
"Permintaan Anda kemarin pada saya yaitu agar saya membuat reservasi dengan seorang pelukis?" Miel mengembuskan napasnya berat, mengingat hari-hari nerakanya di saat majikan yang Miel layani bermesraan dengan sang kekasih, sementara Miel sendiri harus berdesak-desakan dengan klien lain untuk bicara berhadapan dengan seorang pelukis terkenal di Kerajaan Teratia.
"Ya," balas Holland dengan singkat.
Miel meletakkan beberapa aksesori di pakaian Holland, membuat tuannya kelihatan begitu menawan di pagi hari pada musim panas.
"Bukan hanya itu." Miel melirik penampilan Holland di cermin, tampak sempurna dan memikat. Diam-diam bangga atas hasil kerja kerasnya, Miel mengusap hidung. "Anda meminta saya untuk menyewa jasa Tuan Mioselle, pelukis yang jasanya sulit sekali untuk disewa. Untung saja Anda dekat dengan keluarga kerajaan, hingga akhirnya saya bisa menyewa jasa Tuan Mioselle melalui jalur orang dalam."
"Miel." Holland mengerutkan dahinya. "Untuk apa kau menyimpulkan hal yang sama berulang kali?"
Miel telah mengatakan kalimat yang sama semenjak Holland bangun dari tidurnya, menyiapkan air hangat untuk Holland mandi, serta membantu Holland dengan pakaiannya. Terbilang, sudah tiga kali Miel mengucapkan kesimpulan yang sama.
Miel mulai merengek. "Anda harus tahu betapa tersiksanya saya hanya untuk bicara sepatah kata dengan Tuan Mioselle!"
"Akan kunaikkan gajimu, jadi berhentilah mengeluh."
Sorot Miel yang awalnya kelam langsung cerah. "Naikkan tiga kali lipat, Tuan Holland."
Holland mengerutkan dahinya kesal. Dia bisa saja memaki Miel bahwa pelayannya tidak tahu diri, tetapi ikatan di antara keduanya tak mampu membuat Holland berperilaku sadis pada pria itu.
"Terserah."
"Dan cuti juga!"
"Tidak."
"Eh? Kenapa?! Saya membutuhkan istirahat juga dari pekerjaan saya! Tuan Holland, ini perbudakan! Kerja paksa!"
Holland tahu bahwa Miel akan berfoya-foya apabila dia memiliki cuti kerja. Jadi, daripada menghabiskan waktu dengan hal yang tidak berguna, lebih baik membantu Holland dalam pekerjaannya.
"Tutup mulutmu dan lanjutkan tugasmu."
Miel cemberut, tetapi tetap melaksanakan perintah tuannya. Miel memberikan beberapa sentuhan pada pakaian dan rambut emas Holland sebelum memuji dirinya bahwa dia telah menyihir sesosok es batu monoton menjadi ukiran es batu yang menawan.
***
"Jadi, Anda adalah Tuan Holland Floral." Mioselle merupakan seorang pelukis dari keluarga Viscount. Meski begitu, penampilannya yang klasik dan elegan tak begitu menampilkan profesinya sebagai pelukis di luar. Mengecualikan beberapa asisten di belakangnya yang membawa banyak kotak berukuran sedang hingga besar, yang berisi peralatan melukis.
"Ya, Tuan Mioselle." Holland membalas uluran tangan Mioselle, menjabatnya singkat.
"Merupakan kehormatan bagi saya yang rendahan ini untuk bertemu dengan Anda, penguasa Floral di masa depan." Mioselle menunduk singkat.
"Jangan terlalu merendah, Tuan Mioselle. Sebab, saya juga merasa begitu terhormat dapat menemui sang pelukis terkenal di Teratia."
Mioselle dan Holland saling menyanjung untuk beberapa saat ke depan. Miel yang memperhatikan interaksi tuannya di sudut ruangan hanya tersenyum singkat, tahu bahwa Holland akan kesal jika Mioselle tak segera mengakhiri sanjungannya yang berlebihan.
"Kalau begitu, Anda sudah kelihatan rapi dan menawan untuk dilukis," kata Mioselle, menaruh jari telunjuk di dagu. "Biar saya pikirkan pose yang cocok untuk Anda."
"Bukan saya yang akan dilukis oleh Anda," potong Holland, membuat Mioselle tak repot-repot menyembunyikan keheranannya.
"Bukan Anda? Lalu, siapa?"
Kemudian di saat yang bersamaan, pintu ruangan terbuka untuk menampilkan sesosok wanita anggun yang mengenakan gaun megah berwarna kuning keemasan, begitu kontras dengan rambutnya yang merah pekat.
Kala wanita itu melangkahkan kakinya, suara sepatu setinggi lima sentimeter itu menggema dengan bunyi yang anggun. Atau ketika mendekat, Holland akhirnya bisa melihat hiasan rambut yang terbuat dari perak, terselip di rambutnya dengan cantik. Kemudian, riasan tipis di wajahnya membuat wanita itu kelihatan makin memesona. Tak lupa, kalung modifikasi pemberian Holland beberapa hari lepas, melingkari leher jenjangnya dengan memikat. Bahkan kala si wanita pemilik rambut merah darah bersanding di samping Holland, pria itu diam-diam dapat mencium wangi mawar yang memabukkan.
Holland harus menahan detak jantungnya yang memburu. Namun tak ayal, rona tipis di pipi mampir, hingga kelihatan cukup kontras dengan kulitnya yang putih.
Esther di mata Holland kelihatan begitu manis, cantik, dan mesra. Wanita itu kerap kali menyihir Holland dengan pesonanya. Alih-alih marah karena seorang penyihir menggodanya, Holland malah jatuh hati, lebih dalam lagi dan lagi kala jarum jam berpacu. Terlebih, kebahagiaan yang terpancar dalam manik emas itu menularkan kehangatan di dalam dadanya, di dalam darah yang berdesir, dan dalam kepala yang isinya telanjur berantakan.
Esther terlalu menawan, terlalu memikat, dan terlalu cantik bagi Holland untuk memalingkan pandangan.
"Maaf, aku terlambat, Tuan Holland," ujar Esther dengan nada sesal. Bahkan dengan mendengar suaranya pun, hati Holland bergetar tak keruan. Kepalanya pusing, seakan dihantam oleh nyanyian siren di laut lepas, dibuat mabuk hanya dengan suara memikat milik si wanita dengan senyuman secerah senja.
"Bukan masalah besar, Nona Esther." Holland mengalihkan pandangnya kembali pada Mioselle, takut apabila terlalu lama menilik, Holland akan kehilangan akal sehat saking jatuh hatinya ia. "Tuan Mioselle, perkenalkan dia adalah Nona Esther."
Esther mengangkat sudut gaunnya dan menundukkan kepala. "Salam untuk Tuan Mioselle, saya Esther Descartez."
Mioselle tertawa kecil. "Ohoho, jadi Anda adalah Nona Esther, sang penulis terkenal di Teratia. Saya membaca beberapa karya Anda, dan itu semua begitu menakjubkan. Ketika saya membaca kata demi kata yang Anda guratkan, hati saya bergetar tak keruan, Nona Esther."
"Nona Esther terlalu menyanjung." Mioselle tertawa kecil, tampak kelihatan percaya diri walau telah disanjung sedemikian rupa, seolah telah terbiasa dengan kata-kata sanjungan yang dilayangkan padanya. "Namun, bagi kita berdua yang tenggelam dalam dunia sastra dan bahasa, kita rasanya bisa mengerti satu sama lain."
"Bahasa?" tanya Esther. "Dibandingkan dengan sastra dan bahasa, bukankah Anda tenggelam di dalam seni, Tuan Mioselle?
Mioselle tersenyum teduh. "Nona Esther, walaupun lukisan tak memiliki huruf ataupun abjad, lukisan juga merupakan bahasa tanpa kata."
Senyum Esther naik. "Begitu rupanya. Saya tidak memikirkannya dengan jauh."
"Tidak apa-apa, Nona Esther. Ini hanyalah opini saya sendiri. Kalau begitu, apa kita bisa langsung pada urusan kita?" Mioselle kembali menatap Holland. "Apa Anda yakin bahwa Anda tidak akan dilukis, Tuan Holland?"
"Eh? Apa itu benar, Tuan Holland?" tanya Esther dengan sorot kecewa.
Holland tersentak kecil kala melihat sorot kecewa yang jelas di wajah Esther. "Y-Ya." Holland hampir goyah. "Aku hanya menginginkan lukisanmu, Nona Esther."
"Namun, mengapa?"
Holland mendekati Esther, kemudian jemarinya tanpa sadar meraih helaian merah pekat yang jatuh melewati bahu. "Aku ingin menangkap momen."
Esther perlu mendongak untuk bisa menatap langsung manik merah memikat milik Holland. "Ya?"
"Momen ini begitu indah, Nona Esther. Rasanya, aku begitu merasa bersyukur bisa bertemu dengan Nona Esther di sini, lalu bisa berbagi perasaan yang sama. Oleh karena itu, aku ingin menangkap momen yang ada, membekukannya dalam bahasa tanpa kata, mengabadikannya; mengabadikan dirimu dalam secarik kanvas lukis supaya aku akan terus teringat musim panas yang awalnya aku anggap menyesakkan ini, merupakan musim panas menakjubkan yang pernah ada."
Holland begitu puitis hingga Esther sang penulis yang ahli dalam imaji merona hebat. Manik emasnya bergetar tak keruan, dadanya geli, perutnya dipenuhi kupu-kupu, serta pandangan yang mulai memburam. Esther serasa ingin menitikkan air mata. Tidak pernah di dalam kehidupannya, ada seseorang yang menganggap Esther begitu berarti. Namun di sini, di hadapannya, orang baru yang sebelumnya tak pernah berada di sekeliling Esther, berubah menjadi orang terpenting yang pernah ada.
Esther terharu. Dia ingin menangis. Namun, suara berdeham mengintrupsi suasana melankoli yang menyelimuti keduanya.
Holland melirik Miel, orang yang mengganggu suasana di antara sepasang kekasih. Namun, Miel memelototi Holland dan menunjuk figur Mioselle dengan dagunya.
Holland tersentak, mundur satu langkah dari Esther, dan menggigit bibirnya pelan.
Terkadang, situasi yang begitu melankoli membuat pikirannya secara otomatis melupakan orang-orang di sekelilingnya.
"Ma-Maafkan saya telah menunda waktu Anda yang berharga, Tuan Mioselle," kata Holland dengan rona merah di wajahnya. Itu terlihat jelas hingga kelihatan begitu manis, mematahkan fakta publik bahwa keturunan Floral memiliki pribadi yang sadis dan dingin.
Mioselle tertawa, merasa terhibur. "Bukan masalah, Tuan Holland. Saya justru berterima kasih telah memberikan saya panorama menakjubkan dari sepasang kekasih. Saya jadi merasa terhormat sebab bisa mengetahui bahwa Tuan Holland dan Nona Esther merupakan sepasang kekasih, sebelum publik mengetahuinya."
Esther menundukkan kepalanya dalam-dalam, malu. Degup di dadanya tak kunjung mereda, terlebih musim panas menyiksa membuat udara mencekiknya. Panas, batinnya.
Holland menutup separuh wajahnya dengan telapak tangan. "Jika Anda mengucapkannya tanpa ragu seperti itu ...." Saya jadi malu, lanjutnya dalam hati.
Mioselle kembali tertawa. "Senang menjadi muda."
"K-Kalau begitu, tolong lukis Nona Esther, segera."
"Apa Anda yakin, Tuan Holland?"
Holland menatap Mioselle dengan sorot bingung. "Apa maksud Anda?"
"Bukankah penampilan Anda sudah sangat rapi dan menawan? Bukankah akan sayang apabila Anda tidak bersanding di samping kekasih Anda?"
Holland kembali merona. "Tapi saya hanya menginginkan potret Nona Esther."
"Bagaimana dengan penawaran ini, Tuan Holland? Saya akan melukis potret solo Nona Esther, kemudian potret pasangan antara Anda dan Nona Esther?"
Penawaran yang menggiurkan. Terlebih, Holland pula ingin tertangkap dalam bekunya waktu di balik kanvas lukis bersama dengan orang yang dicintainya.
"Saya terima."
"Senang berbisnis dengan Anda, Tuan Holland."
...***...
Saat jatuh cinta, dunia milik berdua, hihihi. Mioselle sendiri untung gede kalau ngelukis dua potret. Anyway, novel ini cuma ada 18 bab plus prolog, nggak terlalu panjang. pas aku cek di word, nggak lebih dari 40k kata. sehari aja bisa kali habis baca ya nggak?
2 Juli 2023