Stuck On Here

Stuck On Here
chapter 2 : Lesson



Angin berembus sepoi-sepoi menerpa dedaunan pohon. Menerbangkan sebagian daun yang kering hingga jatuh tercampakkan ke tanah. Awan berarak yang biasanya menghiasi langit tidak ada, sebagian sudah pergi menjauh ke sebelah Utara, sekarang langit Lourch hanya di hiasi awan-awan berserabut yang halus berwarna putih cerah menutupi sebagian matahari tapi tak membuat cahayanya redup.


Orang-orang berlalu lalang di jalan. Melakukan aktivitas masing-masing, beberapa dari mereka hanya duduk berbincang di kursi yang disediakan di tepi jalanan berpaving atau taman kota. Beberapa anak kecil menarik-narik kain baju ibunya minta dibelikan es krim.


Valerie berjalan anggun di antara semua orang di sana. Sambil menuntun sepeda keranjang miliknya dengan Wynie, dayangnya, berada di belakang. Valerie terus berjalan menuju taman kota. Awalnya Ia menaiki sepeda nya tapi karena jalan terlalu ramai maka Ia menuntunnya. Matanya beredar mengamati setiap orang yang ada di sana. Semuanya berlangsung seperti biasa, hanya satu yang berbeda wajah mereka, wajah yang menyimpan rasa cemas itu terlihat jelas di mata tajam milik Valerie.


"Wynie?" Panggil Valerie kepada dayangnya yang segera mendekat.


"Ada apa Nona?"


"Em, tidak ada, hanya saja aku merasa orang-orang di sini sedikit aneh, mungkin" ucap Valerie lirih, saat beberapa orang bersisipan dan menyapa mereka.


"Mungkin memang begitu, Nona. Ayo kita lanjutkan saja,"


Valerie pun menurut menuntun lagi sepedanya menuju taman kota yang tidak terlihat ramai seperti biasanya. Hanya ada beberapa anak yang merengek minta dibelikan permen kapas, es krim, dan sebagainya, keinginan anak-anak.


Valerie memilih duduk di bawah rerimbunan daun pohon Kiara payung, sehingga sinar matahari tidak mengenai nya secara langsung. Sementara Wynie memilih duduk di kursi lain. Valerie memerhatikan wajah-wajah setiap orang, tidak semua bersikap cemas masih ada beberapa yang tampak tenang dan santai.


"Semuanya tenang-tenang saja, kan? Aku rasa aku saja yang terlalu berlebihan," gumam Valerie lirih sambil memakan es krim yang baru saja dibelikan Wynie untuknya.


"Sikap yang terlalu tenang bisa membawa badai besar,"


Valerie menoleh, Selena, salah satu teman wanitanya, sudah duduk di sampingnya dengan membawa es krim vanilla. Ikut menikmati suasana kota Lourch yang tenang. Valerie tidak banyak bicara, membiarkan Selena ikut duduk di sana. Sementara Wynie hanya mengawasi.


"Selly, apa maksud mu dengan 'badai besar'?," Tanya Valerie setelah keduanya terdiam cukup lama. Selena menoleh, menatap manik mata berwarna amber milik Valerie lalu tertawa hambar. Ia berdiri membuang es krim miliknya di tempat sampah lalu kembali duduk di samping Valerie.


"Maksud ku badai besar, begini. Sikap orang-orang ini, di sana dan semuanya itu malah membawa badai besar, dalam artian masalah. Bersikap tenang bukan berarti selamat, sebaliknya cemas kadang membuat kita lebih waspada dan siaga terhadap apa yang akan terjadi ke depannya. Tapi tidak semudah itu, Nona," Selena menjeda sebentar kalimatnya, menoleh ke arah Valerie yang masih mendengarkan setiap kata dari mulutnya,"Cemas atau tenang, keduanya bisa membunuhmu, tidak ada yang benar atau salah keduanya bisa saja benar kalau kita melangkah sesuai aturan yang ada maka kita selamat tapi tidak selamanya begitu. Keduanya bisa salah kalau kita berbelok ke jalan yang membuat kita tersesat,"


"Tapi tersesat bukan berarti salah jalan," potong Valerie di tengah-tengah yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh Selena. Ia melanjutkan lagi kalimatnya.


"Intinya kalau kau terlalu tenang atau cemas itu akan membuatmu dalam masalah, jangan terlalu terbawa suasana atau emosi, karena kau bisa berada dalam badai besar,"


Valerie masih diam mencoba mencerna kata-kata milik Selena. Mata ambernya diam mengawasi lalu lalang orang-orang di sekitarnya, sebagian mengobrol di bangku taman atau jalan. Sebagian hanya berjalan, pedagang-pedagang jajanan sibuk meladeni anak kecil yang membeli dagangannya. Toko kelontong di sudut-sudut kota yang nampak samar dari tempatnya terlihat sepi.


"Aku paham," katanya kemudian.


"Tidak usah terlalu serius, ini hanya sedikit pelajaran tambahan, kita hanya harus waspada, mungkin. Badai bisa datang kapan saja, dan kita harus siap bukan?"


"Selly, bisakah kau tidak menggunakan kata Badai terkadang pilihan kata mu membuat ku sedikit bingung mengartikan nya." protes Valerie, lalu berjalan membuang sisa es krim miliknya di tempat sampah. Wynie masih asyik mengobrol dengan teman sesama pelayan, Valerie tidak mengenalinya maka Ia biarkan saja.


"Aku tidak suka mencari arti kata-kata kiasan seperti badai besar, yang kau ucapkan, sebenarnya bukan tidak suka tapi tidak bisa," kata Valerie sambil merapikan pinggiran gaunnya.


"Aku tahu, akan ku coba. Baiklah, sebenarnya apa yang terjadi di Lourch? Aku tidak mengerti, kau tahu sesuatu?" Tanya Selena sambil menyelipkan anak rambutnya yang berantakan tertiup angin. Rambut pirangnya di ikat biasa di belakang lalu di jatuhkan ke kiri. Membuatnya tampak manis.


"Aku tidak tahu, tapi akhir-akhir ini memang sedikit aneh, bukan? Ku kira aku saja yang merasa begitu,"


"Ya, aneh memang." Gumam Selena. Angin sepoi-sepoi berembus tapi tidak terasa menyejukkan. Ada sedikit rasa hangat yang dibawa angin barusan. Angin fohn rendah. Valerie sibuk memainkan pinggiran gaunnya yang berupa renda yang dan menjalar ke pinggang menyambung dengan sebuah pita kecil menyerupai ikat pinggang. Sementara Selena hanya diam mengawasi setiap orang yang lewat lalu lalang.


"Baiklah, aku harus pergi Edward akan mencari ku nanti," ucap Selena sambil berdiri dan merapikan dress yang dipakainya. Memberikan seulas senyuman kepada Valerie yang membalasnya dengan sebuah anggukan.


"Wynie?" Panggil Valerie setelah nya.


Wynie yang mendengar panggilan dari sang Nona langsung pergi mengakhiri obrolan dengan kawannya itu. Ia menghampiri Valerie yang sudah berdiri membenarkan kepangan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Ada apa, Nona? Sudah mau pulang?" Tanya Wynie sopan, sambil membantu Valerie membenarkan posisi kepangan rambutnya.


"Iya,"


***


Tapi sekarang Ia merasa malas melakukan apapun. Akhirnya Ia hanya diam di balkon mengamati hiasan pilar-pilar disana. Sesekali kepalanya melongok melihat ke arah bawah, kalau-kalau ada orang atau siapapun yang masuk mansion Felman.


"Memang segalanya, membosankan" Ia berjalan gontai melewati lorong yang tadi dilaluinya untuk menuju balkon. Masih melakukan hal yang sama, mengamati setiap jengkal dinding seolah dinding itu mempunyai daya tarik tersendiri untuknya.


Lucas sampai di depan pintu kamarnya. Tangan kanannya memegang handle pintu hendak membuka pintu cokelat besar itu. Sebelum Rolland, penjaga depan mansion memanggilnya. Lucas menoleh.


"Ada apa, Rollland?" Tanya Lucas melepas handle pintu yang barusan dipengangnya. Membalikkan badan ke arah Rolland yang menundukkan kepalanya dengan hormat.


"Ada, Tuan Andreas dan Tuan Kendrick dibdepan Tuan Muda, mereka bilang ingin bertemu," ucap Rolland sopan. Lalu berbalik meninggalkan Lucas yang masih merapikan sebagian kancing jas miliknya.


Lucas berjalan melewati koridor menuju ruang tamu. Andreas dan Kendrick duduk di sofa menunggu kedatangannya. Di meja kaca yang dilapisi taplak sintetis sebuah teko porselen dan beberapa cangkir teh berjajar rapi dan disusun secara estetik. Lucas menuruni tangga dengan cepat. Segera menyusul kawannya untuk duduk di atas sofa.


"Oh, Tuan Muda Felman. Ku kira kau sudah mati," ucap Kendrick saat Lucas mendaratkan pantatnya di atas sofa empuk. Lucas hanya membalas gurauan itu dengan seulas senyum jenaka miliknya lalu mengambil kepingan biskuit yang sudah di sediakan oleh maid.


"Ada apa, kalian kemari?" Tanya Lucas basa-basi.


"Hooo, Kau mengusir kami? Sabar lah Tuan kita mengobrol sebentar," seru Andreas yang di sambut tawa ketiganya. Kendrick mengambil salah satu cangkir berisi teh hijau lalu menyesapnya perlahan, kemudian meletakkannya lagi di atas meja.


"Tidak ada Wine?" Tanya Andreas menyela. Lucas memanggil salah satu maid yang kebetulan lewat lalu menyuruhnya mengambilkan sebotol wine dan gelas. Ia sendiri melanjutkan kegiatan mengobrol nya dengan Kendrick dan Andreas.


"Apa kabar mu, Lucas?" Tanya Andreas membuka percakapan.


"Aku baik-baik saja, bagaimana dengan kalian?" Tanya Lucas balik sambil mengambil lagi sekeping biskuit. Tepat saat seorang maid yang tadi disuruhnya mengambil Wine datang dan meletakkan sebotol wine serta beberapa buah gelas.


"Aku baik-baik saja, tidak ada yang di khawatirkan, " sahut Andreas sambil mengambil salah satu gelas dan menuangkan wine sampai setengahnya.


"Apa kabar tunangan mu, Ken, siapa namanya? Lvya?" Kini giliran Andreas bertanya, setelah meneguk sedikit wine.


Kendrick menoleh lalu meringis sedikit," Livya, dia baik-baik saja, maksudku hubungan kami baik-baik saja. Kau jangan minum terlalu banyak Andreas," ujar Kendrick memperingatkan.


"Apa? Aku tidak selemah itu, aku sudah terbiasa minum wine, meminum sedikit saja tidak akan membuat ku mabuk," bantah Andreas kesal. Ia meneguk lagi sisa wine di gelasnya. Dan meletakkan kembali gelas itu di atas meja. Menyandarkan punggungnya ke sofa dengan kedua tangan terentang.


Hening.


Tidak ada yang membuka percakapan sampai suara Lucas memecah keheningan yang baru saja mereka buat.


"Bagaimana kabar, Askafh? Ku dengar dia akan menikah dengan Putri Tuan Guardian, apa benar?"


Kendrick mengangguk sementara Andreas hanya diam, "Bagaimana kalau kita berkuda? Kapan terakhir kali kita berkuda? Maksud ku berkuda bersama?" tawar Kendrick.


Lucas menggeleng, Andreas masih diam. Sehingga Kendrick ikut diam dan memakan biskuit sembari menyesap sedikit teh hijau miliknya. Wine hanya di minum Andreas. Lucas belum menyentuh apapun selain beberapa keping biskuit.


"Menurut kalian apa ada yang aneh?" Tanya Lucas setelah berpikir beberapa saat, sambil menatap wajah temannya bergantian.


Kendrick memasang wajah bingung begitu juga Andreas.


"Aneh bagaimana maksud mu? Aneh keadaan kota Lourch sekarang? Kalau itu entahlah kurasa memang sedikit aneh, hanya sedikit." seru Andreas menyela. Lalu kembali menuangkan wine ke dalam gelas, dan meneguknya.


"Memang sedikit, aku belum tahu ada apa? Tapi sepertinya bukan hal besar," sambung Kendrick setelahnya.


Lucas hanya diam berpikir sebelum berkata lagi," Justru karena kita menganggap nya bukan hal besar itu bisa jadi lebih dari perkiraannya, bukan begitu?" komentar Lucas sambil mengangkat cangkir teh hijau miliknya.


"Ya, ada benarnya kata-kata mu Luke, ini bisa saja jadi hal besar," ucap Andreas membalas komentar Lucas. Ketiganya hanya diam lalu kembali berbincang seterusnya sampai siang menjelang dan keduanya pamit karena merasa sudah cukup lama berada di sana.


"Ku kira hanya aku yang berpikir begitu, rupanya mereka juga,"