Stuck On Here

Stuck On Here
Chapter 10 : except



Di sinilah Katherine Katana berada, di tengah-tengah sekumpulan orang sesat yang tidak menyadari kesesatannya. Saling berusaha menjatuhkan tanpa tahu bahwa hasilnya hanya kebohongan belaka.


Katherine duduk sedikit ujung dengan seorang wanita yang sekiranya seumuran dengannya. Wanita itu memakai gaun rendah sampai mata kaki, tidak ada warna lembayung apapun, hanya merah maroon mendominasi. Di antara sekian banyak orang yang berkumpul hanya Katherine seorang yang paling percaya paham kuno ini, membuatnya mudah dibodohi dan masuk dalam lingkaran sesat.


Yang lain hanya menuruti nafsu untuk menjatuhkan rival mereka, sisanya hanya sekumpulan manusia dungu yang tidak memakai otak untuk berpikir.


"Miss Katherine?" Seorang wanita muda datang menghampiri.


"Ah, Lady Lidya, bagaimana kabar anda?" Tanya Katherine sekadar basa-basi percakapan. Ia tahu wanita modis di depannya ini akan selalu mengatakan baik-baik saja, apalagi jika dilihat dari penampilannya. Lidya Sartesh memakai gaun dengan kain lembut yang jatuh menjuntai di atas mata kaki, menampilkan lekuk tubuhnya. Dengan sepatu pantofel 5 cm membuatnya terlihat anggun, bibirnya selalu dilapisi warna merah maroon dan perona tebal.


Lidya duduk dengan anggun di sisi Katherina Dan Atala.


"Aku baik-baik saja, bagaimana dengan mu, dan Lady Atala?"


Atala, wanita di samping Katherine tersenyum hambar lalu menanggapi dengan singkat, "Baik,"


Lidya tersenyum kecut mendapat jawaban sesingkat itu, Ia berdiri lalu berjalan tanpa kata menuju kumpulan yang berada di tengah ruangan. Berbaur saling membicarakan kepentingan masing-masing sampai datang kemari—kepentingan yang tidak akan pernah puas.


"Apa lagi yang diinginkan oleh Lady Lidya?" Tanya Atala penasaran saat dilihatnya Lidya sudah menghilang dibalik kerumunan orang-orang.


"Entahlah, awet muda mungkin. Aku hanya ingin cepat-cepat pergi dari sini, aku khawatir dengan Floren," Jawab Katherine sambil memerhatikan sekitar, tangan kanannya memegang gelas rendah berisi koktail.


Atala menghela napas kasar, "Dari awal kita sudah salah, tapi kita sudah terjebak di sini, rasanya seperti hanya berputar dalam lingkaran. Tanpa ujung untuk pergi,"


"Ya, kau benar Lady, tapi kita bukan berada dalam lingkaran melainkan hexagon, kita masih bisa berbelok tapi tetap kembali ke titik dimana kita memulai ini semua. Dan harusnya aku tidak kemari. Lingkaran sesat ini, tapi menyesali sudah tidak berguna aku hanya harus bisa menjaga keponakan ku,"


"Jaga dia baik-baik Theresa, akan bahagia kalau kau mencintai dia,"


***


Lucas berjalan menyusuri koridor menuju kamar kerja milik Louis. Sesekali Ia menghentakkan kakinya di atas lantai tanpa tujuan. Pintu-pintu oak besar merah yang berjajar hanya memberi kesunyian penuh rahasia. Lucas tidak pernah membukanya dan tidak ingin membuka.


Ia sampai, di depan pintu besar hitam, satu-satunya pintu tanpa warna merah di permukaannya, pintu kamar kerja Louis de Felman. Ia hendak memutar handle pintu, tapi di urungkannya lalu berganti menjadi mengetuk, tidak ada jawaban membuat Lucas langsung memutar handle.


Lucas membuka pintu, tampak Louis duduk di sofa dengan teko porselen serta cangkir- cangkir teh kosong di letakkan di atas meja. Matanya terpejam tapi tidak tidur, Lucas tahu itu. Ia berjalan mendekat lalu menghempaskan tubuhnya dengan kasar di sofa yang sama dengan Louis.


Merasakan ada pergerakan Louis tidak membuka matanya, tapi membiarkan keponakannya di sana. Lucas mengambil sekeping biskuit kacang di atas piring porselen. Lalu memakannya sambil mengamati rak-rak buku berjajar di dalam ruangan. Tidak ada yang berubah, semua tetap sama—tetap seperti selera Louis.


"Aku tahu Paman tidak tidur," ujar Lucas sambil menuang teh ke dalam cangkir. Lalu menyesap nya perlahan.


"Hm, sejak kapan kau pintar membedakan, Luke?" Louis membuka matanya tapi masih tetap bersandar di sofa. Tangannya membersihkan kain tuxedo hitam yang melekat di tubuhnya dari debu—yang tidak ada sama sekali, hanya gerakan untuk menarik perhatian. Ia ikut menuang teh dari teko, hanya setengah cangkir.


"Apa yang kau dapatkan, dari Balai Buku?" Tanya Louis saat melihat Lucas menyusuri satu per buku dengan ujung jarinya, tangannya bertautan seperti biasa, menatap tajam, "Informasi? Atau sekadar bualan?"


Lucas mendengus kasar, merasa malas akan sikap pamannya yang selalu ingin sok tahu, Ia masih menekuni buku-buku di rak yang di susun rapi berdasar muatannya. Sebenarnya tidak ada yang di cari oleh Lucas—buku, Ia hanya ingin bertanya beberapa hal kepada Louis, mengenai Ray Stuart.


Lucas berbalik menatap wajah Louis yang belum menampakkan tanda-tanda ketuaan meski umurnya sudah kepala empat bahkan mendekati kepala tiga dalam tahun ke depan.


Louis tersenyum miring sebelum menegakkan punggungnya, "Masa? Lalu, bagaimana dengan Nona Ansort serta Nona Katana dari Timur itu?"


Lucas tertawa hambar, tahu kalau tidak ada yang bisa di sembunyikan dari Louis, dinding-dinding bangunan kota pun bisa menjadi pembisik untuknya. Ia berjalan mendekati Louis, lalu menghempaskan lagi tubuhnya di tempat dia duduk sebelumnya.


"Paman bilang, lakukan sesuka ku kan? Jadi——"


"Itu bukan berarti kau bisa semau mu. Kau belum bisa melakukan sendiri, buktinya kau datang ke sini, pasti ada yang ingin kau tanyakan" tukas Louis sarkas, lalu menyandarkan lagi punggungnya. Lucas tersenyum kecut lalu menyesap lagi teh hijau di cangkirnya.


"Apa paman kenal seseorang bernama, Ray Stuart?" Tanya Lucas langsung pada intinya, sambil meletakkan cangkir di atas nampan.


Louis menegakkan punggungnya lagi, menatap horor ke arah Lucas yang merasa bingung. Tangannya yang semula di rentangkan di sofa ditautkan menyangga dagu. Melihat perubahan itu Lucas sedikit antusias, menunggu Louis membuka suara, sambil memakan permen di dalam stoples.


Hening.


"Ku pikir Paman akan bicara penting," gerutu Lucas kesal, mengambil lagi sebungkus permen lalu memakannya. Louis menoleh, tersenyum hambar sebelum menepuk bahu Lucas. Ia berdiri berjalan menuju meja kerjanya, membuka salah satu laci dan mengeluarkan amplop kertas berwarna cokelat. Mengeluarkan lagi beberapa lembar foto di dalamnya.


Lucas yang tertarik mendekat duduk di kursi yang ada di dekat meja. Mengamati pergerakan tangan Louis yang masih terlihat lihai, membuat Lucas sedikit kagum—sudah terbiasa melihat Louis melakukan pekerjaan dengan cekatan.


"Ini orang yang kau maksud?" Tanya Louis sambil menyodorkan sebuah foto setelah menyortir beberapa foto lain sebelumnya. Lucas mengambil foto yang di sodorkan oleh Louis. Mengamati nya sebentar, lalu menganggukkan kepala.


"Sedikit berbeda, wajahnya sekarang terlihat pucat dan lebih tua sedikit. Sebenarnya, Kendrick sudah ku suruh mencari informasi detail mengenai orang ini, Paman dapat dari mana?" Lucas bertanya sambil memampangkan foto itu.


"Kendrick?"


"Kendrick Hanbërt, Lord Hanbërt."


Louis mengangguk, mengambil lagi foto di tangan Lucas lalu memasukkannya lagi ke dalam laci—tanpa amplop, "Jangan berurusan dengannya, aku merasa dia orang yang aneh" pukas Louis sambil mengetuk-ngetukkan jari telunjuk kanannya di atas meja, menatap Lucas penuh keseriusan, "Hanya memberi saran," Tambahnya singkat.


"Maksudnya? Ini menyangkut Felman? Apa menurut Paman ini tidak menarik?" Pancing Lucas, Ia sudah berdiri merapikan lengan kemejanya menantikan ekspresi Louis.


"Aku sudah tahu, tapi tidak menyangka kalau dia akan datang"


Lucas menelengkan kepalanya ke kiri, "Tahu? Jadi Paman tadi diam karena berpikir?" Ejek Lucas.


"Mengingat!" Tukas Louis meralat kata-kata keponakannya, "Dia pernah tinggal di Lourch, dulu di rumah kuno itu juga,"


Lucas mengeryit heran menarik lagi kursi yang tadi didudukinya. Menatap Louis seakan tidak percaya, "Juga? Apa dia anggota keluarga Katana? Tapi bukannya namanya Stuart?"


"Namanya Ray Stuart Katana, Katana bukan orang Vuitton Raya. Tapi dari kawasan Jauh Barat, mereka tinggal di Lourch Timur beberapa tahun lalu, tapi hanya dia yang tinggal di Lourch Barat," Menatap Lucas, ada antusiasme tinggi yang dipancarkan oleh kedua mata Lucas, "Tidak akan ada yang menyadari, kalau hanya keluarga Katana yang memakai tiga suku kata untuk nama, tapi keluarga Katana lain menghilangkan nama tengahnya dengan menyisakan Katana, mengikuti orang-orang di Lourch. Tapi dia malah menyisakan nama tengahnya, hanya itu"


Lucas melongo, tidak percaya kalau Louis tahu sejauh itu meski tidak semuanya, tapi setidaknya itu membantu.


"Tapi kenapa Miss Katherine tidak tahu?"


Louis menghela napas kasar, "Tidak ada yang tahu, kecuali satu orang dari mereka"