Stuck On Here

Stuck On Here
Chapter 12 : Story



Floren sudah sering melihat banyak hal selama ini. Dia memang putri keluarga Katana, seorang Nona Muda Katana. Nama lengkapnya Floren Starch Katana, demi mengikuti kultur kebudayaan orang-orang di Lourch kelurga mereka menghilangkan nama tengah masing-masing, menyisakan marga Katana di belakangnya—tanpa ada yang menyadari kalau salah satu anggota klan Katana menghilang, semua lupa seperti hilang ingatan.


Mengetahui nama tengah yang begitu disukainya dihilangkan hanya karena kultur kebudayaan tempat tinggal baru mereka. Floren sedikit kecewa, membuatnya ingin tahu seperti apa kota yang ditinggalinya sekarang.


Floren suka menyelinap keluar manor Katana, hanya untuk berkeliling kota. Semua memang berbeda, baik dalam hal pakaian atau cara bicara. Perlahan Floren mulai mengikuti cara bicara orang-orang di Lourch Timur. Ia hanya tahu ada Lourch Timur, tapi selalu mengacungkan pertanyaan dalam benaknya.


"Kalau ada Timur, lawannya pasti Barat. Tapi apa Lourch Barat ada?"


Floren tidak mau ambil pusing, Ia suka kota ini dan suasana damainya. Banyak hal yang pernah dilihatnya. Ia bukan gadis penakut yang harus dikawal seperti Nona Muda kebanyakan.


Sekarang anggapan itu hilang dalam dirinya sendiri—menghilangkan pendapatnya. Badannya bergetar hebat, lengan panjang mungilnya memeluk lutut yang juga ikut gemetar, mata ambernya menatap kosong, seakan tidak ada apapun di luar sana.


Rambutnya masih acak-acakan, matanya berpendar ke sekeliling ruangan kamarnya. Memastikan kalau dirinya masih di sana—masih di dalam dunia nyata, kamarnya—Ia bernapas lega meski masih sedikit gemetar.


Rola, membuka pintu dan membawakan cangkir berisi teh hijau serta beberapa keping kue kering. Meletakkannya di atas meja kayu. Lalu mendekati Floren yang masih menekuk lutut di atas tempat tidur.


"Nona?"


Floren hampir menjerit kaget, kalau saja tidak menoleh lebih dulu. Ia bernapas lebih leluasa saat mengetahui ada orang lain di dekatnya. Perlahan Ia meluruskan kakinya. Berusaha merelaxkan ototnya yang semula tegang, sangat tegang.


"Makasih, Rola." Lirih Floren sambil menurunkan kakinya berusaha menjejak lantai meyakinkan dirinya, lantainya terasa sedikit hangat karena pantulan cahaya matahari.


Aku kembali pikir Floren, Dengan selamat.


Rola menunduk meski tidak mengerti arti kata terima kasih itu. Ia berpikir sejenak tentang apa yang membuat majikan mudanya terlihat ketakutan, Ia tidak bisa menahan rasa keingintahuannya, tiba-tiba menceletuk, "Nona, mimpi buruk? Apa yang Nona lihat? Tadi saya lihat Nona berkeringat dingin, saya cemas jadi langsung membangunkan, maaf kalau saya lancang mengganggu tidur No——"


"Tidak. Maksudku kamu enggak salah, makasih udah bangunin aku, Rola." potong Floren cepat. Tidak mau Rola bicara lebih banyak, pelayan di Lourch Barat memang selalu berlebihan kepada majikannya, pikir Floren selama ini.


"Rola, apa ada telpon rumah? Aku mau telpon seseorang," pintanya.


Rola mengangguk, "Ada Nona, di samping pintu sebelah ada telepon. Nona mau saya meneleponkan orangnya?"


"Enggak usah, aku telepon sendiri. Siapin aku air mandi, nanti aku mau keluar." Pinta Floren berusaha membuat pelayan itu menjauh darinya agar tidak mendengar apa yang ingin dia katakan di telepon.


Setelah Rola masuk ke kamar mandi, Floren berjalan keluar menuju tempat telepon rumah berada, mengeluarkan secarik kertas dari dalam sakunya dan memutar nomor telepon sesuai yang ada di kertas.


"Ha-halo, maaf. Kita harus bertemu di Balai Buku, sekarang."


***


Andreas baru saja, meletakkan gagang telepon setelah menghubungi salah satu suruhannya, pembisik—informan. Saat telepon kembali berdering, panggilan lain, suara seorang wanita yang sangat dikenalnya.


Floren Katana.


Ia meletakkan gagang telepon begitu, panggilan selesai. Bergegas menuju kamarnya, mengambil mantel, karena cuaca sedikit mendung.


Ia berjalan keluar mansion, tepat saat Kendrick turun dari kudanya.


"Kau mau kemana? Baru saja aku mau mengajak Lord Willson untuk diskusi meng——"


"Gadis itu menelepon." pukas Andreas tepat sasaran, Kendrick diam menunggu kelanjutan, "Suara terdengar tercekat di tenggorokan, kau tahu artinya?" Andreas bertanya selagi mengancingkan mantelnya yang sedikit beterbangan terkena angin.


"Dia ketakutan, habis mengalami sesuatu yang buruk, menyeramkan. Kemungkinan paling normal, Mimpi buruk yang menyeramkan, tapi kenapa?" Kening Kendrick mengerut halus.


"Dia meneleponku, dia bilang ingin bertemu di Balai Buku, dia hanya menelepon ku karena aku memberikan nomor telepon rumah. Dia menyuruh, em … meminta kita, ke sana. Sepertinya ada sesuatu yang menarik, ayo kita pergi ke mansion Felman dulu."


***


Lucas menggeleng, "Kita naik mobil, hanya muat empat orang, Valerie malah marah kalau berdempetan nanti,"


Kendrick mengangguk Ia mengambil posisi di belakang kemudi. Menyalakan mesin mobil dan melajukannya menuju Balai Buku.


***


Floren sudah mondar-mandir di depan Pintu Balai, memakai gaun dengan sentuhan lebih modern, tidak banyak lipatan dan pinggiran renda, hanya gaun sepanjang mata kaki yang tidak terlalu mengembang tapi tetap memperlihatkan kesan bangsawan.


Matanya terpaku pada mobil keluaran 1932 di depan tangga besar. Ia melangkahkan kakinya buru-buru.


"Mana Nona Vale? Eh, lupakan saja. Ayo masuk, aku harus cerita sama kalian. Ok?"


Tanpa menunggu persetujuan Floren berbalik lebih dulu sedikit mengangkat gaunnya agar bisa menaiki tangga dengan cepat.


"Kau tahu, itu bukan sikap Nona Muda yang baik," celetuk Andreas.


Floren mengabaikan itu, Ia langsung menerobos masuk ke dalam menuju meja yah berada di ujung terhalang oleh sebuah rak arsip dan kliping koran lama.


Setelah mereka berkumpul, Floren mulai berbicara.


"Aku, aku, em melihat bukan melihat sih, tapi seperti mimpi yang nyata. Mimpi yang seakan aku mengalaminya dengan nyata. Mengerikan sangat mengerikan!" Ia menatap satu persatu wajah di hadapannya. Wajah antusias.


"Ok aku lanjutkan. Awalnya sih, aku bangun tengah malam gara-gara dengar suara-suara aneh. Aku..., takut. Tapi enggak tahu keberanian dari mana, aku..., kakiku berjalan sendiri. Aku keluar dan aku lihat sesuatu yang menyeramkan, dan memalukan!" Floren bergidik mengusap tengkuknya.


"Menyeramkan? Dalam konteks?" Lucas memancing agar Floren melanjutkan ceritanya.


"A, jangan sekali-kali tertawa. Ini memalukan! " ancam Floren membuat wajah-wajah antusias di depannya berubah bingung, "Aku melihat, Tuan Stuart dengan seorang wanita, memeluk seorang wanita yah kalian tahu? Memalukan! Wa, wanita itu tingginya sebahu Tuan Stuart sepertinya lebih tinggi dari Vale. Dan wajahnya, oh memalukan memalukan!" kesal Floren.


"Wajahnya mirip dengan mu." Lucas melanjutkan dengan santai.


Floren terperangah kaget, Ia tahu itu sebuah pertanyaan yang disamarkan dalam bentuk pernyataan. Ia tahu itu dari nadanya.


"I, iya. Hanya wajahnya memang mirip. Rambutnya tidak cokelat gelap tapi hitam. Bukan hitam karena gelap, tapi memang itu hitam. Dan...,"


"Coba ceritakan apa yang kau ketahui tentang Tuan Stuart lebih dulu, kalau ada satu hal yang mungkin sedikit aneh , itu akan ada hubungannya dengan ilusi mu," Lucas menyela lebih dulu


"Ilusi?" Tanya Floren heran. Berpikir sejenak, "Ah, aku tahu. Itu memang bukan mimpi, setelah aku melihat itu, aku seperti ditarik dan dihempaskan di atas tempat tidur. Kalau itu mimpi harusnya bukan seperti itu akhirnya bukan?"


"Kau cukup pintar dan tanggap. Cerita kan seperti apa yang diminta oleh, Luke."


Floren mengembuskan napas kasar, "Aku baru menceritakan ini kepada kalian. Aku..., bukan anak Theresa Katana. Memang, tidak ada yang memberi tahu, tapi aku menyadarinya sendiri. Kami berbeda. Ada banyak perbedaan itu, meski beberapa memang penuh kesamaan, tapi..., aku tahu itu...,bukan kesamaan alami."


"Aku tahu itu sejak umurku…, dua belas tahun. Dan mau tahu siapa yang membawa ku ke Katana? Tuan Stuart!" Pungkasnya tajam. Senyum tipis terukir jelas di bibirnya, melihat wajah-wajah kaget di depannya.


"Dan mereka bodoh, mengira aku sudah lupa termasuk juga Tuan Stuart."


Lucas memejam, kata-kata Louis terngiang di benaknya.


Kecuali satu dari mereka.


Dan orang itu sudah ada di depannya.


Floren Starch Katana.