Stuck On Here

Stuck On Here
Chapter 14 : has begun



"Pembisik?" celetuk Andreas.


Floren mengangguk pasti, "Daripada aku dijadikan bangsawan tapi harus berurusan dengan hal aneh begini, sürrœçk..., itu bukan tandingan kalian, maksud ku biarkan saja...,"


Lucas menggeleng keras. Membantah kata-kata Floren.


Menyerah bukan konsep Felman pikir Lucas Dan aku akan jadi bahan lelucon.


"Tidak. Ini masalah yang..., seru."


Floren membelalakkan matanya tak percaya, sementara Kendrick dan Andreas tampak antusias. Karena hal seperti ini adalah, langka. Seorang Lucas, putra ketiga dari Alan de Felman, bersikap serius.


Floren menggeleng tidak percaya, hal-hal yang menyangkut ilusi atau kekuatan supernatural dan semacam sesuatu yang hanya ada dalam fantasi? Ini bukan hal biasa, tapi tidak mudah untuk dilawan.


"Seru? Apa otak mu bermasalah? Enggak ada gunanya ngelawan anggota sürrœçk seperti dia! Yang ada hanya bahaya. Kamu itu memang Felman, bangsawan hebat di Lourch bahkan di kerajaan Vuitton Raya. Tapi..., sürrœçk? Ku rasa Jangan, sebaiknya jangan...," Sahut Floren tegas tapi dilanjutkan dengan cicitan lirih di akhir


Lucas menelengkan kepalanya ke kiri, menautkan kedua tangannya lalu menumpunya di atas meja. Andreas dan Kendrick sama-sama tersenyum, saat ini mereka melihat Lucas sebagai sosok lain, bukan melihatnya sebagai Lucas de Felman, tapi calon pengganti Louis de Felman.


"Seberapa banyak hal yang kau ketahui tentang sürrœçk sesat itu, Nona Floren Starch Katana?" Tanya Lucas dengan senyum misterius nya.


Floren terperangah, belum sempat Ia membuka mulutnya untuk menjawab, udara di sekitar tiba-tiba terasa dingin.


"Sialan!" umpatnya kecil yang masih bisa di dengar oleh ketiga lelaki di hadapannya.


***


Wynie sedang membersihkan kaca jendela saat mendengar Tafa berteriak sangat keras, suara seseorang yang kaget dan ketakutan. Wynie spontan meninggalkan pekerjaannya dan mencari asal suara Tafa bersama beberapa pekerja laki-laki dan pelayan.


Mereka berjalan tergesa menuju koridor sayap kanan. Mansion ini lumayan besar, karena dihuni keluarga bangsawan.


Saat mereka—para pelayan—tergesa menuju koridor, Valerie hanya memperhatikan dengan bingung. Ia dengar suara teriakan tapi tidak mengenal benar suaranya, dan Valerie tidak bisa cemas. Ia hanya cemas dengan orang yang memang dekat dengannya, seperti Wynie. Stok emosi dan air mata milik Valerie terbatas.


Melihat para pekerjanya bertindak, Valerie tidak mau ambil pusing. Ia merebahkan diri di sofa besar berbulu yang ada di ruang tengah. Akhir-akhir ini Ia merasa lelah dan butuh istirahat lebih daripada biasa.


"Sinee?"


Dayang yang sedang duduk di dekat sofa itu segera mendekat begitu Valerie memanggilnya.


"Ya, Nona?"


Valerie bangun, merapikan gaunnya yang sedikit terbuka karena rebahan, "Siapa yang teriak tadi? Aku belum kenal suaranya."


Sinee tampak berpikir, "Sepertinya maid baru, namanya Tafa."


"Tafa? Maid baru, aku belum pernah lihat, apa yang teriak tadi?"


"Sepertinya begitu, Nona. Saya juga mau lihat dulu, Nona, permisi..," Sinee berucap sambil menegakkan tubuhnya lalu berlalu menuju tempat para pelayan berlari tadi.


Valerie hanya memandangi punggung Sinee yang mulai menjauh meinuju koridor sayap kanan mansion, "Tafa, aku pernah dengar nama itu..," gumam Valerie.


***


Katherine Masih mondar-mandir dengan perasaan campur aduk yang membuat kepalanya pening. Ia menggigiti ujung kukunya, demi menghilangkan sebagian stressnya. Ia sudah tidak peduli lagi yang namanya graceful atau apapun itu, yang dipikirkannya saat ini adalah keselamatan.


Katherine hampir terjengkit kaget, saat itu juga. Ia menoleh sebatas bahu, Rola datang sambil membawa barang pesanannya.


"Apa ada?" Tanya Katherine buru-buru, mendekati Rola dan mengambil kotak yang di bawanya.


"Ada, Nyonya..., Untungnya Mr Stuart tidak curiga."


Katherine menghela napas lega, sekarang yang harus dilakukannya adalah pengelabuhan, meskipun Ia tahu mengelabuhi lawannya yang satu ini bukanlah hal yang mudah.


Tapi Ia sadar, bahwa Ia sudah salah sejak awal dan kabur kemanapun akan tetap kembali ke awal, pagar ilusi ini akan terus memenjarakannya sampai Ia membayar semuanya, dengan bayaran yang tak lazim—tubuh tanpa nyawa milik keponakannya, bukan mayat tapi, sebuah tubuh tanpa jiwa.


Aku tahu Ray bukan orang bodoh pikir Katherine gugup Memakai paham kuno tentang warna-warna itu tidak akan berguna. Dia itu sürrœçk! Bukan manusia!


***


Lucas kembali, Ia memasuki mansion dengan langkah gontai, Rolland menyambutnya sambil menawarkan bantuan membawa jas milik Lucas. Tapi Lucas menolaknya. Ia berjalan terus menuju kamarnya, diikuti oleh Rolland di belakang.


Sebelum membuka handle pintu oak merah besar itu Ia menoleh kepada Rolland yang masih setia di tempatnya.


"Rolland," panggil Lucas.


Rolland maju selangkah mendekati Lucas, "Ya, Tuan Muda?"


Lucas mendengus, mengangkat telapak tangannya ke depan wajah, menggerakkannya ke kanan dan kiri, "Jangan panggil aku, Tuan Muda. Panggil Lucas saja, atau kalau kau takut dengan Paman Louis, Tuan Lucas saja." protes Lucas, "Bilang, jangan ada yang mengganggu ku, aku mau istirahat kepalaku sedikit pening."


"Apa butuh obat? Tuan Lu-Cas...?"


Lucas menggeleng, "Tidak perlu, aku hanya butuh tidur, kalau Paman Louis, Ibu atau siapapun mencari..., bilang aku masih tidur."


Lucas langsung membuka pintu dan menutupnya begitu saja, ia merebahkan tubuhnya yang letih itu di atas tempat tidur empuk. Kepalanya sedikit pening.


"Sürrœçk, di mana aku bisa mencari tahu tentang ini?" Gumam Lucas, sebelum akhirnya Ia memejamkan mata karena rasa lelah yang mendera.


***


Hari ini aku nulis sedikit dulu yah, karena lagi kurang pemikiran nih...


Kurang tahu juga harus nulis dialog apa? Alurnya juga...


Jadi untuk saat ini dikit aja dulu~ 💙


Buat para pembaca jangan lupa kasih dukungan dengan:


╭Like~👍🏻


╭Komentar~💬


╭vote~💙


Bye-bye, segini dulu yah hari ini, besok semoga bisa nulis lebih ya~📚.