
George mengerut heran, masih fokus menatap tempat yang ditunjuk oleh Andreas, tidak ada apa-apa selain barang-barang milik Andreas yang tersusun rapi di dalam sana.
"Tidak ada apa-apa Tuan." Tukas George hati-hati.
Andreas tersenyum, mengerti sebagian skenario yang akan terjadi selanjutnya.
Ia hanya perlu waspada dan mengurangi rasa takut. Rasa takutnya akan mudah diketahui. Dan ilusi sesat itu akan terus menghantuinya serta menghasut pikirannya.
Ia juga harus pandai membedakan mana ilusi dan kenyataan.
Ilusi sesat ini sangat memuakkan pikir Andreas kesal, Ia melangkah masuk ke dalam kamar. Berusaha untuk mengabaikan makhluk aneh yang terpajang di sudut kamarnya, bersikap seolah-olah tidak ada apapun selain dirinya dan George.
Benda itu hitam, dengan wajah berkerut-kerut samar tapi kasar. Dadanya yang kembang-kempis seperti bernapas sempat membuat Andreas bergidik ngeri. Tapi Ia meyakinkan dirinya bahwa itu hanya ilusi. Ia melirik dengan ekor matanya, benda itu masih di tempatnya, seakan ruangan tersebut adalah tempat tinggalnya.
"Sialan!" Umpat Andreas.
George yang merasa hawa di ruangan itu sedikit berbeda juga merasa was-was. Akhir-akhir ini Lourch mencekam, pikirnya. Ia masih berdiri di depan meja Andreas. Tidak berani menoleh ke sekitar, tapi tapa memasang pose tubuh sigap dan wajah datar.
Sekali lagi. Andreas melirik. Masih di sana. Tetap dengan kesetiaan dengan tempatnya. Dadanya masih kembang-kempis meski terlihat memuakkan bagi Andreas. Gelap seperti hanya bayangan tapi membuat udara sekitar seakan menyesakkan.
Kalau kau berkata tidak percaya aka hal-hal yang berbau mistik. Maka abaikan saja, kalau kau terus memerhatikannya maka dia akan terus memerhatikan dirimu.
Kata-kata Jeremy tiba-tiba terlintas di pikirannya. Ia melirik ke arah George yang masih memasang sikap sigap di tempatnya. Andreas melihat jelas raut wajahnya yang terpilin, aneh.
Masalahnya ini bukan hantu, bisa saja benda sesat ini membunuhku. Pikir Andreas kalut. Ia berusaha setenang mungkin.
Abaikan aku.
Andreas bergidik mendengar dengungan aneh itu. Abaikan. Ia sudah berusaha tapi tidak bisa.
Abaikan aku, jangan lihat.
Lagi. Suara itu seakan dikirim langsung menuju otaknya membuat kepalanya berdengung aneh. Ia a mengumpat dalam hati.
Abaikan aku.
Abaikan aku,
Jangan Lihat,
Ini menyiksa,
Aku ingin pergi,
Abaikan aku,
Jangan menyiksa ku
Juga...
Suara-suara itu berdengung semakin sering dan semakin kabur secara semrawutan di dalam otak Andreas. Ia mengabaikan, berusaha mengabaikan meski kepalanya terasa sakit karena dengungan itu. Meski tidak mengerti apa arti dengungan tersebut, Ia berusaha mengabaikan.
Perlahan tapi pasti, dengan cara samar, bayangan itu menghilang seperti sobekan kertas yang berhamburan terburai oleh air. Andreas menghela napas lega, setelah suasana mencekam itu.
Benar-benar pergi? Abaikan? Pikiran Andreas masih berkelana mencerna apa yang barusan terjadi. Sekilas Ia melirik ke arah George raut wajahnya mulai membaik.
"George..."
Yang dipanggil mendekat. Siap mendengarkan.
"Baik, Tuan."
***
Lucas tahu, meski dirinya tidak mempercayai hal-hal berbau semacam cerita fantasi atau sebuah bualan mengenai kekuatan supernatural, mau tidak mau Ia harus terlibat sekarang. Karena mendengar cerita Floren mengenai nama Felman yang da dalam list milik Ray Stuart, entah apapun itu pasti berbahaya, pikir Lucas.
Dari pemikirannya itulah Ia sekarang berada di sini. Di antara jejeran rak-rak buku tua milik keluarga Felman. Lucas menyusuri setiap buku dengan ujung jarinya, mengungkit satu jika merasa tertarik tapi mengembalikannya saat melihat isinya yang tidak sesuai apa yang dia cari.
Lucas berhenti sejenak, pandangannya tertuju ke arah jejeran tak paling ujung. Meski sering di bersihkan tetap saja tempat Ini sedikit berdebu. Lucas tidak pernah berminat untuk mendatangi tempat ini, sampai sekarang.
"Rolland," Lucas memanggil salah satu pekerja yang biasa mengawalnya atau lebih tepat mengawasinya atas perintah Louis.
Rolland mendekat, memberi hormat dengan sedikit membungkukkan punggungnya.
"Ada, apa Tuan?"
Lucas menunjuk rak buku yang ada di ujung, "Apa itu buku kuno? Maksudku, buku-buku semacam... Bukan tentang politik atau ekonomi," Melihat raut wajah kurang yakin milik Rolland, Lucas tahu dugaannya benar.
Lucas berjalan mendekati rak buku tersebut diikuti Rolland di belakangnya. Mengamati satu persatu jajaran sampul buku yang terbuat dari kulit binatang. Buku-buku itu tidak berjudul. Membuat Lucas sedikit bingung. Ia mengambil salah satu buku dengan yakin lalu membuka bagian tengah—bagian yang memiliki lebih banyak informasi.
Senyum terkembang di bibirnya, ini buku yang dia cari.
Ia berbalik, melangkah melewati Rolland yang hanya diam tidak berkomentar, bagaimanapun Lucas juga putra Alan, keponakan Louis, itu artinya Ia juga tuan rumah di sini.
Mungkin sedikit membantu pikir Lucas saat menutup pintu ruangan.
Ia menghentikan langkahnya saat melewati pintu kamar kerja Louis. Rolland masih diam seperti biasa. Lucas mengurungkan niatnya untuk masuk, seorang maid mendekatinya dan mengatakan kalau ada tamu yang menunggunya.
Lucas mengerutkan keningnya, "Suruh dia tunggu sebentar, aku akan datang."
Maid itu mengangguk berlalu dari tempatnya. Lucas sendiri sedikit bergegas menuju kamarnya menyimpan buku yang baru saja dia ambil di bawah bantal. Mematut dirinya di depan cermin, memastikan penampilannya rapih.
"Rolland, jangn biarkan siapapun masuk ke kamarku." Ujar Lucas sambil membenahi kerah kemejanya. Membiarkan Rolland menyisir rambut nya dengan cekatan.
Lucas tersenyum puas mendapati hasil pekerjaan Rolland yang terhitung sempurna. Ia berdiri, lalu melangkah keluar. Rolland sendiri pergi ke koridor kiri, menuju kamar kerja Louis.
Bau-bau tidak sedap mencokol, menggelitik Indra penciuman Lucas. Ia menutupi hidungnya dengan telapak tangan.
Apa ilusi sürrœk sememuakkan ini? Atau hanya perasaan ku? Pikir Lucas kesal. Ia meneruskan langkahnya menuju ruang tamu.
Seseorang sudah menunggu Lucas. Seorang wanita. Dua orang. Lucas mengenali salah satunya sebagai Valerie tapi tidak dengan satunya. Ia mendekat.
"Valerie?"
Gadis yang dipanggil menoleh, tersenyum manis.
"Lucas, sebenarnya aku ingin menemui dari kemarin, tapi... Lord Willson bilang lebih baik jangan, makanya aku baru datang sekarang, bersama Tafa," Valerie menunjuk gadis yang duduk di sebelahnya tadi, "Katanya Nona Floren akan datang bersama Lord Willson, ku rasa dia menyukai Nona Floren," Valerie berucap sambil menaikkan bahu.
Lucas hanya menanggapi dengan senyuman jenaka, lalu duduk di sofa bersebrangan. Ia memerhatikan Tafa yang menunduk dalam. Terlihat sekali ada gurat kecemasan di sana.
Tepat saat Lucas ingin membuka suara, pintu depan terbuka diiringi masuknya tiga orang yang lain. Andreas Willson, Kendrick Hanbërt, serta Floren Katana.
Tafa berdiri menghambur memeluk Floren yang mana malah membuat yang lain mematung kaget kecuali Valerie yang masih memasang ekspresi sebiasa mungkin.
"Bibi, Tafa..."