Summer Is For Falling In Love

Summer Is For Falling In Love
7. Berniat Untuk Melindungi



Holland merasa pakaian yang dipilihkan oleh Miel terlalu berlebihan baginya jika hanya digunakan untuk jalan-jalan di pesisir pantai. Namun, Miel bersikeras bahwa Holland harus tampak bersinar hingga Esther akan terpikat lagi padanya.


Holland ragu apakah keputusan Miel benar-benar hal yang tepat. Akan tetapi, kala suara sepatu yang beradu dengan marmer menggema di dalam sebuah ruangan, udara tiba-tiba memanas, dan Holland tak mampu berkutik.


Di dalam kedua mata semerah darah, tenggelam dalam danau merah; seorang pujaan hatinya. Dengan gaun musim panas yang ringan dan tipis, tetapi memiliki banyak renda dan aksesori yang kelihatan begitu cocok dengan rambutnya yang berwarna darah, nyaris mirip dengan senja di kemudian hari, lantas memikat hati, dicurinya hati, tak mampu alihkan atensi.


Holland diam-diam menggigit bibir, menahan debaran di dadanya yang mulai menggila.


Sekali lagi, suara sepatu yang menggema di lantai marmer kembali mengudara, mengusik lamunan Holland sebab terlalu terpikat.


"Kamu ... sangat cantik, Nona Esther," puji Holland setelah tak dapat berkata-kata sebelumnya.


Esther tersenyum lembut, selayaknya kapas yang beterbangan di angkasa lepas. "Begitu pula Tuan Holland, kamu sangat memukau."


Holland tiba-tiba ingin memuji Miel dan menaikkan gajinya karena sudah membantu Holland dalam pakaiannya.


"Terima kasih banyak." Holland membalas dengan gugup. "Kalau begitu, maukah kita pergi sekarang, Nona Esther?"


Holland mengulurkan tangan kanannya dan sedikit membungkukkan tubuhnya, menyerupai ajakan dalam sebuah tarian dansa menuju lantai dansa. Holland melakukannya dengan harap bahwa Esther akan tenggelam dalam tarian semu keduanya di bibir pantai.


Esther tak ragu ketika menerima uluran tangan Holland. Sebaliknya, dia tersenyum lembut dan mempererat pegangan tangan, saling merasakan suhu tubuh hangat milik masing-masing, yang membekas dan sulit pudar.


Pada akhirnya, keduanya keluar dari vila dan mendekati bibir pantai. Matahari di angkasa sana bersinar terik walau jam masih menunjuk angka sembilan, masuk akal saja karena bulan masih di awal musim panas.


"Aku jadi mengingat bahwa aku bertemu denganmu di pesisir pantai," ujar Esther, membuka percakapan untuk yang pertama kalinya.


Sekilas, Holland terkejut karena dia terlalu asik dalam lamunan, berputar-putar dalam benaknya yang berisik dan berantakan hanya karena berpegangan tangan. Meski begitu, diukirnya senyuman manis di bibir, mempercantik kanvas lukis nyata itu.


"Benar sekali. Aku merasa terkejut pada saat itu."


"Tuan Holland memang melihatku dengan mata melebar." Esther memberi jeda untuk memberikan kekehan pelannya mengudara. "Lalu, kamu bertanya siapa diriku dan mengapa ada di pantai ini."


"Masuk akal saja karena pantai ini merupakan pantai pribadi Marchioness Sephien. Aku pikir hanya aku saja yang memiliki akses masuk kemari, karena kupikir Bibi ingin aku bersantai sejenak sebelum penobatanku menjadi penguasa wilayah."


"Sayangnya, ada aku di sini, Tuan Holland."


Holland menilik deburan ombak di kejauhan dengan senyuman semanis madu, dieratkannya pegangan tangan di jemari lentik Esther, mengabaikan perasaan pelik di dadanya, mengabaikan rasa malu dan gugup, dan hanya melakukan apa yang Holland ingin lakukan.


"Daripada dikatakan sebagai 'sayangnya', lebih baik menggunakan kata 'untungnya'. Sebab, semenjak aku bertemu dengan Nona Esther, aku sudah sangat kagum padamu." Ditiliknya wanita yang mengisi relung hatinya untuk beberapa hari terakhir ini. "Nona Esther begitu bebas meskipun kamu memiliki gelar tak biasa yang tersemat di dalam namamu. Tak hanya itu, kamu juga bertahan dengan sangat hebat dalam kondisi ekonomi yang hampir runtuh. Itu saja sudah membuktikan bagaimana aku merasa kagum padamu."


Esther, yang memiliki manik mata seterang emas bagai lentera di malam hari, tercetak kelembutan di dalamnya kala bertemu pandang dengan manik semerah darah.


"Hanya kagum saja?"


Holland menggelengkan kepalanya. "Tidak hanya itu. Aku memang kagum pada Nona Esther, tetapi Nona juga yang membuatku jatuh hati seperti ini. Membayangkan satu hari tanpa Nona Esther rasanya cukup menyedihkan."


"Tuan Holland memiliki bakat untuk mengatakan hal-hal memalukan, ya?" Esther mengalihkan pandang, tetapi tak ayal bahwa kedua pipi putih itu kontras dengan merahnya rona yang kelihatan mesra. Bukan panas dari musim, bukan pula panas dari matahari di angkasa, tetapi panas karena kata-kata manis Holland.


"Benarkah?" Rona merah turut menyebar di pipi Holland. Bukankah Miel menyuruh Holland untuk melakukan apa pun yang Holland mau? Lantas, mengapa Holland merasa ada yang berbeda?


Dengan sorot malu, Holland ikut mengalihkan pandang, tetapi sesekali melirik ke samping, ingin tahu apabila pipi wanita itu telah kembali ke warna normalnya ataukah belum.


"Benar juga, Tuan Holland," panggil Esther, membuat Holland memutuskan untuk menilik wanita itu secara langsung. "Aku belum tahu identitas Tuan Holland. Bagaimana bisa, kekasihnya tidak tahu apa pun mengenai pasangannya?"


Rona merah naik kala Esther tak sungkan untuk mengakui Holland sebagai pasangannya.


Holland berdeham kecil, mengusir rasa malu. "Maafkan aku karena menyembunyikan identitas. Sebab, aku hanya tidak mau membebanimu."


Esther menutup bibir dengan tangannya. "Apakah pangkatmu begitu tinggi sehingga akan membebaniku? Apakah kamu adalah keluarga kerajaan?"


"Tidak, bukan. Aku berasal dari keluarga Duke Floral, namaku Holland Delano Floral, dan akan dinobatkan menjadi Duke satu bulan yang akan datang."


Esther hanya menatap Holland dengan sorot tak terdefinisi. Setelah itu, dia menundukkan kepalanya, menilik kedua kakinya yang terbalut sepatu berwarna oranye.


"Aku jadi malu sekali," kata Esther.


"Malu? Mengapa?"


Holland mengerutkan dahi dan mengeratkan pegangan tangannya. "Tidak ada yang salah dengan statusmu dari keluarga Baron, Nona Esther."


"Namun, kamu akan menjadi penguasa duchy satu bulan ke depan."


"Lantas, mengapa? Aku memberi tahu Nona Esther status sosialku bukan untuk membuat Nona Esther merasa terbebani. Namun, aku memercayaimu."


Esther mengangkat kepalanya. "Memercayaiku?"


"Sebagai pasanganmu, tentu saja aku harus memercayaimu, bukan? Aku percaya pada Nona Esther, bahkan jika aku mengungkapkan status sosialku, perilaku Nona Esther tidak akan berubah padaku. Itulah yang aku suka darimu, Nona Esther. Maka dari itu, tidak perlu merasa terbebani. Sebaliknya, angkat kepalamu dan tegakkan tubuhmu, percaya dirilah. Kamu adalah pasanganku."


Tawa pelan mengalun di udara. Keresahan di dadanya perlahan-lahan menghilang.


Bukannya tanpa alasan Esther merasa begitu resah. Holland adalah Duke di masa depan dan Esther merupakan putri Baron, bukankah kesenjangan status sosial keduanya cukup tinggi? Floral adalah keluarga ksatria dan administrasi yang sukses, sementara Descartez adalah keluarga yang hampir runtuh. Apabila keduanya bersanding, maka opini orang-orang akan menyerangnya dengan telak.


Bangsawan sangat menyukai gosip-gosip panas yang menuntut salah seorang. Bisa-bisa, Esther akan dikatakan sebagai penggoda ulung untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran. Atau bisa saja, opini lain seperti keinginan Esther untuk menduduki posisi Duchess sehingga dapat menaikkan status sosialnya.


Esther tidak pernah menyukai gosip. Dia hanya duduk di balik meja, menulis novel, dan mengabaikan segalanya. Membayangkan bahwa namanya akan berada di dalam pusat gosip membuat Esther merasa kewalahan. Akan tetapi, tenang saja. Sebab, Esther memercayai Holland untuk melindunginya.


Esther menatap manik merah Holland dengan percaya diri. "Tuan Holland, aku punya permintaan."


"Apa itu, Nona Esther? Akan aku kabulkan dengan senang hati apabila aku mampu." Senyuman menenangkan di wajahnya membuat degupan jantung seolah berhenti berdetak.


"Lindungi aku."


Lindungi aku dari bahaya yang mengancam karena berada di sampingmu.


Esther tahu sendiri apabila dia lemah, posisinya bisa digulingkan dengan mudah, dan keluarganya akan goyah apabila dia salah langkah. Maka dari itu, Esther akan meminta bantuan dari orang yang kuat, orang yang mampu menggiring opini rakyat, lalu menundukkan mereka dalam satu kata.


Holland tetap mengukir senyum di bibirnya, seolah mengerti arti dari dua kata yang dilontarkan Esther. "Hal yang mudah sekali, Nona Esther."


Namun, tiba-tiba Holland berlutut di depan Esther, jemarinya menelisik jemari yang lebih mungil di depannya, membawanya ke depan bibir untuk dikecup mesra.


"Nona Esther Descartez, aku, Holland Delano Floral, sebagai ksatria dari Floral, akan bersumpah untuk melindungimu. Maka dari itu, tumpukan segalanya padaku, Nona Esther. Jikalau kamu dalam bahaya, aku akan menjadi perisai dan pedangmu, sampai hayat menghampiri."


Sekali lagi, dikecupnya punggung tangan itu.


Esther merasa geli ketika sentuhan bibir Holland mendarat di punggung tangannya, tetapi menahan diri. Sebaliknya, senyum merekah di bibirnya yang merona.


"Terima kasih, Tuan Ksatria."


Holland mengangkat kepalanya sambil menegakkan tubuhnya. "Bukan masalah besar, Nona Malaikat. Kamu manis sekali. Aku harap Nona Esther tidak keberatan bersanding denganku."


"Tentu saja!" Esther menjawab dengan antusias, kemudian menelusup untuk masuk ke dalam pelukan yang hangat.


Holland terkejut, tetapi memosisikan dirinya untuk menerima pelukan yang tiba-tiba. Kedua tangannya melingkari pinggang Esther, dan lekuk lehernya menenggelamkan wajah Esther. Geli rasanya, degupan di dadanya berdetak tak keruan, keinginan untuk dikecupnya bibir itu langsung naik ke permukaan.


Namun, Holland ingat saran dari Miel bahwa dia tidak boleh berlebihan, dan hanya melakukan apa pun yang dia inginkan atas izin Esther sendiri.


"Nona Esther."


"Ya?" jawab Esther tanpa mengangkat kepalanya, tetap menenggelamkan diri di dalam lekuk leher milik pria itu.


"Bisakah ... aku menciummu?"


Esther tidak menjawab. Sebagai gantinya, Esther menarik diri dari pelukannya dan mengulas senyum.


Holland ikut mengulas senyum sebelum memberikan ciuman kecil yang lembut, tidak terburu-buru, dan bermakna untuk menjaga, bukan untuk menyakiti.


Baik keduanya yang tengah berbagi sumpah setia dalam sepotong ciuman, tengah merasakan ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam tubuh mereka.


...***...


Aku baca ulang novel ini sebelum post di Noveltoon, dan kamu tahu? aku salting banget pas baca interaksi Holland dan Esther! kamu juga gitu, nggak?!! Aku sempet tenggelam dalam kisah yang aku buat sendiriii (⁠。⁠・⁠/⁠/⁠ε⁠/⁠/⁠・⁠。⁠)


2 Juli 2023