
"Selamat, Tuan Holland."
Satu-satunya kalimat yang Miel ucapkan ketika Holland membuka matanya di pagi hari adalah selamat.
Holland menatap Miel dengan kerutan jelas tercetak di dahinya, manik merahnya memandang Miel jijik.
"Haduh, Tuan Holland, jangan tatap saya dengan pandangan jijik seperti itu, dong."
Miel menyerahkan wadah perak untuk Holland membasuh wajahnya dan lanjut merapikan tempat tidur Holland.
"Saya tahu segalanya dari kekasih saya," kata Miel dengan bangga. Di bibirnya tercetak senyuman menyebalkan—kalau kata Holland. "Dan jika Anda belum tahu, kekasih saya adalah Hanah."
"Oh, aku tidak mau tahu," kata Holland. "Cepat, siapkan pakaianku."
Miel membungkukkan tubuhnya sebagai pelayan yang profesional. "Akan saya siapkan pakaian yang mampu memikat Nona Esther."
Sambil berbalik untuk menyiapkan pakaian Holland, Miel mengoceh, "Akhirnya Tuan Holland tidak lagi menderita karena kesepian dan bisa mendapatkan kekasih."
Holland tidak membalas dan hanya menghela napas. Meski kesal dengan sikap Miel yang seenaknya pada Holland, Holland tahu bahwa pelayannya itu turut memikirkan masa depan Holland. Tidak seperti yang disangka orang lain, Holland menganggap Miel sebagai seorang teman dibandingkan seorang pelayan.
Mengingat bagaimana pernyataan cinta Holland pada tengah malam itu, membuat wajah Holland diinvasi oleh rona merah yang menyebar dengan begitu cepat. Musim panas yang sudah panas seakan menaikkan suhunya hingga Holland menjatuhkan tubuhnya dan kembali berbaring di ranjang.
Malu, pikirnya.
Bisa-bisanya, Duke masa depan mengakui pernyataan cintanya dengan sangat memalukan. Apalagi ketika memorinya memutar sensasi kala bibirnya mengecup Esther. Itu begitu memalukan.
"Ah! Tuan Holland! Bangunlah dan jangan kembali berbaring! Saya padahal sudah merapikan kasur Anda," omel Miel dengan bibir mengerucut.
Holland tidak mendengarkan dan sibuk menata hatinya yang berantakan. Itu benar-benar memalukan, tetapi Holland tidak menyesalinya.
Miel hanya tersenyum kecil ketika melihat sorot Holland melembut. Sebagai pelayan Holland semenjak mereka kecil, Miel bisa tahu betapa kakunya kehidupan Holland dan begitu mengekangnya setiap bait peraturan yang mengunci Holland. Akan tetapi, satu eksistensi seorang gadis mampu membuat hatinya melembut.
Sebagai teman masa kecil yang saling memedulikan satu sama lain, Miel turut bahagia.
...***...
Sarapan berakhir seperti biasanya, mengecualikan mengenai rona di pipi masing-masing kala kedua manik beradu.
Seolah kikuk, kedua pandangan yang bertabrakan kembali dipalingkan, kontras dengan detak jantung yang beradu di rongga dada.
"Apa yang harus kita lakukan kali ini, Nona Esther?" tanya Holland, memberanikan diri untuk membuka percakapan di dalam keheningan ini.
Acara minum teh setelah sarapan adalah rutinitas harian, tetapi kali ini terdapat suasana berbeda di mana dua jiwa di sana telah menjadi satu bagian.
Esther tersentak kala Holland membuka topik. Tawa kaku meluncur di bibirnya. "Ahahah, bagaimana dengan jalan-jalan di pesisir pantai, Tuan Holland?"
Holland ikut tersenyum dengan canggung. "Benar, Nona Esther. Itu adalah ide yang bagus."
Esther menegakkan tubuhnya. "Kalau begitu, aku akan mengganti pakaianku," ujarnya sebelum berlari kecil meninggalkan ruangan, diikuti oleh Hanah.
Sementara itu, Holland menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan.
"Anda sangat payah, Tuan Holland," ujar Miel, yang tak pernah meninggalkan sisi majikan yang dilayaninya.
Holland tersentak, tetapi mengangguk tanpa perlawanan. "Aku memang payah, aku tidak berguna dalam hal seperti ini, aku sangat payah."
Miel menghela napas. "Benar, mengapa Anda tidak bisa bersikap seperti biasanya sebelum Anda menyatakan cinta?"
Holland menurunkan telapak tangannya dan menatap Miel dengan tajam. "Apa kau pikir semudah itu untuk melakukannya?"
Miel mengangkat kedua bahunya dan menyeringai. "Menurut saya, sangat mudah. Anda bisa melihat bagaimana saya bersikap dengan Hanah, bukan? Kami bersikap selayaknya sepasang kekasih tanpa canggung."
Holland menggeram kesal. "Kau pikir pengalaman apa saja yang sudah kulalui mengenai wanita, hah?"
Miel tertawa kecil. "Tidak ada."
"Lihat? Jadi, harapan apa yang kau coba tumpukan padaku, Miel?"
"Benar juga," sambung Miel. "Anda sama sekali tidak memiliki pengalaman dengan wanita. Selama 21 tahun Anda hidup, Anda hanya pernah memegang tangan dari putri Duke Riquetti, itu pun hanya sebatas pasangan berdansa di pesta."
Miel turut menghela napas.
"Sudah kukatakan bukan? Meski aku memang mengetahui bagaimana kekasih seharusnya bersikap dari dalam novel, aku tetap tidak tahu bagaimana caranya di kehidupan nyata."
"Beri aku saran," gumam Holland.
"Ya?" Miel mengerjap.
Holland berdesis. Meski enggan untuk meminta saran dari pelayannya, Holland harus melakukannya.
"Bukankah kau sangat terkenal di depan wanita mana pun? Sudah berapa banyak kekasih yang kau dapatkan selama kau hidup? Beri aku saran."
"Pffftt." Miel menahan tawanya, tahu bahwa menertawakan majikannya sangatlah tidak sopan. Namun, Holland di mata Miel begitu lucu.
"Miel," geram Holland dengan wajah dingin.
Akhirnya, tawa Miel pecah. Dia bahkan memukul-mukul meja karena selera humornya begitu rendah. Sementara itu, Holland menatap Miel dengan beberapa pertimbangan seperti memecatnya atau menurunkan gajinya bulan ini.
"Maafkan saya, Tuan Holland." Miel menghapus air mata di sudut matanya dan kembali menegakkan tubuhnya. Miel berdeham sekali, lalu membuka mulut, "Menurut saya, Anda sudah melakukan segalanya dengan baik. Bukankah dengan menyatakan perasaan Anda saja, sudah merupakan langkah awal yang sangat baik? Maka, saran seperti apa yang Anda butuhkan dari saya?"
"Bukannya kau sudah melihatnya tadi? Setelah menyatakan perasaanku, suasana di antara kami berubah menjadi canggung. Aku tidak ingin hal ini terjadi."
"Ho? Jika menurut pandangan saya, wanita itu adalah makhluk yang memiliki ego yang tinggi serta mudah merasa malu. Jadi, jika Anda tidak mengambil langkah untuk pertama kalinya, maka tidak akan ada langkah selanjutnya. Hal yang harus Anda lakukan itu mudah, Tuan Holland."
Holland menatap manik Miel dengan saksama, enggan salah dengar mengenai beberapa patah kata yang keluar dari bibirnya.
"Apa yang hati Anda inginkan?"
"Eh?"
"Apa yang ingin Anda lakukan bersama Nona Esther?"
Holland mengerutkan dahi.
"Kalimat apa saja yang ingin Anda ucapkan pada Nona Esther?"
Holland menggigit bibirnya. Merasa pelik dengan perasaannya sendiri.
"Saya yakin Anda tahu jawabannya, Tuan Holland."
"Aku ... Aku ingin terus bersama dengan Nona Esther, aku ingin berada di sampingnya, mengobrol mengenai apa yang kami sukai."
Miel menganggukkan kepalanya.
"Aku juga ingin menyentuhnya, aku ingin menggenggam jemarinya yang hangat dan cantik, aku ingin memeluk tubuhnya dan berbagi kehangatan, aku ingin menciumnya."
Miel menarik kedua sudut bibirnya menjadi sebuah senyuman menenangkan. "Anda tahu jawabannya, bukan? Maka tidak apa-apa, lakukan apa yang ingin Anda lakukan. Namun, jangan lupa untuk meminta izin terlebih dahulu dari Nona Esther untuk sentuhan fisik yang lebih intim."
"Namun, bagaimana jika Nona Esther tidak menyukainya?"
"Apa maksud Anda, Tuan Holland? Bukankah ciuman pertama Anda berdua di bawah purnama begitu spektakuler? Apa yang membuat Anda berpikiran bahwa Nona Esther tidak menyukainya?"
"Hanya saja ..., aku belum meminta pendapat Nona Esther mengenai ciuman pertama kami, dan aku merasa bersalah karena langsung menciumnya tanpa izin."
"Kalau begitu, tanyakan pada Nona Esther, Tuan Holland. Jika Nona Esther juga turut memiliki perasaan yang serupa dengan Anda, maka Anda tidak perlu kebingungan lagi. Wanita hanya ingin pria yang mengambil langkah dan inisiatif untuk pertama kalinya. Jika Anda sudah mengambil langkah awal dan Nona Esther tidak menolak, maka tidak apa-apa, Tuan Holland. Bahkan saya merasa bahwa hubungan ini akan berjalan dengan sangat baik."
Holland menatap cangkir teh di mana tehnya telah dingin. Perasaannya pelik oleh berbagai emosi yang tercurah. Segalanya begitu membingungkan, tetapi Holland pun menikmatinya.
Holland mengingat-ingat bagaimana perasaannya kala mengecup bibir merah mesra itu. Bahagia, senang, gembira. Emosi-emosi itu bukanlah emosi yang bisa dirasakan oleh Holland dengan begitu mudah. Sebab, sebagai penerus Duke, Holland tak bisa sembarangan menunjukkan emosinya. Maka dari itu, untuk merasakan emosi yang cukup asing di balik rongga dadanya, membuat Holland merasa nyaman.
"Ayo, Tuan Holland," ajak Miel, memutus lamunan Holland.
"Ke mana?"
"Ke kamar Anda. Saya akan merias Anda sehingga Nona Esther akan sangat terpukau dan merasa beruntung memiliki Anda sebagai calon suaminya."
Miel merencanakan hal-hal yang membuat senyuman merekah di bibirnya.
Sementara itu, Holland menghela napas. "Penuhi permintaanku yang ini dulu."
...***...
Aku suka karakter Miel yang sedikit kurang ajar di sini, wkwk. Menandakan banget kalau Holland dan Miel dekat, iya, nggak?
2 Juli 2023