Stuck On Here

Stuck On Here
Chapter 18: Doubt



Lucas sedang berdiri di balkon mansion saat Rolland memanggilnya untuk pergi ke ruang kerja Louis. Seminggu berlalu setelah Valerie dan Andreas dihantui ilusi Rästœnë. Tidak ada kejadian-kejadian aneh, sehingga mereka bisa sedikit lebih tenang.


Tapi ketenangan ini justru membuat Lucas semakin cemas. Musuh punya banyak strategi, salah satunya membiarkan mangsanya menikmati ketenangan sebelu bahaya besar yang sebenarnya datang. Lucas antisipasi menyiapkan hal-hal yang perlu di gunakan untuk melakukan perlawanan jika perlu.


Pekerja yang menguping pembicaraan mereka minggu lalu tidak dapat dimintai keterangan apa-apa. Dia justru berteriak-teriak tidak jelas, meminta tolong secara histeris. Lucas memasukkan pekerja itu ke penjara bawah tanah mansion. Sisanya Lucas belum tahu apa yang harus di lakukan. Ia belum terbiasa menghadapi hal-hal semacam ini.


Floren masih tinggal di rumah kuno itu, dengan syarat Andreas mengirim beberapa pesuruh bayarannya untuk berjaga. Kendrick masih mencari informasi terkait Ray Stuart dan Valerie hanya berada di mansion Lafrence beberapa hari ini, di temani oleh Tafa dan Wynie.


Hanya satu yang dipikirkan oleh Lucas. Satu hal yang mengganggunya sejak awal. Sejak kedatangan Tuan Stuart.


Atau mungkin kedatangan Miss Katherine? Floren? atau Miss Tafa Amerta? Pikir Lucas ragu.


ini pertama kalinya Ia dihadapkan dengan masalah serius. Lebih dikarenakan Ia lebih suka bermainnya ketimbang mengurusi hal-hal aneh. Dan entah kenapa hal satu ini mampu menarik perhatiannya.


Lucas mengayunkan tangannya memegang handle pintu. Ia berhenti untuk mengetuk, sebelum Louis akan menceramahi nya mengenai aturan kesopanan keluarga bangsawan.


Louis sedang duduk di kursi kerjanya saat Lucas masuk. Ia perlahan menutup pintu, agar deritnya tidak terdengar nyaring. Mengambil duduk di hadapan Louis yang sedang membaca berkas.


Pikirannya tidak tertuju pada berkas atau apapun yang ada di sana. Ia masih merasa kalau ada yang aneh dari kasus ini. Ada sesuatu yang terlalu cepat, tindakan yang terlalu cepat diambil. Keningnya berkerut kasar, mencoba mencari arti keraguannya beberapa hari ini. Hanya satu.


Kurasa ini hanya semacam provokasi oleh pion. Raja dan perdana menteri belum muncul. Pikir Lucas heran.


"Apa kau datang kesini hanya untuk diam?" Louis membuyarkan lamunan Lucas, "Ku rasa ada yang perlu kita bicarakan, Luke. Ini mengenai orang-orang yang kau atasi."


Lucas tertarik. Louis selalu punya rencana bagus untuk menjebak lawan. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. Menunggu Louis menyusun kalimat yang tepat.


"Luke, kau salah langkah, Nak."


Lucas tertegun. Cara bicara Louis kali ini benar-benar serius. Ia memikirkan sejenak apa yang sudah salah. Semua sudah sesuai perkiraan kecuali satu hal.


Kecuali keraguan ku benar. Pikir Lucas was-was.


"Maksud Paman?" Lucas memancing, bingung kalau harus menjelaskan dan menyusun kesimpulannya sendiri. Terkadang Louis lebih mahir dalam menyusun kata-kata, membuatnya dengan mudah menjatuhkan lawan debatnya.


"Kau tahu, pion selalu jadi senjata ampuh untuk memprovokasi" Louis memulai, "Dan terkadang pion itu tidak sadar kalau dirinya dijadikan bahan provokasi. Meskipun Raja ataupun Perdana menteri lebih sering muncul di akhir. Tapi mereka bisa muncul awal secara tiba-tiba, menjadikan pion sebagai tameng perlindungan. Dan menghancurkan lawannya yang bodoh!" Louis mencengkeram tangannya di atas meja. Lucas yang melihatnya hanya bergidik ngeri. Mengerti maksud Louis.


Louis mengangguk, mengetuk-ngetuk Lian jarinya dibatas meja kayu setengah lingkaran itu.


Lucas juga ikut diam. Bukan berpikir melainkan menunggu, masih memerhatikan Louis yang lebih sibuk berpikir. Lucas tahu pamannya satu ini tidak akan hanya diam saja kalau ada hal-hal serius, terutama ini menyangkut keselamatan seseorang dalam keluarganya.


Seseorang. Pikir Lucas Tidak mungkin semua anggota Felman.


"Begini? Bukankah kau merasa ada yang janggal dari semua ini? Bukankah katamu Nina Lafrence dan Lord Willson dihantui teror ilusi rästœnë? Kalau memang iya, aku rasa, raja terlalu cepat bertindak terlalu gegabah. Dia menunjukkan kekuatan sekaligus kelemahannya dalam satu tindakan." Tutur Louis.


Lucas diam. Sejenak berpikir untuk menyanggah atau menarik kesimpulan lain, "Sekaligus? Apa maksud Paman, kekuatannya yang mampu mengendalikan ilusi, tapi kekuatannya itulah yang juga menjadi kelemahannya. Dia tidak bisa menyerang secara fisik. Tapi mencoba membuat kita merasa terancam dengan kehadiran rästœnë? Dalam kata lain, sürrœçk punya kelemahan dan bisa kita lawan?"


Louis mengangguk pasti. Tersenyum mendapati kemajuan Lucas. Keponakannya yang selama ini dijadikan harapan penerusnya, dibanding keponakannya yang lain. Erland keponakan tertuanya memilih pergi dan tinggal di luar Lourch dan membangun usaha serta jaringannya sendiri meski masih bersangkutan dengan Felman. Edgar, saudara kembar Erland juga demikian. Hanya Lucas yang masih tinggal di mansion Felman karena kasihan dengan ibunya.


"Baiklah," Louis menyudahi acara hening barusan, "Apa rencanamu?" Tanyanya dengan seulas senyum di bibirnya. Senyum yang sangat dikenal oleh Lucas, senyum jahat seorang Felman.


***


Sekilas info buat reader Budiman...


Karya aku di salah satu platform luar, ******* bakal pindah kesini. Karena aku ngerasa kurang pas jatuh cerita itu di sana. Sekalian aku mau meluruskan alur ceritanya lagi,


'Rightstone: Holy City' [[💕]]


Jadi, kalau misalnya novel Rightstone sudah terbit di Mangatoon tapi belum ada episode atau baru ada sedikit itu artinya aku masih memikirkan pelurusan jalan ceritanya.


Untuk Stuck On Here dan Love is only figurative Aku bakal update bertahap. Kalau ada waktu senggang pastinya. Karena banyak tugas yang udah numpuk minta diperhatiin :)


Sekian berita malam ini,


salam sehat semua


healthy greetings ~🥳