Summer Is For Falling In Love

Summer Is For Falling In Love
13. Menghancurkan Janji



Di sini Luna, mengingatkan bahwa bab ini mengandung adegan eksplisit, hanya diperuntukkan bagi orang yang sudah cukup umur buat bikin KTP ya, alias 17. Maafkan aku :)


...***...


Jemari Olivia yang memegang gagang teh mengerat. Aroma melati dari dalam teh tak membuat pikiran Olivia kian tenang, tetap berantakan seperti sebelumnya.


Memori kemarin malam benar-benar menghantam Olivia dengan telak. Di saat Holland menolak Olivia secara tegas, Olivia sendiri tahu bahwa langkahnya untuk mengejar pria itu sudah tamat.


Akan tetapi, Olivia yang telah menyimpan rasa pada Holland semenjak pertemuan pertama mereka, tentu saja tak bisa merelakan Holland dengan ikhlas. Dendam Olivia di dadanya malah terbakar, tidak hanya pada Holland, tetapi juga pada wanita yang dikasihi suaminya.


Holland jelas-jelas menolak Olivia karena dia mencintai wanita lain. Kenyataan ini membuat Olivia makin keki pada wanita yang tak pernah dilihat secara langsung olehnya.


Tak! Olivia meletakkan cangkir teh di atas tatakan secara kasar. Isi cangkirnya bergoyang dan menciprat keluar.


"Nyonya Olivia, Anda baik-baik saja?" tanya pelayannya setelah melihat betapa kesalnya Olivia.


Olivia mendengus. "Apakah aku terlihat baik-baik saja?!" bentaknya.


"Maafkan saya, Nyonya Olivia." Pelayan itu menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Bayangkan saja, suamimu menolakmu! Tidak hanya melukai harga diriku, aku juga malu setengah mati! Bagaimana mungkin, aku, Nyonya Floral, ditolak oleh suaminya?!"


Para pelayan yang bertugas untuk melayani Olivia harus segera terbiasa dengan perangai buruknya. Akan tetapi, meski tiga hari telah berlalu, sikap Olivia malah makin terlihat menyebalkan di mata para pelayan.


"Nyonya Olivia," panggil pelayannya yang lain.


"Apa itu?" bentak Olivia.


"Saya mengerti kekesalan Anda dengan baik, Nyonya Olivia."


Olivia mendengus. "Bagaimana mungkin kamu mengerti, hah? Apakah suamimu pernah menolakmu secara langsung?! Jangan katakan bahwa kamu mengerti perasaanku!"


Pelayan itu terkekeh. "Baiklah, Nyonya, maafkan saya. Akan tetapi, saya memiliki sebuah rencana untuk Anda."


Manik Olivia yang semerah darah menyapu setiap inci tubuh si pelayan, dari atas hingga bawah. Pelayan itu mengenakan seragam yang senada dengan pekerja lainnya, tetapi Olivia bisa melihat sorot picik di kedua matanya.


"Benarkah? Apa rencanamu?" tanya Olivia.


"Tentu saja tidak gratis, Nyonya."


Olivia memutar bola matanya. "Aku tahu, cepat beri tahu aku."


Seringaian di bibir pelayan itu melebar. "Baiklah, Nyonya. Biar saya beri tahu apa rencana dari saya."


Si pelayan membisikkan rencana yang dia pikirkan pada Olivia. Setelahnya, Olivia tersenyum senang.


"Rencana yang bagus. Siapa namamu?"


"Itu Felicia, Nyonya."


...***...


Pintu ruang kerja Holland diketuk sesuai irama, lalu Miel membukakan pintu.


Seorang pelayan dengan wajah yang tertunduk dalam mendorong sebuah troli yang membawa tea set.


"Ah, sudah waktunya minum teh, ya?" gumam Miel, tidak menyadari bahwa jadwal minum teh di sore hari telah tiba.


Pelayan itu menganggukkan kepalanya. "Benar, Tuan Miel. Saya yang bertugas untuk membawakan teh."


Miel memperhatikan pelayan wanita itu. Dia membawa troli dengan wajah yang ditundukkan dalam, lalu jemari yang gemetaran. Miel berpikiran apakah pelayan ini takut pada Duke?


"Aku belum pernah melihatmu, kamu baru bekerja?" tanya Miel, mengintip wajah si pelayan yang terlihat pucat. Miel kemudian melirik Holland, lalu merasa masuk akal apabila pelayan mungil ini ketakutan. Wajah Holland sangat dingin dan mengintimidasi. Jika Miel tak terbiasa dengan wajah tuannya, mungkin dia juga akan gemetar ketakutan.


"Y-Ya, Tuan Miel. Saya baru saja mulai bekerja."


Miel mengangguk kecil, kemudian memperhatikan betapa canggungnya pelayan itu menyeduh teh.


"Miel, ambil alih pekerjaannya," potong Holland setelah melihat pergerakan lambat si pelayan. Pria itu tak sabar karena si pelayan bekerja tanpa cekatan, bahkan merasa risi dengan kehadirannya yang tidak profesional.


"Maafkan saya." Pelayan itu menundukkan tubuhnya dalam, lalu berlari keluar dari ruang kerja Holland.


Miel menghela napasnya. "Jika Anda bicara dengan dingin seperti itu, tentu saja pelayan itu akan ketakutan."


"Jangan banyak bicara, cepat lakukan pekerjaanmu."


Miel cemberut. "Dasar orang menyebalkan," gumamnya.


Miel kemudian menyeduh teh dengan gerakan yang cekatan, hingga menghidangkannya pada Holland.


Holland menghirup wangi teh yang disajikan sebelum sedikit menyesapnya. Kerutan di dahi Holland lantas timbul. "Rasanya sedikit aneh," gumamnya.


"Ya? Aneh?" tanya Miel yang bisa mendengar gumaman pria itu.


"Ya." Holland meletakkan cangkir teh di atas tatakan.


"Di mana letak anehnya?" Miel langsung merasa waspada pada teh yang dibawa oleh pelayan. Keselamatan Holland adalah hal yang terpenting, hingga Miel harus mempertanyakan bagaimana rasa dan tekstur teh yang dikonsumsi.


"Entah."


Miel menepuk dahinya. "Tolong serius. Mungkin saja nyawa Anda dalam bahaya, mengingat saya juga belum pernah melihat pelayan itu."


Holland mengembuskan napasnya, lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran beludru. "Entah, ya. Bagaimana rasanya, aku lupa."


Miel menghela napasnya. "Apa Anda sedang bercanda dengan saya? Saya tahu kehidupan Anda begitu monoton hingga Anda ingin bertukar lawakan dengan saya."


Holland mendesis, Miel masih sama kurang ajar padanya.


Namun, Holland yakin ada yang salah dengan tehnya. Holland telah meminum teh dengan jenama yang sama selama bertahun-tahun, karena teh tersebut merupakan favoritnya. Dalam aromanya, Holland tak bisa membedakannya, tetapi dalam rasanya, ada yang berbeda.


Holland menegakkan tubuhnya dan ingin melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, tetapi hawa panas tiba-tiba menyebar di seluruh tubuhnya.


Holland melirik jendela, senja di sana telah tenggelam, menyisakan semburat tipis cahaya oranye yang mengingatkan Holland pada Esther. Udara malam seharusnya tak begitu panas, tetapi Holland merasa tubuhnya semakin gerah.


"Miel, apakah udara terasa panas?" tanya Holland.


Miel menatap Holland dengan pandangan aneh. "Tidak, tapi ... wajah Anda memerah, Tuan Holland. Apakah demam? Sakit pada pergantian musim bukan hal yang langka bagi Anda, dan ini juga baru awal musim semi."


"Apakah demam, ya?" tanya Miel, meletakkan punggung tangannya di dahi Holland. "Bagaimana dengan menghentikan pekerjaan Anda dan istirahat di kamar? Akan saya panggilkan dokter."


Holland mengembuskan napasnya. "Ide bagus." Kepalanya berdenyut nyeri, Holland bahkan dikuasai oleh rasa panas yang membuatnya menderita.


"Bisa berjalan?"


"Ya."


Holland bangkit dari kursinya dengan susah payah. Tidak hanya tubuhnya yang memanas, Holland dikuasai oleh perasaan aneh lainnya. Dia ingin menyentuh seseorang, telapak tangannya begitu panas.


Dengan tertatih, Holland keluar dari ruang kerjanya, ditemani Miel.


"Mau saya bantu?" tanya Miel.


"Tidak, cepat panggil dokter saja."


"Baiklah." Miel sedikit ragu, memperhatikan Holland yang tak bisa berdiri tegak, tetapi memutuskan untuk mengambil jalur yang berbeda untuk memanggil dokter kediaman.


Sementara itu, Holland menyangga tubuhnya lewat dinding berornamen. Untung saja, kamarnya dengan ruang kerjanya hanya berjarak beberapa meter saja hingga Holland bisa dengan mudah mengaksesnya.


Holland dengan perlahan membuka pintu kamarnya, tetapi sengatan lilin beraroma langsung menyerang indra penciumannya.


"Ah, Tuan Holland?"


Holland ingin mengambil langkah mundur ketika melihat wanita itu, mengenakan gaun tidur tipisnya yang terbuka.


"Olivia?" Napas Holland memberat, seakan dia baru saja dikejar oleh sesuatu.


Olivia mendekati Holland secara perlahan, senyumnya timbul di bibirnya. Olivia terlihat cantik, tetapi bagaikan seorang iblis yang bersiap menjatuhkan manusia dengan rayuannya.


Holland terlonjak pada sentuhan Olivia pada pergelangan tangannya. Rasa panas yang berusaha ditahan oleh Holland, menyebar ke seluruh tubuhnya. Napasnya makin memberat, dan sebuah gairah menjijikkan mulai memasuki tubuhnya.


"Tuan Holland, tidak, Holland. Kamu adalah suamiku, aku bisa memanggil namamu secara langsung, bukan?" Olivia berjinjit, menyampirkan kedua lengannya pada bahu Holland.


Holland merintih pelan. Kontak fisik ini benar-benar membangunkan perasaan membara yang membuatnya merasa makin terbakar. Tidak hanya itu, hanya dengan sentuhan sederhana, Holland memiliki keinginan untuk mendekap wanita di hadapannya lebih banyak lagi, lagi, merengkuhnya, mengecupnya.


Olivia terkekeh kecil, lalu berinisiatif untuk mencuri ciuman dalam di bibir Holland.


"Mm?" Holland ingin mendorong Olivia, tetapi kala kedua bibir bersentuhan, gairahnya meningkat, hingga apa yang Holland lakukan adalah memberikan balasan alih-alih mendorongnya.


Olivia tampak puas, kembali mencium Holland dengan kemampuan yang dimilikinya.


Setelah ciuman lepas, Olivia bisa melihat wajah Holland yang merona, memerah dengan pekat. Olivia dibuat berdebar karenanya.


Olivia kemudian menutup pintu kamar yang terbuka, lalu dituntunnya Holland menuju tempat tidur.


Setelah berciuman, Holland merasa tubuhnya semakin bergairah. Keinginan untuk merengkuh Olivia semakin meningkat, hingga Holland bahkan merasa bahwa sebuah kecupan tak lagi cukup. Pria itu menginginkan lebih.


Holland ingin menahan diri, dia tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Akan tetapi, tubuhnya tak bisa membohongi. Bagaikan berada dalam pengaruh sihir, Holland tak bisa mengontrol tubuhnya sendiri.


Ketika Holland menyadari apa yang dia lakukan, Holland sudah mendorong Olivia ke atas ranjang yang dipenuhi kelopak mawar. Harumnya mawar begitu memabukkan, hingga Holland tak lagi sadar berapa banyak ciuman yang dia berikan pada Olivia. Juga, lilin aromaterapi mendukung hilangnya kontrol tubuh Holland.


"Holland," desah Olivia, wajahnya memerah, tetapi kedua lengannya tak lepas dari leher Holland. "Aku menyukaimu, aku menyukaimu. Aku suka ciumanmu, pelukanmu, lakukan lebih lagi."


Pikiran Holland tak lagi sinkron dengan tubuhnya. Seakan terdapat kabut tebal yang menghalangi sel otaknya, Holland dibuat makin antusias dengan kalimat Olivia yang keluar dari bibir ranum tersebut.


Holland kembali mencium Olivia, dengan dalam, dan sedikit liar. Membuat Olivia turut bersemangat, dan Holland tak dapat lagi menahan diri.


...***...


"Tuan Holland. Bangunlah."


Holland melenguh kecil ketika merasakan tubuhnya digoyangkan dengan cepat, seolah orang yang membangunkan ingin Holland segera terjaga.


Holland membuka matanya, lalu dihadapkan dengan wajah Miel dalam visinya.


"Miel?" Holland menegakkan tubuhnya. Selimut sutra yang lembut turun dari bahunya, menunjukkan tubuhnya yang tak mengenakan sehelai kain. "Hah?"


"Tuan Holland." Miel menatap Holland dengan tatapan tak terdefinisi. "Air mandinya sudah siap."


Pikiran Holland masih memproses apa yang terjadi semalam. Dia ingat bahwa dia pergi ke kamarnya karena tubuhnya terasa aneh, lalu dia mencium Olivia.


Apa? Mencium Olivia?


Ditolehkannya kepalanya ke samping dengan cepat untuk menemukan bahwa Olivia tertidur dengan senyuman lembut di bibir. Berbeda dengan suasana hati Olivia, Holland merasa bahwa dia telah terjatuh ke dalam neraka atas bisikan iblis picik di sebelahnya.


Tiba-tiba, Holland merasa resah, pikirannya berantakan, dan tubuhnya bahkan bergetar samar.


"Berjanjilah padaku, Holland."


"Apa itu, sayangku?"


"Jangan sentuh Nona Olivia."


"Aku berjanji."


Sebuah janji yang telah Holland hancurkan. Kedua maniknya yang sewarna merah bergetar.


Holland lalu mengepalkan kedua tangannya dengan erat. "Pelayan itu, bawa pelayan kemarin ke hadapanku," ucap Holland dengan nada rendah.


Miel tahu arti dari nada suara tuannya, Holland murka. Maka dari itu, Miel mengangguk perlahan. "Tuan Holland, sudah saya tangkap pelayan itu."


Holland tertawa nanar. "Ya, hancurkan hidup pelayan itu seperti dia menghancurkan hidupku, Miel. Jangan biarkan dia bekerja lagi seumur hidupnya, jangan biarkan keluarganya hidup dengan bahagia."


Miel tak mengubah ekspresi wajahnya meskipun permintaan Holland begitu menyeramkan. "Saya mengerti, Tuan Holland."


Holland menutup wajahnya dengan kedua tangan, merasa frustrasi dengan dirinya sendiri. Menghadapi satu menit ke depannya bagi Holland, dia sudah merasa tak sanggup.


"Miel, apa yang harus kulakukan?" Suara Holland yang bergema terdengar begitu menyedihkan, bahkan kicauan burung di pagi hari tak lagi terdengar, seolah tak berani untuk bersuara di saat ada yang tengah berduka.


...***...


No komen sama bagian ini :) it's my first time bikin scene eksplisit, dan aku dah cukup umur ya. Hayo, siapa yang masih under 17, tapi baca bab ini? Well, aku udah peringatkan di bagian awal yaa :3


2 Juli 2023