
Miel sedikit terkejut ketika menemui Esther di ruang tamu kediaman Floral.
"Nona Esther, mengapa Anda ada di sini?" tanya Miel sambil mendekati Esther.
Untung saja karena Hanah adalah kekasihnya, Miel bisa memperlakukan Esther secara santai juga.
Esther meletakkan cangkir teh yang baru saja disajikan oleh pelayan. Mereka juga cukup menyukai Esther karena tingkah lakunya yang lemah lembut dan ramah, berbeda dengan nyonya Floral yang mereka layani.
"Oh? Bukankah Holland memintaku untuk datang?" tanya Esther sambil sedikit menyipitkan kedua mata.
"Tuan Holland?"
"Ya, lihatlah," balas Esther, lalu mengeluarkan secarik kertas dari saku gaunnya. Itu adalah sebuah surat dengan jenis kertas yang selalu digunakan Holland kala bertukar surat dengan Esther.
Meskipun Miel dekat dengan Holland, membaca surat tuannya merupakan hal yang lancang.
"Tidak perlu, Nona Esther. Tidak akan sopan," balas Miel sangsi.
"Namun, Tuan Holland sedang tidak berada di kediaman saat ini, Nona Esther."
"Ya, aku juga sudah mendengarnya dari pelayan. Aneh sekali, bukan? Dia memintaku untuk datang, tapi dia malah menghadiri rapat bangsawan. Mau tidak mau, aku akan menunggu."
"Tuan akan selesai rapat pukul empat sore, Nona Esther."
"Kalau begitu, aku akan menunggu."
Miel menunduk santun. "Baiklah, kalau begitu. Saya memiliki pekerjaan yang ditinggalkan Tuan Holland, jadi saya tidak bisa menemani Anda di sini."
"Bukan masalah, Miel. Lakukan pekerjaanmu supaya gajimu tidak dipotong."
Miel terkekeh kecil. Dibandingkan memotong gaji, Miel selalu meminta kenaikan gaji, dan Holland anehnya sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut hingga gajinya setiap bulan kian meningkat.
"Kalau begitu, saya undur diri, Nona Esther."
"Ya." Esther melayangkan senyuman lembut pada Miel yang mengundurkan dirinya dari ruang tamu.
Esther tidak terlalu bosan ketika menunggu Holland, sebab para pelayan di kediaman bersikap ramah padanya, mereka bercengkerama dengan ringan. Esther pula tidak masalah dengan status sosial para pelayan, hingga percakapan yang menyenangkan kian mengalir. Kini, para pelayan bahkan menyukai Esther dengan cepat dan selalu mengatakan candaan bahwa Esther harus cepat-cepat menikahi Holland supaya mereka bisa melayani Esther.
"Kalau itu ...." Esther kesulitan mencari kata-kata untuk menjawab pertanyaan tersebut. Esther juga merasa tidak nyaman akan pertanyaan sensitif itu.
"Wah, lihatlah siapa di sini?"
"Ah, Nyonya Olivia." Para pelayan tersentak kaget dan langsung menegapkan postur tubuh mereka, tak mau kelihatan sedang bersantai pada jam kerja.
"Nyonya Olivia," sapa Esther seiringan dengannya yang menegakkan tubuhnya, lalu menghampiri Olivia. "Sudah lama semenjak kita bertemu."
Olivia memamerkan senyuman lebarnya. "Ya, Nona Esther. Sudah lama sekali semenjak kita bertemu. Bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik, Nyonya Olivia. Terima kasih telah bertanya."
Olivia bertukar basa-basi singkat dengan senyuman lebar di wajahnya, bahkan tertawa sesekali. "Nona Esther begitu menarik. Bagaimana jika kita mengobrol lebih lanjut? Suamiku akan datang terlambat, hingga kita memiliki banyak waktu untuk berbincang."
Esther sebenarnya tidak menyukai ide di mana dia dan Olivia berbincang berdua saja, tetapi menolak tawaran seorang bangsawan, terlebih dari bangsawan yang memiliki kasta yang lebih tinggi darinya, merupakan tindakan yang tidak sopan.
"Baiklah, Nyonya Olivia. Aku merasa terhormat bisa menghabiskan waktu bersama Nyonya Olivia."
"Bagus! Kalau begitu, ayo ke kamarku! Aku akan menyeduh teh sendiri di kamarku."
"Baiklah, kalau begitu."
Esther mengikuti Olivia di belakangnya, wajah Esther menunjukkan bahwa dia kerepotan jika harus berada di dalam sebuah ruangan berduaan dengan perebut kekasihnya. Untung saja, Olivia yang berjalan di depan Esther tak bisa melihat ekspresi yang ditampilkan wanita pemilik helaian merah pekat tersebut.
Olivia kemudian menunjuk sebuah kamar dan membuka pintunya. "Nona Esther, ini kamarku."
Ketika Esther memasuki kamar Olivia, ruangan tersebut meninggalkan kesan yang nyaman untuk ditinggali. Dekorasi kamarnya mewah, tetapi perabotan di dalam ruangan adalah benda yang standar. Dindingnya dicat putih, sementara itu ukiran emas yang klasik begitu menarik atensi. Selera Olivia tidak terlalu buruk.
"Kamar yang indah, Nyonya Olivia," puji Esther dengan tulus. Sebuah kamar yang nyaman ini mampu membangkitkan keinginan Esther untuk kembali menulis novelnya, bahkan Esther tak akan ragu jika dia akan menghabiskan harinya di dalam ruangan ini.
"Terima kasih." Olivia tersenyum sembari menutup pintu kamarnya. "Syukurlah jika kamarku merupakan tempat yang indah untukmu, Nona Esther."
Esther memutar tubuhnya, hendak mengirim pujian tulus lainnya, tetapi malah merasakan nyeri di bagian dada kirinya. Kala menundukkan kepalanya, Esther melihat belati perak tertancap di dadanya, dengan Olivia yang mencengkeram gagangnya dengan erat.
Olivia menarik belati, membuat darah terciprat ke mana-mana, bahkan melumuri wajah Olivia, di mana bibir yang seharusnya memancarkan senyuman lembut itu malah berbalik menjadi seringai gila.
Tubuh Esther terhuyung, lalu jatuh di atas ranjang. "O-Olivia ..., mengapa?"
Olivia menghampiri tubuh Esther yang terbaring di atas ranjang. Darahnya mengalir deras dari luka tusuknya, mengotori ranjang bersprai putih menjadi merah.
Olivia menyukainya kala warna darah dan helaian rambut milik Esther seakan menyatu, memberikan kesan bahwa Esther tenggelam dalam helaiannya yang lembut.
Olivia menyeringai. "Ada kata-kata terakhir, Esther?"
...***...
"Tuan Holland, mengapa terlambat datang?" omel Miel ketika Holland menjejakkan kakinya di dalam kediaman. "Anda mengatakan bahwa rapat akan berakhir pukul empat, sekarang sudah hampir pukul lima!"
Holland mendorong tubuh Miel yang menghalangi langkahnya, lalu berjalan dengan perlahan. Rapat dengan para bangsawan tak pernah diremehkan oleh Holland semenjak dia mendapat gelar Duke. Sebab, di kesempatan inilah Holland berusaha untuk menaikkan status sosialnya untuk diakui oleh orang-orang di sekitarnya. Meskipun rapat selalu berakhir dengan kelelahan jiwa dan batinnya.
"Siapkan air hangat, Miel, aku rasa tubuhku lengket," kata Holland.
"Siapkan air hangat?" Miel mengerutkan dahinya. "Apakah Anda tidak melupakan sesuatu?"
"Melupakan apa? Aku tidak melupakan apa pun."
Miel menepuk dahinya. Apakah karena kelelahan rapat, Holland jadi pikun?
"Itu Nona Esther! Anda meminta Nona Esther untuk datang kemari, bukan? Bagaimana mungkin Anda membuat seorang lady menunggu Anda seperti ini!"
Holland menghentikan langkahnya, membuat Miel juga berhenti.
"Anda sudah ingat, hm?"
"Sejak kapan aku mengundang Esther kemari?"
Pertanyaan Holland memicu tanda tanya si benak Miel. "Bukankah Anda mengirim surat pada Nona Esther yang meminta beliau untuk datang?"
"Tidak," balas Holland, nadanya sedikit panik. "Aku tidak meminta Esther untuk datang. Lalu, di mana Esther sekarang?"
Miel juga sedikit merasa panik, terlebih kala jawaban yang meluncur dari bibirnya membuat Holland langsung berlari secepat mungkin, nyaris gila-gilaan, mengabaikan fakta bahwa tubuhnya letih setelah rapat bangsawan digelar.
"Nyonya Olivia sedang berbincang dengan Nona Esther di kamarnya."
...***...
Holland merasa hatinya mencelos kala membuka pintu kamar Olivia dengan kasar. Napasnya yang memburu telah membuktikan bahwa Holland berlari tanpa jeda menuju kamar Olivia di lantai tiga.
"Holland!"
Kedua mata Holland bahkan melebar kala melihat bercak darah yang mengering di wajah Olivia, hingga memberikan kesan menyeramkan pada wanita itu.
Akan tetapi, bukan itu saja yang membuat Holland merasa bahwa degup jantungnya telah kehilangan detaknya, tetapi kala sepasang maniknya yang merah menyapu ruangan, dia menemukan sesosok wanita yang terbaring di atas ranjang, tenggelam dalam genangan darahnya sendiri.
Memaksakan tubuhnya yang lemas, Holland menghampiri ranjang. Olivia pun melakukan hal yang sama, bahkan duduk di samping tubuh Esther.
"Menakjubkan, bukan, Holland?" kekeh Olivia. "Wanita ini tenggelam dalam darahnya sendiri, seolah helaian rambutnya yang memiliki warna senada dengan darahnya telah berupaya untuk menjeratnya hingga mati."
Jemari Holland yang bergetar naik, berusaha untuk mengelus pipi tebercak darah yang mulai mendingin. Kala telapak tangannya bersentuhan dengan pipi yang halus, hati Holland tenggelam, kelam, dunia terasa hampa dan kosong.
Tubuh Esther mulai mendingin, esensi kehidupan yang biasanya terasa hangat kini benar-benar lenyap. Sepasang lentera di balik kedua maniknya yang emas turut terhapus, menyisakan kekelaman yang nyata. Bola mata Holland bergulir, menatap helaian merah yang warnanya begitu senada dengan darah yang mengering, hingga Holland tak bisa membedakan apakah itu warna rambutnya apakah genangan darah.
Jemari Holland bergerak, menyentuh bibir yang Holland sukai, di mana kala kecupan kecil mendarat di sana, rona merah Esther yang manis akan menyebar di kedua pipinya, membuat wanita itu tampak mirip dengan sang malaikat yang menawan.
Pandangan Holland terhadap wajah cantik Esther memburam. Kelopak matanya begitu berat, dan kala berkedip, air mata mulai menetes dengan deras. Tetesannya membasahi gaun mewah Esther, gaun yang dipilih secara khusus karena Holland mengundangnya kemari.
Kedua mata Holland melebar. Benar, mengundang Esther! Holland bukanlah orang yang mengirim surat, maka jawabannya hanyalah satu. Ditiliknya sesosok wanita yang duduk di samping tubuh Esther, gaun beserta kulitnya dilumuri darah dari orang yang Holland kasihi, membuat wanita itu terlihat menyeramkan dengan seringaian gila yang menetap di bibirnya.
Dengan gerakan yang cepat, Holland menarik pakaian Olivia secara kasar, nyaris mencekiknya hingga napas Olivia bahkan kedengarannya tercekat. Akan tetapi, meski napas yang ditarik hanya pendek-pendek, Olivia berusaha untuk tertawa.
"Kau! Olivia, kau!" Holland ingin mengucapkan banyak hal pada Olivia, tetapi segalanya tertahan di tenggorokannya. Setiap kalimat yang hendak diutarakannya tertelan kembali akan rasa pedih yang menyerbu.
Olivia tersenyum lebar meski pakaian yang ditarik oleh Holland mencekik lehernya. Jemari Olivia naik dengan gemetar, tetapi di antara jemari itu terselip sebuah surat.
Secarik kertas yang biasa digunakan oleh Holland untuk mengirim surat pada Esther, bahkan setiap abjadnya nyaris mirip dengan gaya tulisan Holland.
"Cukup mudah meniru tulisanmu, Holland," ucap Olivia.
Holland mendorong tubuh Olivia dengan kasar. Tiba-tiba merasa muak menghadapi wanita ini, hingga tiba sebuah perasaan yang menelusup, suara yang membisikinya, sebuah intensi kuat untuk melenyapkan Olivia lalu membunuh dirinya sendiri.
Sudut matanya bisa menangkap sebuah belati yang dipenuhi darah, hampir mengering, hingga belati berbahan perak tak lagi menunjukkan peraknya, tetapi merah kecokelatan.
Diambilnya belati yang bersanding dengan tubuh Esther, digenggamnya sebuah belati dengan erat walau jemarinya bergetar hebat.
Olivia terkekeh, seakan telah menantikan situasi ini semenjak lama. Bibirnya yang tertarik dalam sebuah seringai terbuka, "Bunuhlah aku, Holland!"
Tubuh Olivia didorong secara keras ke lantai marmer yang dingin, lalu Holland bersiap untuk menancapkan sebuah belati di dada kiri wanita itu.
"Hanya saja, kamu tidak boleh membunuh dirimu sendiri," balas Olivia sambil membelai pipi Holland dengan lembut. "Sebab, orang yang kamu cintai telah mengutukmu, Holland." Jeda karena Olivia tertawa keras. "Wanita ****** itu mengutukmu dengan telak, kutukan yang tak akan bisa kamu lupakan seumur hidupmu, yaitu 'hiduplah'. Wanita ****** itu memintamu untuk hidup di saat-saat terakhirnya! Bahkan memikirkanmu di sela-sela kematiannya, berpikir apakah kamu akan hidup esoknya atau memilih menyusulnya! Maka dari itu, dia memintamu untuk hidup!"
Olivia tertawa keras hingga tubuhnya bergetar.
Sementara itu, jemari Holland terkepal erat di sekeliling belati. Tangannya yang masih melayang di udara bergetar hebat, tetapi Holland tak mampu melayangkan sebuah tusukan. Holland tak memiliki keberanian untuk melakukannya. Holland adalah seorang pengecut.
Olivia menggunakan kesempatan tersebut untuk menelusupi jemari Holland, mengambil alih belati dari tangan suaminya, dan menegakkan tubuhnya.
"Holland, suamiku. Apakah kamu tidak penasaran mengapa aku membunuh wanita ****** ini?" tanya Olivia dengan senyum di bibirnya.
Holland tak mampu bergerak, setiap ototnya menyerah untuk berjuang. Hanya dengan melihat sesosok wanita yang dikasihinya telah terbaring tak berdaya dengan jiwanya yang telah lenyap, begitu memukul hati Holland dengan telak. Terlebih, baru kali pertama ini Holland menangis tersedu-sedu hingga napas yang ditarik terasa sesak, dada terasa mati, bahkan pendengarannya memudar.
Olivia mendekati tubuh Esther, membelai lengan wanita itu, dan menikam dada Esther dengan belati di tangannya. Darah yang seharusnya telah membeku kembali terciprat, mengotori wajah Olivia lagi.
Holland berteriak, tetapi suaranya tercekat, nyaris habis. Meski melihat bahwa Olivia melayangkan tikaman pada Esther, tubuh Holland tak bisa bergerak, kaku, nyaris disebabkan rasa putus asa dan sebuah derita yang begitu mendominasinya.
"Jika aku tidak bisa memilikimu, maka dia juga tidak bisa memilikimu!" teriak Esther seraya kembali mendaratkan sebuah tikaman. "Jika Demian tidak bisa menjadi penerusmu, maka anak dari ****** ini juga tidak akan bisa!"
Holland berusaha agar tubuhnya tak goyah dan menarik tubuh Olivia dengan sekali hentakan. Tamparan keras dilayangkan oleh Holland pada Olivia. Suaranya yang nyaring bergema, bahkan sudut bibir wanita itu terluka dibuatnya.
"Hentikan, Olivia," isak Holland, kedua matanya tak dapat berhenti meneteskan air mata. Membuat seorang pria berkepribadian dingin itu rupanya masih menyimpan hati nurani pada sang kekasih. "Mengapa kamu begitu terobsesi pada atensiku? Mengapa? Mengapa? Mengapa?! Apakah kata-kataku tidak pernah masuk ke dalam otakmu itu?! Di mana letak dari kalimat yang tidak kau pahami, Olivia?! Aku tidak menyukaimu! Bukankah kalimat itu bisa kau pahami?!"
Suara Holland tercekat oleh isakan yang lolos dari bibirnya. Dia mencengkeram kedua bahu Olivia dengan erat, lalu menunjukkan sorot paling putus asa yang pernah dia buat.
"Mengapa kau terus menghancurkan hidupku?" lanjut Holland, tubuhnya bergetar hebat. "Apakah kau akan puas jika aku turut lenyap?"
...***...
Sebagai seorang penulis yang terkenal, Astoria banyak menyumbangkan ilmu pengetahuan sastra dan bahasa di akademi, sehingga jasa Astoria tak terhitung jumlahnya. Terlebih, nama pena Astoria telah membuat banyak orang tenggelam dalam novel-novelnya yang mengandung makna kehidupan, romansa, serta pertemanan yang kuat.
Kematian Astoria yang tiba-tiba membuat seluruh Teratia berkabung. Rupanya, meski Olivia telah melakukan hal yang menyeramkan berupa pembunuhan, Riquetti masih menutupi kenyataan tersebut dan hanya menyebarkan rumor bahwa Esther meninggal karena sakit parah.
Riquetti memiliki pengaruh yang kuat di Kerajaan Teratia hingga tak akan ada yang menentang apa pun yang diucapkan oleh Riquetti. Sekalipun itu merupakan sebuah kebohongan yang menipu.
"Anda tidak akan mengunjungi Descartez, Tuan Holland?" tanya Miel, seragam pelayannya telah diganti dengan pakaian bernuansa hitam polos, menandakan bahwa dia turut berduka.
Holland pula mengenakan pakaian yang sama. Sebuah setelan yang lebih sederhana dibandingkan dengan pakaian kesehariannya, dengan warna hitam yang begitu kontras dengan rambut emas sang pemilik.
"Tidak," gumam Holland dengan nada kosong. Sepasang manik merah yang kelam hanya menatap satu titik lewat jendela ruang kerjanya, tak mengalihkan pandangannya walau satu detik.
"Mengapa, Tuan Holland?" Miel melangkah mendekat. "Jika Anda hanya berdiam diri di sini, mungkin mendiang Nona Esther akan sedih karena Anda tak ada di saat terakhirnya."
Napas Holland tersekat. Tiba-tiba saja, visinya kembali memburam dan tetesan air mata luruh dengan sendirinya.
"Miel." Bahkan suara Holland terdengar pecah. "Apa yang harus aku lakukan selanjutnya?"
"Tuan Holland, Anda harus hidup."
Miel tersentak kala Holland menoleh untuk menatapnya. Air mata yang menetes di pipi tuannya terasa begitu asing. Holland yang Miel kenali sebagai sosok yang kuat, untuk pertama kalinya menunjukkan sisi lemahnya. Bahkan kala Holland harus menjalani pendidikan ketat di usia belia, Holland tak pernah menunjukkan kelemahannya. Namun di sini, tangis pria itu terasa membekukan waktu, membuat dada nyeri tak dikira.
"Miel, apakah tidak apa-apa jika aku hidup?"
Miel tak bisa tahan dengan mendengar nada getar yang pecah dalam suara Holland.
"Apakah aku tidak merenggut kesempatan Esther untuk hidup? Jika aku tidak mengejar cintanya, Esther akan tetap hidup, dia tidak akan menghadapi takdir yang malang."
Miel mendekati Holland, lalu memeluknya. Miel menepuk punggung Holland, membiarkan tuannya, tidak, temannya semenjak kecil untuk meluruhkan emosi yang menyengsarakannya.
"Jika saja aku tidak bertemu dengannya, baik aku atau Esther tak akan begitu menderita. Esther layak untuk hidup. Dia terlalu manis untuk mendekam di dalam peti mati. Aku telah merenggut kehidupan Esther, aku telah menghancurkannya."
Miel mendengarkan setiap kata yang tertelan dalam isakan pedih dengan saksama, tak melewatkan satu huruf pun. Rekannya tengah berduka dengan begitu hebat, Miel pun merasa bersalah karena membiarkan Esther terjebak dengan Olivia.
"Namun, Holland," panggil Miel dengan lembut, memanggil nama pria itu selayaknya hubungan mereka sebagai teman baik, dan bukan majikan serta pelayan. "Nona Esther memintamu untuk tetap hidup. Dengan permintaan tersebut saja, sudah jelas bahwa kamu tidak merenggut kehidupan Nona Esther. Nona Esther pasti ikhlas dengan takdirnya, dengan benang takdir yang menuntunnya padamu, membuat Nona Esther merasakan kebahagiaan yang tak tertandingi. Maka, tidak ada yang perlu disesali. Kamu layak hidup."
Miel menunggu Holland hingga pria itu merasa tenang, lalu melepas pelukan. Miel tak lupa untuk menyerahkan saputangannya pada Holland agar pria itu bisa menyeka air mata yang menetes.
"Kalau begitu, mari kunjungi Nona Esther."
Holland pun pada akhirnya mengunjungi kediaman Descartez yang terasa kelam. Isak tangis terdengar di setiap sudut, ucapan bela sungkawa diucapkan di mana-mana.
Holland tak memedulikan bangsawan lain yang turut berduka, langkahnya hanya membawanya menuju peti mati bercat putih sesaat setelah Holland menjejakkan kaki di pekarangan kediaman Descartez.
Di dalam sebuah peti mati berbahan beludru yang mahal, seorang wanita rupawan tertidur. Rambutnya yang semerah darah begitu bersinar, tetapi kedua kelopak mata yang menampilkan lentera emas tak lagi terbuka. Napas yang diembuskan kini lenyap, esensi kehidupan turut lepas, bahkan perasaan membeku kala kulit disentuh telah menyadarkan Holland bahwa wanita yang dikasihinya telah berpulang.
Holland kembali menangis dengan tersedu. Dihadapkan pada sesosok wanita yang dicintainya, tetapi dalam situasi yang berbeda, membuat hati Holland pedih tak dikira.
Dengan jemari yang bergetar, dibelainya pipi halus nan pucat tersebut. "Esther-ku, wanita yang aku cintai, mengapa kamu memintaku untuk hidup? Mengapa kamu mengutukku sedemikian rupa? Bukankah dengan aku yang menyusulmu ke sana, merupakan ide yang baik?" Suara Holland tersendat karena isakannya, membuat setiap kata terdengar kurang jelas.
"Esther, Sayang, aku mencintaimu," sambung Holland. "Meskipun kehadiranmu tidak lagi di sisiku, aku akan menyimpanmu di dalam memoriku. Terima kasih telah berdiri di sampingku. Maafkan aku tidak bisa memenuhi janji untuk saling bersanding. Aku begitu mencintaimu hingga rasanya pedih, seolah aku tenggelam dalam sebuah penderitaan."
Holland menangis tersedu di hadapan peti mati, bahkan tak bisa berhenti meneteskan air mata kala peti mati hendak dikuburkan, meninggalkan nisan marmer yang terukir nama yang cantik.
Beristirahatlah dengan tenang,
Esther Viseria Descartez
...***...
"Selamat ulang tahun, Tuan Muda Demian."
Demian tersenyum. "Terima kasih banyak. Namun, suasananya tak cocok untuk merayakan hari ulang tahun."
Para pelayan juga turut bersedih kala mendengar berita kepulangan Esther. Bukankah mereka baru saja akrab, lantas mengapa Tuhan menarik jiwa Esther begitu cepat?
"Maafkan kami, Tuan Muda. Padahal kami sudah merencanakan pesta ulang tahun."
Demian menepuk setelan bernuansa hitam miliknya, lalu tersenyum kecil. "Tidak apa-apa, tahun depan masih ada ulang tahunku, hari ini mari kita berduka."
...***...
Meskipun terasa begitu berat dalam menjalani kehidupan tanpa Esther di sela-sela detiknya, Holland tetap bertahan. Esther meminta Holland untuk hidup, maka Holland akan memenuhi permintaan tersebut.
Selama satu bulan terakhir, Holland berusaha untuk memfokuskan pikirannya pada pekerjaan, menyibukkan diri agar benaknya tak diambil alih oleh memori yang menyedihkan, hingga kala waktu bekerja telah berakhir, Holland kembali ke kamarnya, hanya disambut oleh kesunyian yang menerpa.
Sunyi sekali. Pikirannya yang kosong kembali terisi oleh sesosok wanita yang begitu memukau dengan senyumannya yang menentramkan hati. Holland seakan melihat seorang malaikat yang menawan, membuat Holland tertawan. Tawanya yang menggema begitu lembut, sorot matanya yang istimewa tak pernah lekang dalam memori.
Holland frustrasi, dia tidak bisa terus tenggelam di dalam danau yang sama, danau yang menariknya untuk menderita, sebuah penderitaan tanpa ujung. Akan tetapi, mau menolak ribuan kali pun, memori yang sama akan terus menghampiri.
Pada akhirnya, Holland menumpukan hidupnya pada alkohol agar pria itu bisa tertidur dan bertahan hidup.
Holland mengambil botol alkohol koleksinya di dalam lemari kaca serta mengambil sebuah gelas, dan menuangkan anggur ke dalam gelas. Kala cairan memabukkan tersebut diteguk, Holland bisa merasakan sedikit ketenangan. Akan tetapi, sedikit itu tak cukup. Hollan terus menuangkan banyak alkohol dan meneguknya dengan cepat.
Dua botol alkohol telah habis diteguk, tetapi pikirannya masih bisa mencetak jelas sosok itu meskipun pandangannya telah berkunang-kunang.
"Ini menyebalkan," gumam Holland sambil mengacak rambut emasnya dengan kasar. Dia meneguk alkohol lainnya dan tertidur di atas meja.
***
Kala terbangun, visinya belum jelas, dan kepalanya masih berdenyut nyeri akan pengaruh alkohol, tetapi dia bisa merasakan lengannya disentuh dengan lembut.
Holland menegakkan tubuhnya dan berusaha memfokuskan pandang pada sosok yang memeluk tubuhnya. Akan tetapi, mau menyipitkan kedua matanya berkali-kali pun, sosok wanita itu tidaklah jelas dalam visinya.
"Holland? Kamu sudah bangun?"
Bahkan suaranya terdengar samar, tetapi memberikan kesan hangat yang nyata.
"Esther?"
Tanpa sadar, bibirnya menggumamkan sebuah nama yang dirindukannya.
Jeda singkat sebelum suara yang hangat kembali menggema. "Ya, Holland. Aku adalah Esther."
Holland terlonjak dalam sebuah kebahagiaan dan memeluk tubuh wanita itu. "Kamu adalah Esther! Katakan padaku bahwa kamu bukanlah mimpi."
Wanita di pelukan Holland menenggelamkan wajahnya di dada Holland. "Aku bukanlah mimpi, aku adalah kenyataan."
Dikuasai oleh rasa gembira, Holland mengangkat dagu sang malaikatnya dan mencium bibirnya dengan sedikit liar. Holland menekan wanita itu hingga hanya lenguhan ringan yang terdengar.
Holland merengkuh wanita itu hingga bisa merasakan suhu tubuh yang hangat darinya, menyatu dengan Holland. Rengkuhan Holland begitu erat, seakan menyiratkan bahwa pria itu tak akan melepas Esther lagi untuk seumur hidupnya. Bahkan jika Esther lari dari sisinya, Holland akan mengejar wanita itu hingga keduanya akhirnya bisa hidup dengan bahagia.
Ciuman intens keduanya tetap berlanjut, menunjukkan hasrat masing-masing, bahkan saling membalas dengan antusias.
Tubuh Esther diangkat dengan sekali gerakan oleh Holland, lalu dibawanya wanita—yang bahkan tak dapat Holland lihat secara jelas wajahnya, di mana Esther hanya mengakui bahwa dirinya adalah orang yang dikasihi Holland, menuju tempat tidurnya.
Ciuman lain Holland berikan pada wanita itu, dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, menandakan betapa besarnya cinta yang membara di dadanya, tetapi juga betapa besarnya lubang yang menganga akibat luka yang parah.
Sekali lagi, Olivia memenangkan malam lainnya bersama Holland.
***
Sepuluh bulan telah berlalu semenjak insiden sebuah malam di mana Holland salah mengenali Olivia sebagai Esther. Rasa putus asanya membawa Holland pada kesalahan yang nyata.
Kini, Olivia telah lenyap dari kehidupan Holland dengan sepenuhnya setelah meninggalkan seorang putri yang memiliki wajah identik dengannya.
Olivia meninggal pasca kelahiran karena pendarahan hebat. Dokter tak bisa lagi menolong nyawa Olivia dan berakhir dengan kematian. Akan tetapi, di balik sebuah jiwa yang berpulang, sebuah jiwa yang baru hadir di dalam sebuah kehidupan.
Dengan rambutnya yang hitam kelam dan kala membuka matanya, manik semerah darah yang sedikit terang bertatakan di sana. Begitu cantik, begitu memukaunya, tetapi begitu menyiksa bagi Holland.
Pria itu telah ditinggalkan oleh wanita yang dia kasihi, lalu melampiaskan rasa putus asanya pada istri yang tidak dia kasihi. Istri yang telah menipunya tersebut mati, meninggalkan kedua iblis kecil yang akan menjerat Holland dengan erat. Meninggalkan sebuah tanggung jawab besar di mana dia perlu berperan sebagai seorang ayah bagi anak-anak yang tak dia harapkan kehadirannya.
"Tuan Duke, akan diberi nama siapa Nona Muda ini?" tanya pelayan yang kini bertugas untuk menjadi ibu asuh bayi berusia satu bulan tersebut.
Holland yang ditahan di lorong oleh seorang pelayan hanya berdecak. "Apa saja," katanya, lalu melewati tubuh pelayan itu.
Rekan kerjanya hanya menghela napas. "Inilah sebabnya kita harus mencari suami yang baik hati dan mencintai kita. Jika tidak, nasib kita akan malang seperti mendiang Nyonya Floral."
Pelayan yang menggendong putri dari Floral menggelengkan kepalanya. "Jaga bicaramu di sini, jika Tuan Duke mendengarnya, kamu bisa dipecat."
Setelah menghela napas, kedua pelayan itu akhir kembali ke kamar yang sudah disiapkan untuk nona muda mereka.
"Padahal kita sudah menunggu Tuan Duke di lorong selama berhari-hari untuk menanyakan nama Nona Muda," keluh si pelayan.
Pelayan yang menggendong nona mudanya hanya menimang sang bayi agar tidak terbangun dan menangis.
"Bukankah kita bisa menamai Nona Muda? Ini merupakan sebuah anugerah!"
"Kamu benar! Nama Nona Muda akan abadi, dan kitalah yang memberikannya nama!"
Setelah memakan waktu yang lama, kedua pelayan akhirnya memutuskan nama untuk nona muda Floral.
Helia Scarlett Floral.
Kala pelayan melihat bola mata Helia yang merah, membuat mereka mengingat matahari yang terbit. Makna dari nama Helia sendiri adalah matahari. Nama tersebut diberikan dengan harapan bahwa Helia akan terus membawa hari yang baru dengan matahari yang bersinar cerah, yakni kebahagiaan baru.
...***...
Holland menghentikan langkahnya setelah memasuki kediaman Floral lebih dalam lagi. Tak banyak yang tahu mengenai potret yang terpajang di sudut kediaman Floral. Sebuah potret seorang malaikat yang cantik, dengan senyuman yang menawan hingga membuat siapa pun akan merasa terkesima.
Sebuah potret yang dilukis hampir tujuh tahun yang lalu di sebuah musim panas kala Holland untuk pertama kalinya mengalami perasaan menyenangkan yang membuatnya kecanduan.
Selama sepuluh bulan terakhir, Holland telah mendapat pengaruh yang cukup sebagai seorang Duke Floral, hingga tiba waktunya untuk melepaskan diri dari Riquetti. Di saat yang sama pula, Olivia meninggal hingga Holland tak perlu repot-repot menceraikan Olivia.
Akan tetapi, Holland sudah memastikan bahwa kekuatannya telah menumpas Riquetti. Holland tak ingin menghancurkan rumah tangga Riquetti yang telah membantunya, tetapi keluarga tersebut telah menghancurkan kehidupannya, bahkan menutupi kebenaran dari kematian Esther. Maka dari itu, Holland benar-benar menghancurkan Riquetti hingga tak akan ada orang yang segan untuk mengucapkan nama keluarga tersebut, bahkan nama itu telah lenyap, bagian kekuasaannya ditarik oleh kerajaan, dan nama Riquetti seolah tak pernah hadir menjadi kekuatan yang paling berpengaruh di Kerajaan Teratia.
Holland sekali lagi menenggelamkan diri di dalam sepasang manik serupa lentera emas dalam kanvas lukis.
"Esther, jika aku tidak mengejar cintamu, apakah kamu akan tetap mengutukku seperti ini?" gumam Holland sambil membelai kanvas lukis yang terpotret sosok Esther di sana. "Jika saja kita tidak berjumpa ...." Jeda. "Tidak, aku tidak menyesal karena telah mencintaimu, Esther. Mencintaimu memang menyenangkan, tetapi sebuah candu yang begitu menyakitkan."
Holland tersenyum nanar sembari menatap lekat potret sang malaikat yang telah dicintainya.
Rasa cinta Holland terhadap Esther memang begitu menyakitkan, hingga Holland bahkan seringkali berpikir bahwa dia tak lagi sanggup untuk menjalankan kehidupan. Akan tetapi, kutukan abadi akan terus menghantuinya, membisikkan kata demi kata yang meminta Holland untuk hidup.
Kutukan kepedihan yang akan senantiasa meminta Holland untuk terus hidup supaya merasa tersiksa, supaya bayang akan tragedi masa lalu tak akan pernah lenyap, berniat untuk menetap di balik memori Holland agar pria itu menderita.
...TAMAT...
Luna di sini, terima kasih sudah menghabiskan waktu berharga kalian dengan menamatkan Summer is for Falling in Love! Aku senang kalau pembaca sekalian menikmati kisah ini. Jika tidak keberatan, silakan ikuti akunku, dan jelajahi ceritaku yang lain untuk tenggelam bersama Luna. Sampai jumpa di karya selanjutnya ❤️