
"Tunggu, Bibi? Dia bibi mu?" Andreas bertanya heran. Keningnya berkerut dalam.
Floren tersenyum ganjil, "Bukankah di Lourch, para tuan rumah selalu menghormati tamunya,"
Lucas mengerjap. Sekali. Dua kali. Lalu segera mendapatkan kesadarannya saat Valerie menyikut halus pinggangnya. Floren dan Tafa sudah duduk, begitu juga dengan Andreas dan Kendrick.
"Hei, mana tuan rumah nya?" Andreas meledek.
Lucas tersenyum malu. Ia segera duduk di sofa berdasbor dua, berdampingan dengan Valerie. Sementara otaknya masih mencerna semua yang terjadi.
"Ok," Floren membuka suara. Semua menoleh ke arahnya. Lucas sendiri menengok ke belakang, melambaikan tangan ke arah para maid yang berdiri di sana. Menyuruh mereka menjauh.
"Aku akan cerita, karena ku rasa ini semakin..." Berpikir sebentar mencari padanan kata yang tepat, "...bahaya"
"Bahaya? Ok. Ceritakan dulu tentang... yang mau kau katakan," Lucas menyela tidak sabar. Di sampingnya Valerie memasang raut wajah biasa. Tidak ada ekspresi lain, hanya sekadar tersenyum simpul.
"Aku dan Bibi Tafa, keluarga, "Floren mengawali ceritanya, menatap satu persatu wajah-wajah yang seakan mendesaknya untuk melanjutkan, "Bibi Tafa adik terakhir ibu kandung ku, Lady Amerta. Pernah aku bilang kalau Tuan Stuart membunuh ayah ku dan membuat ibuku hilang? Itu bukan Lord dan Lady Katana, tapi Amerta. Tuan Stuart tidak tahu kalau aku punya bibi dari ibu, jadi saat bibi Tafa menjadi dayang pribadi Miss Katherine, dia tidak mempermasalahkannya. Hanya saja masih banyak hal yang belum kami ketahui——"
"Tunggu, kenapa kau, maksud ku Miss Tafa Amerta?" Tafa mengangguk halus, Valerie melanjutkan "Mengajukan diri menjadi maid baru di mansion Lafrence?"
Tafa tersenyum halus, samar memperbaiki posisi duduknya sebelum menjawab, "Waktu itu saya tidak sengaja mendengar... suara, seperti nyanyian dari dalam ruang baca di rumah kuno itu. Saya hanya berpura-pura seakan saya trauma dan takut. Wynie, dia mengenal saya, karena kami sering bertemu, jadi saya terima saja tawarannya. Itu lebih baik daripada Tuan Stuart mencurigai saya, bagaimanapun tawa nyanyian itu menyeramkan."
Valerie mengangguk, jadi Tafa melanjutkan ceritanya, "Tapi ternyata Tuan Stuart tahu kalau kita mencurigai dia. Apa kalian dihantui ilusi? Katakan saja Iya, saya juga."
"Tunggu" Lucas menyela, "Ilusi seperti apa? Aku tidak tahu,"
"Ilusi seperti melihat hal-hal aneh?" Andreas menyahut, suaranya terdengar berat, "Tapi aku juga dengar dengung aneh... seperti ini... 'Abaikan aku, Jangan buat aku tersiksa, lagi...' kira-kira begitu, suaranya kabur," Tutur Andreas, memerhatikan sekitar, takut kalau-kalau ilusi itu muncul lagi.
"Tuan Stuart itu pemuja stray rock yang, kalau kita katakan, sejati..." Tafa berkomentar dingin sorot matanya tidak terbaca, "Ilusi yang dia buat bukan ilusi seperti hanya bayangan, ilusi itu roh-roh orang mati."
Andreas bergidik ngeri, begitu juga dengan Kendrick dan Valerie. Tapi mereka berusaha menyembunyikan ketakutannya.
"sürrœçk, punya kelemahan."
Tafa menoleh, "Kelemahan sürrœçk? Mungkin ada," Ujarnya skeptis. Tangannya ditautkan, meremas kain bajunya.
"Ada, abaikan saja ilusi yang datang, maka ilusi itu akan pergi, ilusi yang dibuat dari mayat, maksudku roh orang mati, pasti tersiksa makanya dia ingin segera pergi, dengan cara kita mengabaikannya,"
Andreas sedikit terperangah mendengar penjelasan Lucas. Itu masuk akal karena ilusi roh itu juga seperti mendengungkan kalimat-kalimat seperti itu. Setelahnya dia menghilang.
"Darimana anda mengetahui itu, Sir?" Tafa bertanya skeptis, lagi.
"Buku, Miss. Felman itu seperti maksudku memang, bangsawan kuno, mereka punya banyak... koleksi. Buku seperti itu, ada juga, mengenai sürrœçk..." Tukas Lucas halus. Ia menegakkan punggungnya, mencoba mencari posisi yang bisa membuat sikap seriusnya terlihat, "Katanya abaikan saja ilusi roh, atau disebut rästœnë, itu, terkadang bisa saja rästœnë menyuruh kita," menoleh ke arah Andreas, yang mengamati dengan serius, "Mengabaikan dia. Karena dia tersiksa, jiwanya yang harusnya menyebrang malah dipanggil dengan tidak wajar."
Tafa mengangguk mengerti.
Tafa menghembuskan napas kasar menatap ke arah Floren, "Dia widow Tuan Stuart. Tidak tahu bagaimana dia bisa lepas dari pengaruh ingatan Tuan Stuart. Orang-orang yang memanggilnya Miss hanya tidak tahu, mengenai hal itu."
Semua yang ada di sana terkesiap kaget, kecuali Floren dan Tafa yang memang mengetahuinya.
"Apa dia jahat? Valerie tiba-tiba merasa cemas, "Dia sering melihat ku dengan... aneh."
Tata tertawa halus, Valerie melihatnya seperti seorang gadis bangsawan murni. Suara tawanya halus dan teratur. Caranya bersikap persis seperti buku tata krama yang sering di pelajari gadis-hadus bangsawan.
Amerta pasti keluarga bangsawan terhormat. Mungkin sama seperti Felman, di atas nya Lafrence. Pikir Valerie lugas.
"Kekuatan sürrœçk, pemuja stray rock seperti Tuan Stuart nggak hanya ilusi," Floren mulai menormalkan lagi cara dan tata bahasanya, Ia tidak identitas bangsawan terlihat, meski Valerie sudah mengetahui hal itu.
"Maksud mu, Nona Katana? Ahh, ya. Karena kau bukan Katana, aku bisa memanggil mu, Nona Floren?" Lucas menyela.
"Floren saja, aku hanya... bukan bangsawan," tukas Floren halus, Tafa hanya tersenyum, "Sūrrœçk sejati, bisa mengendalikan, sebenarnya bukan mengendalikan tapi menghapus pikiran orang mengenai dirinya, tapi aku nggak tahu kenapa? Sepertinya dia nggak bisa menghapus ingatan ku, maksudku kita."
"Kita?" Lucas menelengkan kepalanya, "Kenapa kita?"
"Bahkan hanya Andreas dan Nona Valerie yang dihantui ilusi, meski hanya ilusi biasa," Floren terkekeh hambar.
Di tempatnya Andreas bergidik ngeri.
Biasa? Wajahnya yang penuh kerutan seakan kulit menempel di tulang itu, membuatku mual. batin Andreas jijik.
"Kalau aku ku rasa karena ini..." Lucas memperlihatkan tatto di lengan kanannya, terlihat samar, jika dilihat sekilas. Tatto itu bergambar dua lingkaran yang bertemu di dua titik. Seperti menghasilkan gambaran tiga buah elips yang berhimpit. Ada titik-titik samar yang membentuk rantai jika dilihat dengan teliti. Di tengah-tengah gabungan kurva itu, ada sebuah simbol yang Lucas sendiri tidak tahu artinya.
"Apa itu semacam tatto pelindung?" Kendrick berkomentar.
"Iya, aku lihat gambarnya di buku kuno itu. Tapi halaman penjelasannya sobek kur——"
"Tuan Felman, ada penghianat di rumah mu," Tafa menyahut cepat wajahnya memaku pada satu titik, matanya yang tajam menangkap bayangan manusia. Tapi bayangan itu tetap di tempatnya, seperti merasa posisinya aman.
Wajah Lucas tiba-tiba menegang. Benar. Buyut-buyutnya meninggalkan buku itu untuk keturunannya di generasi berikutnya sampai Lucas saat ini. Tidak mungkin mereka merobek hal yang begitu penting.
Floren berdiri, melangkah menuju tempat yang diamati secara lekat oleh Tafa. Langkah kakinya sangat halus, seperti tidak terdengar meski Ia masih memakai sepatu pantofel di kaki jenjangnya. Valerie mengagumi itu.
Bagaimanapun caranya dia menyembunyikan, darah bangsawan murni itu terlihat jelas dari sikapnya. Batin Valerie.
Floren sampai di dekat bufet cokelat besar. Hanya Tafa yang memerhatikannya secara hati-hati, yang lain melanjutkan ceritanya—mengelabuhi.
Floren berjingkat gerakannya sangat cepat dan halus, dalam sekejap seorang pekerja muda berada dalam genggamannya. Ia memelintir tangan pemuda itu ke belakang membuatnya mengaduh kesakitan. Para Lord hanya tersenyum kagum melihat hal itu.
"Sekarang bukan waktunya kagum, kalian nggak mau periksa dia?" Floren menyahut sarkas.