Summer Is For Falling In Love

Summer Is For Falling In Love
12. Penghinaan



Ketidakhadiran Holland pada saat malam pertama kedua pengantin menjadi rahasia umum di kediaman Floral. Akan tetapi, seluruh pekerja diminta agar rahasia ini tidak tersebar di luar kediaman, biarkan orang-orang di dalam saja yang tahu, tetapi tidak yang lain. Sebab, akan sia-sia sebuah pernikahan jika orang lain tahu bahwa Holland dan Olivia tidaklah saling mencintai.


Tindakan Holland yang meninggalkan Olivia di malam pertamanya merupakan sebuah bukti nyata bahwa Holland tak tertarik pada Olivia. Olivia pun merasa murka hingga menghancurkan sebuah kamar.


Ketika Holland kembali esok siangnya, dia hanya meminta para pelayan membersihkan kamar dan untuk tutup mulut akan masalah ini.


"Yah, mau bagaimanapun, Tuan Duke 'kan hanya mencintai Nona Esther," bisik pelayan yang sedang mengelap jendela.


Rekan kerjanya yang juga sedang membersihkan jendela mengangguk kecil. "Aku setuju. Saat itu, temanku bekerja di bagian pelayanan makanan hingga aku bisa tahu percakapan mendiang Tuan Duke dan Tuan Duke saat ini. Itu adalah percakapan yang menegangkan."


Tangan yang membersihkan jendela berhenti bergerak. Sebagai gantinya, dia menolehkan kepalanya pada temannya dengan sorot penasaran. "Apa yang mereka bicarakan?"


"Yah, kamu tahu? Seperti yang dicintai Tuan Duke adalah Nona Esther dan beliau begitu menentang pernikahan politik ini."


Pelayan itu mengembuskan napas, kembali membersihkan jendela dengan cekatan. "Malang sekali, Tuan Duke. Aku juga tahu bagaimana rasanya ketika hubunganku tidak direstui oleh keluargaku."


"Benar, 'kan? Juga, lihatlah situasi di kediaman Floral setelah satu hari berlalu semenjak upacara pernikahan. Tuan Holland mengunci dirinya sendiri di ruang kerja, bahkan meminta pelayan untuk tidak membiarkan siapa pun masuk."


"Kasihan sekali Nyonya Olivia. Ditolak oleh suaminya, pasti begitu menyakitkan."


"Pasti—"


"Kupikir aku membayarmu untuk membersihkan kediaman dan bukan untuk bergosip," potong sebuah suara yang terdengar begitu dingin.


Kedua pelayan tersebut terlonjak kaget dan langsung bersujud di lantai, memastikan bahwa dahi keduanya benar-benar menempeli lantai marmer. Harga diri tidak penting, nyawalah yang paling berharga. "Maafkan kami, Nyonya Olivia! Tolong jangan pecat kami!"


Olivia menatap kedua pelayan tersebut dengan nyalang, lalu berteriak frutrasi. "Baik kalian atau pelayan lain itu sama saja! Kalian kurang ajar sekali!"


"M-Maafkan kami, Nyonya Olivia!"


"Naikkan kepala kalian!" teriak Olivia.


Kedua pelayan dengan takut menegakkan tubuh mereka hanya untuk dihadapkan dengan sepasang manik merah yang menyeramkan, mengirim sensasi tegang di punggung.


Olivia mencengkeram dagu salah satu pelayan, menekan dua jemarinya dengan kasar pada kedua rahang. "Bergosiplah semau kalian. Di lain kesempatan, akan kubelah bibir dan mulut kalian sampai mati!"


Pelayan yang dicengkeram dagunya bergetar hebat, bahkan kedua matanya berkaca-kaca. "Mohon ampun, Nyonya Olivia," ujarnya dengan suara yang turut bergetar.


Olivia melepas cengkeramannya dan mendengus kesal. Dengan langkah arogan, dia melewati kedua pelayan dan berjalan cepat di lorong besar.


"Ini karena wanita yang merebut suamiku!" teriak Olivia dengan frustrasi. "Holland juga meninggalkanku di malam pertama, begitu lancang! Ini sangat jelas kalau dia tidak tertarik padaku, tapi juga harus menghancurkan martabatku di hadapan para pelayan rendahan itu?!"


Olivia kini bersumpah untuk menarik Holland ke sisinya, membuat pria itu tergila-gila dengannya, hingga wanita lain yang dikencani Holland akan tersisih.


...***...


Holland benar-benar mengunci diri di ruang kerjanya sepanjang hari. Dia meminta pelayan membawakan sarapan, makan siang dan malam, untuk dibawakan ke ruang kerjanya. Holland melakukannya untuk menghindari bersitatap dengan Olivia.


Untungnya, Olivia tidak datang dan protes secara terang-terangan.


"Tuan Duke, sudah pukul sembilan malam," keluh Miel yang juga menemani Holland di dalam ruang kerjanya.


"Lalu?" tanya Holland dengan nada sarkastik. Jemarinya tak berhenti membalikkan dokumen kerjanya, membaca setiap huruf yang tertera. Holland memodalkan pencahayaan dari lilin yang menyala di setiap sudut ruangan, membuat ruangan tak lagi disisipi kegelapan malam.


"Sudah waktunya istirahat! Sudah waktunya bagi saya untuk istirahat!" ucap Miel dengan kesal. "Apa Anda ingin memperbudak saya? Saya bahkan biasanya sudah mengirim Anda tidur dan menyanyikan lullaby untuk Anda. Mengapa Anda masih di ruang kerja? Ayolah, Tuan Holland."


Holland sedikit merasa simpatik pada Miel yang diseret olehnya ke ruang kerja, tak membiarkan pelayannya untuk pergi kecuali memiliki kepentingan tersendiri.


"Kamu pergilah. Aku akan tidur di sini," putus Holland, membuat Miel melongo.


Miel memperhatikan ruang kerja Holland. Ruang kerjanya begitu luas, dengan rak buku dan jurnal di kedua sisi ruangan, sofa empuk, dekorasi lainnya, serta meja kerja Holland. Holland jelas akan tidur di sofa, meskipun sofanya besar dan empuk, tetap saja tidak akan terlalu nyaman.


"Apa Anda yakin mau tidur di sofa?" tanya Miel dengan ragu. "Tentu sofa tidak akan nyaman untuk Anda, bukan? Bagaimana jika esoknya, Anda malah sakit leher?"


Holland mengetuk pena bulu pada secarik kertas. "Lebih baik daripada harus bertemu dengan Olivia."


"Ah." Miel jadi merasa kasihan pada tuannya.


"Kalau begitu, saya akan membawa salep untuk nyeri otot besok pagi."


"Bagus. Sekarang pergilah, kamu sangat cerewet."


Miel menahan rasa kesalnya dan pamit undur diri. "Selamat malam, Tuan Holland. Saya berharap Anda bisa mimpi indah malam ini," katanya sebelum menutup pintu.


Ruang kerja Holland berubah sunyi setelah Miel pergi. Sebelumnya, Holland mendengar banyak keluhan dari pelayan pribadinya itu hingga ruang kerja terasa ramai.


Holland menghela napasnya dan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk. Pria itu tak tahu berapa banyak waktu yang telah berlalu, kala menyadarinya, dia mendengar pintu ruang kerjanya diketuk.


Holland mengerutkan dahinya. Siapa? Pelayan? Atau Miel yang melupakan sesuatu?


Holland ragu, tetapi suaranya akhirnya mengudara, mengisi keheningan, "Masuk."


Kesunyian malam lenyap kala bunyi pintu yang dibuka terdengar. Di balik pintu, orang yang paling ingin Holland hindari malah menghampirinya.


"Tuan Holland?" Olivia memasuki ruangan dan menutup pintu.


Holland menahan helaan napasnya dan berdiri dari kursinya. "Nona Olivia? Apakah ada yang salah? Kamu bisa meminta pelayan untuk membantumu."


Olivia bisa mendengarkan makna tersirat dari kalimat Holland, itu seperti "jangan ganggu aku, aku tidak mau melihatmu". Makna tersebut membuat Olivia kesal, tetapi memutuskan untuk mempertahankan senyuman lembut dan lugu di bibirnya.


"Tuan Holland masih bekerja?" tanya Olivia dengan malu-malu, mengambil langkah mendekati Holland.


"Ya, Nona Olivia. Pekerjaanku meningkat setelah aku mendapatkan gelar Duke." Holland mengerutkan dahinya kala Olivia kini hanya berjarak setengah meter dengannya.


"Begitu, ya?" Olivia mendekat lagi.


Holland tak begitu memperhatikan, tetapi kala wanita itu mendekat, Holland bisa melihat apa yang dikenakan wanita itu di balik jubah satinnya. Itu adalah piyama putih, tetapi bagian dadanya terbuka, roknya begitu pendek meski memiliki lapisan tebal. Terlebih, jubah satin yang tersampir di kedua bahu akhirnya dilepas kala jarak keduanya hanya setengah jengkal.


Holland mengambil langkah mundur hingga punggungnya hampir menyentuh dinding. Namun, Olivia tetap melangkah maju, menyudutkan Holland.


"Tuan Holland, bagaimana jika kamu menyisihkan pekerjaanmu sekarang dan bermain denganku?"


Holland tersentak. Cahaya dari lilin yang berpijar menerangi wajah Olivia. Apa yang Holland lihat di sana bukanlah keluguan, tetapi kepicikan.


Holland menatap Olivia dengan dingin. "Nona Olivia, aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu. Aku orang yang sibuk. Jika kamu bicara omong kosong lagi, aku akan—"


"Akan apa?" Olivia mengikis jarak. Jemarinya menyentuh dada Holland, menekan pria itu dengan ringan. "Kamu meninggalkanku di malam pertama kita, Tuan Holland. Satu hari telah berlalu, dan kamu mencoba untuk menghindariku?"


Holland menghela napasnya, menarik tangan Olivia yang menekan dadanya, lalu meremasnya dengan sedikit keras. Olivia bahkan mengaduh perih.


Sebagai gantinya, Holland mendorong Olivia ke dinding, menekannya.


Olivia membulatkan mata, tetapi perasaan berdebar yang hangat menyebar. "Tuan Holland?" Olivia seakan tengah dirayu. Visinya dipenuhi oleh visual Holland yang menakjubkan. Cahaya dari lilin yang samar menyinari tulang selangka Holland yang terhindar dari pakaiannya, berkilauan, terlebih jarak keduanya yang terlampau dekat membuat Olivia menahan bernapas.


Olivia merasa senang. Apakah ini artinya, Holland telah jatuh padanya? Olivia ingin menyampirkan kedua tangannya di leher Holland, tetapi pria itu menahannya.


"Bukankah tindakanku sudah menunjukkan satu hal padamu, Nona Olivia? Aku tidak tertarik padamu."


Detak nadi Olivia yang berdebar hangat berubah menjadi kedutan yang menyakitkan. "Ya?"


Holland mendekati telinga Olivia, lantas berbisik, "Dan jangan mengikatku dengan seorang anak."


Setelah mengucapkan kalimatnya, Holland melepaskan Olivia. Dia lalu meraih jubah satin di atas lantai sebelum melemparkannya pada Olivia. Pria itu tak lagi berbalik untuk melirik Olivia ketika meninggalkan ruangan. Debam pintu yang keras menyadarkan Olivia bahwa dia telah ditolak secara kasar.


Wajah Olivia memerah karena malu. Diremasnya jubah satin di kedua tangannya dengan keras.


"Holland! Penghinaan ini ...!" Suara Olivia tercekat, dan dia melemparkan jubah ke sembarang arah sebelum berteriak frutrasi.


...***...


Ada yang geram sama Olivia nggak sih?


2 Juli 2023