
Pemuda itu berjalan gontai. Tangannya dimasukkan dalam saku celana kain, mantelnya dibiarkan tidak terkancing dan sedikit beterbangan terkena angin. Ia sedikit mendongakkan kepala ke atas, langit cerah dengan awan-awan berarak putih tebal menghalangi sebagian cahaya matahari sehingga udara tidak terlampau panas.
Pemuda itu menghentikan langkahnya untuk memanjat naik pohon saru, sebelum suara seseorang menggagalkan niatnya. Ia menoleh seorang gadis berjalan ke arahnya.
"Lucas!"
Lucas menelengkan kepalanya ke kanan mencoba menangkap sesuatu yang aneh dari gadis itu, tapi tidak ada. Ia langsung memanjat pohon saru lalu duduk di dahan favorite nya. Membiarkan gadis di bawah mencak-mencak karena kesal.
"Lucas!"
Gadis itu mengangkat sedikit gaun yang dipakainya, menendang batang pohon dengan kaki bagian kiri yang tertutup sepatu pantofel hitam mulus. Tapi tidak memberi gerakan berarti. Ia melihat ke atas, ke arah Lucas yang duduk bersandar di salah satu dahan pohon.
"Ada apa?" Tanya Lucas menatap ke bawah, ke arah gadis yang sedang merapikan lipatan gaunnya yang sedikit berantakan. Lucas langsung melompat turun menghasilkan suara berdebum yang terdengar cukup keras di telinganya.
"Lucas, bisakah kau berhenti melompat seperti itu? Itu membuat ku kaget," gerutu gadis itu, yang langsung duduk di sisi Lucas menghadap danau Almaty yang jernih.
Lucas dan Valerie, gadis barusan duduk menikmati angin semilir di pinggir daun. Di atas rerumputan hijau yang berbunga kuning. Selang beberapa saat Lucas merebahkan dirinya di atas rumput, tepat di bawah rerimbunan daun saru, membuat matanya tidak silau karena cahaya matahari.
"Ku tebak kau menghindar lagi dari Tuan Louis?"
Lucas membalikkan badannya menjadi tengkurap dengan tangan kiri menyangga dada, tangan kanannya sibuk merapikan rambut hitamnya yang kotor karena rumput kering. Lalu mengamati wajah Valerie yang tertimpa sedikit sinar matahari, karena terhalang topi lebar yang dipakainya.
"Aku tidak menghindar, aku malas, mungkin"
"Tidak bisa begitu Lucas, kau akan menjadi pengganti Tuan Louis, kau kan anggota keluarga Felman, masa tidak tahu?"
Lucas mendengus kesal,"Tidak bisakah kau tidak memanggil Paman Louis dengan kata 'Tuan', itu terdengar menggelikan," ucap Lucas sambil merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan.
"Akan aneh kalau aku memanggilnya Paman seperti mu, terdengar tidak sopan"
"Kau bisa memanggilnya Paman, kalau kau mau, tapi kau harus jadi bagian keluarga Felman," Kata Lucas terjeda,"Dengan cara menikah dengan ku," kata Lucas lagi sambil tertawa cukup keras yang membuat Valerie kesal dan memukul main-main bahu pemuda itu.
"Jangan bicara sembarangan!" Valerie mencebik kesal. Lalu memalingkan wajahnya ke arah lain. Topinya yang lebar bergerak terkena hembusan angin sore.
Hening.
Hening.
Tidak ada yang bicara. Masing-masing dari mereka menikmati keasyikannya sendiri. Tidak ada yang punya topik untuk dijadikan bahan obrolan, membuat keheningan tercipta alami. Lucas sibuk mencabuti rumput yang ada di sekitarnya lalu membuangnya ke depan, terkadang Ia membuangnya jauh hampir mendekati danau.
Valerie membiarkan apa yang dilakukan Lucas, Ia sendiri sibuk meneliti tepian gaunnya, yang berupa renda berwarna tulang senada dengan topi lebar miliknya.
Vale.
"Ada apa Lucas?" Valerie menoleh ke arah Lucas yang masih menyabuti rumput. Membuat Lucas menghentikan kegiatannya lalu ikut menoleh ke arah Valerie dengan tampang bingung.
"Kenapa?"
"Ah, tadi kau memanggilku? Aku dengar, kok" tutur Valerie, kemudian menoleh ke kanan dan kiri memastikan keberadaan orang lain di sana. Tapi tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua. Danau Almaty juga tenang. Membuat tengkuk Valerie meremang karena takut.
"Aku, tidak memanggil mu, kalau ada yang memanggil mu aku kan pasti dengar, apa kau salah?" Tanya Lucas sambil merapikan kancing dan merapatkan mantelnya karena merasa udara tiba-tiba dingin, menusuk sampai ke tulang.
"Eh, tadi ada yang memanggil ku itu suara mu kan? Suaranya juga tidak berteriak-teriak, tidak mungkin ada orang lain di sini," Tutur Valerie lirih karena Ia merasa sedang di awasi. Matanya mengedar, tetapi tidak ada orang lain selain mereka berdua.
"Lebih baik kita pulang saja, ini sudah sore," Lucas berkata sambil beranjak membersihkan pakaiannya yang tertempel rerumputan kering di sana-sini. Merapatkan mantel miliknya,"Ku rasa tadi udaranya tidak terlalu dingin, kenapa tiba-tiba turun begini," gumam Lucas lirih sambil membantu Valerie berdiri.
"Ayo, " Valerie ikut berjalan bersama Lucas, Sesekali Ia menoleh ke kanan dan kiri, karena merasa diawasi—diikuti.
***
Louis duduk di kursi ruang kerja miliknya. Tangannya bertautan di atas meja menyangga dagunya. Menatap tumpukan kertas yang ada di atas meja. Sesekali Ia mengetukkan jarinya di atas meja, berpikir.
Klek.
Pintu terbuka membuat Louis menoleh untuk melihat siapa yang datang, Lucas. Pemuda itu berjalan masuk dan duduk di atas sofa yang ada di pinggir ruangan. Louis menatapnya intens, membuat Lucas merasa jengah.
"Maaf Paman, lain kali aku akan mengetuk pintu dulu," Ujar Lucas sambil meraih bungkusan permen di atas meja.
"Bahkan kalaupun aku hanya putra ketiga? Kalau aku menjadi putra pertama pun aku juga tidak mau Paman, ini membosankan" Seru Lucas sambil menyandarkan punggungnya di sandaran sofa,"Aturan-aturan ini membelenggu, tidak memberi kebebasan dan aku tidak suka,"
"Lalu, bagaimana kalau masyarakat tidak memiliki aturan? Semua akan kacau balau, perampokan, kekerasan semua akan terus terjadi karena tidak ada aturan yang mengikat mereka. Semua merasa bebas melakukan apapun yang mereka mau," menjeda sebentar kalimatnya,"Peraturan dibuat untuk kita semua Lucas, tidak ada yang merasa terbelenggu kalau kau mau menjalani nya. Semua memang harus ada aturannya"
Lucas mendengus kesal membiarkan Louis berbicara mengenai pendapat nya sendiri. Membuat Lucas sedikit bosan, bahkan sangat bosan. Ia menoleh ke arah jendela, terbersit keinginannya untuk melompat keluar jendela berpindah di atas atap-atap rumah.
"Jangan sekali-kali berpikir untuk melompat keluar jendela, Luke."
Lucas menoleh, mengambil lagi sebungkus permen di dalam stoples lalu memakannya. Ia suka berada di kamar kerja milik Louis. Tapi ia tidak suka mendengarkan segala argumen dan perkataan Louis mengenai berbagai hal.
"Paman, akhir-akhir ini ku rasa, malam-malam di kota Lourch terasa aneh, atau memang ini hanya perasaanku saja?" tutur Lucas sambil memerhatikan pamannya yang sibuk merapikan meja kerja, menempatkan pulpen di dalam laci dan menumpuk berkas menjadi satu.
"Memang itu yang terjadi, Lucas."
Lucas hanya duduk mematung. Memikirkan kata-kata Valerie di danau tentang suara yang Memanggil nya dan mirip dengan suara milik Lucas. Itu membuat Lucas sedikit takut.
Sesekali Ia melihat ke arah jendela, hari sedikit lagi gelap. Jendela kamar kerja Louis menghadap ke arah barat, membuat nya mudah melihat matahari yang mulai terbenam di ujung sana. Burung-burung satu persatu mulai beterbangan menuju sarangnya menimbulkan sedikit suara berisik kepakan sayap.
"Jangan sekali-kali kau keluar malam Lucas, kota Lourch sedang tidak aman. Paman juga belum tau keadaan pastinya. Tapi, suasana malam semakin berbeda setiap harinya. Tidak sebenarnya bukan setiap harinya. Tepatnya beberapa akhir ini, semenjak purnama lalu."
Lucas mengusap tengkuknya karena merasa sedikit takut. Ia menoleh ke arah jendela. Tidak ada siapa-siapa, tirai nya yang terbuka sebagian, membuat nya melihat bagaimana malam merambat dengan cepat. Sedikit awan halus beterbangan tinggi dengan warna kelabu.
Lucas bangkit lalu berjalan menuju pintu. Sebelum itu Ia menoleh ke arah Louis dan mengucapkan permisi," Aku keluar dulu Paman, selamat bekerja,"
"Seharusnya begitu juga saat masuk tadi, itu adalah etika Luke, kau ingat? Apa pemuda seusia mu sudah menurun daya ingatnya?" Tanya Louis sedikit sarkastik.
"Aku ingat, tapi aku sengaja melakukannya, apa paman puas? Setidaknya aku tidak melupakan permisi untuk keluar kan?" Ucap Lucas, tangannya sudah memegang handle pintu dan membukanya perlahan.
Ia keluar sambil menutup lagi pintu ruang kerja Louis. Ia sendiri berjalan ke arah kamarnya yang berada jauh di ujung. Di dekat kamar kedua kakaknya yang sudah mendirikan usaha sendiri di luar negeri dan tidak tinggal lagi di mansion keluarga Felman. Ia membuka pintu itu lalu menutupnya perlahan. Tempat tidurnya di sekat oleh sebuah rak buku tinggi.
Ia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Merasakan udara malam yang memang turun drastis dari biasanya. Entah dia yang baru menyadari nya atau memang hanya dia yang merasakan, udara itu bahkan menusuk tembus sampai ke tulang. Ia masih mengenakan mantel miliknya, dilepasnya mantel dan jas miliknya. Lalu dilemparkan ke sembarang arah, menggantinya dengan selimut tebal.
"udaranya memang seperti musim dingin, bahkan sangat menusuk. Apa yang salah?" Gumam Lucas lirih. Udara di luar seakan mengetuk-ngetuk kaca jendela kamarnya. Membuat tengkuknya meremang.
"Itu hanya angin,"
***
Bagi Lucas tidak ada yang istimewa, hari-harinya hanya dilalui dengan mencari cara untuk kabur dari Louis. Terkadang Ia akan pergi berjalan-jalan mengelilingi kota Kecil Lourch. Memerhatikan setiap aktivitas orang-orang di sana. Para pedagang es krim dan segala macam makanan serta toko-toko kelontong di sudut kota.
Kali ini Ia sedang berada di di ruang kerja milik Louis. Duduk di atas sofa kesukaannya sambil memakan permen di atas stoples. Matanya memerhatikan Louis yang sibuk meneliti berkas di atas meja, sambil mengetuk-ngetukkan jarinya.
"Paman, apa maksudmu kemarin tentang, suasana kota yang aneh?" Tanya Lucas sambil membuka bungkus permen.
Louis menatap keponakannya dengan intens sebelum membuka suara,"Aku hanya bilang untuk tidak keluar malam hari, tidak lebih dan tidak perlu tahu lebih,"
Lucas mendengus kesal karena sikap pamannya. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Melirik ke arah jendela kaca yang terbuka membiarkan angin masuk.
Baru saja Lucas membuka mulut hendak bicara seseorang mengetuk pintu dari luar membuat Lucas mengurungkan niatnya.
"Masuk," seru Louis dari tempat duduknya. Pintu terbuka, Jake masuk sambil memberi salam lalu menutup kembali pintu tersebut. Ia berjalan mendekati Louis yang masih duduk di kursi kebesarannya.
Seakan paham keadaan Lucas segera berdiri, melangkahkan kaki menuju pintu. Tidak ingin mengganggu urusan kedua orang di dalam.
"Jangan pergi dari mansion, Luke"
Lucas hanya mengangguk mengiyakan lalu segera menutup pintunya. Ia berjalan menyusuri koridor, berbelok ke arah selatan menuju balkon. Ia memerhatikan setiap hiasan dinding mansion, tidak ada yang berubah hanya beberapa bagian yang direnovasi lalu dicat ulang dengan warna sama, membuat bangunan ini terlihat baru meski sudah berdiri bertahun-tahun lamanya.
Pintu-pintu besar berwarna cokelat menjadi pembatas antara ruangan-ruangan luas dibaliknya dengan koridor tempat Lucas berpijak sekarang. Ia sampai di balkon angin segar menyambut nya begitu Ia menjejakkan kaki di tepi.
Mata peraknya menjelajahi jalan mansion yang sepi. Beberapa kendaraan berlalu lalang di jalan paving. Awan-awan tidak banyak menutupi langit matahari juga tidak terlalu terik menyengat.
"Memang membosankan, selalu membosankan," gumam Lucas.
"Tapi apa hanya aku yang menganggap ini membosankan? Menganggap aturan ini membelenggu, seperti kata Paman Louis?" gumamnya lagi.