
"... Ayahku pernah mengajakku ke wilayah sana, udaranya begitu segar dan dingin."
Setiap melodi yang melewati pendengarannya, menjadi sebuah kesunyian. Satu-satu yang Holland dengar adalah suara samar dari wanita itu, tetapi benaknya pun kesulitan untuk diajak memproses semua kata.
".... Lland? Holland!"
Holland sedikit terlonjak ketika merasakan lengannya digoyangkan. Holland menundukkan kepalanya sedikit untuk bersitatap dengan sepasang manik yang memiliki sinar selayaknya lentera emas.
Kala manik merah darah bertabrakan dengan emas yang terasa suci, Holland langsung dikerumuni perasaan bersalah, dadanya bahkan memberat. Bagaimana mungkin, dia menghancurkan sebuah janji dengan sesosok malaikat yang telah menurunkan derajatnya untuk direngkuh manusia biasa selayaknya pria itu? Apa yang harus dikatakannya ketika sang malaikat menawan mulai mengetahui kebenarannya? Membayangkannya saja membuat Holland takut.
"Ya, Esther? Maafkan aku karena tidak fokus, aku ... sepertinya terlalu banyak bekerja."
Holland mencari alasan, tetapi rasa bersalah makin menumpuk kala wanita itu malah mengkhawatirkan kebohongan Holland.
"Kamu sakit? Bagaimana jika kita tunda saja kencan hari ini?" tanya Esther dengan wajah risau.
Holland menggelengkan kepalanya, menyentuh sudut bibir sang wanita. "Tidak, Esther. Bukankah kamu sudah sangat menantikan untuk mengunjungi kafe kue di ibu kota? Kita bisa pergi ke sana."
"Oh?" Esther ragu. Sekali dilihat pun, kondisi Holland tak terlalu baik. Kala diajak bicara, pria itu seakan memandang kosong, tak dapat mendengarnya, apalagi fokus padanya. "Kamu yakin, kamu baik-baik saja? Kalau kamu sakit, kembalilah ke kediamanmu. Rencana kencan bisa diatur ulang lagi."
Kembali ke kediamannya? Entah mengapa bagi Holland, kediaman yang seharusnya menjadi tempatnya singgah malah menyerupai sebuah neraka. Sebelumnya, ada mendiang Duke yang terus merecoki Holland akan pernikahan. Namun, kini ada istrinya yang picik. Bagi Holland yang terus memandang rumahnya sebagai sebuah neraka, dia mana mungkin mencari kenyamanan di sana.
"Tidak, Esther. Tidakkah kamu mengerti? Aku ingin menghabiskan waktu denganmu," balas Holland tegas.
Esther membulatkan mata, rona merah yang lembut menyebar di kedua pipinya, menghasilkan kesan yang manis.
Ditundukkannya wajah Esther untuk menyembunyikan rasa malu. "Baiklah, jika itu maumu."
Holland secara lembut menarik dagu Esther, memaksa wanita itu untuk mendongak. "Mengapa menyembunyikan wajahmu yang manis?"
"Ah!" Esther semakin memerah, ronanya semakin pekat, membuat Holland tertawa kecil.
"Kekasihku yang manis," bisik Holland di telinga Esther sambil tersenyum lembut.
Esther melenguh kecil. "Diamlah, Holland. Ini tempat umum!"
Holland kembali tertawa, dengan lepas, seolah beban yang tertanam di dadanya turut lepas. Ditelusupinya jemari sang wanita dengan erat, menyebarkan kehangatan yang membuat dada tentram.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, keduanya kembali melangkahkan kaki di keramaian ibu kota. Walaupun begitu pakaian yang dikenakan keduanya bisa dikatakan lebih mewah dibandingkan dengan pakaian rakyat lainnya, hingga perbedaan kedua status sosial bisa dikatakan jelas, membuat rencana keduanya untuk berbaur dengan rakyat biasa menemui kegagalan. Padahal, baik Holland atau Esther, telah meminta pelayan untuk memberikan pakaian yang tidak terlalu mewah seperti pakaian keseharian mereka. Akan tetapi, seluruh pakaian bangsawan pasti dibuat dari kualitas kain terbaik yang hanya bisa dibeli oleh bangsawan, hingga rakyat biasa yang memandang keduanya bisa langsung tahu bahwa kasta mereka berbeda.
Lonceng di atas pintu berdering nyaring ketika Holland mendorong pintu kafe. Suasana di dalam kafe terasa lembut, dengan dekorasi yang manis dan menyegarkan mata, tidak heran kafe ini sempat ramai di hari pembukaan mereka.
"Tuan Holland, saya ada di meja sebelah, ya," bisik Miel pada Holland, di sampingnya, Hanah berdiri dengan malu-malu.
Holland mengerutkan dahinya pada Miel, tetapi tak mengatakan apa pun. Miel melihat respons Holland sebagai bendera hijau dan memutuskan untuk berkencan dengan Hanah di tempat yang sama.
"Pesan saja apa pun, Hanah," kata Miel. Lagipula, biayanya pasti akan dibayarkan Tuan Holland, batinnya dengan antusias.
Esther hanya terkekeh kecil setelah melihat Hanah yang malu-malu, lalu duduk di atas kursi beludru. Ruangan kafe memang dibedakan sesuai kelas, ada ruangan untuk kelas sosial yang tinggi, dan ada pula yang rendah. Tentu saja, ruangan yang Holland masuki bersama Esther, haruslah tempat yang berkelas tinggi, mengecualikan bahwa dia juga harus membayar tagihan Miel karena Holland yakin bahwa Miel tak akan ragu untuk membebankan tagihan padanya.
Seorang pelayan menanyakan pesanan dan pergi ketika keduanya telah memesan.
"Miel dan Hanah, mereka juga memiliki waktu yang membahagiakan," ucap Esther dengan senyum lembut di bibirnya.
Holland yang kehilangan fokusnya untuk sepersekian detik langsung menujukan pandangannya pada Esther. "Ya."
"Kamu tahu? Aku merasa bersalah pada Hanah karena menahannya. Padahal Hanah bisa saja bertemu dengan Miel kapan saja, tetapi mungkin karena Hanah terlalu memperhatikan perasaanku, keduanya tidak sering bertemu."
Masuk akal bagi Hanah untuk terus berdiri di samping Esther. Jika Hanah bertemu dengan Miel, pasti akan ada kaitannya dengan Holland. Hanah tak ingin nonanya tersakiti, maka Hanah pun memberi jarak pada Miel.
Holland menggenggam jemari Esther yang berada di atas meja, meremasnya perlahan. "Maafkan aku, Esther."
"Tidak, Holland. Mengapa itu jadi kesalahanmu?" Esther membalas genggaman Holland. "Aku ... Aku memang merasa kecewa karena kamu menikah dengan Olivia, tetapi aku juga harus mengerti situasimu. Bukankah setelah urusanmu dengan Olivia selesai, kamu akan kembali padaku?"
"Ya, Holland." Esther tersenyum lembut. Debaran di dadanya berdetak secara kasar, tetapi menyenangkan. "Kamu berjanji lagi. Sebelumnya, kamu juga sudah berjanji untuk tidak menyentuh Olivia, bukan? Aku yakin kamu bisa mempertahankan janji itu."
Senyum di bibir Holland berubah kaku, tiba-tiba keringat dingin mulai terasa di balik pakaiannya. Tidak hanya itu, detak jantungnya malah memberikan rasa pedih yang menyiksa hingga Holland merasa benaknya campur aduk.
Untung saja, seorang pelayan membawakan pesanan keduanya hingga Holland bisa diam-diam mengembuskan napasnya lega. Jemari yang saling bertautan di atas meja terlepas, lalu memegang peralatan makan di tangan masing-masing.
Holland memang sangat merasa bersalah karena telah mengingkari janjinya, dan tidak mengungkapkannya pada Esther. Akan tetapi, mengungkapkan sebuah rasa sakit pada Esther, Holland tak mampu. Dia tak ingin melihat Esther dipenuhi oleh kekecewaan lagi. Sudah cukup hatinya berseru perih karena melihat sosok yang dikasihi merasa kecewa, tidak lagi.
"Bagaimana menurutmu, Holland?" tanya Esther setelah mencicipi kue cokelat.
"Ah?" Holland malah merenung dibandingkan mencicipi kue yang dipesan. Dia lalu memotong kue dengan garpunya, membiarkan indra pengecapnya merasakan tekstur kue yang kaya. Memang tidak semewah kue yang dibuat oleh kokinya, tetapi melihat wajah Esther yang bahagia sudah membuatnya merasa puas. "Ya, ini lumayan."
Esther tersenyum, kembali memakan sisa kue dengan etiket yang baik. Meski di tempat umum, Esther tetap mengutamakan etiketnya, begitu pula Holland. Keduanya yang telah diajari mengenai etika bertata krama, tak akan pernah lepas dari hal tersebut.
"Bagaimana dengan Olivia?"
Kalimat Esther lagi-lagi membuat Holland seakan kehilangan satu detak jantungnya. "Ya? Apa maksudmu, Esther?"
Esther kelihatan ragu, tetapi memutuskan untuk menelisik sepasang manik merah darah yang memukau di seberang sana. "Apakah dia berusaha untuk mendekatimu?"
"Esther ...," Holland memanggil nama Esther dengan nanar. Untuk mengungkapkan kebenarannya pada Esther, tentu saja akan menyakiti kedua belah pihak. Menyembunyikannya pula akan tetap menyakiti Esther. Holland diserang perasaan dilema yang membingungkan.
"Tak apa, Holland," sambung Esther. "Aku memang merasa cemburu, tetapi penting untuk melihat pergerakan Olivia. Jika dia melakukan sesuatu yang licik, mungkin kita bisa mencari solusinya secepat mungkin."
Tangan kiri Holland yang ada di atas pahanya mengepal erat. "Y-Ya," jawabnya dengan gugup. "Olivia memang terlihat menyukaiku, tetapi aku menghindarinya di kediaman hingga kami tak sering bertemu."
"Begitu."
Melihat senyuman lega Esther membuat rasa bersalah Holland kian menumpuk, membuat napasnya tiba-tiba terasa sesak, hatinya dipenuhi oleh kabut tebal hingga dia tak bisa berhenti resah.
"Aku senang kalau begitu. Hindari Olivia sebisa mungkin, ya. Satu-satunya yang ada di matamu, hanya aku, 'kan?"
Holland membulatkan matanya, kedua manik yang bergetar singkat itu berusaha untuk menyorot Esther dengan lembut, lantas dipaksakannya sebuah senyuman ringan di bibir.
"Di mataku, hanya ada Esther."
Holland mengulurkan tangannya dan Esther memberikan tangannya. Dikecupnya punggung tangan Esther oleh Holland dengan lama, menimpakan setiap perasaan campur aduk di setiap kecupan sederhana.
...***...
Holland pikir, setelah insiden di mana dia dipengaruhi oleh secangkir teh—di mana kala dia berkonsultasi dengan dokter kediaman, bisa disimpulkan bahwa di dalam cairan teh, terkandung ramuan afrodisiak yang langka, Holland akan terus menghindari Olivia setiap harinya. Bahkan jika dia tidak sengaja berpapasan dengan Olivia, Holland akan berbalik dan lari. Pria itu tak mau mengkhianati Esther lebih dalam lagi sehingga memutuskan untuk lari.
Akan tetapi, sebuah berita yang menyebar dengan cepat membuat detak jantung Holland seakan berhenti berdetak. Perasaan putus asa mulai memenuhi relung dadanya dan Holland bahkan tak sanggup untuk berdiri dengan tegap.
"Selamat, Tuan Holland! Nyonya Olivia tengah mengandung!"
Berita yang sama mulai menyebar di kalangan bangsawan dan beberapa sampai ke rakyat biasa. Seluruh bangsawan mengucapkan selamat lewat surat, ataupun secara langsung. Tidak terkecuali, banyak hadiah yang dikirim ke kediaman Floral atas rasa gembira mereka.
Sebegitu kuatnyalah pengaruh seorang anak di dalam sebuah keluarga yang berpotensi. Bagi Olivia, kehadiran anak yang dikandungnya adalah sebuah surga, tetapi bagi Holland yang hanya merasakan neraka, dia merasa bahwa dia telah ditendang lebih dalam ke sebuah neraka yang akan menyiksanya. Membakar tubuhnya, membuat perasaannya begitu pedih tak dikira.
Kini, Holland diikat oleh sebuah rantai semu. Tubuhnya lemas, sementara Olivia mencengkeram ujung rantai dengan erat. Mau tak mau, Holland jatuh secara paksa pada rayuan iblis, tak bisa mengerti di mana jalan keluar dari sebuah rayuan iblis yang terkutuk.
...***...
Let me ask you something. Apa kalian suka cerita ini? Nggak terlalu aneh, kan? Karena aku juga cukup percaya diri dengan novel ini wkwk.
anyway, kalau ada kata-kata yang seharusnya italic tapi di sini nggak, percayalah aku cuma copy paste dan nggak baca lagi, jadi nggak ketahuan kalau italic hilang, oke? dan bintang penengah adegan juga kalau nggak di tengah layar, harap dimaklumi ya.
2 Juli 2023