Summer Is For Falling In Love

Summer Is For Falling In Love
4. Bicara Secara Kasual



"Bagaimana kepalamu, Tuan Holland?" tanya Esther ketika keduanya sedang sarapan, bukan, makan siang. Ini sudah pukul sebelas siang dan keduanya baru saja berkumpul di meja makan vila Holland karena hang over.


Malam sebelumnya, keduanya memiliki pesta kecil di ruang tamu vila. Pesta itu diisi oleh Holland, Esther, Miel, dan Hanah.


Namun, siapa sangka bahwa di sana Holland malah kecanduan minum alkohol. Dia meminum alkohol seperti meneguk air biasa. Membuat Holland akhirnya terkapar tidak berdaya di pagi hari dan baru saja mendapatkan sarapannya pada pukul sebelas.


"Saya baik-baik saja, Nona Esther. Meski kepala saya sedikit berputar," balas Holland.


"Itu berita baik, Tuan Holland. Aku sudah memberikan Miel resep pereda hang over yang selalu ibuku buat. Biasanya itu manjur."


"Ya, terima kasih, Nona Esther. Saya menghargainya." Holland memakan sarapannya dengan normal sebelum dia menyadari kejanggalan dalam intonasi serta gaya bicara mereka. "Anda ... bicara kasual?"


Esther memakan sarapannya dengan anggun dan sesuai etiket tanpa merubah ekspresinya.


"Ya, tentu saja. Bukankah kamu sendiri yang menyarankan hal ini kemarin malam?"


"Ya? Saya tidak ingat."


"Tapi aku mengingatnya dengan sangat jelas, Tuan Holland. Kamu mengatakan, 'Nona Esther, jangan bicara formal padaku, itu malah membuktikan kalau kami sangat jauh, aku tidak suka' dan banyak lainnya. Kamu mengatakan hal-hal yang manis, Tuan Holland."


Rona tipis naik ke pipi Holland. Apakah dia benar-benar mengatakan hal-hal itu? Yah, memang benar jika Holland sangat ingin bicara secara kasual dan membuang nada-nada formal di dalam gaya percakapan mereka. Namun, Holland yakin bahwa keduanya membutuhkan waktu hingga seharusnya tidak perlu tergesa-gesa. Hal yang tidak disangka oleh Holland adalah dia mengatakan apa yang terkunci di hatinya ketika dia mabuk.


Salah Holland ketika dia membiarkan dirinya mabuk ketika di hadapannya ada wanita yang dia sukai. Bukankah itu sangat tidak sopan? Holland nyaris mengutuk dirinya sendiri.


"Saya mengatakan hal seperti itu? Maafkan saya, Nona Esther. Saya memang mengatakan hal-hal aneh ketika sedang mabuk. Salah saya juga karena mabuk di saat-saat seperti kemarin." Holland menunjukkan penyesalannya lewat sorot dan nada bicaranya.


"Bukan apa-apa, Tuan Holland. Dan aku menyetujui hal itu. Bukankah lebih baik bagi kita untuk bicara secara kasual tanpa menghiraukan etiket bangsawan? Bukankah itu merepotkan? Bukankah peraturan untuk bangsawan begitu mengekang hingga kamu tercekik?"


Holland terpaku. Itu benar.


Banyak hal yang tidak boleh dilakukan oleh bangsawan, oleh Holland. Holland tidak bisa bebas. Kebebasannya diambil alih oleh status sosial yang tersemat di dalamnya. Status yang dia dapatkan semenjak lahir, yang mengikatkan rantai emas di lehernya sehingga mengunci setiap pergerakannya.


Itu menyiksa.


Itu menyiksa Holland ketika dia sangat ingin berperilaku seperti biasa tanpa mementingkan etiket.


Ah, bagaimana Esther begitu memahami Holland. Seolah Esther memanglah dewi bagi Holland yang terus memandanginya setiap saat, membuatnya tahu banyak mengenai Holland dan keinginannya.


"Kalau begitu, aku akan bicara secara kasual padamu mulai sekarang, Nona Esther." Holland melayangkan senyuman.


Esther mengangguk puas. "Tentu saja, aku lebih suka seperti ini."


Dan begitulah bagaimana jarak di antara mereka kembali terkikis secara perlahan.


...***...


"Apa kamu pernah mencoba untuk melakukan ini sebelumnya, Nona Esther?"


Esther menggeleng perlahan. "Tentu saja tidak pernah. Ini adalah pertama kalinya aku mengunjungi pantai."


"Sama. Ini juga pertama kalinya aku mengunjungi pantai."


Holland dan Esther bertukar tatap, lalu tertawa.


Keduanya kembali fokus mengorek-ngorek tanah untuk mencari kerang.


Esther mengeluarkan opini mengenai mereka akan membuat kalung dari cangkang kerang. Dan tentu saja harus cangkang yang berkualitas sehingga keduanya melakukan yang terbaik untuk mencari cangkang kerang di pasir-pasir halus pantai.


Sesekali, ombak akan datang dan menghujani mereka, membasahi kedua kaki, dan membuat pakaian mereka berat oleh air yang terserap.


Namun, Holland menikmati hal ini.


Tujuh hari saja. Tujuh hari saja, Holland tidak perlu berperilaku sebagai penerus Duke. Dia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa menjadi marionette buatan keluarganya. Dan dalam waktu yang terbatas itu pula, merupakan kesempatan bagi Holland untuk menjadi dekat dengan Esther.


"Kupikir ini sudah cukup, Tuan Holland," kata Esther, dia mengusap peluh di dahi, dan rambutnya yang panjang berantakan.


Akan tetapi, di mata Holland, Esther terlihat sangat imut dengan beberapa helai rambut merah yang menempel di pipi karena keringat. Yah, udara memang cukup panas.


"Baiklah, Nona Esther. Bagaimana kalau kita kembali?" ajak Holland yang diangguki Esther.


"Akan kita apakan kerang-kerang ini, Nona Esther?" tanya Holland. Di tangannya, terdapat sekeranjang kerang yang dilapisi pasir pantai.


"Akan kita buat menjadi perhiasan!" balas Esther dengan antusias.


Holland tersenyum kecil mendengarnya. Mau dilihat dari mana pun, Esther sangat manis. Setidaknya itu yang dikatakan oleh manik merah Holland yang kian menyipit karena menahan senyuman.


"Kalau begitu, aku akan memanggil seseorang dari toko perhiasan."


"Itu ide yang bagus."


"Perhiasan apa yang kamu inginkan, Nona Esther?"


"Kurasa kalung."


Holland mengangguk. "Kalau begitu, malam ini kalungnya akan selesai."


"Malam ini?" Esther mengerjap.


Hari sudah cukup sore sehingga membuat sebuah kalung untuk malam ini mungkin akan sangat mustahil.


Namun, melihat bagaimana Holland sangat percaya diri dengan jawabannya membuat Esther hanya tersenyum kecil.


Malam harinya, ketika Esther bersiap-siap untuk tidur, Hanah memasuki kamar Esther yang kini berada di vila mewah Holland dengan kotak di tangannya.


"Apa itu, Hanah?" tanya Esther. Gaun tidurnya mengikuti pergerakan Esther ketika wanita itu bangkit dari ranjang.


"Nona, ini adalah hadiah dari Tuan Holland."


Esther menerima kotak tersebut dengan perasaan berdebar yang aneh. Di bibirnya, terlukis senyuman layaknya keindahan terbenamnya matahari.


Ketika Esther membuka kotak, betapa hatinya benar-benar berdebar lebih keras. Sungguh, Esther juga bisa merasakan pipinya yang memanas dan merah.


Itu adalah kalung.


Kalung yang dimodifikasi dari kerang-kerang yang mereka cari sebelumnya.


"Hanah, bantu aku memakainya."


"Baik, Nona."


Esther setengah berlari menuju meja riasnya.


Hanah kemudian membantu Esther untuk memasangkan kalung tersebut di lehernya.


Esther tersenyum kala melihat refleksinya yang menampilkan dirinya sendiri mengenakan gaun tidur putih berenda, tetapi sedikit berwarna kala kalung menghiasi.


Kalung itu memiliki rantai yang terbuat dari emas dan kerang serta berlian ruby yang menyatu. Itu menakjubkan, tetapi di saat yang sama membuat Esther terus mengingat mata Holland yang merah.


"Anda menyukainya?" tanya Hanah dengan senyuman tipis di bibir.


Esther turut mengukir senyuman di bibir merah merona. Itu lembut. Tidak, itu memukau.


Mengenai bagaimana wajah cantik Esther tampak terlihat puas kala kalung itu dikaitkan di lehernya. Atau mengenai bagaimana bahwa pengirim kalung ini adalah seseorang yang diam-diam mengambil tempat di ruang hatinya.


Betapa Esther merasa dadanya meledak-ledak. Seakan terdapat bom waktu di dalamnya, yang akan meledak dengan hebat kala waktunya telah tiba. Waktu ketika Esther menyadari sepenuhnya bahwa dia menyukai Holland.


Bukan, bukan karena perilaku Holland yang memang penuh dengan tipu muslihat. Akan tetapi, perasaan tersebut murni karena intuisi pun hatinya mengatakan demikian. Mengatakan jika pria itu orang yang tepat.


Ini merupakan musim panas, tetapi Esther merasa bahwa musim semi di hatinya telah mekar dan menyaingi waktu.


...***...


Menulis novel cukup sulit, jadi aku mengharapkan sedikit apresiasi. Ikuti akunku? Kalau kamu juga memiliki akun di aplikasi oren, kamu bisa mengunjungi aku dengan username alunamoona untuk tenggelam di ceritaku lebih jauh. Ada banyak kisah yang belum tersampaikan di sini, kalau kamu mampir ke sana, aku akan menghargainya ꒰⁠⑅⁠ᵕ⁠༚⁠ᵕ⁠꒱⁠˖⁠♡


2 Juli 2023