Stuck On Here

Stuck On Here
Chapter 4 : curious



Floren masih duduk di atas tempat tidurnya saat ini. Ia berguling-guling kesana kemari sambil memeluk bantal miliknya. Sesekali Ia melirik jam dinding di sudut dekat lemari pakaian, pukul sebelas dua puluh, Floren berdiri lalu berjalan menuju cermin rias yang ada di kamarnya.


Ia hanya perlu merapikan rambut dan pakaiannya kalau ingin keluar, Floren sudah mandi dari pagi tadi, tapi belum melakukan apapun setelah sarapan pagi. Karena semenjak Mr. Ray, teman bibinya yang aneh itu, Floren tidak boleh ribut di siang hari karena akan mengganggu istirahat Mr. Ray.


Ia mematut dirinya di depan cermin, mengambil sisir lalu merapikan rambut cokelatnya yang sedikit berantakan. Di ikatnya rambut itu menjadi satu di belakang lalu di sematkannya sebuah jepit rambut. Poninya yang panjang di biarkan mengurai dan di selipkan di belakang telinga.


Ia merapikan lipatan gaun miliknya di bagian pinggir memastikan tidak ada yang kurang rapi. Lalu berjalan keluar, berniat untuk pergi jalan-jalan.


"Flo, kamu mau kemana?" Suara Katherine mengagetkan Floren yang baru saja keluar kamar dan hendak mengganti sepatu miliknya. Ia menoleh, Katherine memakai gaun panjang berwarna biru pucat dengan lengan panjang yanag longgar, dan jangan lupakan ikat pinggang berupa tali yang disimpul menjadi pita dengan warna lembayung tentunya.


"Aku mau jalan-jalan keluar, Bi. Aku, maksud ku, kita tinggal di sini sudah cukup lama, jadi hanya ingin tahu suasananya." Ucap Floren sekenanya, tidak mungkin Ia memberi tahu apa tujuannya yang sebenarnya.


"Oh, mana syal mu yang Bibi berikan kemarin?"


Floren mendengus kesal mendengarkan setiap kata-kata Katherine, "Bibi, di luar panas, tidak mungkin aku pakai syal. Lagipula warna nya jelek aku enggak suka" Tolak Floren.


Katherine menghela napas lalu mendekat ke Floren yang masih merapikan sepatu pantofel nya, "Flo, itu akan menjauhkan mu dari bahaya, kalau tidak mau pakai syalnya. Bawa saja ini, ya" sambil memberikan sapu tangan kecil berwarna lembayung dengan sulaman bunga mawar di atasnya dan menjejalkannya di telapak tangan Floren yang menerima dengan pasrah.


"Aku pergi, Bibi"


Floren melangkahkan kakinya menuju pintu depan, di bukanya pintu besar berwarna merah itu lalu menutupnya lagi dengan perlahan. Kakinya di bawa melangkah ke jalan utama Lourch, melewati sekumpulan orang-orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing.


***


Wynie memasuki mansion keluarga Lafrence dengan pandangan lelah. Ia berjalan menuju koridor samping tempat kamar para maid dan pekerja mansion, untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kepanasan.


"Wyine, kau sudah pulang?"


Wynie menoleh, Valerie sedang duduk memainkan kepangan rambutnya di sofa ruang tengah,"Iya, Nona. Permisi Nona, saya mau istirahat sebentar,"


Valerie hanya tersenyum menanggapi Ia kembali sibuk dengan kepangan rambutnya. Athana, Nyonya Lafrence datang dari arah belakang kemudian ikut duduk di sofa bersama Valerie.


"Ibu, dari mana?" Sapa Valerie.


Athana menyandarkan punggungnya di sofa, sesekali memejamkan matanya yang mulai mengantuk dan panas karena suhu di luar.


"Kau tidak jalan-jalan? Biasanya pergi bersama Wynie, Oh iya, kau sudah kenal dengan keponakannya Miss Katherine? Ku dengar dia gadis yang baik, mungkin usianya lebih muda dari mu," ujar Athana sambil melak peluh di keningnya menggunakan sapu tangan.


"Miss Katherine? Orang baru itu? Ku pikir dia sudah menikah, dan gadis manis itu anaknya. Aku belum kenal dengan dia, hanya pernah lihat saja memang manis sih, senyum nya juga kelihatan ramah,"


"Ya, katanya dulu orang tua gadis itu tinggal di sini, Ibu juga lupa namanya? Tapi ya, gadis itu terlihat sedikit canggung, sepertinya lingkungan di sini sedikit berbeda dari asalnya, katanya mereka datang dari Lourch Timur,"


"Lourch Timur?" Potong Valerie, ia memutar bola matanya berpikir, mengingat sesuatu tentang Lourch Timur,"Oh, Iya. Memang berbeda tapi setidaknya adatnya sama kan?"


Athana hanya diam mengangguk, kemudian bangkit dan meninggalkan Valerie menuju kamar miliknya. Valerie hanya memandangi punggung ibunya yang semakin jauh hilang dibalik koridor. Sementara itu ia penasaran pada gadis yang di katakan oleh ibunya. Sejak dulu Ia selalu penasaran tentang Lourch Barat, tapi Ia bahkan tidak pernah sekalipun keluar dari Lourch Barat.


"Lain kali aku akan mengajak dia berkenalan," gumam Valerie.


***


Lucas berjalan menuju sudut-sudut kota, memerhatikan setiap toko kelontong yang berjejer rapi dengan tong-tong tua berjejer merebakkan bau karat yang menyengat. Lucas berjalan sambil menggambar di udara dengan jari kanannya sementara tangan kirinya di masukkan dalam kantung celana.


Saat tangannya sibuk membuat guratan-guratan tak kasat mata itu, matanya menangkap sosok gadis yang kemarin dilihatnya di taman kota. Ia berjalan mendekati gadis itu, yang tampak kebingungan.


"Ah, tidak. Aku hanya berkeliling, iya, mau lihat-lihat kota, katanya di sini bagus" Ucap gadis itu.


"Oh, siapa namamu?"


"En, Nama ku Floren, Floren Katana," Ucap Gadis itu gugup. Ia menggigit bibir bawahnya canggung. Kedua tangannya meremas erat di belakang gaun yang dikenakannya.


"Oh, namaku Lucas kau bisa memanggilku Luke,"


Floren mendongak untuk menatap wajah Lucas yang sedikit lebih tinggi darinya, "Kamu enggak sebutin marga? Biasanya orang-orang di sini suka nyebutin marga mereka," tanya Floren penasaran, walau sebenarnya Ia tahu siapa Lucas.


Lucas menelengkan kepalanya ke kiri, kebiasaannya kalau sedang merasa aneh dengan lawan bicara, " Tidak. Oh ya, kau berasal dari mana?"


"Aku, dari Lourch Timur, Aku tinggal di sebelah timur, di rumah besar itu," Ucap Floren gugup. Ia menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan wajah gugupnya. Tangannya meremas, kain gaun miliknya, "Eh, aku permisi dulu, sampai jumpa, Lu-ke,"


Lucas hanya tersenyum menanggapi, lalu membiarkan Floren berlalu dari sana dan menghilang di antara bangunan-bangunan toko dan perumahan milik warga kota. Ia sendiri meneruskan langkahnya menuju danau Almaty, menunggu Valerie.


***


Valerie berjalan sendiri menuju danau tanpa di temani oleh Wynie atau Sinee. Ia merapatkan topi lebar miliknya agar matanya tidak silau karena sinar matahari. Valerie melewati jalan di area rumah Andreas Willson menghindari daerah sepi, seperti yang biasa di lewati oleh Lucas. Sampai di sana ia lihat Lucas sudah memanjat pohon Saru. Valerie sendiri mempercepat langkahnya dengan menjinjing sedikit gaunnya.


"Lucas?"


Lucas menoleh ke bawah, Valerie sedang berdiri di bawah pohon dengan melipat kedua tangannya di atas perut. Topi lebarnya di letakkan begitu saja di atas rumput yang biasa Ia duduki, memperlihatkan rambut pirangnya yang di urai rapi.


"Turun, sebelum aku menendang batang saru ini, lagi," Ketus Valerie dari bawah. Lucas tekekeh sebelum akhirnya melompat turun seperti biasa. Langsung mendudukkan tubuhnya di atas rumput.


"Tadi, aku bertemu dengan gadis itu, yang tinggal di rumah kuno." ucap Lucas sambil memainkan sebatang rumput di tangannya.


"Oh, ya. Ibu ku kemarin juga menyuruh ku, kenalan dengannya. Bagaimana anaknya? Maksud ku sikap nya," tanya Valerie dengan antusias. Ia sedikit merapikan lipatan bagian pinggir gaunnya lalu ikut duduk bersama Lucas.


"Dia dari Lourch Timur, wajar saja. Bahasanya berbeda sedikit kasar walaupun tidak nyaring seperti orang-orang Barat. Apa benar?"


Valerie hanya mengangguk tanpa menoleh. Sesaat kemudian Ia membuka suara, " Pelayan di rumahnya rencananya akan bekerja di rumah ku loh, aku juga tidak tahu kenapa? Tapi Wynie bilang sesuatu padaku kemarin, dan bodoh nya aku lupa apa yang dikatakan oleh Wynie. Omong-omong, siapa namanya?"


"Floren Katana, aku baru dengan ada marga seperti itu,"


"Oh" Valerie membulatkan bibirnya kemudian terdiam lagi tidak tahu apa yang akan di bahas selain hal barusan.


"Aku sedikit aneh dengan Miss Katherine, dia selalu memakai sesuatu yang berwarna lembayung, entah itu gaun atau syal, apa manfaatnya?" Tukas Lucas tiba-tiba, membuat kening Valerie sedikit berkerut.


"Kau tahu kalau dia belum menikah? Dari mana, aku saja baru tahu dari ibuku tadi, niatnya aku mau berkenalan dengan gadis itu,"


Lucas menoleh sebahu kepada Valerie sebelum akhirnya menjawab, "Kau tidak bisa membedakan, Floren itu tidak mirip dengan Miss Katherine, kalau dilihat-lihat sih."


Valerie hanya mengangguk lalu menggumamkan sesuatu yang tidak terdengar oleh Lucas.


"Tapi, Lucas apa Floren tahu kalau kita akan melakukan ini? Andreas dan Kendrick? Biasanya kau mengajak kedua teman mu itu," Tanya Valerie sambil mengambil topi lebar miliknya yang hampir terbang terbawa angin


"Sepertinya harus, aku sedikit penasaran dengan rumah itu dan Miss Katherine,"


Valerie mendengus kesal, "Kalau cuma sedikit tidak perlu sampai melakukan hal semacam ini, dasar bodoh!"