
"Tafa?" Athana duduk di kursi yang ada di kamar pelayan milik Wynie, berhadapan dengan dua orang gadis muda yang memakai baju dress selutut dengan lengan panjang dan celemek putih yang dijahit melekat.
Tafa mendongak, menatap wajah majikan barunya, lalu menunduk lagi. Tatapan Athana terasa begitu dingin dan mencekam. Membuat Tafa sedikit merinding, takut. Tapi Ia tidak punya pilihan lain, Ia tidak mau dihantui suara-suara aneh dari ruang baca rumah kuno itu.
"Tafa, namamu?"
Tafa mengangguk, sedikit melirik Wynie yang terlihat santai dengan ekor matanya.
"Yakin ingin bekerja disini?" Tanya Athana sekali lagi.
Tafa mengangguk, "Iya, Nyonya Athana," jawabnya dengan suara halus.
Athana tersenyum, sedikit memperbaiki posisi duduknya yang kurang nyaman. Jemari lentiknya mengapit cuping cangkir teh di atas nampan, mendekatkan bibir cangkir ke mulutnya lalu menyesap rasa teh yang hangat.
"Baiklah," ucapnya lagi sambil meletakkan cangkir di atas meja. Ia memerhatikan Tafa sejenak kemudian berdiri.
"Kau akan bekerja disini, bekerjalah dengan baik. Kau akan sekamar dengan Wynie, kalian kawan baik bukan?" Athana memerhatikan isi kamar Wynie, sebuah pigura berisi lukisan abstrak tergantung di dinding dekat jendela. Dua buah tempat tidur berjejer bersisihan. Jendela kaca yang bersih, tertutupi tirai tipis. Tidak ada yang berbeda, semua sesuai dengan apa yang ada di awal.
Athana berbalik menuju pintu, di ikuti oleh Wynie.
"Valerie bilang, dia akan pergi hari ini, kemana?" Athana bertanya sebelum melangkah keluar.
"Sepertinya ke Danau Almaty lagi, "
"Lucas de Felman," gumam Athana tanpa arti, kemudian langsung melangkahkan kakinya keluar. Wynie menutup pintu ruangan memastikannya dalam keadaan rapat, lalu menyusul Tafa yang sedang merapikan pakaian miliknya di lemari kayu.
"Kau sudah tahu, asal suara-suara itu?" Tanya Wynie sambil membantu Tafa meletakkan pakaiannya di lemari.
Tafa berhenti sejenak menatap horor ke arah Wynie, "Kurang tahu, tapi suara itu muncul semenjak pria pucat itu datang,"
Kening Wynie mengerut, ikut menghentikan gerakan tangannya dengan tetap menggenggam selembar pakaian, "Pria pucat? Siapa maksudmu, bukan kah Miss Katherine belum menikah?" Tanyanya sambil melanjutkan lagi menyusun baju milik Tafa.
Tafa mendesah kasar, menatap jendela kaca dengan hambar.
"Iya, orang itu selalu tidur siang hari, wajahnya pucat seperti dilumuri bedak. Dan Nona Floren, juga sepertinya tidak begitu senang dengan kehadiran orang itu"
"Benarkah?" Tanya wyine lagi tanpa mengubah pandangan ke arah Tafa.
"Ya. Dan aku enggak tahu sekarang,"
"Wah, bahasa mu jadi seperti, orang Timur yah," ejek Wynie.
***
"Bagaimana selanjutnya, Luke?" Andreas bertanya sambil membolak-balik lembaran arsip, berisi kliping koran dengan sampul biru bening. Matanya mengawasi pintu keluar yang terlihat jelas dari tempat mereka berkumpul.
Lucas diam, memijit pelipisnya, "Aku belum tahu. Jelasnya," Lucas berhenti menatap bergantian, ke arah kedua kawannya yang sibuk mengelabui pustakawan dengan lembaran buku dan arsip, "Jelasnya, kita belum tahu apa yang jelas di sini. Kota Lourch memang terlihat sedikit resah beberapa akhir ini, tidak tahu sejak kapan tepatnya. Kalau kita hubungkan dengan kedatangan Miss Katherine, bisa saja. Dia datang dua bulan lalu, menempati sebuah rumah kuno yang katanya dulu milik keluarga Katana, Orang tua Nona Floren. Tapi apa yang dia mau dari Lourch, Barat?"
Baik Andreas maupun Kendrick sama-sama diam. Keadaan hening beberapa saat, sampai Andreas menunjuk ke arah pintu Balai. Lucas dan Kendrick ikut menoleh, seorang laki-laki dengan postur tubuh tinggi dan wajah pucat, mengenakan setelan tuksedo hitam berjalan masuk menuju rak-rak buku.
"Itu, orang pucat itu kan?" Lucas memastikan.
"Ya, memang dia. Kita lihat saja apa berikutnya," Kendrick menjawab.
***
"Oh, di sini Nona Katana berada rupanya,"
Floren menoleh, matanya memicing melihat seorang laki-laki pucat di ujung koridor yang dibatasi rak-rak buku tinggi. Ia tidak menjawab, melainkan mengambil sembarang buku yang ada di sana laluberjalan ke arah lain, menuju tempat di mana, Lucas dan temannya berada.
Ray menatap dengan dingin, membuat Floren sedikit takut.
"Permisi, boleh aku duduk di sini," Ucap Floren sambil menggeser kursi di dekat Andreas.
Mereka hanya diam. Floren berbisik, "Ada manusia hantu di sini,"
Mengerti apa yang dimaksud oleh Floren mereka hanya diam. Melanjutkan kegiatan bohong masing-masing. Floren yang kesal hanya membolak-balik buku melihat gambar yang ditempel di kertas putih itu.
Matanya menangkap seseorang yang berjalan ke arah pintu Balai, aura dingin yang yang perlahan menghilang membuat Floren yakin kalau Ray sudah keluar. Ia bernapas lega lalu menyandarkan punggungnya di kursi kayu yang didudukinya.
Floren menegakkan punggung nya, memicingkan mata ke arah Kendrick.
"Eh, maksud ku, Nona Floren,"
"Tidak ada, hanya dingin,"
Lucas dan Andreas menyipit, mencoba merasakan suhu udara di sekitar mereka. Udara cukup hangat karena mendekati pertengahan musim panas. Andreas menatap horor ke arah Floren yang menanggapi dengan gelagapan.
"Maaf, aku salah bicara. Maksudku bukan suhunya tapi aura orang pucat itu," Floren menegaskan.
"Benarkah? Tanya Lucas memastikan, pasalnya Ia tidak merasakan apapun saat Ray masuk ke sana. Ia tidak akan tahu kedatangan pria itu kecuali Andreas yang memberi tahu dari tatapan mata tajamnya.
"Iya, benar. Ngapain aku bohong? Memang dingin kok, Kalian enggak ngerasain?" Floren memandang satu persatu wajah-wajah bangsawan yang ada di hadapannya. Mereka sendiri melihat Floren dengan cara yang aneh, membuat Floren mengerti.
"Maaf, tapi aku terbiasa dengan Timur,"
"Ah, bukan itu. Masalah bahasa kami mengerti, tapi aura dingin? Kami tidak merasakan apa-apa," Lucas menanggapi.
Floren mengangkat sebelah alisnya, "Benarkah? Ku rasa hawa di sekitar dia selalu dingin,"
"Kami tidak merasakan apapun," Tegas Lucas sekali lagi.
Floren terdiam, manik mata biru pucat nya menekuni jalinan renda gaun ungu muda itu, kakinya yang ditutupi pantofel hitam mengkilat itu diayun-ayunkan selaras. Menarik napas dalam lalu memandang lagi satu persatu wajah di hadapannya, baru saja Ia membuka mulut untuk bicara suara gadis memecah keheningan. Valerie masuk dengan gaun putih miliknya. Ikut menarik kursi di dekat Lucas.
"Maaf, aku terlambat, Wynie tadi sibuk tidak ada yang menemani ku, Ibu ku tidak mengizinkan aku keluar sendiri akhir-akhir ini,"
"Tidak apa-apa. Oh ya, Flo, kau mau mengatakan sesuatu?" Lucas menjawab.
Valerie menengok ke arah Floren yang duduk di samping Andreas, Ia memberikan senyum manisnya yang dibalas dengan senyuman juga.
"Pria itu, namanya Ray, Ray Stuart. Aku, bukannya tidak sopan sih, tapi aku pernah melihat data dirinya di meja kamar kerja rumah. Dia bukan dari Lourch Timur, tapi dari luar Lourch, dari Donsten. Dia datang ke rumah ku, sekitar dua minggu lalu." tutur Floren.
Lucas menelengkan kepalanya, bukan merasa aneh tapi meminta penjelasan lebih lanjut, "Lalu, kenapa kau memberi tahu kami?"
Floren menghela napas kasar, "Aku hanya ingin memberi tahu kau karena kau seorang Felman. Tapi aku rasa kurang etis kalau kita hanya bicara berdua, sedangkan kau belum mengenal ku,"
Lucas menaikkan sebelah alisnya, "Karena aku seorang Felman? Kenapa? Kalau mau minta bantuan jangan ke aku, aku hanya putra ke——"
"Lucas, dengarkan dia dulu, dasar tidak sopan!" Dengus Valerie kesal.
"Ini bukan masalah kau putra keberapa, apa bedanya sih? Ini, aku melihat namamu di sana," Ujar Floren dengan tega s di awal dan cicitan di akhir, "Maksudku, ada kertas bertuliskan namamu, kau kenal? Atau mungkin pernah kenal?"
Lucas tampak berpikir sejenak. Kemudian menjawab ragu, "Tidak, tidak ada. Paman ku tidak pernah mengenal nama Ray. Ayah atau ibuku juga. Memangnya kalau kenal, atau pernah kenal kenapa?"
Floren menatap Lucas dengan tatapan tidak terbaca, ada sedikit ketakutan dan ragu di sana. Tangannya meremas kain gaun yang dipakainya.
"Ray, dia. Aku, dia, si pucat, pria itu. Dia,"
"Sabar, tenangkan dulu pikiran mu, baru bicara agar kami mengerti dengan jelas," Valerie mengambil alih.
Floren mengangguk menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan kasar. Tangannya masih meremas kain gaun, Ia menggigit bibir bawahnya. Lalu menatap lagi ke arah mereka yang menunggu dengan wajah tidak sabar.
"Ray Stuart. Aku merasa pernah melihat dia sebelumnya, saat—" Floren menjeda sebentar kalimatnya, bukit bening sedikit membasahi ujung matanya. Membuat mereka yang ada di sana menatap bingung.
"Aku melihat dia saat, aku pergi dengan ayahku, hanya sekali tapi, dia bukan orang baik. Dia bukan orang baik, dia," Menjeda lagi dengan mengambil mengambil napas, "Dia pembunuh," cicitnya.
Baik Lucas maupun yang lain sama-sama memasang tampang bingung. Menunggu Floren melanjutkan ceritanya.
Floren mengangkat wajah, mengusap pipinya yang mulai bawah oleh air mata.
"Dia yang membuat ayah ku meninggal dan ibu ku hilang, dia!" Tegasnya di akhir, "Aku juga heran, dan lebih heran saat pria itu datang lagi dan tinggal di rumah ku. "
"Bibi tidak tahu apa-apa, dia tidak tahu siapa Tuan Stuart, hanya aku yang tahu,"
***
Buat yang suka jangan jadi silent reader, kalau enggak suka tinggalkan aja novel ini. Aku enggak maksa buat kalian suka. Ok selamat membaca.