. "Tentu saja, Miel. Justru di waktu resepsi ini, aku bisa mengambil banyak pengaruhku, sehingga banyak orang akan mengakuiku sebagai Duke Floral dengan cepat. Jika tujuan ini gagal, maka pernikahan sialan ini akan sia-sia."
"Ah." Miel mengangguk paham.
Satu-satunya yang membuat mendiang Duke sebelumnya, Ivor Delano Floral, untuk menikahkan Holland dengan Olivia disebabkan karena Holland terlalu muda untuk naik jabatan. Para bangsawan lain akan merasa bahwa Holland tidaklah pantas untuk mendapatkan posisi tersebut hingga akan banyak pihak yang berusaha untuk menjatuhkan Holland. Keuntungan dari Holland yang berhubungan dengan Riquetti adalah mereka akan melindungi Holland dari kejatuhannya.
Holland kemudian kembali ke sisi Olivia yang sudah menunggu di ruang tengah dengan keadaan suram. Setelah mendengar derap langkah kaki Holland dan melihat figurnya, ekspresi Olivia kembali cerah.
"Maaf aku terlambat, Nona Olivia," ujar Holland dengan nada datar, tanpa sesal.
"Tidak apa-apa, Tuan Holland," balas Olivia dengan ringan. Dia kembali menyelipkan tangannya pada lengan Holland, bahkan berusaha mengikis jarak sambil memeluk lengan Holland.
Holland sedikit terganggu dengan sentuhan berlebihan Olivia, tetapi berusaha menahannya.
Setengah jam telah berlalu, kerumunan di sekitar Holland telah berkurang, dan pria itu bisa menarik napas lega. Dikerumuni membuatnya sesak dan kepanasan.
"Nona Olivia, aku akan ke ruang istirahat sejenak," izin Holland dengan sopan.
"Oh, aku akan ikut denganmu juga, Tuan Holland," balas Olivia dengan cepat, dia mengeratkan pelukannya pada lengan Holland.
Holland merasa risi, dia berusaha melepaskan lengan Olivia yang menjeratnya. "Hanya sebentar, Nona Olivia. Lagipula, tidaklah sopan jika kedua tuan rumah meninggalkan acara. Kita bisa bergiliran mengambil rehat."
Olivia melepaskan Holland dengan ekspresi kecewa. Dia sadar diri bahwa egonya perlu diturunkan di sini jika tidak ingin mempermalukan suaminya.
"Baiklah."
"Terima kasih. Kalau begitu, aku akan segera kembali." Holland berbalik tanpa menoleh lagi. Dia keluar dari ruang pesta dan berlari melintasi lorong dengan langkah lebar. Satu-satunya yang memenuhi benak Holland adalah seorang wanita berambut merah. Holland benci untuk membuat wanita itu menunggu hingga mempercepat langkahnya.
Kala Holland melintasi taman kediaman dan tiba di labirin bunga, dia akhirnya bisa bernapas lega, senyumnya timbul kala melihat wanita itu.
"Esther." Holland memeluk wanita itu dari belakang. Pria itu bisa merasakan bahwa tubuh Esther menegang akan sentuhan yang tiba-tiba, tetapi wanita itu bahkan tidak melawan.
Aroma khas Esther memenuhi indra penciuman Holland, membuat detak jantungnya berdebar dengan menyenangkan. Dikecupnya pelipis Esther, dieratkannya pegangan Holland pada pinggang ramping Esther. Akan tetapi, rahangnya mengeras ketika merasakan cairan hangat yang menetesi lengan yang melingkari sang kekasih.
"Maafkan aku," gumam Holland. Dia menggigit bibirnya, kedua matanya ikut memanas dan memburam.
Holland menahan air mata untuk keluar, lalu melepas pelukannya untuk menghadap Esther secara langsung. Akan tetapi, hatinya mencelos. Betapa Holland merasa gila karena sebuah ekspresi penuh kepedihan yang tergambar dalam kanvas rupawan itu. Lagi-lagi, Holland membuat Esther-nya menangis. Lagi-lagi, Holland hanya memberikan Esther-nya sebuah penderitaan.
"Esther, Sayang." Holland menarik Esther ke dalam sebuah rengkuhan sayang, membiarkan wajah Esther tenggelam di lekuk bahunya.
"Holland." Ah, bahkan melodi merdu sang wanita telah berubah menjadi getaran jelas, deru napasnya pun tak teratur, tubuhnya ikut gemetaran.
"Esther. Aku ... Aku mencintaimu. Tidak perlu risau, aku hanya mencintaimu." Holland mengelus kepala Esther dengan lembut. Rambutnya yang bergelombang begitu halus kala bersentuhan langsung dengan jemari Holland. Akan tetapi, hati Holland-lah yang kusut.
"Aku tahu itu," isak Esther. "Aku tahu kalau kamu mencintaiku, tetapi tetap saja rasanya menyakitkan. Melihatmu menikah dengan wanita lain, menciumnya, dan saling bergandengan."
Kalimat yang Esther utarakan tidaklah jelas akibat isakannya, tetapi Holland bisa memahami tiap maknanya.
"Maafkan aku."
Tidak ada yang bisa Holland katakan lagi selain memohon maaf. Dia telah berkali-kali menyakiti wanita yang dikasihinya, tetapi memperbaiki situasi pun mustahil, hingga Holland hanya bisa memohon maaf.
Holland diam. Dia merengkuh Esther, menunggu hingga tangisnya reda.
"Aku akan menunggu," balas Esther.
Senyum Holland naik. "Terima kasih, Esther."
"Berjanjilah padaku, Holland."
"Apa itu, sayangku?"
"Jangan sentuh Nona Olivia."
"Aku berjanji," balas Holland dengan cepat.
Satu-satunya wanita yang ingin Holland sentuh hanyalah Esther, sehingga Holland bisa menjamin bahwa dia tak akan sekalipun melirik Olivia. Lagipula, seorang anak di antara Holland dan Olivia hanya akan mengikat keduanya, mencegah Holland untuk lari ke rengkuhan Esther, dan menahannya di sisi Olivia.
Holland akan menceraikan Olivia setelah membuat orang lain bergetar hanya dengan mendengar namanya, lalu menundukkan kepalanya dalam kala berhadapan. Holland akan meraih puncaknya, menceraikan Olivia, lalu menikahi Esther. Hanya itu satu-satunya jalan.
Terdengar tidak adil bagi Olivia, tetapi jika hubungan keduanya berlanjut, kedua pihak tentu akan merasa tersiksa.
"Esther, mau menghabiskan malam di ibu kota bersamaku? Kita bisa melakukan apa pun yang kamu mau," tawar Holland.
Esther mendongakkan kepalanya, menatap Holland dengan sepasang manik yang berkaca-kaca.
"Kita bisa makan malam di restoran atau mengunjungi tempat yang kamu suka," lanjut pria itu.
Esther berusaha untuk menarik senyumnya. Namun, kala senyum terukir, air mata menetes.
Holland menyeka air mata yang menetes dengan bibirnya, mengecupnya. Kecupannya mundur menuju bibir merah muda Esther. Ditekannya secara lembut bibir Esther, ditopangnya tubuh Esther oleh kedua lengannya, lalu ciuman dibalas oleh Esther.
Ciuman keduanya terasa lembut, menggelitik kulit bibir, terasa kenyal, dan menyihir. Sebuah ciuman sederhana tersebut seakan mengisyaratkan sebuah janji. Holland tak akan menyentuh Olivia dan akan kembali pada Esther. Esther akan bersedia menunggu hingga Holland kembali padanya.
Kecupan manis tersebut lepas. Bibir Esther mengilat dan memerah, membuat Holland melayangkan kecupan singkat di sana.
"Maukah, Nona Esther?" tawar Holland kembali.
Esther mendesah kecil, kedua pipinya diwarnai merah pekat yang hampir menyaingi warna rambutnya.
"Tidak adil," balas Esther, dia membawa jemarinya untuk menekan dadanya, pada debaran jantung yang berdetak kencang, menggila, seolah terkejar. "Mengapa kamu membuatku merasa seperti ini? Mengapa kamu membuatku sedih, tetapi juga membuatku bahagia?"
Sorot Holland berubah suram sesaat, tetapi kembali melembut. "Sebab aku mencintaimu, Nona Esther." Ditangkupkannya kedua pipi Esther hingga keduanya saling berhadapan hanya dengan jarak beberapa inci. "Satu-satunya yang ada di benakku dan di hidupku hanyalah Esther seorang. Aku akan membuatmu bahagia, Esther. Mungkin tidak hari ini, tetapi suatu saat nanti. Aku janji."
Rona merah makin pekat dan sepasang manik Esther bergetar karena perasaan mendayu yang mendominasi hati.
"Aku juga mencintaimu. Mari habiskan malam di ibu kota bersama."
Holland mengecup Esther sekali lagi, lalu tenggelam dalam ciuman memabukkan kala senja telah tiba.
...***...
Sementara itu, Olivia murka. Dia menghancurkan kamar pengantin yang telah dihias oleh mawar merah dan lilin aroma.
Holland tidak kembali padanya dan meninggalkan kediaman entah pergi ke mana dengan wanita lain. Pelayannya yang mengikuti ke kediaman Floral tidak sengaja melihat keduanya berciuman di dekat labirin bunga mawar.
Olivia berteriak dan melemparkan vas bunga. Pelayan yang berdiri di samping pintu terlonjak dan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Mereka sudah tahu bagaimana ego dan kepribadian Olivia semenjak bekerja di kediaman Riquetti, tetapi sulit untuk terbiasa.
"Mencium wanita lain?!" teriak Olivia. "Dia bahkan tidak menciumku di upacara pernikahan, tapi malah mencium wanita lain di taman?!"
Olivia memang meninggalkan kesan polos dan ramah pada publik, tetapi pada saat hanya ada dirinya sendiri, perangai Olivia sangatlah buruk. Dia mudah sekali marah, egois, serakah, dan akan meraih apa pun yang dia inginkan walau dengan cara yang licik sekalipun. Olivia telah membohongi publik dan bahkan Holland dengan perangainya, tetapi Olivia telah telanjur menyukai Holland.
Kala dua pasang manik merah saling bersitatap, Olivia merasakan sesuatu melesak di dadanya. Aku menginginkan orang itu, pikirnya. Maka, Olivia akan melakukan apa pun untuk menjadikan Holland milik Olivia sepenuhnya.
Olivia sekali lagi berteriak frutrasi, melemparkan barang apa pun yang bisa diraihnya untuk meredakan amarahnya. Namun, mau sehancur apa pun kamar tersebut, emosi Olivia tak kunjung reda. Amarahnya justru makin berkobar, membara, dan melonjak.
"Cari tahu siapa wanita ****** yang sudah merebut suamiku, cepat!" teriak Olivia pada pelayan yang berdiri di samping pintu.
Pelayan tersebut tersentak sebelum menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Baik, Nyonya Olivia." Setelahnya, pelayan itu membuka pintu sambil berlari.
Olivia mengembuskan napasnya berat. Dia duduk di atas ranjang yang berantakan sambil mencengkeram rambutnya yang hitam.
"Tunggu saja," gumam Olivia. "Aku adalah Nyonya Floral sekarang! Namaku Olivia Scarlett Floral sekarang! Aku akan menghancurkan wanita bajingan itu cepat atau lambat."
...***...
Olivia adalah orang ketiga di sini. Tapi kalau di pandangan Olivia, Esther-lah yang orang ketiga. Menurut kamu, yang mana?
2 Juli 2023