
Holland tidak berniat untuk mengambil liburan di masa-masa sibuknya di mana dia akan segera dinobatkan menjadi Duke secara resmi dalam satu bulan.
Meski begitu, bibinya telah memaksa Holland untuk mengambil liburan di pantai pribadi milik bibinya di bagian utara Kerajaan Teratia agar Holland setidaknya memiliki waktu luang sebelum dinobatkan menjadi Duke yang sibuk.
Saat itu musim panas.
Holland sangat kesal pada bibinya yang telah merekomendasikan pantai di mana sinar matahari sangat menyengat di kulitnya.
Bahkan Holland telah meminta pelayan untuk menipiskan pakaiannya karena udara yang panas.
Holland mulai berpikiran bahwa ide untuk liburan di pantai pribadi keluarga bibinya adalah ide yang buruk.
Namun, Holland mencoba untuk menikmati kesempatan langka di mana dia tidak perlu berurusan dengan administrasi politik dan bangsawan penjilat.
Sebagai penerus sah Duke, Holland tentu memiliki banyak tugas yang perlu diselesaikan. Dia mengelola wilayah duchy, mendengarkan permintaan rakyat, lalu mengurus tugas administrasi, dan menghadiri rapat di mana sebagian besar peserta rapat adalah bangsawan yang serakah.
Hal itu membuat Holland jenuh.
"Tuan Holland, apa Anda ingin jalan-jalan di sore hari?" tanya pelayan Holland, Miel. Pria itu sebaya dengan Holland, tetapi wajahnya tampak sangat muda hingga rasanya dia menipu wanita dengan pesona di wajahnya mengenai usianya yang seolah masih seperti remaja.
"Jalan-jalan?" Holland mengernyitkan dahinya.
"Ya, Tuan. Setelah Anda tiba di sini, satu-satunya yang Anda lakukan di sini adalah duduk dan membaca. Bukankah itu sama saja dengan kegiatan Anda di mansion?"
"Apa aku terlalu membosankan?"
"Saya akan berkata jujur, dan iya, Anda sangat membosankan."
Holland tampak kesal dengan jawaban Miel, tetapi hanya mengibaskan tangannya.
"Aku akan pergi. Apa kau puas?" tanya Holland sambil menegakkan tubuhnya.
"Saya sangat puas. Kalau begitu, hati-hati di jalan, Tuan Holland." Miel menundukkan tubuhnya pada Holland untuk mengucapkan sampai jumpa.
Holland hanya berdecak dan keluar dari vila tempatnya tinggal selama satu minggu ke depan.
Di luar, matahari hampir tenggelam, membuat panorama di pantai tampak menakjubkan.
Burung yang terbang menuju sarang mereka berkicau, membuat suasana terasa tentram bagi Holland yang kacau.
Deburan ombak menghasilkan suara yang membuat tubuh kaku Holland rileks.
Baru Holland sadari bahwa tubuhnya terasa sangat lelah.
Tentu saja berusaha untuk menjadi penerus Duke sangatlah melelahkan fisik dan mentalnya.
Holland diam-diam berterimakasih pada bibinya yang telah memikirkan liburan untuknya, terlebih di musim panas. Musim di mana Holland akan merasa cepat lelah.
"Hm?"
Holland menaikkan sebelah alis ketika dia melihat jejak yang tercetak di atas pasir lembut pantai.
Itu jejak kaki. Hanya saja, ukurannya lebih kecil daripada kaki Holland. Kemungkinannya, jejak kaki mungil itu milik wanita atau anak-anak.
Namun, yang membuat pria itu keheranan adalah bahwa pantai ini adalah pantai privat keluarga bibinya. Dan bibinya adalah Marchioness, seorang yang tidak memiliki derajat yang rendah. Tentu saja, memasuki pantai ini tanpa izin bisa dipidana secara hukum.
Holland menyusuri bibir pantai dengan perlahan, sesekali menikmati semilir angin yang diam-diam melewatinya, memainkan rambut pirangnya, dan membuat Holland tambah merasa rileks.
Lalu, Holland melihatnya.
Wanita itu.
Berdiri di bibir pantai dengan kedua kakinya yang basah oleh ombak pantai.
Dengan kedua tangan yang terentang untuk menikmati semilir angin yang menyejukkan itu. Mengusir hawa panas di musim panas yang menyiksa.
Akan tetapi, apa yang Holland pertama kali lihat dari wanita itu adalah rambut merahnya yang mencolok.
Itu sangat merah. Holland rasanya tidak pernah melihat warna sepekat itu, nyaris seperti darah.
Helaian rambut itu panjang, melayang di udara, mencoba untuk ikut andil dalam permainan yang dibawakan atmosfer.
Dan ketika wanita itu berbalik, Holland bisa melihat lentera di kedua matanya. Bersinar. Bercahaya. Cantik. Indah. Itu berbahaya.
Menahan darahnya yang berdesir, Holland mendekati wanita itu dengan perlahan.
Semakin langkah kaki membawa Holland ke wanita itu, semakin aneh perasaan yang ikut dibawanya.
Sesuatu di dada Holland melesak. Sesuatu itu diam-diam terasa menyenangkan, tetapi bagaikan tabu untuk mengakuinya.
Semakin Holland mendekat, semakin jelas pula figur cantik wanita itu.
Kedua lentera itu berwarna emas, cantik. Kanvas rupawan di mana pelukis bersedia untuk maju paling depan hanya untuk melukiskan tatanan mata, hidung, dan bibir secara sempurna.
Kulitnya pucat, tetapi anehnya cantik di mata merah Holland.
Bibir wanita itu berwarna merah muda secara alami dan bagaimana keduanya saling mengunci tatapan dengan apik mengirim sensasi menegangkan yang tersebar di seluruh kulitnya.
"Siapa?" tanya Holland dengan kerutan di dahi.
Bukan, Holland mengerutkan dahinya bukan karena dia marah. Akan tetapi, karena sebuah perasaan di dadanya dengan lancang menguasai, memonopoli, mengambil alih seluruh atensi.
Wanita itu mengerjapkan kedua matanya.
"Itu adalah pertanyaan saya. Siapa Anda?" tanya wanita itu.
Ketika wanita itu memamerkan suaranya, Holland seperti mendengar melodi terindah yang pernah dia dengar. Melodi terindah dari musisi yang tidak pernah Hollad kenal.
Itu aneh.
Hatinya mulai berdebar.
Meski Holland adalah penerus Duke yang sibuk dengan tugas administrasi dan latihan pedang, Holland masihlah seorang pria yang membaca fiksi.
Holland tidak pernah benar-benar mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan bangsawan lain secara sembarangan. Itu karena dia adalah Duke masa depan.
Jika sesuatu terjadi pada Holland, maka rumah tangga Floral yang terkena imbasnya. Oleh karena itu, Holland terkurung dalam jeruji tak kasat mata. Mansion mewah yang jarang bagi Holland untuk meninggalkannya. Bagaikan burung dalam sangkar.
Maka, pria itu bisa berinteraksi hanya lewat tulisan penulis. Lewat aksara yang tidak pernah absen bagi Holland untuk dibacanya.
Holland tahu apa yang dia rasakan. Dia tidak bisa berpura-pura tidak tahu ketika dia memiliki pengetahuan dasarnya. Tapi Holland tidak ingin mengakuinya.
Love at first sight. Cinta dalam pandangan pertama.
Kebanyakan novel yang Holland baca memiliki tema klise seperti ini. Holland tahu bahwa hal yang sama tengah terjadi padanya.
Akan tetapi, Holland tidak ingin mengakuinya. Karena itu memalukan. Sangat memalukan bagi penerus Duke untuk menjadi bagian dalam novel-novel klise itu!
Holland mengembalikan kesadarannya setelah dia berkutat dengan perasaannya. "Maafkan saya karena saya tidak memperkenalkan diri, nama saya Holland."
Wanita itu mengangguk paham. "Apa Anda tidak akan mengatakan nama keluarga Anda?"
"Saya akan mengatakannya di kemudian hari."
Wanita itu hanya tertawa, yang suaranya sangat merdu di indra pendengaran Holland. "Kalau begitu, nama saya adalah Esther. Panggil saya Esther, Tuan Holland."
"Y-Ya, Nona Esther. Senang bertemu dengan Anda."
"Senang bertemu dengan Anda juga, Tuan Holland!"
Holland Delano Floral, pria berusia 21 tahun, mengalami cinta pada pandangan pertama. Dan Holland menganggapnya sebagai hal yang memalukan.
Akan tetapi, tak ayal. Apa yang menguasai Holland saat ini adalah keinginan.
Holland menginginkan Esther. Holland ingin meraih Esther dan membawanya ke dalam pelukan. Holland ingin menggenggam jemari itu, membawanya ke dalam sensasi hangat di mana kedua pasang jemari saling bertautan. Holland ingin menyentuh Esther. Sangat ingin hingga Holland rasanya bisa merasakan perasaannya berdebar tak keruan.
...***...
Perkenalkan, aku Luna, penulis dari dunia oren yang datang kemari untuk meraih banyak pembaca. Selamat datang ke duniaku. Akan kutenggelamkan kamu dalam pesona kata milikku, oke?
2 Juli 2023