
Pada akhirnya, tak ada yang berubah di dalam hubungan Holland dengan Esther meskipun terdapat kehadiran Olivia.
Olivia memang mengandung anak Holland, tetapi perlakuan pria itu tak berbeda jauh dibandingkan sebelumnya, bahkan lebih dingin disebabkan terdapat sebuah fakta bahwa Olivia telah memperalat Holland untuk satu malam.
Sementara itu pula, Holland dapat terus mengunjungi kediaman Descartez atas nama bisnis, sehingga tak banyak bangsawan yang menaruh curiga pada seringnya kunjungan Holland. Di saat itu pula, hubungan Holland dengan Esther semakin erat hingga keduanya yakin bahwa Olivia tak akan membuat mereka goyah lagi.
Akan tetapi, hal ini terasa buruk bagi pelayan yang melayani Olivia. Perangai wanita itu semakin buruk, dia bahkan tak akan segan merendahkan harga diri pelayan, atau memecat secara sembarangan dengan mengatasnamakan dirinya sebagai Nyonya Floral yang memiliki kuasa. Kini, bahkan pelayan terdekatnya mulai berhati-hati dengan Olivia, berusaha agar mereka tidak kehilangan pekerjaan mereka dan dipecat sambil kehilangan harga diri.
Tanpa terasa, sembilan bulan telah berlalu, kelahiran seorang putra di dalam keluarga Floral menyebar dengan hangat. Akan tetapi, Olivia sama sekali tidak merasa senang.
"Meskipun Nyonya telah melahirkan putranya, Tuan Duke sama sekali tidak mengunjungi Nyonya," bisik salah satu pelayan yang membantu proses kelahiran.
"Ah, bukan hal yang baru. Bahkan semenjak mereka menikah, Tuan Duke akan mengabaikan Nyonya seolah Nyonya tidaklah hidup."
"Hush, sudahlah, jangan bergosip," sela pelayan lain yang baru saja datang untuk mengganti air hangat. "Jika Nyonya tahu, habislah kalian."
"Aku sudah tahu! Kalian bicara dengan sangat keras!" batin Olivia dengan kesal, tetapi tak mampu meneriakkan kalimatnya karena dia terlalu lelah.
"Nyonya, selamat ya, beliau seorang laki-laki," ucap pelayan seraya menyerahkan bayi mungil yang terbungkus kain lembut pada Olivia.
Olivia menerima bayinya dengan ragu, lalu menatap kulit wajah yang masih memerah tersebut. Dia adalah putranya, putranya dengan Holland, garis keturunan Floral yang sah, tetapi Olivia sama sekali tidak senang, dia tidak bergembira.
Mengingat bahwa hari ini merupakan kelahiran putranya, tetapi suaminya tak berada di sisinya. Meskipun begitu, Olivia yakin bahwa garis keturunan ini merupakan kunci kehidupannya.
Selama ini, Holland terus menghabiskan waktunya dengan Esther. Olivia sudah tahu siapa wanita yang merebut suaminya, identitasnya, bahkan apa saja yang mereka lakukan. Meskipun Olivia telah membentak Holland berkali-kali bahwa dialah istri sahnya, tetapi Holland berpura-pura tak mendengarnya hingga Olivia berakhir keki sendirian.
Kini, dengan kehadiran seorang putra di rumah tangga Floral, maka sudah pasti bagaimana nasib putranya. Olivia akan membuat putranya layak menjadi kepala rumah tangga selanjutnya, hingga Holland akhirnya bisa mempertahankan putranya. Jika putranya bisa dipertahankan, tentu saja putra itu akan menahan Olivia agar tak dapat lari dari sisi Holland.
Diam-diam, seringaian tipis muncul di bibirnya. Putranya akan menjadi aset yang berharga untuk mengikat Holland dengannya.
"Nama putraku adalah Demian, Demian Delano Floral," kata Olivia sambil mengecup dahi Demian. "Artinya adalah anak laki-laki yang penurut."
"Selamat, Nyonya Olivia!"
"Nama yang menawan, Nyonya Olivia!"
Satu-persatu pelayan mulai mengucapkan selamat atas kelahiran Demian serta nama indah yang baru saja diberikan.
Akan tetapi, nama tersebut rupanya akan mengikat putranya menjadi sosok yang penurut. Olivia berharap bahwa Demian akan menuruti semua perintahnya, permintaannya, bahkan egonya. Olivia bahkan sudah memikirkan tujuan hidup Demian hanyalah untuk menjadi Duke selanjutnya, lalu mengikat Holland agar tak melepas Olivia dan Demian dari kehidupan pria itu karena Holland jelas membutuhkan seorang penerus untuk mempertahankan rumah tangga Floral.
...***...
"Tidak! Ini salah, cepat baca ulang!" Olivia memukul punggung tangan Demian dengan rotan, mengabaikan betapa merahnya punggung tangan Demian, bahkan membengkak.
Demian tersentak karena rasa sakit yang menyengat di punggung tangannya, bahkan air mata menetes dari kelopak mata menuju pipinya yang merah.
"Jangan menangis! Cepat baca dengan lancar!" bentak Olivia.
"Nyonya, mungkin membaca terlalu cepat bagi Tuan Muda, beliau masih berusia lima tahun," sela pelayan yang merasa kasihan dengan Demian.
Pelayan itu mendapat pelototan dari Olivia. "Diam! Dia putraku, terserah padaku apa yang akan aku lakukan!"
Pelayan itu mundur dengan teratur, bahkan menundukkan kepalanya dalam agar wajahnya tak diingat oleh Olivia hingga pelayan itu tak mendapatkan mimpi buruk seperti dipecat secara tidak terhormat.
"Demian!" teriak Olivia, membuat tubuh mungil Demian bergetar hebat.
Bagi Demian yang berusia lima tahun, tentu saja untuk membaca buku teks terlalu sulit baginya. Usianya masih terlalu belia, tetapi Olivia terus mengekang pergerakan Demian dengan alasan memoles sebuah batu menjadi sebuah berlian.
Demian harus berharga, kalau tidak, dia tak akan pantas hidup.
Meskipun kalimat yang sama didoktrin berkali-kali di kepalanya oleh Olivia, tetapi Demian hanyalah seorang anak berusia lima tahun. Otaknya masih kesulitan memproses hal yang berat, bahkan berkali-kali gagal kala memahaminya.
"Demian, jadilah penurut! Jadilah penurut seperti namamu!"
"Ibu, aku tidak bisa membacanya," balas Demian terbata-bata, bahkan beberapa kata terdengar samar akibat isakannya.
Olivia berteriak frustrasi. "Jika begini saja tidak bisa, bagaimana mungkin kamu menjadi Duke selanjutnya?! Kamu harus belajar banyak, menjadi Duke, dan hidup!"
Olivia bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruangan sebelum mengatakan pada pelayan bahwa Demian tak boleh makan apa pun sebelum dia berhasil membaca selembar buku teks dengan lancar.
Setelah pintu ditutup secara keras oleh Olivia, tubuh Demian langsung luruh ke lantai, bahkan dia gemetaran hebat.
"Tuan Muda!"
Para pelayan langsung panik dan menggendong Demian, memeluk tuan muda mereka dengan mata yang berkaca-kaca. Tentu saja beban yang ditimpakan oleh Olivia pada Demian terlalu berat hingga Demian tak akan mampu menahannya.
"Panggilkan dokter, cepat!" komando kepala pelayan wanita. "Sisanya, bawa air hangat dan daun herbal."
"Ma'am, bagaimana dengan perintah Nyonya mengenai jangan memberi makan Tuan Muda?" tanya pelayan yang bersiap untuk mengambil air hangat ke dapur.
Kepala pelayan menghela napasnya. Dia tahu sendiri risiko melawan Nyonya Floral, tetapi rasa kasih sayangnya pada tuan muda Floral lebih mendominasi.
"Bawakan sup yang mudah dicerna. Aku yang akan bertanggung jawab."
Kedua pasang mata si pelayan berkaca-kaca, merasa terharu. "Anda adalah panutan saya, Ma'am! Saya undur diri!"
Kepala pelayan hanya mengembuskan napasnya berat sebelum menghampiri Demian yang sudah dibaringkan di atas sofa.
"Malang sekali nasib Anda, Tuan Muda Demian," gumam kepala pelayan sambil mengelus kepala Demian. "Ibu Anda sangat keras, Ayah Anda sangat acuh. Tolong tumbuhlah menjadi kuat, saya mendukung Anda, Tuan Muda Demian."
Demian tampaknya kehilangan kesadaran karena mentalnya terlalu ditekan, lalu berujung stres. Setiap orang yang bekerja di kediaman Floral, pasti akan langsung tahu bahwa didikan Olivia terlalu kasar dan keras bagi anak berusia lima tahun. Mereka tahu bahwa Olivia terobsesi pada Holland, sehingga Olivia berupaya untuk menarik atensi Holland dengan sedemikian rupa. Termasuk membuat putranya "layak" hingga Holland bisa meliriknya, memujinya karena telah membesarkan seorang putra dengan baik.
Akan tetapi, lihatlah. Bahkan lima tahun berlalu, Demian hanya beberapa kali bertemu Holland, bahkan sepotong kata saja tak pernah mereka tukar. Holland pun tidak memiliki intensi untuk menjenguk putranya hingga bisa melihat bagaimana rupanya atau keadaannya.
Kepala pelayan setuju bahwa tampilan Demian memang menurun dari ibunya. Dengan wajahnya yang manis dan bulat, lalu helaian rambut hitam yang pekat, kemudian sepasang manik merah darah yang cukup terang, menurun dari Olivia. Bagi Holland yang melihat Olivia sebagai sumber derita, bersitatap dengan replikanya merupakan hal yang tak akan kalah menyiksa.
...***...
Olivia marah, sangat marah.
"Wanita itu sudah berani datang ke kediamanku!" teriak Olivia lalu membanting cangkir tehnya. "Ini rumahku! Kuasaku! Tapi kenapa ...?!"
Olivia mengembuskan napasnya dengan kasar. Sebenarnya, ini bukanlah kali pertama Esther mengunjungi kediaman Floral. Pada saat itu, Olivia berniat untuk menampar Esther di hadapan Holland sambil memisahkan keduanya yang terlalu berdekatan. Akan tetapi, Olivia malah berakhir mendapat hukuman.
Holland mengunci Olivia di kamarnya selama satu bulan penuh, bahkan pasukan militernya menjaga setiap sudut kamar Olivia untuk mencegahnya lari. Setelah satu bulan yang hampir membuatnya gila, Olivia jera. Dia akhirnya hanya melihat sosok Esther dari jauh sembari memaki namanya tanpa henti, bahkan menyumpahi Esther untuk hidup sial hingga mati.
...***...
"Seperti biasa, kediaman ini selalu membuatku takjub," puji Esther dengan senyuman lembut di bibirnya. Tangannya diselipkan pada lengan Holland, bahkan jarak keduanya terkikis habis.
"Benarkah?" Holland membalas senyuman Esther dsngan sama lembutnya, nyaris tak ada bekas bahwa wajah itu mirip dengan es. "Sebentar lagi, Esther. Tunggulah sebentar lagi, ya?"
Esther terkekeh kecil. "Aku tidak mau membuatmu merasa terdesak, Holland. Nikmati saja waktu ini, raih tujuanmu secara perlahan tapi pasti, aku akan menunggu."
"Terima kasih, Esther. Aku bersyukur bisa mencintaimu."
Esther tak lagi merasa sangat malu ketika Holland menyatakan perasaannya secara tiba-tiba, tetapi debaran menyenangkan di dadanya tak pernah lepas.
Keduanya kemudian bercengkrama sambil melewati lorong yang luas menuju taman di kediaman Floral. Seharusnya, pelayan sudah menyiapkan meja dan kursi beserta teh dan kudapannya.
Akan tetapi, kala Holland memasuki taman kediaman, dahinya mengerut, napasnya tertahan.
"Ayah?"
Demian di sana, dengan jemarinya yang dipegang oleh pelayan, mengenakan pakaian tipis dan topi manis di kepalanya.
Holland menarik Esther lebih dekat ke sisinya. "Esther, ayo ke tempat lain."
"Jadi, kamu Demian, ya?" tanya Esther dengan hangat.
Pelayan melepaskan genggamannya pada Demian karena mengutamakan kesopanannya, di mana kedua bangsawan yang bicara, tak bisa diinstrupsi oleh pihak lain.
Demian melangkah mundur, tampak ragu sejenak, tetapi memutuskan untuk memberi salam sesuai etiket yang dipelajarinya.
"Selamat siang, Nyonya. Benar, saya Demian dari keluarga Floral. Senang bertemu dengan Nyonya."
"Wah!" Kedua mata Esther membulat. "Salam yang sempurna! Senang juga bertemu dengan Demian, namaku Esther."
"Nyonya Esther, ya?" Demian tersenyum lembut. "Saya merasa terhormat karena bisa berjumpa dengan Nyonya Esther."
"Kamu pandai sekali merayuku!" kekeh Esther, lalu menolehkan kepalanya untuk menatap Holland. "Holland, bagaimana jika mengundang Demian juga untuk minum teh?"
"Ya?" Holland terkejut. "Tapi Esther, anak ini—"
"Putramu," balas Esther singkat, membuat tubuh Holland tersentak.
"Esther, aku tidak bisa."
"Mengapa?" Esther kembali menegakkan tubuhnya dan menghadap Holland. "Demian adalah putramu, tidak seharusnya kamu bersikap dingin."
"Dia adalah putra Olivia." Holland berusaha menjelaskan pada Esther bahwa Holland tak pernah menganggap Demian sebagai putranya sendiri.
"Kamu pernah mengatakan bahwa Demian sama sekali tidak bersalah. Lalu, mengapa kamu menolaknya begitu keras?"
"Esther, kumohon, jangan keras kepala."
Sebab, setiap Holland menatapnya, hanya ada Olivia di wajahnya, begitu identik, sehingga Holland berakhir muak setelah melihat wajah Demian. Segala yang berelasi dengan Olivia, terus membuat Holland sesak. Dia tak bisa mengabaikan perasaan pedih ketika dia mengecewakan Esther karena Olivia, atau kala Olivia menjebak Holland untuk satu malam yang dibencinya itu. Setiap reka peristiwanya terputar dalam benak, Holland kesulitan berkata-kata hingga rasa sesak di dadanya memudar. Lantas, apa bedanya dengan Demian?
"Tidak, aku ingin kamu mengajak Demian juga."
Holland menghela napasnya. Membujuk Esther di saat dia keras kepala bukanlah pilihan yang tepat. Sebab, Esther akan tetap dengan jawabannya.
"Baiklah."
Esther bersorak kecil sementara Holland meminta pelayan untuk tambahan kursi di gazebo. Esther sendiri kembali berlutut di depan Demian dan meminta Demian untuk bergabung.
"Apa tidak akan mengganggu bagi saya untuk ikut hadir di dalam acara tersebut?"
"Sama sekali tidak, Demian. Aku merasa senang jika kamu ikut bergabung."
"Baiklah, suatu kehormatan bisa memenuhi kesenangan Nyonya Esther."
Esther terkekeh. "Aku seperti bicara pada pria dewasa, padahal usiamu lima tahun." Esther mengulurkan tangannya.
Demian memperhatikan telapak tangan Esther yang terulur padanya, lalu mendongakkan kepalanya untuk menilik sepasang manik Esther. "Apa ini, Nyonya Esther?"
"Pegang tanganku, Demian."
"A-Ah, kalau begitu." Demian dengan ragu mengangkat tangannya hingga Esther akhirnya menggenggam jemari mungil Demian.
Esther menuntun Demian menuju gazebo yang sudah disiapkan, membantu Demian untuk menaiki kursi, lalu menyajikan beberapa kudapan manis yang seharusnya disenangi oleh anak-anak.
Holland ikut bergabung setelah menekan rasa tidak nyamannya. Holland merasa bahwa yang bergabung dengan mereka adalah Olivia saking identiknya wajah yang dibagi.
"Demian terlalu formal padaku, mengapa tidak bicara secara kasual saja?" pinta Esther dengan hangat.
"Ah, mana mungkin saya memperlakukan teman Ayah dengan sangat kasual. Tidak akan sopan, Nyonya Esther," balas Demian dengan tenang.
Esther sedikit membeku ketika Demian mengatakan bahwa hubungan Holland dan Esther hanyalah sebatas teman, tetapi memutuskan untuk mengabaikannya karena Demian tentu saja tidak mengetahui kebenarannya.
Akan tetapi, Esther merasa bahwa Demian tidak berperilaku sebagai seorang anak berusia lima tahun, Demian terlalu dewasa dan terlalu bijaksana. Siapa yang membuat jiwa anak-anak dalam diri Demian dilenyapkan?
"Baiklah kalau Demian tidak mau bicara kasual denganku, tetapi anggap saja aku dekat denganmu, ya."
"Baiklah, jika Nyonya Esther menginginkannya."
"Kalau begitu, boleh aku bertanya, Demian?"
"Ya, Nyonya Esther. Apa yang ingin Anda ketahui dari saya?"
"Siapa yang mengajarimu etiket dan bahasa formal?"
Esther bisa melihat getaran samar di tubuh anak itu, membuat Esther mengerutkan dahinya. Apa yang membuat anak laki-laki ini ketakutan?
"I-Ibu saya yang mengajari saya banyak hal," jawab Demian dengan senyuman kaku di bibirnya, bahkan jemari yang memegang cangkir susu bergetar pelan.
"Begitu, ya? Nyonya Floral begitu menakjubkan karena membuat Demian menjadi menawan seperti ini."
Demian tertawa dengan paksa, terdengar dari suaranya yang sumbang. "Saya senang sekali bisa menjawab pertanyaan Nyonya Esther."
Esther bungkam, lalu melirik Holland. Esther mendekatkan tubuhnya pada Holland lalu berbisik, "Bukankah Demian sedikit mencurigakan?"
"Aku tidak tahu di mana letak mencurigakannya," balas Holland dengan tenang, dia bahkan menyesap tehnya seolah kehadiran Demian tak diperhitungkan di sana.
Esther mengerutkan dahinya kesal. Dia tahu bahwa Holland membenci Olivia, tetapi Demian bukanlah jiwa yang bersalah. Tak akan adil bagi Demian jika dia dibenci sepihak oleh Holland hanya karena fisiknya yang begitu identik dengan Olivia.
"Demian takut pada Olivia," kata Esther.
"Lalu? Sudahlah, Esther. Waktu yang kita bagi terlalu berharga untuk dihabiskan dengan omong kosong."
"Omong kosong ...! Holland, kamu!" Esther mengembuskan napasnya dengan pasrah, lalu memutuskan untuk mengalihkan topik yang terasa sensitif bagi Demian untuk melihat kembali senyuman cerah di bibir yang manis itu.
Pada malam harinya, Holland hanya terpaku menatap dokumen kerjanya, bahkan tak mengguratkan satu huruf pun walau pena bulu berada di antara jemarinya.
"Tuan Holland, apa Anda sakit? Tolong jangan pelototi kertas yang lugu tersebut," ujar Miel dengan nada tenang, seolah dia tidak menyisipkan candaan dalam kalimatnya.
Holland mengembuskan napasnya dengan berat. "Miel."
"Tolong jangan meminta hal yang berat pada saya, ya."
Holland berdecak. "Kamu ini tidak pernah berubah, sangat kurang ajar. Aku adalah tuanmu dan seorang Duke Floral."
Miel tertawa kecil. "Anda ingin bermain-main dengan kekuasaan Anda, hm? Namun, saya memiliki banyak aib mengenai Anda sedari Anda kecil hingga dewasa. Saya yakin jika satu aib mengenai Anda menyebar di Teratia, habislah martabat Anda."
Holland mengabaikan Miel meski dia merasa keki. "Selidiki sesuatu."
"Bayarannya satu juta tera," kata Miel sambil mengulurkan kedua tangannya.
Holland menepis kedua tangan yang diulurkan padanya.
"Sepertinya, Demian merasa takut pada Olivia. Cari tahu apa penyebabnya."
Miel mengangkat sebelah alis. "Baiklah, karena kasus ini menyangkut mengenai Tuan Muda Demian, saya akan berikan setengah potongan harga. Bayarannya hanya lima ratus ribu tera."
"Terserah, tapi selidiki dengan benar," kata Holland yang telah membuang lima ratus ribu tera dengan mudah.
Miel diam-diam merutuki, dasar orang kaya!
...***...
Aku juga pengen jadi orang kaya. Semoga aku jadi orang kaya di masa depan! ฅ^•ﻌ•^ฅ
2 Juli 2023