
"Eh, Nona Esther?"
Betapa Holland merasa jantung di balik dadanya terasa berhenti berdegup kala menatap figur cantik Esther. Dengan gaun tidur berwarna putih yang sederhana, kemudian dilapisi oleh selendang setengah transparan yang sekiranya tak berhasil menutup seluruh bagian tubuhnya yang terbuka, lantas rambut semerah darah yang menjadi kanvas putih polos itu begitu memikat.
Esther yang tengah menumpukan kedua tangannya di atas tembok balkon, melempar senyum semanis permen kapas pada Holland. Diselipkannya rambut merah darah ke balik telinga yang mengganggu kedua maniknya.
"Tuan Holland," bisik Esther, ditanggapi oleh keheningan.
Holland menggigit bibir. Tidak menyangka akan bertemu dengan Esther di tengah malam, kala semua eksistensi yang Holland kenal telah terlelap ke dalam dunia mimpi yang manis.
"Apa yang kamu lakukan, Tuan Holland, tengah malam begini?" tanya Esther.
"Seharusnya aku yang menanyakan hal tersebut, Nona Esther. Mengapa kamu di luar ketika tengah malam?"
"Aku tidak bisa tidur," balas Esther, kembali memandang panorama gelapnya malam yang bahkan lentera pun tak dapat menyainginya. Deru ombak yang nampak samar dalam retina, saling beradu, dan menjadi satu-satunya melodi di tengah angin malam yang membeku.
"Aku juga sama."
"Apa ada yang mengganggumu, Tuan Holland?"
Holland menggelengkan kepalanya, dia maju dan berdiri di samping Esther, turut menikmati panorama malam.
"Tidak ada, Nona Esther. Hanya saja, aku memang terkadang kesulitan tidur sehingga aku selalu memutuskan untuk berjalan-jalan hingga aku lelah. Mungkin saja kelelahan bisa membantuku untuk terlelap."
"Oh? Kupikir Tuan Holland memiliki tanggung jawab yang terlalu besar di pundaknya tidak bisa mengosongkan pikirannya sehingga kesulitan tidur."
Holland menolehkan kepalanya, dan di saat yang sama, manik merah Holland dan manik emas Esther saling menabrak, saling mengunci, enggan terlepas walau satu detik, seolah serakah untuk mengulik segala misteri di balik bola mata yang tak terjamah.
Sementara itu, Holland merasa bahwa kalimat Esther begitu tepat sasaran. Apakah penulis memang mengetahui segalanya hanya dengan sekali lihat? Bagaimana bisa Esther tahu jika Holland tidak bisa mengosongkan pikirannya untuk tidur? Tiap kali Holland menyentuh kasur empuknya dan mencoba agar tidak bisa memikirkan banyak hal, benaknya terus berkecamuk hebat. Di pikirannya tak pernah sunyi, kerap kali terlintas hal-hal yang membuat Holland merasa terganggu.
Percakapan asing, suara-suara aneh, dan sisipan masa lalu menyakitkan kerap kali dengan lancang mengambil alih benaknya. Itu mengganggu, mengenai betapa Holland memaksakan kedua matanya untuk menyembunyikan manik darah di sana, tetapi pikirannya tak membiarkan Holland untuk melakukan hal yang sama.
"Bagaimana dengan Nona Esther sendiri?" Holland memutuskan untuk mengalihkan percakapan. "Apa yang membawa Nona Esther keluar dari kamarmu dan berdiam diri di balkon yang dingin?"
"Tidak ada." Esther setengah menggeleng, tetapi terhenti. "Sebenarnya ada."
"Jika Nona Esther tidak keberatan, Nona bisa membicarakan hal yang mengganggumu padaku," ujar Holland dengan suara yang lembut untuk memberikan kesan bahwa dia tak akan menghakimi setiap kata yang dituangkan Esther.
"Aku tidak keberatan, aku membutuhkan seseorang untuk mendengar ceritaku," bisik Esther. Angin malam kembali memainkan helaian merah Esther, sesekali Holland merasa helai panjang itu menyentuh punggung tangannya dan Holland merasa tergelitik.
"Kalau begitu, tidak perlu sungkan, Nona Esther."
Jeda sebelum Esther membuka bibirnya. "Kamu tahu, Tuan Holland? Aku membenci musim panas."
Ditelusurinya tiap rupa dan sorot milik Esther dengan pandangan lembut.
"Saat itu, usiaku empat belas tahun di musim panas. Keluargaku, Baron Dercastez, tengah mengalami kebangkrutan dalam bisnisnya karena banyak rekan Ayah yang menipunya. Kami berusaha menutupi kekurangan dan kerugian dengan menciptakan kembali inovasi yang baru. Akan tetapi, seolah Tuhan telah menakdirkan kami untuk jatuh, kami jatuh, mau seberapa kuatnya pegangan kami pada seutas tali, kami tetap jatuh. Satu-persatu rekan kepercayaan Ayah meninggalkan bisnis kami dan keluarga Dercastez nyaris runtuh. Bahkan gelar Baron kami hampir ditanggalkan."
Holland menatap manik emas Esther. Di dalamnya, terdapat keteguhan yang tak dapat Holland deskripsikan. Itu begitu pecah, tetapi tangguh. Selayaknya kaca, tetapi selayaknya pula permata.
Holland tak tahu mengapa Esther mengungkapkan segalanya tanpa menangisinya. Holland pasti tahu jika yang Esther telah lalui begitu berat, tetapi Holland tak tahu mengapa Esther tak membiarkan Holland untuk mengetahui sisi pecah Esther.
"Aku memiliki empat adik dan mereka masih sangat kecil. Kami melakukan apa pun untuk menutupi kondisi ekonomi kami yang memburuk, bahkan kami berutang pada saudagar dengan bunga yang tinggi. Di sana, aku nyaris putus asa. Di sana, aku hampir menyerah. Kamu tahu apa rasanya saat itu? Aku merasa bahwa takdirku sangat buruk dan aku menyalahkan Tuhan. Aku memang berkali-kali telah berusaha untuk membantu perekonomian keluargaku, tetapi saat itu aku adalah remaja dan aku seorang gadis. Seorang gadis selalu dipandang remeh.
"Musim panas yang paling menyiksa. Di mana keluargaku jatuh dari tebing curam, dipaksa bertahan hidup dalam neraka, dan kelaparan karena kami tidak punya uang di musim panas yang harga bahan bakunya naik. Semenjak saat itu, aku membenci musim panas."
Holland diliputi perasaan campur aduk. Esther kelihatan teguh, tetapi Holland ingin merengkuh Esther ke dalam pelukannya untuk memberi tahu bahwa wanita itu tidak perlu menahan deritanya sendirian lagi. Ada Holland di sisinya.
"Karena muak, aku menuliskan nama-nama orang yang menjahati keluargaku di dalam secarik kertas," sambung Esther. "Lalu, kubakar kertas itu hingga menjadi abu. Namun, mau berapa kali pun aku membakar kertas itu, aku tidak bisa menutupi dendam di dadaku. Maka dari itu, aku membunuh mereka di dalam novelku, menjadi penjahat paling sampah yang pernah ada. Hal yang tidak aku ketahui adalah novelku diterbitkan perusahaan penerbitan dan aku menjadi penulis terkenal di usia dua puluh."
Holland melebarkan mata. Sebagai penggemar Asteria, dia tentu saja tahu bagaimana tragisnya kematian para penjahat di dalam novelnya.
"Mengetahui latar belakang para penjahat sampah yang menentang kisah cinta protagonis di novelmu merupakan kehormatan terbesar bagiku," bisik Holland.
"Eh?" Esther menatap Holland dengan pandangan terkejut.
"Ya?" Holland menatap bingung.
Esther kemudian meluncurkan kekehan kecil dan menutup bibirnya dengan jemari. "Ternyata kamu membaca novelku, iya, kan, Tuan Holland?"
Holland tersentak. "A-Apa maksudmu, Nona Esther?!"
"Bagaimana kamu tahu kalau di novelku ada penjahat gila yang berani sekali menentang kisah percintaan kedua tokoh utama? Jika kamu tahu, artinya kamu membaca novelku. Sudah, akui saja, Tuan Holland. Kamu membaca novelku, kan?" goda Esther.
Holland mengalihkan pandang dengan wajah yang merona. Berurusan dengan penulis rupanya cukup berbahaya. Hanya dengan beberapa patah kata yang meluncur dari bibirnya tanpa sengaja, bisa membuat wanita itu mengetahui kebenarannya.
"Tuan Holland? Akui saja, aku tidak akan marah."
Holland mengembuskan napasnya, tanpa memandang Esther, Holland mengangguk. "Jika aku boleh jujur, Nona Esther. Aku adalah penggemarmu. Kamu menuliskan novelmu dengan sangat baik sehingga aku berkali-kali jatuh cinta dengan tulisanmu."
Holland gugup ketika tak kunjung mendapatkan reaksi dari Esther. Karena penasaran, Holland menolehkan kepalanya.
Wajah Holland terbakar ketika melihat betapa manisnya Esther dalam senyumannya yang lebar. Holland tak tahu mesti melakukan apa dengan detak memburu di balik dadanya, tetapi Esther begitu manis. Senyuman di bibir merona mesra tersebut sama bersinarnya dengan luna di angkasa, berkilauan, memikat, dan menaklukkan setiap rasa di dada. Memenuhi setiap inci dirinya dengan penuh perasaan yang membara.
Holland tak tahu mengapa dia memiliki keinginan untuk merengkuh Esther dalam pelukan penuh kasih, membisikkan kata-kata cinta yang tak ternilai harganya, atau mengecup bibirnya sesekali. Entah mengapa, Holland tak menolak isi hatinya.
Holland tahu bahwa dia gila, tetapi seolah ada yang mengendalikan tubuhnya, Holland membawa Esther ke dalam rengkuhan dan memonopoli bibir itu. Dikecupnya Esther dengan mata tertutup, dicurahkannya setiap rasa yang terkunci di dada, dan direngkuhnya sosok terkasih itu di dalam pelukan yang mesra.
Esther cukup terkejut dengan perlakuan Holland. Akan tetapi, dia pun ragu untuk menerima ciuman itu. Esther mengingat pertemuan pertama mereka di bibir pantai lima hari yang lalu, kemudian menghabiskan banyak waktu bersama-sama. Semua memori liburan musim panas dipenuhi oleh Holland yang menarik atensinya. Esther bahkan berkali-kali berusaha untuk meredam apa yang ada di dalam dadanya, berusaha menekan rasa serakah untuk mengetahui setiap sisi Holland, berusaha untuk membawa Holland ke dalam teritorinya, atau mengabadikan namanya di dalam novelnya menjadi tokoh yang pantas untuk dikasihi dan dicintai.
Esther mengagumi Holland yang memiliki rasa tanggung jawab yang besar, tetapi Esther tak tahu apakah ciuman bisa mengakhiri rasa kagumnya menjadi cintanya.
Selama dua puluh tahun kehidupannya, Holland mencuri ciuman pertamanya. Tak hanya kecup di bibir, pun perasan menggebu di rongga dadanya.
Esther seharusnya tak perlu ragu ketika perasaannya mengatakan bahwa di hadapannya adalah takdirnya, bahwa intuisinya tak akan salah dengan menjadikan Holland sebagai rekan hidupnya. Holland begitu memikat di sisi yang tak orang lihat. Esther pun bisa berkali-kali terpikat, tetapi berusaha untuk menyangkal.
Pada akhirnya, Esther membalas ciuman itu. Memutuskan untuk menumpukan segala perasan di dada dalam satu ciuman penentu. Memutuskan bahwa intuisinya akan benar dan Esther tidak perlu ragu lagi dalam perasaan yang membara.
Di bawah sinar luna yang berkilauan, dua jiwa menjadi satu.
Kala Holland menarik dirinya dalam ciuman penuh kasih dengan wajah merah dimabuk asmara dan pandangan berkunang-kunang karena pusing, direngkuhnya Esther dengn sayang.
"Nona Esther sangat menakjubkan bisa melewati segala yang memberatkanmu. Nona tidak perlu resah lagi ketika menghadapinya, aku berada di sisimu, menemanimu," bisik Holland. "Aku menyukaimu, Nona Esther. Aku mencintaimu. Rasanya, perasaan yang kutahan di dadaku begitu menyiksa dan aku tak mampu lagi untuk menahannya. Izinkan aku untuk mengutarakan segala perasaanku dan izinkan aku untuk mendengar perasaanmu juga."
Esther dengan manik emas yang bergetar tak mampu mengutarakan kata-kata selama Holland mencurahkan dialognya. Bahkan Esther, penulis berpengalaman selama lima tahun, yang kerap kali menuliskan kata-kata pengakuan cinta dalam novelnya yang manisnya menyaingi madu, tak mampu berkutik.
Namun, satu yang Esther tahu. Menumpukan perasan di dadanya pada pria yang mengakui cintanya akan menjadi candu yang baru. Merupakan pilihan yang tepat untuk Esther, membalas setiap perasaan menggebu di dada.
...***...
Aku sedikit suka dengan novelku yang ini, majasnya kentara, seolah aku memang berniat untuk menenggelamkan sang pembaca dalam suatu kisah yang manis. Hanya saja, aku sudah kehilangan kemampuan itu, kini aku menulis dengan monoton. Novel ini sudah lama tamat di aplikasi oren, aku cuma re-post di sini, karena itulah gaya bahasaku selalu berbeda di setiap cerita. terima kasih banyak sudah membaca, harap di-share ke teman-teman kamu supaya aku mendapat banyak pembaca yang aku impikan ꒰⑅ᵕ༚ᵕ꒱˖♡
2 Juli 2023