
"Terima kasih sudah mengundang saya untuk sarapan, Tuan Holland," ujar Esther sambil memotong steak dengan rapi.
Holland yang duduk di hadapan Esther hanya mengangguk dan ikut memotong steak-nya.
"Bukan apa-apa, Nona Esther. Saya sudah berjanji kemarin untuk menemui Anda lagi, kan?"
Esther tertawa kecil. "Anda benar. Dan saya mengira jika Anda adalah bangsawan karena dapat memasuki pantai pribadi Marchioness Sephien."
Holland melayangkan senyuman tipis. "Dan saya yakin kalau Anda juga adalah bangsawan."
Esther melayangkan tawa. "Itu benar, Tuan Holland. Tapi, kita di sini untuk berlibur, bukan? Maka, untuk tujuan apa harus saling menghormati karena gelar?"
Holland tersenyum tipis. Ya ampun, debaran di dadanya tak kunjung menghilang, justru makin menggila setiap Esther membuka bibirnya untuk bicara. Melodi indah yang dimainkan Esther bagai telah mendominasi segala milik Holland. Membawa Holland ke dalam nibbana sementara.
"Itu benar, Nona Esther. Kita sedang berlibur sekarang. Jadi, hubungan kita di sini tidak perlu mementingkan gelar kebangsawanan."
"Iya, jadi nikmati saja liburan ini. Saya hanya punya waktu tujuh hari untuk mengisi musim panas saya di sini sebelum saya harus kembali dan bekerja."
Holland bisa melihat Esther menghela napas dan sedikit cemberut. Holland dapat mengatakan bahwa itu sangat imut. Ya, Holland mengakuinya, Esther sangat imut.
Rambutnya yang berwarna merah terus-menerus dipermainkan anak angin di udara, membuat helaian rambut itu terus menari di angkasa dan berkilau. Itu sangat menarik perhatian Holland.
Holland jadi penasaran. Dia ingin menyentuh rambut itu, lalu merasakan betapa lembutnya helaian itu di jemarinya.
"Kebetulan, saya juga diberi waktu oleh Marchioness Sephien untuk berlibur selama tujuh hari di sini," balas Holland, mengabaikan kejanggalan di mana Holland merasa bahwa bibinya sengaja untuk mempertemukan keduanya dalam liburan musim panas selama tujuh hari.
"Dan ini hari kedua saya, Tuan Holland. Apa Anda juga begitu? Kalau iya, berarti kita akan menghabiskan waktu liburan bersama?"
Itu ide yang bagus. Holland nyaris ingin berteriak untuk menyetujui ide itu, jika saja Holland tidak ingin melukai harga dirinya yang setinggi langit.
"Nona Esther, barusan Anda mengatakan bahwa Anda bekerja?" tanya Holland, sorotnya sedikit melembut, membuat iris mata laksana riak air menenangkan terlihat lebih teduh.
Manik emas milik Esther menatap langsung kepada Holland, lalu tersenyum kecil. "Itu benar, Tuan Holland. Saya adalah penulis."
"Benarkah itu, Nona Esther? Kalau boleh tahu, buku apa saja yang Anda tulis?"
Esther hanya terkekeh gugup. "Hanya novel-novel romansa. Mungkin saja, selera ini tidak cocok dengan Anda, Tuan Holland."
Holland sedikit mengerjap. Pria itu tidak mungkin untuk mengatakan secara lantang bahwa dia juga membaca novel romansa, kan? Bahkan banyak dari novel romansa. Karena jujur saja, bagi Holland, mengakui hal tersebut adalah hal memalukan yang tabu untuk dipamerkan.
"Nona Esther, katakan nama pena Anda."
Esther meraih cangkir teh dan menggoyangkannya perlahan. "Baiklah kalau begitu, nama pena saya Asteria."
"Asteria ...? Asteria yang telah menerbitkan novel romansa populer itu?"
"Anda tahu?"
Holland sedikit tersentak. Dia tiba-tiba gugup. "A-Ah, novel Anda begitu populer sehingga saya bisa mengetahui novel Anda."
"Saya pikir Tuan Holland membaca karya saya. Saya nyaris senang."
Holland hanya tersenyum lembut. Tidak mungkin, kan, bagi Holland untuk mengakui bahwa dia telah mengoleksi seluruh novel karya Asteria? Bahkan Holland memiliki rak buku tersendiri untuk karya Asteria di kamarnya.
Berkat mengetahui nama itu, Holland jadi tahu siapa wanita di hadapannya.
Holland tidak mungkin tidak tahu siapa nama asli Asteria, sebab banyak biografi yang menceritakan mengenai Asteria.
Esther Dercastez, putri sulung dari Baron Dercastez, yang rumah tangga itu berhasil terselamatkan berkat penghasilan Esther sebagai penulis yang kini populer.
Para pembaca terus-menerus tenggelam di dalam diksi dan imaji Asteria, yang membuat wanita itu akhirnya berkembang menjadi penulis yang terkenal. Bahkan, beberapa karyanya dijadikan sebagai bahan pendidikan di akademi.
Asteria memulai karirnya lima tahun yang lalu, tepat ketika usianya lima belas tahun. Ketika rumah tangga Baron Descartez hampir runtuh karena bisnis yang dikelola oleh Baron mengalami penurunan, dan banyak juga penipuan yang telah dialami oleh rumah tangga tersebut.
Berkat Asteria, rumah tangga Baron Descartez masih berdiri hingga sekarang.
"Kalau begitu, saya akan mencoba untuk membaca karya Anda," ucap Holland membuat senyum merekah di bibir merah alami Esther.
Holland menahan debaran di hatinya yang menggila.
"Wah! Saya akan merasa terhormat."
"Justru saya merasa lebih terhormat karena rupanya saya bisa bertemu dengan Anda, penulis yang terkenal. Di mana banyak para penggemar Anda yang sangat ingin menemui Anda."
Esther terkekeh kecil. "Kita berdua sama-sama beruntung, Tuan Holland, untuk bisa bertemu satu sama lain."
Holland nyaris tidak bisa menahan sesuatu yang meledak di dalam rongga dadanya, seolah sesuatu menyelinap di setiap pembuluh darahnya, memberikan sensasi yang begitu asing, tetapi anehnya begitu menyenangkan dan candu.
"Tuan Holland, kita tidak mungkin terus untuk duduk di sini dan diam, bukan? Bagaimana jika kita menikmati liburan musim panas ini bagi kita ini?"
"Itu ide yang sangat bagus, Nona Esther," balas Holland dengan senyuman tipis di bibirnya. Akan tetapi, siapa pun yang melihat kurva mungil di sana, akan mengatakan bahwa itu adalah senyuman yang tulus dan penuh sayang.
Maka, di sanalah mereka. Berlarian di pesisir pantai.
Holland dengan kemeja tipisnya yang berantakan dan basah karena Esther telah mencipratkan air padanya, sementara itu, gaun musim panas Esther juga telah basah kuyup karena dia terpeleset ketika gelombang tiba.
Keduanya tertawa. Lepas sekali. Seolah keduanya merupakan burung-burung yang berkicau dengan bebas, tanpa memandang status, kebanggaan, harta, dan martabat. Akan tetapi, murni karena kesenangan dan nafsu membara di dada.
"Ahahahah! Tuan Holland, rambut Anda berantakan sekali, Anda jadi terlihat konyol!" tawa Esther lagi setelah berhasil membuat Holland terpeleset.
Esther tertawa lantang dan puas. Dia benar-benar bebas. Holland sangat kagum.
Bangsawan tidak boleh tertawa seperti itu. Bangsawan harus mengedepankan etika dan norma di depan bangsawan lainnya. Itulah yang Holland lakukan selama puluhan tahun terakhir. Menjaga martabat dan harga diri penerus Duke Floral dengan sangat ketat. Namun, setelah melihat Esther yang bebas, sesuatu di dalam diri Holland tampaknya meledak-ledak. Apa pun itu, rasanya sangat menyenangkan. Alih-alih marah, Holland ingin merasakan hal itu lagi. Lagi, lagi. Terus.
Esther tertawa lelah, dia lalu duduk di pasir pantai yang lembut, membiarkan kedua kakinya dipermainkan ombak mungil yang menggelitik.
Holland duduk di samping Esther.
"Nona Esther."
Esther menoleh ke samping, untuk mendapati Holland berada beberapa jengkal di dekatnya.
"Ada apa, Tuan Holland?"
"Terima kasih, Nona Esther."
Esther memiringkan kepalanya. Itu terlihat imut di mata merah Holland.
"Untuk apa? Saya tidak melakukan sesuatu yang sangat menakjubkan hingga pantas untuk menerima rasa terima kasih Anda, Tuan Holland."
Holland hanya mendengus geli. "Apa maksud Anda, Nona Esther? Anda telah melakukan banyak hal."
"Misalnya?"
"Anda sangat bebas."
Holland menenggelamkan diri di manik emas wanita memesona itu.
"Saya tidak pernah diizinkan untuk sebebas itu sebelumnya. Saya tidak pernah melakukan hal yang begitu menyenangkan seperti ini sebelumnya. Saya tidak pernah mengalami perasaan seperti ini, di mana hubungan antara saya dan orang-orang di sekitar saya kali ini bukanlah hubungan formal dan politik, melainkan ... rekan. Saya sangat senang, Nona Esther. Pengalaman pertama untuk merasakan segala hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya adalah bersama dengan Anda."
Esther tersenyum. Mata emasnya menatap Holland dengan menyipit.
"Anda mengatakan hal-hal yang bisa membuat nona muda mana pun salah tingkah, Tuan Holland."
"Benarkah?"
"Benar."
Esther menatap lurus ke depan. Menelisik riak-riak ombak yang menenangkan, serta bagaimana gelombang saling bergulung di lautan, atau beberapa ikan melompat kecil. Esther menikmati panorama indah itu.
Holland ikut menatap panorama yang sama.
Hening untuk sepersekian detik.
Keheningan itu tidaklah canggung.
Keheningan itu seakan memberikan keduanya makna, seolah memerintah kedua individu di sana untuk saling memahami satu sama lain.
Jemari Holland bergerak, untuk menemukan tangan milik wanita di sampingnya yang ditumpukan pada pasir pantai.
Ketika Holland menyentuh jemari itu, pria itu langsung menautkan jemari satu sama lain dengan erat.
Esther tidak terkejut, seolah sudah memprediksi hal yang sama. Sebaliknya, Esther ikut menggenggam jemari itu.
Hangat.
Meski pakaian keduanya basah kuyup dan mengirim getaran samar ketika angin bertiup, sepasang jemari yang saling bertaut itu terasa hangat.
Candu.
Holland menggigit bibirnya pelan.
Dia tidak tahu kapan harus menahan perasaannya lebih jauh lagi. Dia sungguhan tidak kuat. Hatinya meledak-ledak, jantungnya bertalu-talu, dan benaknya terus berteriak. Itu merepotkan.
Satu-satunya hal yang ingin Holland lakukan adalah mengutarakan apa yang dia rasakan pada nona muda di sampingnya.
Namun, Holland harus menahannya.
Ini adalah pertemuan kedua mereka, Holland tidak bisa dengan lantang mengutarakan ketertarikannya pada nona muda itu.
"Nona Esther."
"Ya?"
"Terima kasih."
Esther menyelipkan anak rambutnya ke balik telinga. "Baik, baik, Tuan Holland, terima kasih kembali. Meski saya tidak tahu kalau alasan yang Anda katakan barusan bisa dikatakan sebagai hal yang pantas bagi saya untuk menerima rasa terima kasih Anda."
"Anda pantas, Nona Esther."
Holland menikmati liburan ini. Bibinya benar-benar wanita yang terbaik. Holland berjanji akan menghadiahkan bibinya sekotak permata nanti.
...***...
2 Juli 2023