
Esther telah melalui hari-harinya dengan berat hati tanpa secarik surat pun dari pria yang dicintainya. Karena tak kunjung mendapatkan surat, maka Esther-lah yang mengirim surat, tetapi pada akhirnya tak pernah ada balasan yang datang.
Esther hanya bisa menunggu, tiap detiknya, meski dirapalkan doanya dan berusaha untuk ditujukan perasan rindunya, tak pernah ada timbal balik yang semestinya wanita itu dapat. Tak menyerah, Esther lagi-lagi menunggu, sembari melanjutkan naskah novelnya yang selanjutnya.
Tanpa dirasa, satu bulan berlalu, penantian Esther nampaknya berakhir ketika surat dengan lambang keluarga Floral di cap surat, kini tiba di atas jemari lentiknya. Dengan perasaan berdebar dan senyum yang merekah di bibirnya, Esther membaca isi surat.
Surat tersebut berisi undangan pesta atas penobatan Duke Floral yang baru.
Esther menekan surat tersebut ke dadanya. "Selamat, Holland."
Atas surat tersebut, Esther meminta Hanah untuk menyiapkan gaun pesta terbaik untuk menemui sang kekasih. Esther merasa sangat antusias, pun merasa bersemangat. Pikirannya berantakan atas emosi yang membludak, pecah, tetapi menyenangkan. Debaran di dadanya pun tak dapat membohongi, bahwa ide untuk menemui sang kekasih adalah sebuah kebahagiaan yang nyata.
***
Hari yang dinanti telah tiba. Esther turun dari kereta kuda berlambang keluarga Descartez, diikuti oleh kedua orangtuanya. Sementara itu, keempat adiknya masih belum melakukan debut hingga harus menetap di kediaman dibandingkan mengikuti pesta.
"Esther, kamu bersemangat sekali," komentar Baroness sambil melayangkan sebuah senyuman.
"Benar kata ibumu." Baron Descartez menepuk kepala Esther singkat. "Apakah kamu punya kekasih yang akan kamu temui sekarang, hm?"
Esther hanya terkekeh kecil. "Rahasia."
"Mengapa bermain rahasia, Sayang? Katakan pada Ibu, ya?"
"Ibu akan tahu nanti." Esther masih belum memberi tahu keluarganya mengenai Holland. Dia merahasiakannya untuk memberi kejutan pada orang tuanya.
Kedua orang tua Esther menyerah untuk mengulik rahasia putrinya. Ketiganya pun mulai memasuki ruangan pesta.
Ruang pesta di kediaman Floral bisa dikatakan megah. Kediamannya pun tidak sekelas Descartez yang nyaris miskin. Dibandingkan dengan Descartez, Floral menunjukkan kekuasaan mereka sebagai Duke Floral.
Esther tidak pernah mengunjungi Floral sebelumnya, maka kala memasuki ruang pesta yang elegan, Esther terpukau. Kemewahannya begitu kentara. Pada dindingnya yang diukir oleh emas, potret beserta lukisan mahal yang langka dari pelelangan, dekorasi yang mewah, lantai dansa yang terbuat dari marmer terbaik di seluruh kerajaan, hingga orang-orangnya yang begitu glamour. Pakaian yang dikenakan pasti terbuat dari butik ternama atau harganya yang mahal.
"Sebenarnya, Ayah sedikit aneh ketika menerima undangan dari Floral," ujar Baron Descartez.
Sang istri ikut mengangguk. "Bukankah keluarga kita tidak terlalu ternama? Kita bahkan nyaris bangkrut jika bukan karenamu, Esther. Namun, tetap saja, meski namamu dikenal, kamu hanya dikenal sebagai seorang penulis, bukan sebagai seorang bangsawan."
"Apalagi ini adalah pesta penobatan Duke Floral. Kamu tahu sendiri bukan, bahwa kekuatan militer Floral mendominasi Kerajaan Teratia, bahkan kekuasaannya nyaris sekelas keluarga kerajaan."
Esther tersenyum lembut. Begitu, ya? Rupanya, sang kekasih memiliki kekuasaan yang begitu kuat. Esther mau tak mau mempertanyakan nilai dirinya.
Esther memanglah merupakan seorang penulis yang terkenal. Namun, sesuai apa yang diutarakan ibunya, Esther tidak dikenal sebagai seorang bangsawan, melainkan seorang penulis.
Keluarga bangsawannya nyaris jatuh, itu membuat harga diri mereka tercoreng. Esther merasa bahwa jika dirinya diperuntukkan bagi Holland, rasanya Esther tak akan cukup pantas untuk bersanding di samping sang kekasih. Lagipula, perasaan keduanya hanya terbentuk dari ketujuh hari di akhir musim panas. Esther pula semakin ragu, tetapi perasaan di dadanya yang menggebu telah berkali-kali meyakinkan Esther. Walaupun pernyataan cinta terkesan terburu-buru, perasaan yang menelusup di dadanya adalah nyata, itu tak habis meskipun Holland tak menetap di sisinya, tetapi semakin mekar.
Namun, Esther percaya pada Holland, bahwa pria itu pula begitu mencintai Esther. Selama ada Holland yang akan mencintai dan mendukungnya, Esther akan mengabaikan segala kekurangan dirinya.
Esther akan membalas percakapan orang tuanya sebelum nama Holland akhirnya diumumkan, membuat bibirnya yang terbuka kembali terkatup.
"Tuan Duke Holland Floral beserta pasangannya, Nona Olivia Riquetti, memasuki ruangan."
Tepat setelah itu, pintu ganda yang berlapis ukiran emas, terbuka. Menampilkan pasangan yang tengah saling bergandengan. Eskpresi keduanya begitu cerah. Sang wanita, Olivia Riquetti, bahkan menatap Holland dengan senyuman penuh kasih. Holland pula demikian, sorotnya yang dikenal sebagai pria yang kolot, kini melembut.
Seluruh bangsawan menepi ke sisi kanan dan kiri ketika Holland dan Olivia melangkah bersamaan.
Mau tak mau, bisik-bisik mulai menyebar. Mulai dari penilaian apakah kedua pasangan begitu serasi hingga ke sisi politik. Sebagian bangsawan setuju akan bersatunya dua keluarga Duke, sebagian lagi kontra karena merasa bahwa bersatunya dua keluarga Duke, hanya akan menguntungkan keduanya lebih banyak lagi.
"Wah! Tuan Duke begitu lembut hanya pada Nona Olivia!"
"Lihat, bukan, bagaimana Tuan Holland menatap Nona Olivia? Begitu cantiknya, seolah Tuan Duke tertawan!"
Tidak seperti para bangsawan di sekelilingnya yang berbagi kata dengan antuasias, Esther tak merasa demikian. Tepat kala nama Holland diumumkan beserta pasangannya, degup jantung Esther serasa berhenti berdetak, perasaan nyeri mulai menelusupi tubuhnya, napasnya tercekat, tubuhnya mulai terhuyung secara perlahan. Kedua visinya mulai memanas, tak butuh waktu lama hingga pandangannya memburam.
Air mata menetes tepat ketika Holland melewati tubuh Esther. Sepasang manik merah yang seharusnya menyimpan kehangatan bagi Esther, telah sepenuhnya lenyap, hanya ada beku di sana.
Tubuh Esther bergetar. Dipeluknya kedua lengannya, menahan diri agar tubuhnya tak tumbang.
Lagi, benaknya memutar ulang bagaimana sorot dingin Holland menyapunya, lalu mengabaikannya. Seakan-akan, sang kekasih tak pernah mengenalnya, tak pernah berbagi sebuah momen, tak pernah berbagi sebuah cerita, tak pernah berbagi sebuah pernyataan cinta, pun sebuah ciuman. Holland nyaris asing, bahkan Esther tak mampu menerka mengapa Holland berlaku kejam padanya.
Apakah karena tujuh hari yang berlalu tersebut merupakan kebohongan? Apakah rasa cinta Holland padanya merupakan sebuah tipu muslihat? Apakah tujuh hari yang mereka bagi, rupanya tak begitu berharga bagi pria itu, hingga mudah untuk dibuangnya?
Apakah karena Esther hanyalah putri Baron yang nyaris bangkrut? Sementara itu, Holland adalah seorang Duke Floral?
"Esther?" Suara ibunya memudar, bahkan kebisingan para bangsawan tak lagi memasuki indra pendengarannya. Hanya ada dengungan keras di telinganya seiringan dengan air mata yang menderas.
"Esther, ada apa, Nak?" Baron Descartez menarik lengan Esther, membantu putrinya untuk berdiri tegak.
Pandangan Esther bergoyang, berkunang, kepalanya pusing sekali, denyut dalam nadinya melemah. Ah, beginikah rasanya patah hati?
Esther telah mengguratkan abjad demi abjad pada novelnya mengenai patah hati, mendeskripsikannya dengan begitu detail, bagaimana rasanya, berapa banyak sakitnya, betapa perihnya, hingga luka patah hati tak akan semudah itu untuk sembuh. Akan tetapi, baru kali ini Esther merasakannya secara langsung, dan perasaan ini begitu memuakkan, menyakiti hatinya, mengoyak Esther, bahkan menghancurkannya.
Ruang pesta hening ketika Holland berdiri di atas podium.
Tepat setelah itu, Esther yang telanjur hancur, merasa kesadarannya terkikis. Visinya menggelap, sorakan bahagia para bangsawan memudar, dan tubuhnya tumbang.
***
Ketika Esther membuka mata, lampu gantung di atas sana terlihat asing. Ruangan ini begitu asing bagi Esther, tetapi satu eksistensi yang duduk di samping ranjangnya tentu telah mendominasi benaknya.
Esther menegakkan tubuhnya.
"Esth—" Kalimat Holland dipotong oleh sebuah tamparan yang terdengar nyaring.
"Brengsek," maki Esther. Telapak tangan yang digunakan untuk menampar sang kekasih bergetar hebat, kedua matanya memanas dan merah, bibir yang digigit kuat, dan suhu tubuh yang dingin.
"Esther, dengarkan aku," ujar Holland, mengabaikan rasa perih di pipinya, lalu meraih jemari sang kekasih.
Esther menepis tangan Holland. "Lepaskan aku! Untuk apa kamu kemari?! Temui saja tunanganmu itu!"
"Esther, tidak, aku akan menjelaskan segalanya. Kumohon—"
"Aku tidak mau mendengarkan apa pun!" teriak Esther, suaranya menggema di dalam ruangan. Tiba-tiba saja, air mata yang Esther telah tahan mati-matian mulai menetes, membasahi pipinya dengan begitu deras. Isakannya menjadi, dadanya terasa sesak dan berdenyut, tubuhnya pun melemas.
"Esther." Holland tak mampu melihat pemandangan yang begitu menyedihkan ini. Dadanya ikut merasa sesak, visinya pun memanas. Holland merengkuh Esther ke dalam sebuah pelukan. Walaupun Esther memberontak, memaki, dan membentak, Holland tetap mengeratkan pelukan, sesekali mengecup puncak kepala sang kekasih.
"Esther, Sayang, maafkan aku."
"Aku tidak mau mendengarnya!" Esther menutup kedua telinganya dengan putus asa. Tangisnya tak kunjung mereda, dadanya sesak akan perasaan pedih yang menelusup, bahkan getaran di tubuhnya tak lagi dapat disembunyikan.
"Tidak apa-apa, tidak perlu mendengarkan penjelasanku." Holland mengelus kepala Esther dengan penuh sayang. "Hanya saja, yang kucintai adalah kamu, Esther. Bukan Olivia, aku hanya mencintaimu."
"Pembohong." Esther kehilangan tenaga untuk membentak, hingga hanya gumaman lirih yang lolos dari bibir yang memucat. Esensi merah muda alami di bibirnya lenyap, bahkan Holland merasakan hatinya berderit.
Apa yang telah dilakukannya? pikir Holland. Bagaimana bisa dia menyakiti hati sang kekasih? Bagaimana bisa dia membuat sang kekasih menjadi seperti ini? Holland merasa dirinya begitu jahat, orang jahat, seorang antagonis yang dikendalikan oleh ego orang lain dan tak mampu melawan.
"Aku tidak berbohong," balas Holland dengan tenang. "Jika aku berbohong, aku tidak akan ada di sampingmu sekarang, Esther."
"Lalu, mengapa tidak ada kabar darimu sama sekali? Mengapa meninggalkanku dalam sebuah keresahan yang tidak perlu? Aku telah bersabar." Kalimat Esther terpotong karena isakannya, napasnya pun ikut tercekat. "Namun, kamu tidak pernah datang, tidak pernah mengabari. Aku takut kamu lari, aku takut kamu hanya menipuku."
"Maafkan aku karena membuatmu merasa seperti ini, Esther." Holland mengecup dahi Esther. Ditangkupkannya sebelah pipi Esther, sementara tangan kanannya tak meninggalkan pinggang Esther untuk direngkuh.
Ibu jari Holland mengelus pipi Esther, menghapus air mata yang menetes. Kini, Holland bisa melihat lentera emas itu lagi di sepasang manik Esther. Hanya saja, perasaan bersalah mulai menyerangnya. Lentera emas Esther kehilangan sinarnya. Betapa buruknya ia hingga sinar yang memukau tersebut lenyap dari kedua mata.
Holland mendekat, dikecupnya bibir pucat milik sang kekasih. Esther tak memberontak, tetapi tak membalas.
Tubuh Holland terasa dingin. Dia tak mampu menatap sepasang lentera yang telah kehilangan sinarnya tersebut. Dia tak mampu menilik ke dalam dada Esther, bahwa pecahan di hatinya begitu kentara, bahwa perasaan sang kekasih telah begitu hancur.
"Kamu yang terburuk, Holland," gumam Esther setelah ciuman lepas. "Kamulah orang pertama yang membuatku jatuh hati, tetapi kamu juga orang pertama yang membuatku patah hati."
"Iya, Esther. Aku adalah orang yang buruk, tetapi percayalah, aku hanya mencintaimu. Aku hanya mencintai Esther, tidak dengan yang lain."
Esther ingin membentak Holland sekali lagi, bahwa dia telah berbohong. Hanya mencintainya? Esther ingin tertawa. Lalu, mengapa pandangan dingin di ruang pesta itu menyapunya? Menggetarkan dadanya? Menghancurkan perasaannya hingga berkeping?
"Lalu, mengapa Nona Olivia Riquetti? Apakah karena aku hanyalah putri Baron dan dia adalah putri Duke?"
Holland menggelengkan kepalanya, mengelus rambut merah pekat milik sang kekasih. "Bukan begitu, Esther. Aku tidak melihatmu atas status sosialmu."
"Lalu?"
"Ini ... pernikahan politik. Kamu tahu Esther, bagi bangsawan, mereka selalu menikah tanpa asas cinta. Dan aku telah ditakdirkan untuk melalui pernikahan ini. Sebagai Duke muda yang baru saja dinobatkan, aku tidak memiliki pengaruh yang kuat untuk mempertahankan gelar ini. Maka dari itu, Riquetti akan memberikanku pengaruh."
"Ditakdirkan?" Esther menarik rambutnya dengan frustrasi. "Jika kamu ditakdirkan menikah dengan Riquetti, maka mengapa kamu harus datang ke kehidupanku dan menghancurkan aku?!"
Pupil Holland bergetar. "T-Tidak, Esther. A-Aku—"
"Jangan beralasan, Holland! Kamu sudah tahu bahwa kamu ditakdirkan untuk menikahi Nona Olivia, tetapi kamu tetap datang padaku. Mengapa? Mengapa, Holland?! Andai aku tidak bertemu denganmu, maka aku akan tetap baik-baik saja!"
"Esther, Sayang." Holland meraih jemari Esther yang menarik rambutnya sendiri, mengecup jemari itu dengan kasih. "Esther, kumohon, berikan aku waktu. Setelah aku menikah dan memiliki kekuatan untuk mempertahankan gelar Duke ini, aku akan menceraikan Olivia dan kembali padamu. Aku bersumpah, Esther."
Esther kembali terisak. "Butuh berapa lama hingga waktu itu tiba? Dua tahun? Lima tahun?" Esther mendongak, menatap Holland lewat manik emas yang kehilangan esensinya, pun meneteskan kepedihan yang pekat dari sepasang kelopak. "Harus berapa lama aku menderita, Holland? Harus berapa lama aku bersabar hingga kamu kembali padaku? Aku tidak akan kuat, aku tidak akan sekuat itu."
"Esther." Melihat sang kekasih menitikkan air matanya, pandangan Holland ikut memburam atas air mata yang menggumpal. Ditariknya Esther dalam sebuah pelukan yang sendu. "Maafkan aku, Esther. Maafkan aku."
Esther terisak, begitu pula Holland. Keduanya telanjur terluka hingga kata yang diutarakan pun tertelan kembali. Luka yang keduanya derita terlalu parah hingga sebuah frasa tak akan mampu untuk melenyapkan sebuah duka.
...***...
Gimana majas di bab ini? bagus nggak?
2 Juli 2023