Stuck On Here

Stuck On Here
Chapter 9 : situation



"Memangnya kenapa, kalau bahasa ku seperti orang-orang di Timur?" Tafa bertanya sambil memilah baju yang tinggal sedikit di dalam tas.


Wynie menoleh kasar, menghembuskan napas kasar, sebelum menyahut sarkas,"Kita ini orang Barat, berbeda dengan Timur——"


"Sama saja, toh Tuhan menciptakan kita berbeda. Memang kita orang Barat, tapi coba bayangkan saja kau menjadi orang Timur, lalu kau dicemooh dan diremehkan sampai segitunya, apalagi cuma hal sepele—bahasa. Bayangkan saja," Tafa berucap panjang lebar sebelum menyela dengan helaan napas kasar, menatap penuh arti wajah Wynie, yang diam tanpa kata.


"Sudahlah, lupakan saja. Orang barat selalu menilai semua dari status. Biar saja," Tafa melanjutkan. Ia berdiri lalu berjalan mendekati jendela kaca besar di sisi ranjang, membuka tirai perlahan sebelum Ia melihat apa yang ada dibalik sana.


Tafa terdiam, wajahnya memucat, membuat Wynie ikut berdiri ingin melihat apa yang ada di luar. Hanya angin yang menyambut, tidak ada apapun yang mengerikan. Ia memerhatikan sekilas wajah Tafa yang memucat.


"Tafa?"


Hening.


"Tafa?!" kali ini Wynie mengguncang bahu Tafa keras, merasa ada yang aneh dari temannya. Ia melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah Tafa.


"Tafa!"


Seketika Tafa sadar, Ia melihat Wynie yang menampilkan ekspresi panik. Lalu memerhatikan sekelilingnya, sedikit linglung, lalu akhirnya ekspresi nya berubah normal lagi. Wynie bernapas lega melihat perubahan itu, Ia mengambilkan air minum dalam teko lalu menuangnya ke dalam gelas dan memberikannya kepada Tafa yang sudah duduk di atas ranjang.


"Kau lihat apa?"


Tafa hanya menggeleng. Mengerti akan hal itu, Wynie tidak mencoba bertanya lagi.


"Aku seperti terjebak dalam situasi yang sama, berulang kali," gumam Tafa dalam hati.


***


Lucas mengantar Valerie keluar dari Balai Buku bersama Kendrick, sementara Andreas di minta menemani Floren pulang. Meski awalnya gadis itu menolak mau tidak mau Ia harus menuruti nya.


"Siapa bersamamu?" Lucas bertanya saat tidak melihat Wynie di sekitar Balai.


"Ku rasa tadi Wynie ada di sini," gumam Valerie bingung sambil memerhatikan sekitar, seorang gadis dengan seragam pelayan persis milik Wynie sedikit berlari ke arah Valerie.


"Maaf, Nona. Saya tadi pergi ke sana, Nona sudah lama menunggu?."


"Sinee?" Valerie bertanya dengan kening mengerut, menatap horor ke arah Sinee yang menundukkan kepalanya, "Ku rasa tadi aku bersama Wynie,"


Sinee menengadah, menatap wajah Nona Mudanya, "Tadi Nona bersama saya. Wynie tidak bisa mengantar, karena harus menemani maid baru,"


Valerie menatap Sinee serius, membuat Lucas menahan tawanya. Ia memerhatikan lagi gadis itu dari atas ke bawah. Tidak ada yang salah, ini memang Sinee, bukan Wynie. Lalu apa yang salah dari Valerie.


"Ini benar kau kan?" Valerie bertanya lagi, dahinya mengerut dalam, sehingga alisnya ikut menurun dengan tajam. Membuat Sinee sedikit takut.


"Ah, lupakan saja, ayo kita kembali Nee," Ajak Valerie kemudian berpamitan kepada Lucas dan Kendrick, "Aku merasa tadi itu memang Wynie," gumam Valerie dalam hati.


***


Andreas tidak membawa kereta, karena niat awalnya hanya membuntuti, atau lebih tepatnya tidak sengaja mengikuti. Ia berjalan menuju daerah Timur kota bersama Floren. Sepanjang jalan Floren hanya menunduk menautkan kedua telapak tangannya di bawah sambil meremas kain gaun. Sesekali Ia merasakan aura dingin meniup-niup di balik tengkuknya yang tertutup ikatan rambut tinggi.


Ia melirik ke kanan dan kiri menggunakan ekor matanya, tidak ada siapa-siapa. Tapi Ia merasa ada yang mengikutinya, sangat dekat dengan nadinya. Ia menengadah, lalu menoleh ke wajah Andreas yang tampak tenang. Tapi Floren bisa melihat ada sorot cemas di sana. Ia menundukkan lagi wajahnya berfokus pada paving yang bersusun rapi membentuk jalan.


"Kenapa aku merasa lama sekali sampainya?" Gumam Floren sangat lirih seperti desah angin. Ia merasa sudah cukup jauh berjalan tapi masih belum sampai, akhirnya Ia mengangkat wajahnya. Mereka batu memasuki daerah taman kota di jalan utama, "Kenapa baru sampai sini?.Sewaktu berangkat tadi, ku rasa sangat dekat"


"Apa yang kau tahu, tentang Tuan Stuart?"


Floren menoleh, menatap tak percaya wajah laki-laki di sampingnya, sebelum membuka suara dengan pertanyaan, "Kalau aku mengatakan sesuatu, kau, maksud ku kalian mau apa?"


Andreas tertawa hambar, "Jawab saja pertanyaan ku,"


Floren menunduk, "Tidak ada," Jawabnya bohong. Aura dingin itu muncul lagi, perasaan aneh itu juga—perasaan sedang di awasi. Floren tidak berani mengangkat wajahnya atau menoleh ke arah lain jadi dia hanya melirik dengan ekor matanya.


"Kau berbohong,"


Floren tersentak kaget, Ia menelan salivanya dengan susah payah, sebelum kembali menatap wajah Andreas, "A-a-aku enggak bohong, kok!" serunya gugup.


Andreas berhenti di depan Floren membalikkan badannya lalu menatap Floren intens, "Benarkah?" Tanyanya sambil mengangkat sebelah alisnya, melengkung sempurna.


"Iya, aku tidak bohong."


"Seharusnya kalau kau tahu sesuatu, beritahu saja aku." Katanya berusaha memancing Floren.


"Katakan, mau apa? Itu bahaya! Jangan," cicitnya di akhir.


Andreas tersenyum simpul, masih membiarkan tangannya di genggam oleh Floren sebelah tangannya lagi melicinkan kerah baju penuh gaya.


, "Sudah ku katakan kalau kau berbohong" Katanya, menelisik wajah Floren, "Kau bilang tidak tahu apapun, tapi reaksi mu sampai segitunya,"


Floren melepaskan genggaman tangannya di lengan kiri Andreas. Ia mematung, baru menyadari kalau Ia hanya dipancing. Ia mengutuk sendiri dirinya yang ceroboh dan terlalu terbawa suasana.


"Hanya, bahaya."


"Hm?"


Floren memalingkan wajah ke arah lain, menyembunyikan raut wajah gelisah nya. Perasaan diikuti itu terus saja merasuki, seakan ada sesuatu yang masuk ke dalam dirinya. Tapi di tepisnya rasa itu. Ia beralih, menatap penuh harap ke arah Andreas yang sibuk merapikan kerah jasnya.


"Aku harap kalian enggak ngelakuin hal-hal aneh,"


"Ya. Hanya harapan kan? Lucas tidak akan berhenti kalau sudah mendengar ada nama Felman, dia putra ketiga yang dibanggakan Tuan Pertama Felman, Tuan Rumah Felman—Tuan Louis de Felman." katanya sambil mendesah kasar. Tangannya mengalun kasar membuat guratan tak kasatmata di udara, "Kalau dia tidak berhenti aku juga tidak."


Andreas berjalan lagi melewati tikungan kiri, diikuti Floren di belakang. Mereka sampai di depan sebuah rumah bergaya kuno dengan pintu kembar besar berwarna cokelat yang melengkung di bagia atasnya. Pekarangan nya hanya berupa daerah rumput sempit. Tidak ada siapapun di sekitar sana. Membuat Andreas bingung.


Floren berjalan masuk dengan ragu, menoleh untuk melihat Andreas yang masih berdiri di luar pagar kayu. Belum sempat Ia membuka pintu, Rola, pelayan rumah membuka pintu.


"Eh, Rola. Mana Bibi Katherine?"


"Nyonya Katherine pergi keluar bersama Tuan Stuart tadi, Nona. Ayo masuk, tadi saya membuatkan kue jahe,"


"Ah, iya." Floren menoleh sebentar ke arah pagar. Andreas masih berdiri di sana, kemudian pergi setelah Floren melontarkan senyumannya.


***


Maaf yah, author sebenarnya udah ngetik sebagian naskahnya tadi malam, tali karena beberapa episode anime tayang, Author streaming dulu nonton anime 😂.


Ya, udah selamat baca ya, hehe…