
Miel mengeluarkan catatan sakunya dan membuka setiap lembarnya dengan postur tubuh yang menyerupai seorang detektif.
"Saya sudah tahu apa penyebabnya, Tuan Holland," kata Miel, lalu berpura-pura membenarkan letak kacamata yang sebenarnya tidak dikenakan olehnya.
"Jangan bertele-tele dan katakan dalam satu paragraf, aku sudah membayarmu dengan mahal," kata Holland sambil membalik dokumen kerjanya, tak memedulikan Miel di sisinya.
Miel menghela napas. "Tidak asik."
"Jadi?" Holland menutup dokumen kerja dan menatap Miel dengan sorot serius. Dua hari telah berlalu semenjak Miel menyelidiki apa yang terjadi dengan Demian, beserta alasan yang kuat mengapa Demian takut pada Olivia.
Holland yakin bahwa tindakannya ini normal, dia hanya ingin tahu ancaman apa yang dikeluarkan oleh Olivia hingga membuat mental seorang anak berusia lima tahun begitu terguncang.
"Apa Anda yakin ingin satu paragraf penjelasan ketika apa yang saya selidiki bahkan lebih banyak?"
"Katakan saja."
"Anda harus tahu apa yang terjadi lima tahun lalu, pada hari kelahiran Tuan Muda Demian."
Holland menghela napasnya. "Dari sana?bukankah itu terlalu banyak? Aku memiliki setumpuk pekerjaan di sini."
"Anda mau atau tidak? Saya tidak masalah jika tidak menjelaskan, saya juga sudah menerima bayaran di muka."
Holland lagi-lagi menghela napas. "Terserah, cepat katakan."
"Baiklah, ini saat Nyonya Olivia memberikan sebuah nama pada putranya, itu adalah Demian yang artinya penurut. Dengan nama tersebut, Nyonya Olivia ingin Tuan Muda menjadi pribadi penurut yang akan menuruti setiap ego Nyonya Olivia.
"Kemudian pada usia di mana Tuan Muda telah belajar berjalan, Nyonya Olivia langsung menjejalkan pendidikan berat pada Tuan Muda mengenai etiket dasar. Tentu saja Anda tahu bahwa etiket dipelajari ketika telah masuk usia enam atau tujuh tahun, tetapi usia Tuan Muda adalah dua setengah tahun. Sedikit tidak bisa dipercaya, tetapi Tuan Muda Demian bisa sedikit memproses pelajaran tersebut.
"Di usia tiga hingga lima tahun, Nyonya Olivia mengajari Tuan Muda pelajaran yang seharusnya diambil oleh anak berusia delapan tahun. Mulai dari membaca, menulis, dansa, etiket, bahasa, dan lain sebagainya. Tentu saja, hal yang paling menarik di dalam pembelajaran ini adalah mengenai hukuman."
"Hukuman?"
"Ya, Tuan Holland. Jika Tuan Muda tidak bisa menguasai pelajaran yang diajari oleh Nyonya Olivia, Tuan Muda tidak akan segan dipukuli atau dibuat kelaparan, bahkan Tuan Muda pernah sakit parah berkali-kali karena hukuman tersebut. Akan tetapi, Nyonya Olivia tidak pernah jera memberikan hukuman yang sama hingga begitulah mengapa Tuan Muda Demian merasa takut pada Nyonya Olivia."
Miel mengucapkan kalimat akhirnya dengan ringan dan menundukkan kepalanya singkat.
Akan tetapi, Miel mengangkat kepalanya ketika Holland sama sekali tidak bersuara.
"Miel."
Miel bahkan terlonjak ketika Holland melihatnya dengan tajam, bahkan pelayan itu mulai merinding karena tatapan Holland begitu mengerikan.
"Panggil wanita itu kemari."
"Segera, Tuan Holland!"
Miel undur diri dari ruang kerja Holland dan berjalan cepat di lorong raksasa. Dia menepuk dadanya yang berdebar karena baru kali ini mengalami pengalaman yang begitu menegangkan. Meskipun Holland adalah pribadi yang dingin, pria itu masih bisa dikategorikan sebagai pria yang lembut pada Miel. Namun, melihat betapa murkanya Holland pada Olivia, Miel hanya mendoakan yang terbaik bagi wanita itu.
"Ternyata Tuan Holland hanya malu-malu." Bahkan Miel mendapatkan kesimpulan baru mengenai apa yang dirasakan Holland terhadap putranya. "Tuan Holland menyayangi Tuan Muda, tetapi tertahan karena Tuan Muda adalah putra Nyonya Olivia juga."
Miel menghela napas sebelum melanjutkan langkahnya.
...***...
"Tuan Holland meminta Anda untuk bertemu di ruang kerja beliau," ucap Miel sambil menundukkan tubuhnya pada Olivia.
Walaupun bersikap kurang ajar pada Holland, Miel tetap bersikap profesional pada yang lainnya.
Olivia yang lagi-lagi tengah mengajari Demian etiket ketika minum teh di kamarnya, langsung terkejut.
"Apa? Holland memintaku untuk bertemu?!" pekik Olivia dengan gembira. "Pelayan! Cepat cari gaun yang lebih bagus! Dan Demian, pelajari itu dengan cepat!"
Miel tak bisa berkata-kata ketika melihat sosok Demian. Mau dilihat dari mana pun, Demian terlihat menyedihkan dengan luka memerah dan berdarah di punggung tangannya, air mata yang ditahan mati-matian untuk meluncur, hingga tubuhnya malah berakhir dengan getaran kencang.
"Nyonya Olivia," sela Miel. "Saya rasa mengganti pakaian akan memakan waktu yang lebih lama, sementara Tuan Holland ingin Anda berada di sana secepatnya."
"Benarkah?" Olivia tampak gembira, seolah dia tidak sadar bahwa kehadirannya di sana bukanlah untuk menggali kuburannya sendiri. "Baiklah kalau begitu!"
Olivia berlari kecil menuju ruang kerja Holland. Bagi Olivia, hal ini tentu saja membahagiakannya karena Holland yang memanggilnya ke ruang kerjanya adalah hal yang baru saja dialami pertama kalinya oleh Olivia, hingga wanita itu sangat bersemangat.
Diketuknya pintu ruang kerja dengan cepat, menandakan betapa antusiasnya dia.
"Masuk."
Olivia bersorak dalam hati ketika Holland memintanya masuk alih-alih keluar. Karena perasaan gembira yang berlebihan, Olivia tersenyum lebar hingga dua sudut bibirnya sakit.
Olivia memasuki ruangan tanpa menutup pintu, lalu menghampiri Holland dengan cepat. Pria itu tak lagi duduk di meja kerjanya, tetapi tengah memandang panorama menyegarkan dari balik jendela.
"Holland!"
Pandangan dingin langsung menyapu Olivia, tetapi Olivia berusaha untuk mengabaikannya.
"Holland, apa yang—"
Plak! Suara dari sebuah tamparan bergema, membuat senyum Olivia lenyap.
Olivia menyentuh pipinya yang berdenyut nyeri. "Holland?"
Holland menatap Olivia dengan pandangan jijik dan murka. "Apa kau sudah gila, Olivia?"
"Holland?" Olivia tampak syok. Rasa nyeri di kulit pipinya membuat pendengarannya sedikit berdengung, dan wajahnya terasa mati rasa karena rasa sakit yang menyebar.
"Kau adalah orang yang paling menjijikkan dan hina yang pernah ada, Olivia," ujar Holland dengan suara rendah.
"Apa? Mengapa?" Olivia yang telah sadar dari rasa syoknya langsung mendekati tubuh Holland dan menarik lengannya. "Apakah aku berbuat kesalahan? Jelaskan padaku, Holland! Jika kamu tidak memberi tahuku, aku tidak akan mengerti!"
Holland menepis tangan Olivia yang berada di lengannya.
"Apa yang kau lakukan pada Demian, aku tahu segalanya, Olivia. Berani sekali kau menghancurkan seorang anak kecil hanya karena egomu!"
Kedua bola mata Olivia membulat. "A-Apa? Aku tidak mengerti, Holland. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan!" Olivia terkekeh kaku, kedua matanya telah berkaca-kaca, siap menerjunkan air mata dari kelopak matanya.
"Tidak perlu berpura-pura bodoh lagi, Olivia. Aku sudah tahu bagaimana kau memperlakukan Demian dan kau menyebut dirimu sebagai seorang ibu?"
Tubuh Olivia gemetar akan perasaan campur aduk yang menelusupinya. Olivia merasa takut pada Holland, tetapi pula merasa marah.
Holland mengerutkan dahinya. "Bersalah? Olivia, berhenti membela dirimu dengan melimpahkan kesalahanmu pada orang lain!"
"Holland! Kau mengatakan apakah aku berani menyebut diriku sebagai seorang ibu? Ya! Aku berani! Setidaknya aku berada di sisi Demian selama lima tahun terakhir, tetapi di mana kamu?! Bahkan berapa kali kamu menemui putramu saja masih bisa dihitung jari, dan kamu ingin sok membela anak itu?!"
"Olivia, jangan memutar balik topik! Aku hanya ingin menghukummu karena telah memaksakan egoismemu pada Demian! Dia tersiksa karenamu, Olivia! Dia terluka!"
"Jika bukan karenamu, aku saja tidak mau melakukan ini!"
"Sudah kukatakan, berhenti melimpahkan kesalahan—"
"Kamu selalu saja sulit aku gapai, Holland! Satu-satunya orang yang ada di matamu hanyalah wanita sialan itu, Esther sialan itu! Aku tidak punya pilihan lain!"
Holland merasa murka karena nama Esther dimaki di hadapannya, dia mengangkat tangannya pada Olivia.
"Apa yang mau kamu lakukan lagi, hah?! Kamu mau menamparku lagi? Memukulku? Pukul saja aku!"
Tangan Holland yang berada di udara terhenti dan terkepal dengan erat. "Olivia, hentikan penyiksaanmu pada Demian."
Olivia terkekeh kesal. "Jika aku berhenti mendidiknya, apakah kamu akan melirikku? Tidak, bukan?"
"Demian bukanlah boneka cantikmu yang bisa kau atur seenakmu. Dia adalah seorang anak, sebuah jiwa yang hidup, Olivia!"
Olivia mengembuskan napasnya dengan marah. "Aku tahu! Namun, bukankah Demian berlaku dengan sangat baik sekarang?! Dia bahkan bisa beretiket di usia yang muda, dia cerdas, dan terampil. Berkat siapa itu, Holland? Berkatku! Aku tengah berusaha memoles batu biasa itu menjadi sebuah berlian!"
"Olivia!" teriak Holland. Dia sudah muak dengan pembelaan Olivia. Holland hanya ingin Olivia merasa bersalah, lalu mempertanggungjawabkan tindakannya sendiri. Namun, Olivia tidak jera dan merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang benar.
"Tentu jika Demian berharga, kamu tidak akan melepaskan anak itu, bukan?!" bentak Olivia, dia meneguhkan dirinya meski sudut hati terkecilnya gemetar tak terkendali.
"Melepas ...? Apa maksudmu, Olivia?"
Napas Olivia memburu dan air mata yang ditahan akhirnya luruh. "Demian akan menjadi penerusmu, Holland. Jika dia bertalenta semenjak dini, maka tentu saja kamu akan memilihnya untuk menjadi penerusmu, bukan?"
Olivia akhirnya mengungkapkan tujuan yang dipendamnya dengan wajah yang menyedihkan. Air matanya menetes kian menderas, bibirnya bergumam tidak jelas seolah dia sudah gila, bahkan maju untuk mencengkeram kedua lengan Holland.
Holland tertawa marah setelah mengetahui intensi Olivia dari tindakannya terhadap Demian.
Holland menarik helaian rambut Olivia dengan kasar, membuat wanita itu mengaduh.
"Jangan mengambil kesimpulanmu sendiri, Olivia," kata Holland dengan dingin.
Tubuh Olivia bergetar kencang.
"Siapa yang mengatakan bahwa Demian akan menjadi penerusku? Bahkan jika anakmu itu adalah sebuah berlian, aku akan tetap membuangnya bersamamu. Bukankah kau sudah tahu kenyataan ini? Aku akan membuangmu setelah aku meraih puncak yang tak akan digoyahkan, aku akan menjadi keluarga bangsawan yang tidak akan mampu disentuh oleh bangsawan rendahan lainnya, lalu membuangmu."
Sepasang manik merah Olivia bergetar hebat. Kini, Olivia benar-benar merasa takut. Holland memang terus menampilkan sosok dinginnya pada Olivia, tetapi kali ini intensi yang ditunjukkan seakan berniat untuk menerkam tubuh Olivia hingga mati.
"Aku menikah denganmu karena ingin pengaruhku sendiri tidak goyah. Bagi Duke berusia 21 tahun, aku tahu bahwa aku terlalu naif jika tenggelam di dalam dunia yang berbahaya. Maka dari itu, aku membutuhkan bantuan dari Riquetti. Menarik pengaruh sebanyak mungkin, lalu membuangmu dan putramu itu."
Isakan Olivia terdengar jelas di dalam ruangan yang sunyi. Wajahnya yang manis berubah konyol dengan cepat.
"T-Tidak," isak Olivia.
"Setelah membuangmu, aku akan menikah dengan Esther. Keturunan kami-lah yang akan menjadi penerus Floral. Bahkan jika Demian adalah berlian yang langka, aku tak akan memilihnya."
Tubuh Olivia lemas, dia akhirnya jatuh ke lantai dan terisak hebat hingga tubuhnya bergetar.
Holland hanya memandangi Olivia yang terlihat sangat menyedihkan itu dengan tatapan dingin sebelum melewati tubuhnya, meninggalkan Olivia yang menderita sendirian.
...***...
"Tuan Muda Demian! Sebentar lagi adalah ulang tahun Anda yang keenam! Apakah Anda bahagia?" tanya pelayan dengan ceria.
Pelayan lainnya turut memeriahkan suasana dengan merencanakan pesta ulang tahun sederhana yang akan digelar di antara mereka saja.
Demian tersenyum pada para pelayannya. "Terima kasih banyak, aku senang sekali."
Melihat senyuman Demian yang manis membuat para pelayan meleleh, mereka makin antusias dalam merencanakan pesta ulang tahun.
"Kita patungan saja untuk bahan membuat kuenya!"
"Siapa yang bertanggung jawab atas dekorasinya?"
"Aku saja, aku! Akan kubuat dekorasi yang mewah!"
"Hei, kamu harus menghemat uang!"
Demian tertawa melihat para pelayan asik sendiri. Demian diberkati oleh orang-orang yang baik di sekelilingnya, mengecualikan kekejaman ibunya sendiri.
Akan tetapi, semenjak Olivia dipanggil Holland menuju ruang kerjanya, Olivia tak lagi mengajari Demian mata pelajaran yang terkutuk itu, bahkan hanya memelototi Demian ketika keduanya berpapasan dan melewatkan tegur sapa.
Mau tak mau, Demian merasa bahwa Holland telah melakukan sesuatu hingga Olivia akhirnya menjaga jarak dengannya. Tidak hanya menyembuhkan sedikit luka yang bernanah di hatinya, Demian juga bisa merasakan ketenangan yang tidak pernah dia impikan. Selama lima tahun kehidupannya, Demian telah terluka, diobati, lalu kembali terluka. Terjebak dalam siklus yang sama hingga dia merasa putus asa dan pasrah pada takdir. Akan tetapi, Holland telah mengulurkan tangannya, menarik Demian hingga dia bisa keluar dari siklus yang menyiksa itu.
"Apakah Ayah menyayangiku, ya?" tanya Demian pada dirinya sendiri.
Akan tetapi, situasi meriah barusan lenyap dan berubah sunyi. Kala Demian mengangkat kepalanya, para pelayan sudah mengelilinginya.
"Tentu saja, Tuan Duke menyayangi Anda, Tuan Muda!"
"Benar, benar! Tuan Duke hanya tidak tahu saja bagaimana cara untuk menunjukkan kasih sayangnya!"
"Itu benar sekali, Tuan Muda Demian! Bagaimana mungkin Tuan Duke tak menyayangi Anda? Anda begitu menawan seperti ini, Tuan Duke juga lama-kelamaan pasti akan luluh!"
Demian tertawa kecil, senyum yang ditampilkannya begitu memesona. "Terima kasih, aku juga yakin bahwa Ayah menyayangiku."
Ya, Demian yakin. Di sudut hati Holland, pria itu pasti menyayanginya. Jika tidak, lantas mengapa pria itu peduli padanya?
...*** ...
Fun fact dari novel ini adalah spin off dari novelku yang lain, judulnya Look at Me, Your Majesty! Novel itu ada di aplikasi oren, tapi sudah ada versi e-book loh! Kamu bisa cek di google playbook dengan judul yang sama untuk membacanya, atau liat preview-nya dulu untuk beberapa lembar juga bisa loh! bisa dipastikan kalau majasnya nggak jauh beda dengan novel ini, heheh. yeah, it's a promotion. Karena cita-citaku jadi orang kaya, makanya aku jualan buku, aamiin.
2 Juli 2023