Stuck On Here

Stuck On Here
Chapter 6 : discussion



Miss Katherine tampak duduk di ruang tamu bersama seorang laki-laki. Gaun biru pucatnya menjuntai menutupi mata kaki. Ikat pinggangnya yang menyimpul berbentuk pita di mainkan dan di biarkan menjuntai terlepas dari bentuk semulanya.


Sementara Pria di depannya hanya diam tidak berbicara sama sekali, keheningan yang tercipta membuat suara denting jarum jam menjadi musik pengisi.


Nafas Miss. Katherine terdengar teratur meski perasaannya was-was akan pria berwajah pucat sepucat kertas di hadapannya ini. Wajah pria itu terlihat datar tanpa ekspresi. Wajahnya yang pucat seperti seseorang yang sudah tinggal di goa bertahun-tahun, tidak terkena silaunya matahari membuat orang yang pertama melihatnya secara sekilas mengira dirinya hantu.


Miss. Katherine diam tidak berani menatap wajah orang di depannya, orang yang mengajaknya masuk ke lingkaran sesat yang bahkan belum dia sadari sampai sekarang.


"Lusa malam, bulan purnama datang, perkumpulan anggota dan ketua," Mr. Rey bersuara singkat, menjelaskan maksudnya dengan pilihan kata yang terdengar aneh dan kurang mudah dimengerti oleh orang baru, berbeda dengan Miss. Katherine yang sudah mulai terbiasa.


"Janji mu, Miss ingat, imbalan" tukas Mr. Rey kemudian berlalu darisana dengan sejuta aura gelap di sekitarnya.


Wajah Miss. Katherine pucat mendengar kata imbalan. Segera Ia berdiri lalu pergi ke kamarnya sendiri.


***


"Ada apa Luke?" Tanya Andreas dengan bibir menyentuh ujung gelas berisi whisky, "Mau membahas pertunangan mu dengan Nona Lafrence?" Tanya Andreas dengan nada mengejek.


"Bicara sembarangan!" Cebik Valerie kesal. Yang di sambut kekehan oleh Andreas. Sementara Kendrick sibuk memakan biskuit di atas nampan.


"Kau terus saja mengolok ku dan Lucas, makanya cari pasangan sana! Kamu enggak laku ya?" Balas Valerie dengan nada ejekan yang kental dan senyum jenaka penuh kemenangan.


Andreas dan Kendrick sedikit mengerutkan kening, menatap Valerie dengan pandangan heran, Membuat Valerie juga bingung apa yang salah dari dirinya.


"Kenapa melihatku seperti itu?"


Andreas mengulas senyum,'"Bahasa mu tidak terdengar seperti seorang Nona Muda Lafrence,"


"Kenapa memangnya? Ini lebih baik, kalau bicara formal terus aku jengah," Lagi-lagi membela diri.


Kendrick dari tadi hanya diam, karena dia memang tidak pernah banyak bicara. Rasa sakit di rahangnya ketika di gerakkan membuatnya mencoba mengurangi bicara kecuali hal penting seperti sekarang, kalau bukan hal penting untuk apa Lucas de Felman mengajak kedua sahabatnya serta Nona Muda Lafrence berkumpul, Kendrick Walter, Andreas Willson, serta Valerie Lafrence.


"Apa Tuan Louis, tidak tahu?" Tanya Kendrick membuka suara.


Lucas menatap sejenak ke arah sahabatnya, "Paman Louis, pasti tahu. Apa yang bisa di sembunyikan dari dia? Debu di udara?" Tanya Lucas sarkastik, "Dia membiarkan aku berbuat semauku, tapi tentu saja harus sesuai perhitungan, kau tahu Paman ku orang yang sangat disiplin. Katanya ini bukan masalah besar, jadi biarkan saja,"


Kendrick manggut-manggut mengerti, sementara Andreas menuang lagi whisky ke gelasnya. Menyesapnya penuh rasa nikmat, candu.


Valerie menatap aneh kepada Andreas yang tampak menikmati Whisky di gelas nya. Ia sendiri mengait kuping cangkir teh di lalu menyesapnya perlahan.


"Jadi?" Kendrick kembali membuka suara.


"Kita akan jadi detektif," sahut Lucas antusias.


Andreas berdecak, "Sudah ku duga, Felman muda ini lebih cocok jadi seorang pembisik,"


Lucas hanya terkekeh geli mendengar komentar Andreas yang sedikit sarkas, tapi Ia sudah terbiasa. Ia mengalihkan lgi pembicaraan.


"Tunggu," Valerie menyela, "Lebih baik, kau cari tahu dulu, tentang marganya Floren, marga Katana," usul Valerie yang di sambut anggukan oleh Andreas.


"Benar kata Nona Lafrence, kalau kita belum tahu jelas siapa Miss. Katherine kita mau apa? Bisa saja dia juga korban, kan?" Ucap Andreas sambil mengedarkan gelas memutari meja dan berhenti di hadapan Kendrick yang menatap tidak suka.


"Suruh saja anak buah Ken menyelidiki, gampang"


Andreas hanya diam tidak menanggapi. Ia meletakkan gelas whisky nya di atas meja memutarnya di tempat, sambil berpikir.


"Warna lembayung bisa menghindari seseorang dari bahaya, itu paham kuno yang ku pelajari dari buku-buku di balai buku Lourch. Bukan kah Miss. Katherine sering memakai sesuatu berwarna lembayung?" Kendrick mengambil kesimpulan.


"Dan Floren, tidak suka membawa atau memakai sesuatu yang berwarna lembayung, kemarin aku lihat dia membuang sapu tangan ke tempat sampah," sahut Valerie, Menjeda sebentar untuk mengambil napas, "Jadi——"


"Jadi Nona Katana tidak sepaham dengan Miss. Katherine," Potong Andreas singkat.


Lucas mengangguk mengerti, "Jadi Nona Katana, tidak sepaham dengan Miss. Katherine. Itu artinya dia tidak mengerti apa-apa?"


"Bisa saja dia tahu sesuatu, tapi dia menyembunyikan sesuatu itu," sahut Andreas lagi, Ia mengambil botol whisky lalu menuang lagi, " Ada whisky lagi?"


"Ada," sahut Lucas lalu memanggil seorang maid yang berjaga di sana, menyuruhnya mengambil dua botol wishky.


"Artinya?" Lucas bertanya lagi.


"Artinya, kita tunggu saja Whisky nya datang lalu melanjutkan yang tadi," jawab Andreas enteng, yang di balas decakan kesal oleh Lucas.


***


Louis duduk di kursi kebesarannya mendengarkan laporan yang dibawakan oleh Jake. Tangannya bertautan menyangga dagu, mata peraknya masih mengawasi Jake dengan intens. Sesekali kepalanya mengangguk mengerti.


"Biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau, ini bukan menyangkut seluruh Lourch, hanya perusuh kecil." Tukas Louis di akhir laporan Hans.


Jake mengangguk hormat lalu keluar meninggakkan Louis yang masih setia dengan meja setengah lingkaran dari kayu oak yang dicat berwarna merah.


"Katherine, apa yang dia mau?" Gumam Louis.


Louis berdiri dari duduknya, melangkah menuju jendela besar yang dilapisi kaca setebal lima cm, menatap keluar dengan malas. Perkebunan Felman terhampar luas di sana.


"Apa yang di ketahui oleh Luke?" Louis menarik napas berat.


***


"Kau mau ikut bersama ku Nona Lafrence?" tawar Andreas saat mereka sampai di pelataran depan mansion Felman.


Valerie mengangguk mengiyakan, lalu melangkah lebih dulu menuju kereta berlogo pedang di depan sana. Sementara Andreas, Kendrick, dan Lucas masih berbicara sebentar.


"Antar Valerie sampai rumahnya," ucap Lucas mengingatkan Andreas.


Andreas yang mendengarnya menyeringai geli, "Kau takut Nona Lafrence terluka? Atau apa? Kau jatuh cinta padanya kan? Nikahi saja dia," ejek Andreas dengan tawa kerasnya.


Lucas memukul bahu Andreas main-main.


"Sudahlah, Aku pulang lebih dulu, Livya ada di rumah ku sekarang," sela Kendrick sambil berlalu dari tempatnya, menaiki kuda berwarna putih berbelang cokelat muda di surainya.


"Pergilah," tukas Lucas kemudian.


"Baiklah, baik," Andreas segera melangkah menuju kereta membiarkan sang sais melajukan kereta menuju selatan mengantar Valerie kembali ke rumahnya.