
Entah mengapa, Holland dan Esther melakukan liburan bersama. Seolah-olah, keduanya datang berdua untuk rencana liburan yang sudah direncanakan jauh-jauh hari.
Miel tersenyum puas pada tuan mudanya yang sudah dia layani sejak lama. Dia berdiri di dekat pintu bersama satu pelayan wanita di sampingnya.
Holland yang Miel kenal adalah pria yang membosankan dan monoton, jika tidak belajar dan bekerja untuk menjadi Duke masa depan, maka Holland akan membaca novel. Hanya itu saja aktivitas yang dilakukan tuan mudanya selama bertahun-tahun.
Miel bahkan merasa simpati pada Holland karena pria itu belum pernah merasakan kisah cinta di dalam kehidupan monotonnya. Akan tetapi, siapa sangka, liburan yang direncanakan Marchioness Sephien berbalik menjadi kisah cinta klise khas novel yang sering Holland baca sebagai tema favoritnya.
Miel tersenyum masih sambil menatap Holland yang duduk di hadapan Esther. Keduanya sedang makan malam bersama, di balkon vila Holland yang luas.
Angin malam memang cukup dingin, tetapi tidak sedingin biasanya karena ini adalah musim panas, tetapi Holland dan Esther sudah mengenakan pakaian yang lumayan tebal.
"Bukankah Tuan dan Nona sangat manis?" bisik Hanah, pelayan pribadi Esther yang berdiri di samping Miel
"Hah? Yah, Tuan dan Nona terlihat sangat cocok." Miel mengangkat bahunya pelan. "Sial, aku iri," gumam Miel.
"Menurutmu, apa Tuan dan Nona akan berpacaran?"
"Bagaimana kalau kita saja yang berpacaran?"
"Eh?"
Hanah memelotot dan Miel hanya menyeringai kecil.
"Jika kau menjadi kekasihku dan menikah denganku, aku mampu menghidupimu, kau tahu." Miel menyugar rambutnya sambil memamerkan pesonanya. "Gaji sebagai pelayan pribadi calon Duke masa depan bukan main-main."
Hanah tambah memelotot. "Calon Du—!"
"Sssttt!" Miel membekap mulut Hanah. "Diamlah, Nona Esther belum tahu, kan, kalau Tuan Holland adalah Duke masa depan? Jadi, tolong diamlah. Oke?" Miel mengedipkan sebelah matanya.
Hanah hanya mengangguk cepat. Dia masih merasa linglung.
"Jadi, Sayang. Bagaimana jika kau menjadi kekasihku?"
...***...
"Bulannya sangat indah, Tuan Holland."
Holland tersedak. Dia buru-buru mengambil gelas berisi air putih dan meneguknya.
"Apa saya mengatakan hal yang salah?" tanya Esther dengan kebingungan, dia memiringkan kepalanya sedikit.
"Ahem, tidak ada, Nona Esther," jawab Holland meski kedua pipinya tidak dapat membohonginya dengan menampilkan rona merah di sana. Warnanya nyaris mirip dengan mawar sebab kekontrasan antara pipi putih Holland dengan ronanya.
"Oh? Baiklah." Esther hanya mengangguk kecil dan melanjutkan makan malam mereka.
Esther tampak menikmati makan malam yang sangat lezat ini, sementara Holland berjuang untuk meredakan jantungnya yang berdegup kencang.
Istilah itu tidaklah asing di telinga Holland. Bulan yang indah. Itu adalah cara Asteria menuliskan salah satu karakter di novelnya untuk mengungkapkan cintanya. Sebagai penggemar Asteria, Holland sangat terkejut. Meski tidak ada jaminan baginya bahwa istilah itu hanyalah basa-basi belaka karena meja makan sangat hening atau Esther benar-benar memiliki arti di balik kalimatnya.
"Tuan Holland, apa Anda suka mendengarkan musik?"
"Musik?"
"Ya." Esther mengangguk sekali. "Saya suka memutar musik di piringan hitam."
"Ah, saya jarang mendengarkan," balas Holland.
"Ah, sayang sekali. Padahal saya sangat suka. Karena saya menyukai musik, maka saya tidak pernah absen untuk datang ke pesta. Terlebih pesta dansa. Dansa sangat identik dengan musik dan saya sungguh menikmatinya sehingga saya terkadang lupa waktu. Bahkan Hanah harus mengingatkan saya berkali-kali untuk segera pulang karena saya sudah berdansa banyak."
Holland mengernyitkan dahi pada kenyataan bahwa Esther senang berdansa. Sesuatu di dalam diri Holland berteriak. Kesal. Marah.
"Dengan siapa Anda biasanya berdansa?"
"Mm, tidak menentu. Biasanya, banyak tuan muda yang mengajak saya berdansa."
"Apa Anda mengenal mereka?"
"Yah, hanya sebatas nama dan status sosial. Saya tidak akrab."
"Oh."
Holland mengeratkan pegangan pada sendok dan garpu. Dia kesal. Membayangkan wanita di hadapannya berdansa dengan pria lain membuat sesuatu di dalam diri Holland bergejolak.
Selain identik dengan musik, dansa identik dengan sentuhan yang intens. Bahkan tak jarang kedua pasangan saling memeluk dan memakan setiap inci jarak untuk mengikuti langkah dan petak dansa. Membayangkan hal tersebut membuat Holland makin kesal. Perasaannya kian pelik.
"Bagaimana dengan Anda, Tuan Holland?"
"Ya?"
"Apa Anda senang berdansa?"
Sebagai penerus Duke, Holland tidak bisa sembarangan berdansa dengan seorang lady. Biasanya, ayahnya akan meminta putri dari keluarga Duke Riquetti untuk menjadi pasangan dansa Holland sebanyak satu kali. Selebihnya, Holland tidak pernah berdansa dan selalu menolak ajakan lady lain untuk berdansa.
Holland tidak terlalu menyukai dansa.
"Saya jarang berdansa."
"Apa? Benarkah?" Esther tampak cemberut. "Anda harus banyak berdansa. Dansa itu menyenangkan."
"Saya tidak terlalu suka disentuh oleh sembarang orang."
Esther mengangkat sebelah alis. "Tapi kemarin Anda memegang tangan saya." Senyum jahil terlukis di bibir Esther.
Holland merona. "I-Itu memiliki perbedaan konteks, Nona Esther."
"Perbedaan apa yang Anda maksud, Tuan Holland? Saya adalah wanita yang baru saja Anda kenal selama tiga hari."
"I-Intinya, saya tidak terlalu suka disentuh! Jadi, saya sangat jarang berdansa. Dan mendengarkan terlalu banyak musik membuat kepala saya pusing, jadi saya menghindari piringan hitam dan orkestra lainnya."
Esther melunturkan senyuman jahil dan menggantinya dengan senyuman lembut. "Begitu, ya? Terima kasih sudah memberi tahu saya."
Holland menciptakan senyuman tipis di bibirnya. "Saya senang Anda mendengarkan saya."
Esther melayangkan tawa kecil di udara malam musim panas, yang membuat Holland terpesona. Lagi.
"Itu memberikan saya ide, Tuan Holland."
"Ide?"
"Betul sekali. Bagaimana jika kita mengadakan pesta dansa sekarang? Hanya kita berdua, Tuan Holland."
"Ide yang bagus."
Esther tersenyum lebar ketika Holland langsung menjawab penawaran Esther tanpa perlu memikirkannya terlebih dahulu.
***
Kedua mata Hanah berbinar ketika dia selesai membantu Esther bersolek untuk pesta dansanya.
Kali ini, Esther mengenakan gaun klasik yang elegan berwarna biru langit dan putih. Menimbulkan kecocokan yang nyata. Tidak lupa rambutnya yang merah ditata dengan sempurna, bahkan beberapa pita mungil dijadikan sebagai aksesori penutup di rambutnya yang halus.
"Terima kasih, Hanah. Itu berkatmu."
Hanah terkekeh kecil. "Saya yakin kalau Tuan Holland pasti akan terpesona."
"Apa benar begitu?"
"Mana mungkin saya bohong. Saya seratus persen yakin bahwa Tuan Holland akan terpesona pada kecantikan Anda, Nona Esther."
Esther terkikik kecil. "Kau benar. Tuan Holland harus terpesona. Aku sudah bersolek selama berjam-jam dan sekarang hampir tengah malam, Tuan Holland harus terpesona atau aku akan marah."
"Itu benar! Saya juga akan marah."
Esther melayangkan senyuman terakhir pada Hanah. "Kau bisa istirahat sekarang, Hanah. Kau pasti lelah setelah membantuku lama sekali."
Hanah tampak gugup. "I-Itu, Nona, saya akan berkencan sebentar."
"Kencan?" Esther memiringkan kepalanya.
Hanah merona. "Y-Yah, itu ... Nona Esther, Miel menyarankan untuk melatih saya cara berdansa, sekalian itu ... berkencan."
"Miel? Pelayan pribadi Tuan Holland? Kau berkencan dengannya?"
"Aduh, Nona Esther. Anda harus berhenti bicara blak-blakan, saya jadi malu."
"Ya ampun, aku bahagia untukmu!" Esther menggenggam kedua tangan Hanah dengan erat, guna menyebarkan kebahagiaan yang sama. "Semoga kencanmu berjalan dengan baik. Kalau begitu, pergilah dan berkencan dengan kekasihmu. Selamat bersenang-senang."
***
Alih-alih membuat Holland terpesona, Esther-lah yang malah dibuat terpesona.
Bagaimana tidak? Selama tiga hari Esther berlibur di pantai pribadi Marchioness Sephien, tidak pernah sekali pun Esther melihat Holland dalam balutan pakaian formal. Biasanya, Holland akan mengenakan pakaian tipis atau kemeja untuk sehari-hari. Akan tetapi, kali ini berbeda. Sebab, ini adalah pesta mereka. Pesta dansa mereka. Terlebih, Holland mengenakan pakaian yang memiliki warna yang senada dengan apa yang dikenakan Esther. Biru langit dan putih, yang menjadikan keduanya seperti layaknya pasangan. Nampaknya, Miel dan Hanah telah melakukan yang terbaik untuk mencomblangi tuan dan nona yang mereka layani.
Holland tersenyum lembut begitu Esther memasuki visi Holland.
"Selamat malam, Nona Esther." Holland meletakkan telapak tangannya di dada dan membungkuk kecil. "Saya begitu terpesona melihat Anda dalam pakaian yang elegan dan indah. Terlebih, Anda bersolek dengan sangat cantik. Anda nyaris mirip dengan bidadari, tidak, malaikat. Saya sangat kagum."
Esther merona, yang untungnya sempat tersamarkan oleh cahaya lilin yang menerangi aula vila.
"Terima kasih, Tuan Holland. Saya juga begitu terpesona pada penampilan Anda yang baru saja pertama kali saya lihat. Anda sangat tampan dan luar biasa, bahkan terlihat gagah serta bijaksana. Saya menyukainya."
Kini, Holland yang merona.
"Ahem. Kalau begitu, bisakah saya meminta dansa pertama Anda?" Holland mengulurkan tangan kanannya, dan Esther menerimanya secara alami.
Musik dalam piringan hitam mulai dimainkan oleh bantuan pelayan yang bekerja di dalam vila. Kini, kedua insan yang saling terpesona pada sihir masing-masing saling menari di lantai aula.
Keduanya berputar selayaknya kupu-kupu yang menari-nari di udara, lalu mengikuti petak dan urutan langkah dansa yang tepat, dan bagaimana keduanya menunjukkan bahwa mereka benar-benar hebat dalam berdansa.
Esther tidak pernah menginjak kaki Holland dan Holland menuntun dansa Esther secara sempurna. Keduanya benar-benar menakjubkan.
"Anda pandai berdansa, Tuan Holland," puji Esther di tengah-tengah tarian mereka.
"Anda juga sangat pandai." Holland tersenyum secara tulus.
"Itu karena saya sangat suka berdansa. Dan topik kali ini adalah Anda, Tuan Holland. Anda jarang berdansa dan Anda sangat pandai. Bagaimana mungkin ada figur yang sangat sempurna seperti Anda?"
Sebagai Duke masa depan, Holland harus sempurna dalam setiap aspek. Tidak masalah jika aspek itu kecil atau besar, intinya Holland harus terlihat sempurna sebagai penguasa wilayah yang akan memerintah duchy.
Sama halnya dengan dansa.
Meski Holland jarang berdansa, Holland harus bisa berdansa. Terlebih, berdansa adalah cara bangsawan untuk berkomunikasi. Berdansa adalah bagaimana cara Holland menyihir lawan dansanya, memamerkan segala keahliannya, sehingga lawan dansanya akan memberikan kesetiaannya.
Apa yang Holland rasakan setiap kali dia berdansa adalah perasaan terpaksa dan pelik, tetapi kali ini adalah kepuasan.
Holland senang dan bahagia. Dia bisa menyentuh Esther, dalam konteks berdansa. Holland dapat berada di dekat Esther dan dalam jarak beberapa inci saja. Dan bagi Holland, mendapatkan kesempatan untuk memeluk pinggang Esther hanya dengan pertemuan selama tiga hari saja awalnya merupakan mimpi belaka baginya. Namun, di sinilah Holland, tenggelam dalam mimpi belakanya.
"Saya harus sempurna, Nona Esther."
"Mengapa? Manusia tidak harus selalu sempurna."
Esther sangat bebas. Holland mengakuinya.
"Saya adalah penguasa wilayah di masa depan. Jadi, saya harus sempurna."
"Memangnya mengapa Anda harus sempurna jika Anda adalah penguasa wilayah di masa depan? Sebagai seorang manusia, tentunya Anda tidak bisa mencapai taraf kesempurnaan yang sangat tinggi. Itu bukan bagaimana dunia ini bekerja."
Holland mendengarkan Esther dengan tenang, tetapi tetap menuntun Esther di dalam dansa yang indah.
"Anda tidak harus sempurna dalam segala aspek. Anda harusnya menikmati kehidupan lebih banyak lagi daripada harus terkekang dalam gelar kesempurnaan itu. Karena manusia tidak diciptakan Tuhan untuk tujuan tersebut. Meski demikian, saya bangga pada Anda, Tuan Holland. Anda melalui semuanya dengan teguh dan tetap kuat. Anda sangat keren dan saya bangga pada Anda. Semoga Anda bisa menjadi penguasa wilayah yang diimpikan banyak orang."
Holland memamerkan senyuman lembut di wajahnya. Itu menyejukkan. Sebagaimana angin musim semi menerpa, membuat hati terenyuh, dan detak di dadanya meningkat.
Holland membawa Esther ke dalam putaran, kemudian meliuk dan menari-nari layaknya kupu-kupu yang berdansa. Indah. Sayap biru muda dan putih yang senada berkibar, mencari kekosongan di sana untuk meraup lebih banyak lagi cerita hingga muat di dalam kekosongan itu.
"Nona Esther. Anda mengatakan bahwa saya harus menikmati kehidupan saya."
Esther menatap tepat ke dalam manik merah Holland. Itu ... memesona. Bagaikan ada mantra cinta di sana, Esther kesulitan untuk membuang pandangannya. Tidak, lebih tepatnya Esther tidak ingin. Dia betah menatap manik itu seharian.
"Maka, bagaimana jika Anda terus berada di bagian kehidupan yang akan saya nikmati itu?"
Kedua pipi Esther memanas.
"Tentu saja, Tuan Holland," balas Esther dengan tenang meski hatinya berantakan. "Saya akan berada di sana jika Anda meminta."
"Terima kasih, Nona Esther. Tolong bantu saya seterusnya, ya."
Esther tersenyum lembut. Tidak ada yang tahu bahwa di sela-sela senyuman lembut itu, terdapat kepuasan, terdapat sebuah perasaan menyisipi, asing, tetapi menyenangkan.
Dan keduanya tahu arti dari apa yang mereka rasakan sebenarnya.
...***...
Terima kasih sudah membaca ceritaku. Aku harap kamu enjoy, yaa. Jangan lupa untuk share ke teman-teman supaya bisa salting bareng!
2 Juli 2023