
Bau-bau dedaunan kering merebak di udara terbawa desau angin yang seolah membisikkan ke telinga manusia, telinga seorang Felman, Lucas de Felman. Pemuda itu berjalan melewati jejak-jejak daun kering di bawah pohon kiara payung. Tangannya di masukkan kedalam saku celana kain yang dipakainya. Tidak ada mantel, hanya sebuah kemeja grey pucat dengan lengan tidak dikancingkan serta disingsingkan ke atas sampai siku, membuatnya tidak terlihat seperti putra keluarga terhormat.
Lucas berbelok ke arah toko jalan berbatu menuju danau Almaty, belum sepuluh langkah Ia berjalan, Ia merasa ada yang mengikutinya, Ia sedikit memperlambat langkahnya, memastikan keberadaan orang lain selain dirinya. Tapi, Ia tidak merasakan apapun.
Tali sepatu nya dibiarkan mengurai, sengaja agar Ia bisa menunduk melihat ke belakang, memastikan instingnya. Ada bekas jejak kaki selain dia sejauh satu setengah meter di belakang, matanya yang cukup tajam segera menangkapnya. Ia berdiri lalu berbelok ke jalan lain yang berpaving di sebelah kiri, jalan pintas menuju rumah Andreas Willson.
Tidak ada detak sepatu yang mengikutinya lagi, Ia tidak mau menoleh ke belakang untuk sekedar memastikan hal seperti itu hanya akan membuat dia di curigai.
"Kurasa memang kota ini menjadi sedikit aneh, beberapa hari belakangan," gumam Lucas tidak jelas.
Ia tidak memasuki pekarangan rumah Andreas, tapi berjalan terus ke Utara menuju mansionnya sendiri. Dari awal Ia memang tidak berniat bertandang ke rumah Andreas, Lucas hanya ingin memastikan siapa yang mengikutinya, makanya Ia berbelok ke mari. Jalan di sekitar sini di awasi dengan ketat oleh orang-orang bayaran Andreas yang berwajah dingin dengan hawa membunuh yang tinggi.
Lucas meneruskan langkahnya menuju mansion. Tepat saat Ia bertemu dengan Valerie dan Wynie yang baru kembali dari taman kota. Valerie menaiki sepedanya di ikuti Wynie yang menjaga sang Nona dari belakang.
"Hi, Vale" Sapa Lucas.
Valerie tersenyum lalu turun dari sepedanya.
"Luke, kau darimana?"
"Aku? Aku mengalihkan perhatian," bisik Lucas.
Valerie mengerutkan dahi tidak mengerti,"Mengalihkan? Mengalihkan perhatian siapa? Cewek-cewek yang mengejar mu itu, kah?" Tanya Valerie dengan nada mengejek.
Lucas mendengus kesal,"Bukan, hanya saja jalan di sini sangat aman, terutama untuk melarikan diri,"
"Ya, terserah mu saja, kau memang selalu membual, ayo Wynie kita pulang, sampai jumpa Lucas,"
Valerie berjalan melewati Lucas bersama dengan Wynie. Sepedanya tidak lagi dinaiki melainkan dituntun. Ia berjalan berjejer dengan Wynie yang membawa tas bandul di bahunya.
Sementara itu Lucas meneruskan langkahnya, sampai di ujung jalan Ia memilih jalur kiri untuk kembali ke mansion. Jalanan sudah ramai terlihat dari sini, di sebelah selatan, Ini hanya sebuah jalan memutar melewati sebagian jalan berbatu menuju danau Almaty. Tapi Ia lebih memilih lewat di sini, hanya karena seseorang yang mengikutinya tadi.
Lucas berjalan santai, Ketika sampai di tepian jalan yang banyak ditempati pedangan crepes dan gula kapas, Ia berhenti, mata peraknya menangkap seorang anak yang berdiri seorang diri di bawah pohon. Ia berjalan mendekati anak itu yang kebetulan menatap ke arahnya. Tapi seseorang sudah lebih dulu memanggil Lucas.
Gevon, pesuruh keluarga Felman berjalan mendekati nya.
"Ada apa Gev?"
"Tuan Louis mencari Anda,"
Lucas mendengus kesal karena pamannya terus saja membayanginya. Ia terpaksa berbalik dan berjalan kembali ke mansion di ikuti Gevon dari belakang. Matanya beredar mengamati semua penduduk kota Lourch.
"Hm, aku penasaran,"
***
Floren berjalan mendekati seorang wanita paruh baya yang memakai gaun berwarna lembayung dan renda-renda abu-abu di tepian gaunnya.
"Bibi, apa sudah selesai?"
Wanita paruh baya itu hanya mengangguk lalu menggandeng tangan Floren berjalan menuju timur, dan berpisah dari hiruk-pikuk keramaian kota kecil Lourch.
***
Hari ini Wynie mendapat libur dari Majikannya, tugasnya menjaga Valerie digantikan oleh Sinee, Ia berniat pergi ke taman kota menemui teman sebayanya di sana, Tafa
Wynie duduk menunggu, Tafa di kursi taman. Ia sibuk melihat-lihat orang-orang lalu lalang di jalanan. Matanya mengawasi, sampai Ia menangkap sosok Tafa yang berjalan melintasi kerumunan banyak orang.
Wynie melambaikan tangannya, memanggil Tafa yang tampak kebingungan. Tafa yang melihat dan mendengar panggilan dari Wynie langsung berlari ke arahnya, di bawah pohon Kiara payung, tempat biasa Wynie dan Nona Mudanya duduk.
"Kita dapat jatah libur yang sama, kebetulan," ujar Wynie saat Tafa sudah duduk di sampingnya. Sambil sedikit merapikan rambutnya yang terkena angin.
Tafa menghela napas kasar, seperti mengeluarkan beban dari dalam dirinya,"A, aku berhenti bekerja Wynie,"
Wynie membelalak, menatap tak percaya ke arah Tafa yang diam, sepersekian detik kemudian Ia memberondong Tafa dengan pertanyaan bertubi-tubi, "Berhenti? Kenapa? Apa majikan mu galak? Kau tidak betah? Atau bagaimana?" Seru Wynie memberondong dan menatap Tafa yang kebingungan karena rentetan pertanyaan tersebut.
"Aku takut hanya itu, di rumah itu sebenarnya, hanya ada dua orang pelayan, aku dan satu teman ku, kau tahu? Tadi malam aku mendengar sesuatu yang aneh, sangat-sangat aneh" ucap Tafa lirih sambil menggedikkan bahunya pelan.
Kening Wynie tampak berkerut, heran sebelum berkata,"Aneh bagaimana? Suara orang marah-marah mungkin? Atau itu hanya ilusi mu,"
"Bukan, suara itu, ada sesuatu yang bernyanyi, sesuatu yang baru aku dengar tadi malam. Suara itu terdengar menyeramkan, seperti musik yang tidak teratur, tidak ada nada-nada yang jelas terdengar di dalamnya tapi suaranya seperti menghipnotis. Terkadang terdengar rendah mencekam, kemudian melengking tinggi membuat telinga ku sakit, aku enggak tahu itu suara apa? Yang jelas itu terdengar mengerikan" Tutur Tafa.
"Kau tidak salah dengar? Mungkin saja itu suara musik dari majikan mu, ku dengar dia orang yang sangat-sangat kuno, apa anaknya juga begitu, kemarin aku lihat dia berjalan menggandeng seorang gadis manis, sepertinya usianya lebih muda dari Nona Valerie,"
"Itu bukan anaknya, tapi Keponakannya. Tapi sepertinya keponakannya tidak kuno seperti itu, dia terlihat jarang bicara dengan Majikan ku, tapi dia baik."
Wynie mengangguk mengerti walaupun tidak memahami sepenuhnya, "Lalu, sekarang kau bekerja di mana? Yakin mau berhenti? Siapa tau kau salah dengar, emang ada suara begitu, aku saja batu dengar dari kamu tadi,"
"Aku enggak bohong, Wyn. Suara itu ada, tadi malam hanya aku dan majikan ku serta Nona Floren yang ada di rumah. Tapi sepertinya ada tamu sih, aku enggak tahu itu siapa karena Nyonya sendiri yang membukakan pintu, aku di suruh menyiapkan minum saja, tapi enggak lihat orangnya. " tutur Tafa memperjelas.
"Loh, kata mu ada dua pelayan, kan? Mana satunya, libur?"
Tafa mengangguk mengiyakan. Ia menengok ke kanan dan kiri takut kalau majikannya ada di sekitar situ dan mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Ya, sudah ayo kita beli crepes, kau mau?" tawar Wynie.
"Tidak aku menunggu saja, kau beli sendiri ya,"
Wynie mengangguk lalu berdiri dan melangkah menuju penjual crepes di pinggir jalan. Ia membeli dua buah crepes, satu untuknya sendiri dan satu untuk Tafa. Setelah mendapatkan yang dia mau, Wynie segera kembali ke tempat duduk mereka tadi. Tapi Tafa sudah tidak ada di sana.
"Loh, kemana Tafa?" Tanya Wynie lada dirinya sendiri.
"Wyn, sini. Di sana agak panas," suara seseorang mengagetkan Wynie, Tafa berpindah duduk di bagian utara taman di bawah pohon saru yang hampir lebat. Wynie menghampiri nya dan memberikan sebuah crepes.
"Kau benar-benar mau berhenti?" Tanya Wynie sekali lagi.
Tafa diam sejenak menghela napas kasar lalu menatap Wynie yang masih menikmati crepes di tangannya, "Percaya saja, kalau kau mendengar nya secara langsung kau pasti sangat takut dan tidak mau kembali ke rumah itu lagi,"
"Jadi, kau mau kemana sekarang? Kau mau bekerja di rumah keluarga Lafrence, kebetulan kita membutuhkan satu maid lagi, kau pasti cocok bekerja di sana, dan enggak usah takut sama suara-suara aneh, di sana enggak ada suara-suara begitu" tawar Wynie.
Tafa hanya mengangguk.